
Luziana yang panik, pura-pura sakit perut.
"Auuww perut saya sakit.." Meringis Luziana sembari memegang lengan suaminya. Tapi tidak ada ada reaksi apa-apa dari suaminya.
Sialan dia gak peduli lagi.
"Kau jangan banyak drama. Kalau emang gak ingin ikut, biar saya pergi sendiri" Ucap Renaldy dengan sorot mata dingin.
"Aku serius sakit perut ini.." Ketus Luziana yang di kirain bohong padahal emang bohong benaran. Tapi beberapa detik kemudian perutnya, jadi sakit benaran.
"Kok jadi sakit benaran sih" Gumam Luziana sembari memegang perutnya.
"Saya pergi ke kamar mandi dulu, mas tunggu sini" Pinta Luziana, lalu melenggang pergi menuju kamar mandi. Renaldy yang di tinggalkan, menghela nafas panjang.
Luziana yang berada di kamar mandi, berusaha menelpon Mama Safira. Namun orang yang ia telepon ponselnya tidak aktif.
"Iiih Kenapa payah gak aktif segala sih" Gerutu Luziana kesal.
Renaldy yang menunggu istrinya di kamar, menuju ke pintu kamar mandi. Dan mengendornya.
"Bisa cepat, kau sudah beberapa menit di kamar mandi" Ucap Renaldy dengan suara yang sedikit ditinggikan. Luziana yang mendengar suara suaminya yang tidak sabaran, jadi kesal.
"Iya sabar.." Balas Luziana seraya menaruh ponselnya di kantong bajunya.
Ceklek..
Pintu pun terbuka, yang menampilkan Luziana dengan senyum kecutnya. Renaldy yang tanpa banyak bicara, meninggalkan istrinya. Dan Luziana pun berusaha mengikuti suaminya itu.
"Orang tua mu ku suka apa?" Tanya Renaldy yang kini sedang menyetir mobil mewahnya. Luziana yang duduk di samping Renaldy, seketika menoleh.
"Suka apa? maksudnya" Tanya balik Luziana yang kurang mengerti, apa perkataan suaminya.
Renaldy menghembuskan nafas perlahan di udara. "Makanan orang tua yang kau suka apa?" Lontar pertanyaan Renaldy.
Luziana yang sudah mengerti, kepalanya manggut-manggut. "Ntah aku tidak tahu mereka suka apa, emang nya buat apa sih, mas tanya-tanya orang tua ku suka makanan apa" Lontar pertanyaan Luziana seraya mengerutkan dahinya heran.
"Untuk buah tangan" Sahut Renaldy dengan ekspresi datarnya.
"Ouh.. untuk buah tangan! bawa apa aja boleh. Kamu kan menantu kesayangan" Ucap Luziana seraya mengejek.
Renaldy menghela nafas berat, sembari menginjak rem, karena di depan mereka ada lampu merah.
"Dimana-mana mertua itu sayang menantunya" Ujar Renaldy seraya mengambil membuka botol kopi yang bermerek good day, lalu meminumnya. Luziana yang memperhatikan suaminya yang sedang minum, terlihat jakun suaminya naik turun naik turun.
Renaldy yang selesai minum meletakkan botol minum itu ke dasbor mobil. Dan menoleh kesamping yang dimana istrinya duduk. Luziana melihat suaminya, menoleh kesamping, langsung pandangannya menoleh ke depan.
"Iya sih dimana-mana pasti mertua sayang menantunya, tapi orang tua ku. Apalagi papa ku gak pernah itu ngomong dengan namanya anak muda. Gak pernah sama sekali. Yang ada bawaannya emosi melulu" Gara-gara Papa Haris galak, membuat Luziana gak pernah dekat namanya laki-laki, gak pernah. Kalau kelihatan dekat sama anak laki-laki habis lah riwayat Luziana, apalagi papanya itu ringan tangan. Tanpa melihat keadaan sekitar, Papa nya langsung melayangkan tangannya. Dan laki pun gak berani mendekatinya mengetahui papa Luziana segalak itu.
Renaldy yang mendengarnya, hanya diam datar dengan pandangan fokus ke depan.
"Kenapa mas diam saja, takut kek atau gimana itu. Kalau gak lebih baik gausah ke rumah orang tua ku, dari pada nantik melayang pisau ke muka mu. Kan kasian ketampanan mu jadi luntur. Nantik sayang cewek cantik gak mau dekat lagi sama mas" Ujar Luziana seraya mengejek. Kenapa Luziana gak ingin suaminya datang kerumahnya, takutnya nantik tetangganya heboh banget. Apalagi mulut mereka sangat pedas. Namanya tetangga, kayaknya gak sah kalau mulutnya gak cekcok.
"Hmm.. aku kan pergi sama anaknya palingan kamu yang kenak marah, palingan pisau itu melayang ke muka kau dari pada muka saya" Ujar Renaldy dengan ekspresi datar seraya menancap gas mobil.
Dasar suami Dajjal, bisa-bisanya dia bicara begitu. Ouh iya mereka kan sifatnya sama-sama dingin. Jadi mana mungkin dia takut sama papa ku. Batin Luziana.
Renaldy melirik istrinya, yang hanya diam tidak tahu harus berkata-kata lagi. Ia pun mengambil minuman botol kopinya. Lalu meminumnya dengan satu tangan, satu tangan lagi sedang menyetir.
__ADS_1
Luziana yang melihat suaminya minum, jadi ikut haus.
"Hmm bagi dong minumannya.." Pinta Luziana dengan memelas.
Renaldy menaikkan alisnya. "Mau?" Tawar Renaldy seraya mengangkat botol kopinya.
Luziana dengan polosnya mengangguk kepalanya dengan cepat. "Mau..."
"Beli sendiri" Ucap Renaldy dingin.
"Ck' bagi dong pelit banget jadi manusia.." Pinta Luziana seraya menarik tangan suaminya.
Renaldy yang sedang menyetir, tiba-tiba tangannya di tarik, jadi nyetir mobilnya jadi oleng.
"Lepaskan tangan, kamu bisa beli minuman yang lain jangan minuman bekas mulut saya" Ucap Renaldy dengan nada tinggi. Dan orang-orang yang sedang berkendara mengira orang yang membawa mobil mewah itu, sedang mabuk. Padahal tidak.
"Bagii.." Rengek Luziana seperti anak kecil.
Renaldy yang melihat sikap istrinya, jadi aneh merasa sangat kesal, sangat kesal. Soalnya dia itu sedang nyetir mobil.
"Aku mau nya sekarang, punya kamu itu aja bagi untuk ku" Ntah kenapa sifat Luziana jadi berubah sendiri, mungkin bawan hormonnya.
Renaldy yang kelewat kesal, menyentak tangan istrinya kasar. Lalu menginjak rem mendadak, karena ada mobil di depan mereka yang berhenti. Luziana yang gak pakai sabuk pengaman. Kepalanya kebentur di dasbor mobil.
Bruk..
Orang yang punya mobil berhenti, itu jadi emosi melihat mobilnya di tabrak.
"Ck' bisakah kau bersikap tidak seperti anak-anak. Kau sudah dewasa, punya akal, punya pikiran di pakai. Apa yang kau lakukan itu membahayakan kendaraan lain. Jangan kau pikir saya suka dengan tingkah laku kau seperti itu. Saya paling malas dengan perempuan yang sikapnya persis seperti kau" Bentak Renaldy dengan amarah. Pria itu pun langsung membuka pintu mobil dan keluar.
Yang punya mobil berhenti itu keluar dengan amarah. Gara-gara mobil yang di tabrak Renaldy, jadi peot mobilnya. Tahu orang yang tabrak orang berpengaruh di kota ini. Tidak jadi menagih ganti kerusakan mobil nya.
"Hmm.. i-ya" Jawab Bapak tersebut dengan tergagap.
"Maafkan saya telah menabrak mobil bapak, saya akan mengantikan rugi atas kerusakan mobil bapak" Ucap Renaldy kepada bapak tersebut.
"Ouh gausah, lagipun rusaknya gak parah" Pandangan Renaldy langsung pada kerusakan mobil bapak itu, dan terlihat sangat parah. Tapi bapak itu ngomong gak parah.
Segala bujukan Renaldy lakukan. Dan Bapak itu pun menerima uang ganti rugi kerusakan mobilnya. Dan Renaldy mengasih uang ganti ruginya senilai Lima puluh juta.
Ia pun kembali masuk kedalam mobilnya. Terlihat istrinya sedang menunduk kepalanya tepat kepalanya kebentur.
Renaldy menghela nafas panjang. "Lain kali ubah sikap mu yang seperti kekanak-kanakan itu. Kita ini lagi di jalan raya, untuk tadi gak ada mengalami luka. Cuman peot mobil doang" Ujar Renaldy dengan ekspresi datar. Melihat istrinya tidak ada respon. Memengang bahu istrinya.
"Kamu gak papa kan?" Tanya Renaldy dengan ekspresi panik. Luziana pun kembali duduknya.
"Aku gak papa, maaf sikap aku tadi. Aku juga gak tahu sikap ku bisa seperti itu" Sahut Luziana dengan ekspresi dingin. Dan matanya berkaca-kaca, merasa sedih atas bentakan suaminya.
Mata Renaldy membulat sempurna.
"Hidung kamu berdarah" Panik Renaldy seraya memengang kepala istrinya menghadap ke dirinya.
Luziana langsung menepis tangan suaminya.
"Saya gak papa, kamu gausah sok peduli" Ucap Luziana seraya mengelap darah yang mengalir dari hidungnya mengunakan jilbabnya.
Renaldy yang dapat perlakuan seperti itu dari istrinya. Mulai menyalakan mesin mobilnya, dan mulai kembali mengendara.
__ADS_1
"Total semuanya satu lima ratus tuan" Ucap tukang penjual martabak Mesir.
Renaldy pun mengasih kartu kredit unlimited nya. Selesai transaksi pembayaran Renaldy kembali ke mobilnya.
"Ini minuman untuk mu" Ucap Renaldy seraya menyodorkan minuman mahal, minuman Starbucks.
Luziana yang merasa haus. Menerimanya, dan mencolokkan pipet nya ke Starbucks tersebut. Lalu meminumnya.
Mobil pun mulai berjalan kembali. Luziana yang menghirup aroma makanan enak, memperhatikan sebuah plastik yang di bawa suaminya tadi.
Ingin minta takut kenak marah lagi. Luziana pun hanya bisa diam saja. Dan tak lama kemudian, perutnya ingin bergejolak minta di muntahkan. Namun berusaha dia tahan sebelum sampai ke tujuan.
Renaldy yang berada disitu tidak peka, hanya fokus menyetir mobilnya.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Mohon yang gak suka jangan ratingnya asal-asalan di skip aja!!
Tolong di skip saja
Gara-gara rating asal-asalan, bintangnya turun mulu . Author gak peduli apa komentar kalian itu pendapat kalian, author juga berusaha ingin buat cerita yang kalian mau. Banyak yang ingin Luziana kabur dari rumah. Dan yang author ingin buat Luziana di usir. Jadi author jadi bingung. Jadi tolong perhatian untuk para readers, kalau memang gak suka jangan rating asal-asalan. Itu membuat mood author jadi turun.
Author gak marah, kalian komentar buruk, karena itu pendapat kalian. Cuman minta tolong jangan rating asal-asalan, rating kalian itu berpengaruh untuk karya author. Sekali satu orang rating buruk, ratingnya turun drastis.
Spoiler, author ingin Luziana di usir dari rumahnya. Terus hamil, anak yang ia kandung di katakan anak haram. Dan Renaldy sudah bertugas.
Kalau ada setuju yang seperti itu komentar, kalau gak biar author ubah alur ceritanya.
__ADS_1
Sekian terimakasih.