Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Ceraikan putra saya


__ADS_3

"Halo-halo bibi..." Renaldy yang tidak mendengar suara apapun di sebrang telepon dan teleponan nya pun di matikan sepihak. Pria itu pun menggeram kesal. Karena teleponnya di matikan sepihak.


Dengan langkah yang lebar tanpa pamit apa-apa, pria itu langsung pergi menuju ke parkiran, di tempat dimana mobilnya berada. Sampai-sampai sapaan para prajurit yang berlalu-lalang tidak ia gubris.


"Ada apa dengan jendral, gak seperti biasanya aja" Tanyanya heran gak seperti biasanya Renaldy tidak membalas sapaan mereka walaupun hanya sekedar anggukan kepala.


"Mungkin aja lagi buru-buru, lihat aja jalannya cepat tadi" Balasnya yang melihat langkah jendral nya memang cepat tadi seperti buru-buru ngejar sesuatu. Ia pun mengangguk paham.


Renaldy yang kini sudah berada di parkiran mobil. Langsung ingin masuk ke dalam mobilnya. Namun gerakan itu terhenti. Mendengar Arya mencegatnya untuk berhenti.


"Rey buru-buru amat kau, mau kemana? Para petinggi batalyon masih di dalam itu" Ujar Arya bertanya dengan nafas terengah-engah. Karena berusaha mengejar langkah Renaldy.


"Saya mau ke rumah sakit. Saya serahkan tugas kepada mu, tolong selesaikan apa yang belum selesai! Aku sudah tidak ada banyak waktu lagi"


Brak


Suara tutup pintu mobil terdengar menggema. Renaldy pun langsung menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan tempat itu sekarang juga.


Sementara Arya mematung menatap mobil Jendralnya yang kian menjauh dari pandangannya.


"Ada urusan apa dia di rumah sakit sudah mau hampir tengah malam-malam begini." Gumam Arya dengan menautkan alisnya. Gak mau berpikir panjang, dia pun kembali masuk ke dalam kantor militer. Dan melayani para penjabat tinggi di batalyon.


Kecepatan mobil yang di kendarai Renaldy begitu kencang seperti kilatan cahaya. Perasaan panik, khawatir mencampur aduk menjadi satu. Dia sudah tidak berpikir lagi tentang keselamatan dirinya sendiri. Yang penting bagi dirinya, bagaimana dia sampai lebih awal. Sebelum istrinya kenapa-kenapa.


Kecepatan mobil yang sudah kelewatan batasnya. Apalagi jalan raya itu sedang sepinya. Dan itu membuat waktu luang untuk cepat sampai ke rumah sakit Pertamedika, dimana tempat istrinya berada. Namun tiba-tiba ada sebuah mobil yang muncul secara mendadak di depan mobil Renaldy. Dan itu membuat pria itu membanting stir mobil kemudian berakhir menabrak trotoar jalan.


Brak...


Suara tabrakan terdengar menggema dengan malam yang terlihat sunyi. Hembusan angin malam pun terlihat lebih kencang daripada sebelumnya. Langit-langit malam pun terlihat lebih gelap daripada biasanya. Tanda-tanda hujan mau turun pun kian ingin menampakan dirinya.


Renaldy yang berada di posisi dalam mobil. Kepalanya berdarah terkena serpihan kaca mobil. Dan tubuhnya pun mengalami luka-luka. Dia pun mengalami pingsan dan itu cuman beberapa detik saja.


Selang beberapa detik, Renaldy pun sadar dari pingsannya. Dengan luka parah di tubuhnya ia memaksa keluar dari mobil mewahnya yang sudah berakhir peot di bagian depannya. Di malam yang dingin itu, tidak ada satupun orang membantu Renaldy sedikitpun. Ya karena di situ memang tidak ada orang sama sekali. Orang mengendarai mobil yang muncul secara tiba-tiba itu pun sudah hilang tanpa jejak.


Dengan langkah yang pelan Renaldy menyusuri jalan yang sunyi sembari menelepon ajudannya untuk menjemputnya.

__ADS_1


"Halo Arsen bisa kau ke tempat jalan merpati" Spontan Renaldy tiba-tiba setelah teleponnya terhubung dengan ajudannya itu.


"Bisa tuan" Jawab Arsen dengan tegas.


"Yaudah cepat kau sini, dan saya tidak mau menunggu lama." Telepon itu pun berakhir. Renaldy itu pun kembali berjalan pelan dengan perasaan kalut.


"Ya tuhan... semoga istri dan calon anak ku di dalam kandungannya baik-baik aja" Batin Renaldy berdoa, berharap anak dan maupun istrinya baik-baik saja.


Kemudian beberapa langkah berjalan. Masalah kembali muncul. Ada tiga pria muncul dengan membawa senjata tajam. Gak main perlu tebak-tebakan, tiga pria itu adalah suruhan Papa Haris. Mertua Renaldy, ayah dari istrinya.


"Siapa kalian, kenapa kalian menghalangi saya?" Suara berat yang di lontarkan Renaldy sedikit membuat tiga pria itu sedikit ketar-ketir. Apalagi tatapan Renaldy yang menghunus dan tajam. Walaupun sudah terluka parah pria yang bakal menjadi ayah itu tidak membuat dirinya ketakutan. Malahan lawannya terlihat seperti itu.



Di sisi lain, di tempat coffe shop yang dekat rumah sakit. Seorang pria paruh baya duduk menyilangkan kakinya menatap istrinya yang cemberut. Sebut saja pasangan goals, sama-sama jahat soalnya.



"Terus rencana selanjut papa apa? Jadi gak kita ambil bayi mereka" Ucap Mama Safira sembari menggerutu kesal mengingat kejadian tadi.




"Aduuh, tahan nak ya Buna lagi berusaha untuk manggil dokter" Ucap Luziana menyemangati bayi di dalam kandungannya yang seperti memaksa ingin cepat keluar. Padahal pembukaan belum lengkap.


"Dokter... Suster" Teriak Luziana yang sudah kehabisan tenaga, yang sedari tadi memanggil para kinerja rumah sakit tersebut. Tapi tidak satupun datang memeriksanya. Bu tuti yang mengantar majikannya ke rumah sakit itu pun di larang masuk. Oleh Papa Haris. Dan parahnya juga ada papi Devan yang biasanya selalu di pihak Luziana. Sekarang seakan tidak peduli dengan keadaan menantunya itu yang sedang berusaha melahirkan keturunan perwaris.


Luziana yang posisi tidur berusaha untuk bangun. Namun niat itu ia urungkan setelah merasakan ada yang keluar sesuatu dari selangkangnya. Luziana pun mengingit bibir bawahnya merasakan sakit yang luar biasa.


Ceklek


Pintu pun terbuka dan menampilkan Papi Devan. Luziana yang mendengar suara pintu terbuka menoleh pelan ke arah sumber suara.


"Papi? Papi tolong manggilkan dokter, Luziana sudah tidak la-"

__ADS_1


"Bisakah kau diam untuk sejenak" Tekan Papi Devan membuat Luziana diam seketika.


"Gak bisa air-"


"Cukup diam! saya kesini bukan untuk mendengar keluhan kamu" Luziana yang menatap papi Devan yang begitu tajam ke arahnya menundukkan kepalanya dalam sembari mengigit bibir bawahnya kuat untuk agar tidak bersuara saat kontraksi mulai terasa.


"Saya datang kesini untuk menyampaikan bercerai lah dengan putra saya" Luziana yang mendengarnya langsung membulat matanya sedetik dan menunjukkan kepalanya kembali.


"Saya tahu disini saya bersalah. Tapi baguslah kalau kamu sudah mengetahui duluan apa maksud saya, menikahkan putra saya dengan mu. Dan satu lagi padahal saya ingin menjelaskannya kepada mu, tetapi kamu sedikit pun tidak mau mendengar penjelasan saya. Dan beraninya juga kau tanpa saja mengusir saya. Kemudian untuk itu saya ingin kamu bercerai dengan putra saya, untuk surat perceraian biar saya urus di pengadilan dan kamu cukup tanda tangan saja. Saya kembalikan balik kamu ke orang tua kamu Untuk hak asuh anak, jatuh kepada kamu. Seterah kamu ingin mengurusnya seperti apa di tempat orang tua mu. Saya berjanji gak akan menganggu kehidupan kamu dan kedua anak mu." Papi Devan menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.


"Lagipula saya bisa punya keturunan perwaris lain. Dengan menikah putra saya dengan wanita lain tanpa menjatuhkan harga diri saya dengan memohon untuk hanya memperbaiki hubungan dengan orang tidak menghargai saya. Cuman itu ingin saya sampaikan, tolong kamu segera ceraikan putra saya."


Luziana yang mendengarnya gak sanggup menahan tangisnya. Wanita mana sih gak nangis kalau di gituiin, cuman di peralat doang lalu di campakkan begitu saja. Dan Papi Devan pun dengan mudah mengatakan mencari status pengganti untuk putranya. Seolah anak di dalam kandungan Luziana gak ada berarti apa-apanya.


"Iya, kalau itu Om mau nanti saya sampaikan kepada putra om. Semoga nanti dengan kehadiran menantu baru Om bisa lebih membuat keluarga om lebih bahagia, dan makasih untuk semuanya" Ucap Luziana dengan air matanya yang sudah berlinang.


Papi Devan mengangguk kepalanya sebagai jawaban. "Terimakasih, kalau begitu saya pamit undur diri. Saya juga minta maaf, tidak membantu persalinan kamu. Karena orang kinerja rumah sakit sini sudah di bawah pengaruh Papa kamu"


Setelah mengatakan itu Papi Devan pun pergi meninggalkan ruangan itu. Melihat Papi Devan yang sudah hilang dari pandangannya. Tangis Luziana saat itu langsung pecah. Luziana pun menangis tersedu-sedu mendengar perkataan papi Devan tadi yang begitu menyayat hati. Hatinya terlalu sakit. Apalagi dirinya yang memang sedikit pun tidak bisa di banggangakan apa-apa.


Terlebih lagi dia akan di kembalikan ke orang tuanya. Dengan orang tuanya yang tidak mau menerima anaknya.


Semangat Luziana untuk melahirkan seketika pupus. Dia hanya bisa menangisi hidup nya.


...----------------...


Untuk para readers, tolong komentar di jaga sedikit. Author tahu kalau kalian pasti berekspektasi cerita ini seperti di dalam pikiran kalian. Tapi sayangnya cerita ini gak sesuai realita di dalam pikiran kalian, makanya kalian komentar seenaknya. Author jujur gak marah kok. Cuman kesal aja dah tahu cerita ini gak suka bagi kalian. Tetap kalian baca dan komentar seenak kalian. Biasanya orang kalau gak suka, gak lanjuti. Tapi ini kalian lanjutin kalau bisa sampai ending. Gimana saya gak kesal coba. Saya tahu saya tidak seperti author kalian banggakan famous dan hebat-hebat di luar sana. Tetapi tolong lah hargai karya saya walaupun baru pemula. Kalau gak mau di hargai its oke kamu cukup skip dan gausah banyak belagu.


Untuk yang masih dukung author makasih banget, lope-lope sekebon buat teman-teman semua ๐Ÿ–ค๐Ÿ–ค. Tenang aja yang udah mau nungguin endingnya seperti kalian mau kok see you di bab selanjutnya ๐Ÿงก


Jangan lupa follow Instagram author: maulyy_05


Ya mau nunggu update selanjutnya, jangan lupa berikan vote dulu ya teman-teman. Dan hadiahnya, kalau bisa hadiahnya nonton video iklan sekian terimakasih.


Kalau di turutin di jamin update deh hihihi ๐Ÿ‘ป

__ADS_1


__ADS_2