Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Koma


__ADS_3

Renaldy kini terdiam duduk di kursi tunggu, setelah melihat keadaan adiknya, dengan keadaan mengenaskan. Banyak berlumur darah di tubuhnya Meysa. Sekarang Meysa sudah di bawa ke ruang intensif.


Luziana yang melihat suaminya, mencoba menghibur nya.


"Mas yang sabar ya! aku yakin kok, kalau Meysa akan bakal sadar dari komanya" Setelah di nyatakan koma, semua keluarga Hervandez, nampak diam terlarut dengan kesedihan masing-masing. Apalagi Mommy Liona yang kini masih belum sadar dari pingsannya.


Renaldy mendengarnya mencoba tersenyum tipis. Dia berusaha kuat menerima kenyataan adiknya bakal seperti ini. Walaupun sejahat-jahat Meysa, dia itu tetap adiknya. Yang harus jaga dah sayangi.


"Makasih ya sayang! kamu selalu ada buat aku" Ucap Renaldy dengan tulus.


"Itu kan sudah tugas aku sebagai istri kamu, yang selalu ada di saat kamu senang, maupun susah" Balas Luziana seraya tersenyum sumringah.


Renaldy yang mendengarnya ikut tersenyum.


"Sayang apa kamu sudah makan?" Tanya Renaldy dengan penuh perhatian.


Luziana mengeleng kepalanya.


"Belum emang nya kenapa?" Tanya balik Luziana.


Renaldy yang mendengarnya memasang muka garangnya. "Kan mas udah bilang sayang, makannya jangan telat-telat apalagi kamu gak sendiri Loh. Ada anak kita yang didalam kandungan kamu, yang nutrisi yang harus di penuhi" Ujar Renaldy memberi nasihat kepada istrinya.


"Iya deh maaf, namanya aja lupa mas" Balas Luziana seraya mengerucut bibir nya lucu.


Renaldy menghela nafas pelan. "Yaudah mas maafin. Lain kali jangan di ulang ya, sekarang kamu ingin makan apa?" Tanya Renaldy.


"Aku gak tahu sih pengen makan apa. Kalau mas pengen makan apa?" Lontar pertanyaan Luziana yang bingung ingin makan apa. Walaupun dia belum makan, tapi perut nya belum terasa lapar. Apa mungkin Luziana lagi stress, setelah apa yang terjadi jadi hari ini.


"Mas kan nanya ke kamu, kamu kok nanya balik sih?" Renaldy menaikkan alisnya mendengar pertanyaan istrinya.


"Ya aku gak tahu pengen makan apa? tapi siapa tahu anak kita pengen makan apa yang ayahnya makan kan" Ujar Luziana seraya tersenyum.


Renaldy mengangguk kepalanya mengiyakan.


"Yaudah gimana kita ke kantin rumah sakit aja, siapa tahu kalau sudah sampai di sana kamu sudah tahu pengen makan apa?" Ucap Renaldy memutuskan untuk pergi ke kantin saja.


"Bilang aja mas juga gak tahu makan apa" Luziana menatap sinis ke arah suaminya.


"Kok kamu tahu sih" Renaldy menarik pelan hidung mancung istrinya.


"Iyaa tahu dong aku kan istri kamu" Balas Luziana seraya terkekeh kecil. Setelah itu muka Luziana nampak murung seperti memikirkan sesuatu.


"Tapi Meysa bagaimana, gak mungkin kita tinggalkan kan?" Tanya Luziana seraya menaikkan alisnya.


"Kalau urusan Meysa, jangan kamu terlalu pikirkan yang penting kamu makan dulu. Kalau soal Meysa sudah ada banyak menjaganya" Ujar Renaldy yang melihat kekhawatiran di dalam diri istrinya.


Luziana mengangguk kepalanya mengiyakan. Dua pasangan pasutri itu pun melenggang pergi menuju ke kantin rumah sakit. Sementara Meysa, di jaga oleh beberapa perawat dan ada dua pengawal menjaga pintu ruang intensif tersebut.



"Meysa.. Meysa.. sya jangan ninggalin gue sya! Meysa.." Langit langsung terbangun mendapatkan mimpi yang tidak enak. Langit juga ikut di rawat di rumah sakit yang sama dengan Meysa. Tapi luka langit tidak separah Meysa.



Maminya langit bernama Nia, mengeleng kepalanya seraya menghela nafas panjang.



"Apa yang kamu lakukan Langit sampai Meysa jadi koma" Terdengar helaan nafas yang kian memberat. Gara-gara putranya itu, dia jadi merasa bersalah dengan kakaknya, merupakan Mommy nya Meysa.


__ADS_1


Langit menoleh kesamping. "Mami.." Panggil Langit, kemudian cowok itu terdiam sejenak, mencerna apa yang di tanya mami nya, kepada dirinya.



"Langit gak tahu harus bilang sama mami dari mana" Lirih Langit seraya menarik nafas dalam-dalam.



"Kamu tahu kan apa yang kamu telah perbuat" Tanya Mami Nia dengan raut wajah serius.



"Tahu..." Balas langit singkat. Mami Nia yang gak tahu ingin mempertanyakan apa lagi. Memilih diam saja.



Melihat ruangannya menjadi sunyi. Langit memutuskan untuk tidur kembali. Apalagi hari mau mulai larut malam.



"Mam, apa Daddy sudah tahu?" Tanya Langit seraya menatap kesamping yang dimana ada Maminya yang duduk terdiam dengan ekspresi yang tidak terbaca.



"Belum.. Daddy mu masih di luar kota. Dia masih sibuk dengan proyeknya. Kenapa kamu tanya begitu?" Tanya balik Mami Nia dengan menaikkan alisnya sebelah.



"Gak ada apa-apa, cuman ingin bilang Mami jangan kasih tahu Daddy ya!" Balas langit dia tidak ingin Daddy nya itu tahu hal telah terjadi semua ini. Jika itu terjadi bakal berabe urusannya.



"Iya.." Balas ketus Mami Nia.




"Makasih mam?" Mendengar kata terima kasih putranya, mami Nia hanya diam saja tidak terlalu memedulikannya.



"Mam?" Panggil Langit lagi.



"Apalagi.. mending kamu tidur aja sana. Dah tahu kamu lagi luka parah bukannya istirahat ini malah banyak bicara" Ketus Mami Nia dengan muka garangnya.



Langit yang melihatnya, menelan saliva-nya dengan susah payah.



"Pak pesan cumi-cumi bakar satu sama air jus rasa jeruk satu!" Pesan Luziana yang kini mereka sudah berada di kantin rumah sakit. Terlihat kantin rumah sakit masih banyak orang padahal waktunya sudah mau tengah malam.


"Kalau kamu mas pengen pesan apa?" Tanya Luziana kepada suaminya yang sedari kamu sendiri.


Lamunan Renaldy pun buyar.


"Kalau mas sama saja kayak kamu" Balas Renaldy dengan ekspresi datar.

__ADS_1


Melihat ekspresi suaminya, membuat Luziana sedikit khawatir.


"Yang macam saya pesan saya dua ya pak" Ujar Luziana dengan bapak tukang mencatat pesanan itu. Bapak itu mengangguk kepalanya. Dalam hati pria itu, perasaan umur nya tidak tua amat Kenapa di panggil bapak-bapak coba.


"Selain itu ada lagi nona, tuan." Tanya pria yang tukang mencatat pesanan itu.


"Tidak ada cuman itu aja pak" Balas Luziana seadanya. Pria itu ingin berkomentar pada gadis cantik itu. Tapi gak berani karena di yakini pria yang duduk di hadapannya, itu pasti suaminya. Ya pasti suaminya, gak mungkin dia perut nya jadi buncit kalau gak ulah pria yang di hadapan ini.


Renaldy yang melihat pria itu menatap istrinya. Merasa tidak suka.


"Kalau gak ada ingin di pertanyakan silahkan pergi" Ucap Renaldy dengan datar. Yang pastinya untuk Pria tersebut. Pria itu pun tersebut tersenyum kikuk. Merasa kalau suami, gadis tersebut merasa gak suka dengan dirinya. Kenapa di panggil gadis padahal Luziana sedang hamil loh, ya gak mungkin masih gadis lagi. Ya karena wajah Luziana yang masih baby face, masih seperti umur anak remaja. Emang umur anak remaja kok.


"Saya permisi dulu Nona tuan" Ucap Pria tersebut. Luziana mengangguk kepalanya mengiyakan. Pria itu pun langsung melenggang pergi.


"Mas tadi kok gitu cara ngomongnya sama bapak-bapak tadi, gak baik loh" Ucap Luziana.


Renaldy yang mendengarnya tersenyum. Istrinya itu gak tahu aja kalau suaminya itu lagi cemburu.


"Dia itu bukan bapak-bapak sayang, dia itu masih anak muda. Bukan bapak yang udah punya anak" Ketus Renaldy seraya pandangannya menatap kearah lain. Melihat cara ngomong suaminya ke dirinya, kayak serba salah. Kok dirinya yang jadi kenak.


"Ouhh dia masih muda? kukira udah bapak-bapak. Jadi kalau dirinya masih anak muda emang kenapa?" Tanya Luziana dengan heran. Dan itu membuat Renaldy makin panas dengan pertanyaan istrinya.


Renaldy memilih diam datar aja. Daripada menjawab pertanyaan istrinya yang ada makin panjang. Dan itu membuat Luziana merasa gak suka di diemin. Apalagi suaminya kayak enggan menatap dirinya.


"Mas kamu kok diem aja di tanya kin. Lagi lihat cewek cantik ya?" Melihat suaminya menatap ke arah lain tidak menatap dirinya. Membuat Luziana mengira suaminya sedang menatap wanita lain selain dirinya.


Renaldy yang mendengarnya, menatap sejenak istrinya lalu mengalihkan pandangannya kembali.


Luziana yang melihat suaminya hanya diam saja. Tidak merespon. Dia memilih pindah tempat duduk. Dan dia kini duduk di samping suaminya. Ia pun mengapit tangan kekar suaminya.


"Mas kayaknya dedeknya pengen minta di elus deh sama mas" Ucap Luziana dengan seraya tersenyum. Renaldy mendengar istrinya, membawa nama dedek bayi. Memutuskan menurun kan egonya. Tangan kekarnya pun mengusap perut istrinya dengan lembut.


Luziana merasakan usapan lembut dari tangan suaminya. Merasa sensasi yang yang susah di jelaskan.


Makanan yang mereka pesan pun datang, yang mengantar pesanan mereka wanita bukan laki-laki tadi.


"Silahkan di nikmati makanannya tuan nyonya" Ucap wanita itu dengan ramah.


Luziana mengangguk kepalanya.


"Makasih ya mbak.." Ucap Luziana.


"Sama-sama Nona" Setelah mengatakan itu wanita tersebut pergi.


"Nantik dulu ya sayang! ayah makan dulu. Nanti kita sambung lagi dirumah. Sekalian ayah ingin jenguk kamu" Ujar Renaldy seraya mengusap perut buncit istrinya. Luziana yang mendengar kata jenguk, wajahnya bersemu merah. Dan sedikit merasa trauma, karena pernah tertipu oleh suaminya. Dia kira jenguk kayak gimana, lupanya dengan cara begitu.


Renaldy yang melihat wajah istrinya bersemu merah. Pria itu merasa ada rasa senang tersendiri. Mereka pun memulai makan apa yang telah mereka pesan. Setelah beberapa menit makanan yang mereka makan pun habis. Tiba-tiba ponsel Renaldy berdering.


"Papi?" Melihat tertera nama Papinya Renaldy langsung mengangkatnya. Setelah beberapa detik berbicara di telepon, panggilannya pun berakhir.


"Siapa yang nelpon mas?" tanya Luziana penasaran seraya menyesap jusnya melalui sedotan.


"Papi yang nelpon, katanya kita di suruh pulang aja kerumah mereka. Biar yang di rumah sakit Papi urus" Ucap Renaldy dengan seadanya.


Luziana mengangguk kepalanya paham. Kalau itu perintah dari Papi Devan mau gak mau mereka harus menurutinya.


"Sebelum kita pulang, lebih baik kita pesankan makanan untuk Papi bagaimana?" Tanya Luziana.


Renaldy mengangguk kepalanya sebagai jawaban.


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa follow Instagram author: maulyy_05


__ADS_2