Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Bayangan hitam


__ADS_3

Meysa berhenti sejenak memutar handle toiletnya. Ia menoleh kesamping tempat dimana Luziana yang sedang berdiri dengan tatapan seperti orang takut.


"Lo ada bawa ponsel gak?" Tanya Meysa. Luziana cengengesan, walaupun tidak terlihat oleh Meysa karena kamar mandi itu terlalu gelap.


"Gak ada," Balas Luziana kikuk. Ponsel perempuan itu berada di tas. Dan tas itu berada meja cafe, jadi ponselnya ketinggalan di atas meja.


Meysa mencebik kesal. Ia pun merogoh saku celananya, kemudian tidak ada juga ponselnya.


"Arggh sialan" Pekik frustasi Meysa seraya mengacak rambutnya. Ponsel gak ada, pintu toilet gak bisa suka, terus mati lampu lagi. Ngenes banget memang.


"Ini semua gara-gara Lo" Tuduh Meysa emosi.


"Kok salah aku." Dia tidak tau apa-apa masa di tuduh ini semua salahnya.


"Iyaa karena Lo itu pembawa sial. Liat karena gara Lo kita sekarang gak bisa keluarkan dari toilet ini. Terus pakai mati lampu segala lagi ampes banget memang gue." Meysa mendesah berat seraya bersandar di pintu toilet. Luziana yang tidak tau apa-apa dan di tuduh hanya bisa diam saja. Kalau di lawan nantik urusannya bakal panjang. Apalagi mereka lagi dalam keadaan terdesak.


Luziana berjalan beberapa langkah mendekati handle pintu toilet. Ia tidak merasa aman, bersandar dinding toilet. Luziana merasa kayak ada sesuatu yang tidak enak. Sampai bulu kuduknya berdiri.


"Hmm, apa ni? bau banget. Kayak bau ******" Celetuk Meysa seraya menutup mulut dan hidungnya mengunakan telapak tangannya.


"Lo Luziana dah gak mandi beberapa bulan sih? sampai baunya kayak neraka jahanam dah." Ucap Meysa yang sudah tidak menahan baunya.


Luziana mendengar pernyataan Meysa, mengeryitkan dahinya heran. Perasaan tadi sebelum pergi sini dah mandi lah. Masa Meysa menuduhnya dirinya bau. Pasti cewek itu ingin mengejek dirinya, dan merendahkan dirinya.


Tunggu-tunggu dirinya juga merasakan ada bau yang sangat menyengat hidung. Bau itu kayaknya berada di sekitar mereka.


Meysa yang melihat Luziana di gegelapan hanya diam saja. Memutar bola matanya malas.


"Oi rakyat jelata bisa gak sih Lo itu gausah mengang-mengang bahu gue. Risih tau gak sih" Ucap Meysa sedikit teriak kesal.


"Aku gak ada mengang bahu kamu kok, aku dari tadi berdiri disini. Lagipun gak mungkin tangan ku sampai mengang bahu kamu" Luziana yang bersandar di dinding toilet sebelah kanan sedangkan Meysa sebelah kiri dan jarak beberapa meter. Merasa tidak terima di tuduh telah memengang bahunya. Padahal dia hanya berdiri diam.


"Gausah bohong deh, jelas-jelas Lo mengang bahu gue. Terus di toilet ini hanya cuman ada kita berdua kan. Jadi otomatis Lo yang mengang bahu gue kan, ngaku aja lo." Meysa sangat terasa sekali berat tangan seseorang memengang bahunya. Kemudian dia sudah menepis tangan itu beberapa kali. Tetap saja tangan itu kembali memengang bahunya.


"Serius aku gak ada mengang bahu kamu, liat ini dua tangan aku." Ia pun melayang-layangkan dua tangannya di udara tepat di hadapan wajah Meysa. Cewek itu nampak jelas walaupun gelap kalau tangan Luziana tidak memengang bahunya.

__ADS_1


Seketika pikiran yang enggak-enggak mulai menghantuinya, perasaan pun mulai gak enak. Meysa pun menelan saliva-nya takut. Ia pun kembali menepis tangan yang berada di bahunya. Dia dapat terasa jelas kalau tangan itu sangat kasar, dan besar. Bukan seperti tangan wanita. Berarti bentul ini bukan tangan Luziana, terus yang mengang bahunya. Tangan siapa?


Tanpa menoleh kesamping Meysa pun mendekati handle pintu toilet. Luziana yang merasa aneh pada Meysa, katanya ada yang mengang bahunya. Sedangkan dia hanya berdiri diam. Ia pun menoleh kesamping.


Terlihat tubuh besar, dan hanya seperti bayangan warna hitam. Kemudian terlihat jelas bola matanya merah. Kini sedang menatap mereka. Jantung luziana pun berdetak secara tidak beraturan. Perasaan takut pun mulai menghantuinya. Kakinya kemudian terasa lemas. Pasokan udara terasa berkurang, di dalam toilet yang tengah gelap.


Dengan segera ia memalingkan wajahnya.


Hueek..


Baunya rasanya tidak tertahan lagi di Indra penciuman Luziana, sampai ia ingin muntah. Dengan bau yang sangat menyengat itu. Kepalanya pun pusing.


Meysa berdecih kesal, mendengar Luziana yang hendak mau muntah. "Lo jangan muntah di sini"


"Ada sosok bayangan hitam di belakang kita" Lirihnya dengan bibir bergetar. Meysa pun jadi takut.


"Buka pintunya tolong... Di luar sana tolong bantu kami yang terkunci di toilet ini" Tangan Meysa gak ada henti-hentinya memutar handle pintu toilet sambil mengendor pintu secara kuat.


"Mommy.... Kak Al, Papi. Meysa takut..." Bening air mata pun jatuh dari mata cantiknya Meysa.


Mommy Liona yang baru sedang ingin tidur dan baru tidur berpelukan sama suaminya. Seketika bangun dari merebahkan tubuhnya. Papi Devan yang melihat istri tercintanya tiba-tiba bangun, mengernyitkan dahinya heran.


"Kenapa Mommy tiba-tiba bangun?" Tanya Papi Devan. Mommy Liona pun menoleh kesamping terdapat suaminya sedang tiduran.


"Mommy merasa kayak gak enak hati Pi" Balas Mommy dengan pandangan beralih kedepan. Perasaannya kini ntah kenapa gusar.


"Ada merasa gak enak hati apa sih my. Apa jangan-jangan mommy, merasa gak enak hati karena." Mommy Liona menatap suaminya dengan tatapan serius.


"Karena.. belum kasih Papi jatah," Papi Devan pun tergelak tertawa. Membuat sang istri menjadi kesal, orang lagi serius bisa-bisanya becanda. Cubitan mulus pun mengenai pinggang sang suami. Sehingga Papi Devan meringis pelan, karena cubitan dari sang istri.


Sementara di tempat meja cafe. Vian, Jihan, Nico, merasa aneh kenapa? orang Luziana, dan meysa belum kunjung balik tempat mereka duduk ini. Apalagi mereka pergi sudah sejam yang lalu. Tapi belum juga balik.


Vian melirik sekilas jam tangannya yang sudah pukul setengah sebelas malam. Lalu Vian pun menyapu pandangannya di cafe tersebut yang gelap Karena mati lampu.


"Sudah sejam kenapa mereka belum balik-balik ya" Tutur Jihan cemas. Apalagi kini tengah mati lampu.

__ADS_1


"Mungkin lagi pipis, atau lagi berak mereka. Makanya baliknya lama" Balas Nico santai.


"Iya sih, tapi selama-lamanya berak ataupun pipis gak pernah itu ya istilahnya lamanya sampai sejam. Terus firasat aku mereka seperti terjadi sesuatu." Ntah kenapa firasat Jihan menyatakan, kalau mereka lagi tengah terjadi sesuatu.


Tiba-tiba Pria yang ber style baju hitam, lalu celana hitam datang ke meja mereka. "Maaf kalau menganggu kalian. Nona Meysa nya mana ya? soalnya sudah waktunya dah boleh pulang."


Pria itu adalah sopir pribadinya keluarga Hervandez. Sopir itu dari tadi tidak ada pergi kemana-mana, kalau soal mengantar anak majikannya. Dia bakal nunggu anak majikannya sampai anak majikannya sendiri pengen pulang. Gak ada istilahnya pulang dulu baru, jemput itu gak ada.


Terus cewek itu sangat di atur jam pulangnya. Jika bermain sama temennya. Kalau sudah waktunya pulang, sopir itu datang menghampiri Meysa. Dan mengatakan waktunya nona sudah boleh pulang. Capek sih kalau di lihat segi kerjanya, harus nunggu berjam-jam dan gak boleh kemana-mana kemudian sampai harus menunggu Meysa sendiri yang minta pulang. Tapi gak papa gajinya sangat lumayan. Apalagi di gaji oleh Renaldy.


Selama Renaldy yang handle gaji para semua karyawan apa pun itu dari tingkatan rendah maupun tinggi. Gajinya semuanya di naikin. Membuat mereka jadi makin semangat kerja. Kemudian mereka semua sangat suka kalau Renaldy yang memimpin perusahaan.


Tapi sayangnya itu tidak akan bertahan lama. Setelah waktu liburnya habis dia tidak akan menghandle lagi perusahaan. Karena kerja dasarnya adalah Abdi negara. Tentara berpangkat jenderal. Membuat para mereka semua memikirkannya jadi sedih. Kenapa sih Tuan Renaldy gak jadi pebisnis aja. Kenapa harus jadi Tentara. Tentara gitu-gitu pangkatnya jenderal loh.


Tetapi ada syaratnya juga kalau Renaldy pergi bertugas. Syaratnya adalah kayak seperti biasa. Dia tidak boleh pergi bertugas jika istrinya hamil. Sebenarnya syaratnya simpel. Tapi kenyataannya sekarang jadi susah. Karena Renaldy sudah melakukan berhubungan intim itu tinggal benih berbentuk menjadi sosok yang bernyawa.


Siap-siap Renaldy tidak akan diizinkan pergi bertugas. Kalau di liat Renaldy tipe pria yang bukan, cepat menyerah. Dia mungkin nantik akan berusaha pergi bertugas sebagai abdi negara yang sangat penting itu dengan jangka waktu mungkin panjang. Mungkin ia akan memikirkan rencananya itu.


Apalagi di balik itu Meysa melarang Luziana berhubungan intim dengan kakaknya. Tapi kenyataannya mereka sudah melakukannya, tetapi tidak di ketahui oleh pemilik tubuhnya sendiri. Bahwa Luziana tidak tau kalau mereka sudah melakukan berhubungan badan. Misalnya jika Meysa tau, tiba-tiba Luziana hamil apa yang di lakukan oleh cewek itu. Apalagi di sangat mengusir perempuan itu dari rumah terus bercerai.


Kini pun mereka sudah di depan pintu toilet. Dan terdengar suara teriakan minta tolong di dalam toilet.


...----------------...


Bersambung.


Jangan lupa dukunganya biar author semangat update terbarunya 🤗🙏


LIKE


Hadiah


Komentar


Jangan lupa votenya ya!! Yang belum vote.

__ADS_1


__ADS_2