Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Rindu


__ADS_3

Luziana yang mendengar, perkataan yang di lontarkan Riri. Merasa geram, ia pun menarik tangannya kembali dengan secara paksa. Riri yang melihatnya, menyungging senyuman miring.


"Nona Luziana..." Panggil pengawalnya baru saja pergi entah kemana. Sontak itu membuat mereka berdua menoleh kepada sosok pria yang berpakaian serba hitam.


Riri yang lengah, Luziana pun tidak ingin membuang kesempatannya.


Plak


Satu tamparan keras terdengar menggema. Riri yang di tampar meringis kesakitan sembari memegang pipinya yang telah di tampar itu. Riri pun melotot kan matanya, menatap Luziana tersenyum puas. Saat Riri ingin melayangkan tamparan balik ke Luziana. Namun langsung di tahan oleh pengawal Luziana.


"Maaf mbak, jangan sekali-kali kamu menyakiti majikan saya" Tegas pengawal tersebut.


"Berani banget Lo bilang begitu, Lo tahu gue siapa? nama gue Alviari falestyn Pratama, orang terkaya di kota ini nomor dua!" Ucap Riri dengan angkuh.


Pengawal tersebut menarik kedua ujung bibirnya. "Saya tahu anda siapa! Tetap saja anda tidak boleh memukul nona saya"



Riri menggerutu kesal. Akibat tamparan Luziana. Pipinya sebelah jadi bengkak sembari memegang ponselnya mendekatkannya di daun telinganya.



"Lo tahu gak sih! Kakak ipar Lo ban sat banget bisa-bisanya dia berani nampar gue" Ujar Riri memgebu di sebrang telepon.



Meysa mendengarnya, membulatkan matanya tak percaya.



"Hah yang benar Lo?" Tanya Meysa memastikan, bahwa Luziana merupakan kakak iparnya. Itu berani menampar Riri ya tak kenal ampun.



"Ya benarlah ngapain coba aku bohong," Riri di sebrang telepon memutar bola matanya jengah meskipun tak terlihat oleh Meysa.

__ADS_1



"Tullah salah Lo sendiri, mungkin Lo duluan cari perkara duluan dengan Luziana. Yah jadi begitulah. Ada Lo apain aja dia" Ujar Meysa bertanya dengan perasaan penasaran.



Riri yang mendengar perkataan, Meysa yang seperti membela Luziana dari pada dirinya. "Lo khawatirin dia apa gue sih" Tanya Riri dongkol.



Meysa mengerutkan dahinya heran. "Yah... Khawatirin Lo lah" Jawab Meysa.



"Tapi kenapa Lo, nanya ke gue ada apain aja gue ke Luziana" Meysa seketika tercengang mendengar perkataan Riri. Menanyakan apa saja cewek itu perbuat ke Luziana.



"Iya gue cuman penasaran doang makanya nanya sama Lo" Ucap Meysa.




Membuat Meysa gak tahu harus menjawab. "Dahlah suka-suka Lo, dah gue mau tidur dulu" Tukas Meysa mengakhiri teleponan mereka. Sementara Riri disisi lain menatap kesal ponselnya, gara-gara enak saja Meysa langsung mematikan teleponnya sepihak.



Di sebuah kamar yang luas yang suasananya putih hitam. Luziana menangis tersedu-sedu sembari menatap foto Renaldy yang mengunakan seragamnya.


"Katanya cuman sebulan, tapi ini udah berhari-hari loh Mas. Dan juga katanya ingin lihat perkembangan anak kita yang masih didalam kandungan aku. Tapi nyatanya kamu gak pulang-pulang. Aku kesepian banget tahu!" Luziana menangis bukan karena perkataan Riri melainkan sedih. Merindukan suaminya yang lagi bertugas.


Luziana menghapus air matanya, mengunakan punggung tangannya. Seraya menarik sudut bibirnya keatas. Menatap figuran foto Renaldy yang terlihat gagah dah berwibawa mengunakan seragamnya. Ia pun melentakan foto itu atas nakas samping kasur nya.


Setelah menaruh itu pikiran Luziana pun kembali tertuju. Apa yang di katakan Riri pas tadi pagi.

__ADS_1


"Apa benar, Papa sama papi lagi marahan" Gumam Luziana bingung dan seperti tak percaya. Bahwa Papa nya yang sangat menjunjung keluarga Hervandez, keluarga papi Devan. Kini tengah marahan.


"Apa aku coba nanya aja ya sama Mama..." Luziana selama berpindah ke rumah baru mereka. Tak pernah sekalipun chatan dengan mamanya atau menghubunginya. Sekarang dia tampak kangen keluarganya berada di kota A.


Selama beberapa menit, Luziana menimbang. Perempuan itu pun mengirim hanya sekedar satu pesan.


Mama


Assalamualaikum


Ketikan pesan itu hanya tercentang satu. Yang tandanya. Kalau Mama Safira lagi tidak on WhatsApp.




Di depan rumah di sebuah pos jaga. Pengawal tadi yang pergi ntah kemana. Kini tengah berbicara serius sesama kerjanya.



"Sepertinya ada yang berusaha melacak keberadaan Nona Luziana. Saya barusan tadi di minimarket, melihat ada orang mata-mata yang seperti mengincar nona Luziana. Apa tujuannya saya tidak tahu"



...----------------...



Yu sebelum menunggu, update selanjutnya. Jangan lupa mampir di novel author yang berjudul.



Judulnya: Vanilla (Love and Dare)


__ADS_1


Jangan lupa ninggalin jejak ya sekian terimakasih ♥️😍🙏


__ADS_2