Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Niat memutuskan untuk pergi


__ADS_3

Luziana menatap luar kaca mobil dengan tatapan kosong, yang menampilkan jalan raya yang padat dengan kendaraan.


Ia kini memutuskan, untuk menuruti suaminya, untuk pulang. Walaupun, sebenarnya dirinya tidak di bolehkan izinkan untuk pulang dari rumah sakit, melihat keadaan kandungan Luziana masih lemah. Apalagi dia sedang hamil muda.


Gak beberapa lama mengendara, mereka pun sampai di rumah orang tua Renaldy. Renaldy tanpa sepatah kata pun, meninggalkan istrinya dan masuk kedalam rumah mewah. Luziana yang melihatnya, hanya mampu bisa menguatkan dirinya.


"Lo harus kuat Lun, jangan sedih." Gumam Luziana di dalam hati. Ia pun melangkah masuk kedalam rumah.



Luziana menatap suaminya yang duduk di sofa dengan ekspresi susah tebak. Apa suaminya itu sakit hati kalau dia mengandung anak dari pria lain. Tapi jujur Luziana dengan pernah berhubungan badan dengan pria lain, kecuali dengan suaminya itu. Itupun baru kemarin mereka habis berhubungan badan. Dia gak tau kalau bakal secepat ini, jadi pembuahan di rahim nya.



"Mas..." Panggil Luziana dengan pelan.



Tidak ada respon.



"Mas.. anak ki-ta, maksudnya bayi di dalam kandungan ku lemah. Bagaimana kita beli susu ibu hamil, kan selama ini nutrisi si cabang bayi belum terpenuhi.." Ucap Luziana untuk mencari alasan apa suaminya peduli dengan anaknya ia kandung. Walaupun suaminya tidak ada bilang, kalau dirinya selingkuh. Namun, buktinya dirinya hamil lebih cepat dari pada mereka berhubungan badan.



Renaldy mendongak menatap wajah istrinya, Luziana langsung menundukkan kepalanya melihat mata suaminya.



"Saya ingin kamu! jangan sampai Mommy tahu kalau dirimu sedang hamil, dan juga siapa pun itu tidak boleh" Renaldy bukannya menjawab malah melontarkan tuturan seperti mengancam. Dan tidak secara langsung, dia tidak mengakui bahwa bayi Luziana kandung bukan darah daging suaminya sendiri.



Mendengar pernyataan tersebut, membuat perasaan Luziana makin sensitif.



"Iyaa.." Balas Luziana dan memilih tidak bertanya lagi. Karena jawaban suaminya sudah menuju bahwa pria itu tidak peduli. Luziana pun memutuskan untuk tidur begitu juga Renaldy.



Dia saat ingin Luziana memejamkan matanya, air matanya keluar, memikirkan dengan cobaan yang dia hadapi.


__ADS_1


"Hiks..hiks sekarang aku harus gimana"



Tanpa di sedari Luziana terbangun di pukul sembilan pagi. Matanya jadi nanggis sembab akibat menangis semalam. Itu sih paling gak suka kalau menangis, ya mata jadi sembab dan itu menjadi pusat perhatian orang-orang kalau melihatnya. Lagipula dengan menangis, diri sendiri merasa sedikit lebih tenang.


Ia menatap sampingnya yang tidak ada suaminya. Luziana hari ini dirinya memutuskan untuk pergi dari rumah ini. Bukan gak mau bertahan lagi, tapi tidak mungkin Luziana bertahan lagi di rumah ini, dengan mengandung benih pria lain. Padahal itu benih suaminya sendiri. Ya gimana, diamnya Renaldy bikin Luziana buruk sangka.


"Baru habis nanggis Lo?" Tanya Meysa yang melihat Kakak iparnya yang berjalan menuju ke dapur untuk minum dengan matanya yang terlihat sembab.


Luziana hanya diam tidak menjawab pertanyaan dari adik iparnya. Setelah minum perempuan itu menuju keluar rumah. Di keluar rumah, Luziana mengeluarkan motornya di garasi, lalu ia pergi dari tempat itu juga. Pergi bukan untuk kabur, melainkan membeli sereal untuk mengisi perutnya.



Luziana keluar dari mini market sembari menenteng plastik. Saat ingin menuju parkiran dirinya tiba-tiba di tarik oleh dua orang pria yang mengunakan topeng hitam.



"Lepaskan aku, kenapa kalian menarik tangan aku..." Luziana memberontak untuk kabur dari orang pria yang menarik tangannya. Namun tidak bisa, mereka sangat kuat daripada tubuh Luziana yang lemah. Apalagi perempuan itu sedang hamil.



"Tolong...." Pekik Luziana. Dengan panik dua pria itu yang mengunakan topeng hitam di wajahnya. Salah satunya langsung membungkam mulut Luziana mengunakan tangannya.




"Auwhh." Pria yang mengunakan topeng hitam itu pun tersungkur di tanah mendapatkan tendangan dari langit.



"Lepaskan gadis itu, sebelum burung kalian ku tendang ke neraka.." Emosi Langit dengan mata menyalang.



"Sok jagoan ni bocah.."



"Hajar men.."



Bugh

__ADS_1



Prak



Krek



"Kak langit gak papa.." Tanya Luziana yang melihat wajah langit sedikit lembab.


Langit berdesis pelan. "Gak Papa kok, Luziana gimana keadaannya gak papa kan? apa ada yang luka?" Tanya balik langit dengan wajah terlihat khawatir.


"Alhamdulillah.. Luziana gak papa kok kak langit! cuman pergelangan tangan Luziana jadi merah akibat mereka tarik. Tapi ini gak papa kok, mungkin besok sudah sembuh. Makasih ya kak udah tolongin Luziana" Ujar Luziana dengan tulus.


Langit mengangguk kepalanya. Pandangan cowok itu tiba-tiba berhenti melihat luka kecelakaan Luziana kemarin. Kok langit tahu? karena cowok itu ada pas tempat kejadian. Dia juga termasuk menolong Luziana pasca ketabrak mobil itu.


"Luziana kok matanya sembab, habis nanggis ya? siapa yang bikin nangis biar kakak pukul orangnya. Apa Meysa?" Tanya Langit menaikkan alisnya. Dia seperti seorang kakak yang peduli dengan adiknya.


Luziana mengeleng kepalanya. "Bukan karena Meysa, cuman pengen nanggis aja" Balas Luziana yang gak tahu harus beralasan apa. Gak mungkin dia menjawab menangis gara, suaminya yang tidak peduli dengan anak yang di dalam rahim.


Langit mengangguk kepalanya mengiyakan saja. Karena langit tipe cowok gak suka terlalu peduli dengan urusan orang. Sekedar tahu aja dah cukup. Langit tahu sedih Luziana, mungkin gak bisa di cerita dengan dirinya yang tidak terlalu kenal.


"Kak langit Luziana.. pengen kerja di cafe yang kita ngobrol boleh kemarin" Pinta Luziana dengan penuh harapan di bolehkan.


"Boleh.. nantik kakak ngomong sama orang pemilik cafe nya. Boleh mengerjakan Luziana atau tidak, Luziana datang aja besok ke cafe itu nantik setelah pulang sekolah. Temui kakak ya di cafe tersebut " Balas Langit, yang tidak peduli juga kenapa Luziana ingin kerja di cafe tersebut. Lagipun bagi langit hal bagus untuk ingin mandiri merasakan cari uang sendiri, tidak ingin terlalu membebani orang tua.


Luziana tidak tahu nanti harus kemana. Dia memutuskan kerja tempat cafe yang di ajak langit ngobrol kemarin. Karena banyak anak muda yang berkerja di tempat itu. Namun anak kuliahan semua, tapi gak papa yang penting ada tempat bisa cari uang dulu. Walaupun cafe tersebut dekat dengan perusahaan cabang Hervandez.


Dia ingin mengumpulkan uang untuk aborsi kandungannya. Dia gak sanggup seperti wanita luar sana yang bisa menghidupi anak seorang diri. Dia tidak sanggup, dia ingin memutuskan hidup sendiri. Tidak bergantung dengan orang lain lagi.


Biarlah dia harus mengorbankan bayi yang di dalam kandungannya. Asalkan Luziana bisa hidup bahagia sendiri. Kalau dia mempertahankan bayi itu yang ada, bikin beban dirinya dan orang lain. Itulah didalam pikiran Luziana.


"Makasih kak langit... Kak langit baik banget udah mau nolongin aku" Luziana berbinar-binar menatap wajah langit yang seperti orang baik. Beda kayak orang-orang cerita di sekolah. Kalau cowok itu bandel.


"Iya sama-sama tapi jangan natap Kakak seperti itu. Kalau kamu jatuh cinta dengan kakak. Kak Langit gak mau tanggung jawab loh"


...----------------...


Author mau curhat, gini Instagram author tiba-tiba kehapus. Jadi otomatis akunnya kehapus, terus harus buat akun baru lagi. Karena Instagram author suruh follow itu gak tau kata sandi dan nomor telepon. Soalnya akun Instagram itu asal buat jadi gini deh. Untuk gak banyak follower, kalau banyak dah pasti sakit hati banget. Ngerasain seperti ini juga sudah sering banget, asal buat akun dah banyak follower tiba-tiba kehapus. Semua akun author buat gitu bukan di Instagram doang. Gak tau kata sandi :).


Jadi tolong follow akun Instagram author baru lagi.


Follow Instagram author: maulyy_05

__ADS_1


Itu dijamin deh nanti kehapus tahu kata sandi nomor telepon 🤗🥺.


Terimakasih sudah mau baca curhat receh author 🥺♥️.


__ADS_2