Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Hasil yang masih meragukan


__ADS_3

Renaldy yang memperhatikan benda pipih yang persegi panjang itu, segera mengambilnya. Luziana yang melihatnya ikut turut juga mengambil testpack milik nya.


Sialnya, Luziana kalah cepat. Testpack itu kini sudah berada di tangan suaminya. Renaldy yang memperhatikan benda persegi panjang itu, yang menunjukkan gambar garis dua. Jantungnya tiba-tiba terasa berdegup kencang. Tubuhnya seakan lemas, menatap benda persegi panjang itu.


Luziana yang melihat, testpack milik nya berada di tangan suaminya. Ia mengigit kukunya gak tahu harus berbuat apa. Melihat suaminya yang tidak bergeming, ia pun segera mengambil testpack positif milik nya di tangan suaminya.


Renaldy yang melihat istrinya, mengambil benda persegi panjang itu dan menyimpan di kantong bajunya.


"Kenapa kamu mengambilnya? Apa ada sesuatu yang ingin kamu sembunyikan dari saya?" Tanya Renaldy dengan ekspresi serius.


Luziana mengeleng kepalanya. "Gak ada itu cuma-" Omongan Luziana yang belum selesai langsung di potong oleh suaminya.


"Kamu benaran hamil kan!" Lontar pertanyaan dari Renaldy dengan tatapan penuh permintaan jawaban.


Luziana yang di berikan pertanyaan itu, menautkan jarinya cemas.


"Aku gak tahu, benaran hamil apa gak. Kukira tes nya itu cuman sekali doang. Ternyata gak" Ujar Luziana yang seadanya. Perempuan itu hanya mengunakan satu tespeck doang. Itupun belum tahu akurat atau gak. Meskipun tergambar jelas, garis dua. Tetap aja hasil nya masih meragukan.


Renaldy menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman.


"Gak papa, besok nanti kita periksa ke dokter, kamu benaran hamil apa gak. Semoga dia benar-benar sudah tumbuh di rahim kamu" Ucap Renaldy menenangkan istrinya seraya mengusap perut rata istrinya. Luziana yang mendengar perkataan suaminya mengangguk kepalanya mengiyakan.


"Kalau hasilnya nihil gimana?" Tanya Luziana yang seperti tidak menyakinkan dirinya kalau dirinya sedang mengandung.


"Gak papa, nanti kita bisa coba lagi" Balas Renaldy seraya tersenyum tipis. Luziana pun menanggapinya hanya mengangguk kepalanya.


"Yaudah yuk kita tidur, udah larut malam banget soalnya" Ajak Renaldy seraya menggenggam tangan istrinya.


"Tapi ni gimana, aku bersihin dulu ya. Mas tidur aja nanti aku nyusul" Titah Luziana kepada suaminya. Dia ingin membersihkan ruang tamu itu dulu sebelum tidur.


Renaldy yang mendengarnya, tampak menimbang-nimbang. Ntah kenapa dirinya sangat tak rela istrinya membersihkan ruang tamu itu. Takut kenapa-kenapa aja gitu. Padahal belum pasti darah dagingnya itu sudah tumbuh di rahim istrinya.


"Hmm, gimana mas bersihin aja. Kamu duduk aja disini dulu" Pinta Renaldy dengan posesif.


Luziana tercengang mendengar perkataan suaminya. Padahal suaminya itu tampak lelah sekali. Tapi sekarang dilihat kayak bersemangat begitu.


"Gausah Mas, lagipun mas capek baru pulang kerja. Jadi biar aku sendiri aja bersihin" Tolak Luziana membuat Renaldy langsung mengeleng cepat.


"Gak kok, mas gak capek. Kalau cuman gini doang pun belum apa-apa bagi mas" Ucap Renaldy bersikeras. Membuat Luziana makin heran dengan sikap suaminya. Tadi jelas-jelas loh kalau, suaminya itu bilang capek. Tapi Luziana merupakan tipe perempuan yang suka berdebat. Yang tidak terlalu memedulikan kali.


Walaupun Luziana gak suka berdebat. Tetapi perempuan itu, sangat keras kepala. Dia gak mau kalau apa yang ingin dia lakukan itu di larang.


"Gimana kita lakukannya sama-sama aja, biar cepat selesai" Ujar Luziana memberikan pendapat. Renaldy yang mendengarnya, terpaksa mengiyakan saja. Lagi pun waktu sudah mau jam setengah tiga.

__ADS_1


Selang beberapa menit, kemudian mereka pun selesai membersihkan ruang tamu, yang untuk merayakan ulang tahun suami nya. Kini mereka sudah berada di dalam kamar di lantai dua.


Renaldy memeluk istrinya dari belakang, seraya menyingkap baju istrinya. Namun langsung di tepis oleh Luziana.


"Apa-apaan sih mas, pengang perut aku" Cemberut Luziana.


"Kan gak papa, lagipun kita dah halal. Kamu kenapa masih malu." Meskipun pernikahan mereka udah mau setahun. Luziana tetap saja pemalu. Dia gak mau suaminya, pengang perut nya. Nanti malah berakhir berhubungan ranjang.


"Bukan malu, aku malas aja di pengang. Jadinya aku gak bisa tidur" Sanggah Luziana mencari alasan.


Renaldy menghela nafas pelan. "Yaudah deh mas gak pengang. Sekarang kamu tidur. Besok kita ke dokter kandungan" Pinta Renaldy yang di jawab deheman oleh Luziana. Karena perempuan itu sudah mulai mengantuk.




Pagi pun datang. Rencana Renaldy memeriksa istrinya pun tetap terjadi. Walaupun Luziana yang terlihat ogah-ogahan. Karena perempuan itu masih mengantuk akibat begadang semalam.



Sekarang mereka sudah berada di rumah sakit. Dan juga sudah di berada di dalam ruangan obgyn.




"Fokus ke layar monitor ya, tuan dan nona" Instruksi Dokter tersebut bernama dokter Citra. Mereka berdua pun menatap layar monitor dengan tatapan bingung.



"Gimana hasilnya Dok?" Tanya Renaldy yang masih kurang paham hanya melihat layar monitor.



Dokter Citra yang mendengarnya, menarik sudut bibirnya.



"Tuan gak tahu, terlihat ada seperti berukuran biji-biji kopi di layar monitor" Tanya dokter Citra seraya tersenyum.



"Enggak," Balas Renaldy cepat dengan nada dingin. Maklumi saja kalau respon Renaldy begitu, dia tidak mau berbaur namanya wanita kecuali istrinya.

__ADS_1



Dokter Citra mendengar respon, suami pasien nya. Hanya tersenyum simpul.



"Selamat ya Tuan Renaldy dan Nona Luziana. Kalian jadi berdua kembali menjadi ibu dan ayah lagi. Nona Luziana benar-benar positif hamil dan usia kandungan sudah 8 minggu"



...----------------...


Jangan lupa follow Instagram author: maulyy\_05



Dan juga jangan lupa kasih dukungan seperti.



Like



Hadiah



Komentar



Vote



Rating bintang limanya 🌟🌟🌟 🌟🌟



Buat para readers, jangan lupa mampir di karya baru author ya.


__ADS_1


Judul nya: Vanilla (Love and Dare)


__ADS_2