Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Merasa bersalah


__ADS_3

Renaldy menggenggam sebelah tangan istrinya yang kini sudah di atas brankar rumah sakit. Luziana nampak mengeleng kepalanya pelan. Bahwa dirinya gak mau berada di rumah sakit.


"Mas aku ingin tidur rumah aja, aku gak mau di rumah sakit" Lirih Luziana yang dengan perkataan yang masih sama. Yang bersikeras ingin di rumah saja.


"Iya tapi nanti, tunggu kamu di periksa dulu" Ujar Renaldy dengan lembut mencoba memberi pengertian kepada istrinya. Brankar yang di dorong pun sampai di ruangan IGD.


"Mohon maaf tuan anda tunggu dulu di luar. Kami akan memeriksa keadaan nona Luziana sebaik mungkin" Ujar dokter citra. Membuat Renaldy melepaskan genggaman tangan istrinya.


Dan


Renaldy menoleh ke dokter citra. "Dok, tolong selamatkan ibu dan anak yang di dalam kandungan istri saya!" Mohon Renaldy kepada dokter citra yang biasa menangani kandungan Luziana.


Dokter citra mengangguk kepalanya. "Akan berusaha semaksimal mungkin" Tukasnya dan menutup pintu ruang operasi.


Renaldy yang melihat ruangan pintu operasi telah tertutup. Menghela nafas kasar. Ia pun mendaratkan bokongnya di kursi besi tunggu.


Renaldy mengacak rambutnya frustasi. Yang telah terjadi kepada istrinya. Arya yang telah selesai mengchek up putri nya. Langsung menemui Jendralnya. Yang ia sempat lihat saat pintu masuk.

__ADS_1


"Ren gimana keadaan istri mu! Kenapa ini bisa terjadi" Tanya Arya kepada Jendralnya yang terlihat raut wajahnya cemas. Renaldy mendongak menatap temannya itu.


Renaldy mengeleng kepalanya. "Saya gak tahu apa yang telah terjadi, tapi saya mengira ini semua ulah adik dan Mommy saya! Kayaknya mereka memberikan minuman alkohol" Balas Renaldy yang mengira istrinya yang ngomong ngelantur karena di pengaruhi alkohol.


"Astaga, istri kau kan sedang hamil! Kenapa mereka setega itu" Ujar Arya seraya mengeleng kepalanya. Mengetahui keluarga Renaldy yang memperlakukan istri putranya yang setidak harusnya.


Renaldy mendesah kasar. Rasa bersalah masih menghantuinya. Dia pun meninju kuat dinding putih rumah sakit itu. Meluapkan emosi di dalam dirinya.


Bugh


Bugh


"Ini semua salah saya Arya, coba saya lebih becus semua ini tidak jadi begini" Ucap Renaldy dengan raut wajah terlihat sedih. Arya menatap Jendralnya baru kali ini melihat Renaldy itu merasa terpuruk.


Biasanya sosok Renaldy yang terlihat tegas, kejam terhadap musuh dan tak kenal ampun. Kini terlihat rapuh.


"Saya tidak akan memaafkan diri saya kalau bila terjadi sesuatu terhadap anak dan istri saya" Renaldy gak sanggup memikirkan bagaimana jika terjadi sesuatu terhadap istrinya dan calon anaknya.

__ADS_1


Arya pun duduk di samping Renaldy dan mengusap pundak Pria itu seolah memberi semangat. "Jangan berpikir seperti itu, percayalah istri dan kedua calon anak mu akan baik-baik saja. Kau disini cukup do'akan saja" Ucap Arya menyakinkan Renaldy tidak akan terjadi apa-apa.


Renaldy menanggapi perkataan Arya hanya dengan senyuman tipis. Tak tau mau berbicara apa lagi. Mereka berdua memilih diam. Dan terlarut dalam pikiran masing-masing.


Selang beberapa menit kemudian. Pintu ruangan operasi pun terbuka dan menampilkan dokter citra. Renaldy pun langsung berdiri.


"Gimana keadaan istri saya? apa baik-baik saja" Tanya Renaldy dengan ekspresi sangat khawatir.


...----------------...


Gak tahu kenapa? akhir-akhir author gak mood nulis 😔. Tapi tetap usaha buat nulis kok😘. Jadi jangan lupa kasih dukungannya 🖤 biar author semangat update selanjutnya.


Like


Komentar


Vote

__ADS_1


Hadiah


Rating limanya 🌟🌟🌟🌟🌟


__ADS_2