
Sudah dua minggu Luziana, melakukan pekerjaan yang di suruh Mommy Liona. Namun tetap saja kayaknya, belum ada pelayan pengganti. Begitu pula beberapa hari ini, Luziana mengalami mual tiap pagi. Kalau tanya Renaldy, mengetahui istrinya mual-mual jawabannya tidak. Walaupun mereka sekamar Renaldy tidak mengetahui itu yang terjadi pada istrinya. Karena selain gak ada dirumah, bangun pagi Luziana dan Renaldy berselisih satu jam. Renaldy selalu bangun awal, dan itu Luziana masih tidur.
"Gimana ni.. rasanya risih sekali" Ucap Luziana dengan lemas. Gara-gara mual, nafsu makannya berkurang. Dan juga dia mudah cepat kecapean selama ini. Membuatnya, tidak sanggup menyelesaikan apa yang di perintah ibu mertuanya. Tapi tetap saja, Luziana melakukan apa yang di suruh Mommy Liona. Walaupun tubuhnya tidak sanggup melakukan pekerjaan itu lagi, namun ia paksa tubuhnya untuk berkerja.
"Hamil gak sih loh.." Celetuk dari mulut Lisa. Setahunya tanda-tanda seperti orang hamil aja. Semua pandangan kearah ke Lisa.
"Kenapa kalian merhatiin gue, ada yang salah kah?" Tanya Lisa seraya mengerutkan dahinya bingung.
"Ada.. ada banget mana mungkin Luziana bisa hamil tanpa berhubungan badan. Dan berhubungan badan itu harus sama suaminya. Jadi kita lihat sekarang dia belum menikah bego, mana bisa dia hamil tolol" Ucap ketus Anita. Mereka percaya kalau Luziana itu bukan tipe perempuan yang suka pergaulan bebas. Gini ya dekat sama cowok aja jarang, apalagi pacaran ya kan.
"Ck' kebanyakan nonton sinetron" Berdecak kesal Karina.
Lisa yang di kenak semprot oleh kawannya. Menjadi kesal dengan mereka.
"Gue kan cuman bilang, gausah ngegas napa" Lisa memutar matanya malas. Mereka menangapi perkataan Lisa, dengan terkekeh kecil.
"Gini ya mending Lo berobat aja di rumah sakit kek, ataupun klinik" Saran Karina untuk Luziana. Soalnya perempuan itu sudah membeli obat sakit maag. Tetap saja tidak mempan untuk Luziana. Yang ada berefek perutnya merasa kram. Kemudian Luziana sudah membeli beberapa obat, tetap saja tidak sembuh. Malah membuatnya perutnya makin sakit, dan mual tambah parah.
"Biar tahu ada penyakit apa di perut Lo itu. Mungkin sakit lambung, maag, atau mungkin usus buntu. Terlebih lagi mungkin sakit kista, mungkin saja. Jadi lebih baik berobat dulu. Biar tahu harus ada tindakan apa selanjutnya. Daripada asik beli obat terus menerus tapi gak sembuh-sembuh juga, yang ada malah tambah sakit" Sambung Karina santai.
"Betul tuh saran Karina" Celetuk Anita yang membenarkan perkataan Karina.
"Iya sih, tapi harus bayar kan pergi ke klinik. Aku mana ada uang.." Karina dan Anita menatap malas kepada Luziana. Pasti hambatannya itu, gak ada uang.
"Gak mahal loh berobat ke klinik. Cuman berapa ya?" Tanya Anita sembari mengingat beberapa biaya berobat di klinik.
"Palingan lima ratus ribu atau satu juta. Setahu ku berobat di rumah sakit Medikal, milik keluarga Hervandez. Berobat di sana satu juta minimal paling murah. Kalau di klinik mungkin Lima ratus ribu" Ujar Karina panjang lebar.
"Itu mahal banget..." Ucap Luziana lesu.
"Mahal dari mananya bego, cuman lima ratus doang aja" Balas Karina.
"Tapi tetap saja itu uang kan" Membuat Karina terdiam. Ia pun mengehela nafas panjang.
__ADS_1
"Iya sih memang uang, kan itu untuk diri sendiri Lo kan. Masa Lo gak mau keluarin uang, untuk kesembuhan Lo lun. Minimal Lo usaha biar sembuh, jangan pasrah gitu. Sesuatu itu harus ada usaha, dan usaha itu pasti ada cobaannya. Jangan pasrah aja dengan takdir. Kalau gak Lo minta uang sama orang tua Lo. Bilang gini Luziana, sering mual-mual, sering pusing. Luziana pengen berobat klinik. Berobat klinik itu butuh uang, Lo minta uang lima ratus ribu untuk Lo berobat. Selesaikan.." Tutur Karina memberi solusi.
"Iya Lo mah enak ngomongnya. Yang susah itu aku" Balas Luziana. Dia sebenarnya ada di kasih uang sama suaminya. Tapi ia simpan itu untuk yang lebih penting aja.
"Masa orang tua Lo gak mau kasih uang untuk anaknya berobat. Setahu aku ayah Lo kerja kantoran kan di perusahaan Hervandez. Jadi adalah uang untuk pergi anaknya berobat" Balas Karina yang sedikit mengenal tentang Papa Haris, ayah Luziana.
Emang betul sih apa yang di bilang. Tapi emang Papa Haris mau kasih uang untuknya. Sementara Papanya itu pelit dengan dirinya.
"Yaudah aku bayarin aja biaya kliniknya gimana?" Tawar Karina yang melihat Luziana hanya diam.
"Eaayy baik kali kakak kita. Yang kaya ni, setiap bulan di kasih uang dua puluh juta ya kan. Ponselnya aja iPhone 13 pro max. Mobilnya aja keluaran baru" Heboh Anita.
"Iya dong, Karina gitu loh.. anak paling kaya. Anaknya nyonya Kinasih sama tuan kenan" Bangga Karina.
"Stress.." Cibir Lisa. Kalau Karina dah pamer gini, dah lah pamernya, Meysa mah lewat.
"Makasih atas tawarannya. Tapi gausah aja, aku mungkin cuman sakit biasa. Nantik ku coba beli obat yang herbal" Tolak Luziana yang tidak ingin menjadikan beban untuk temannya.
Meysa berlari dengan kencang di koridor sekolah, hingga menabrak langit.
"Aduuh..." Ringis kesakitan Meysa di bokongnya.
Langit menaikan alisnya, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu sepupu nyebelin nya itu.
__ADS_1
"Lo kenapa lari-lari di koridor sekolah macam di kejar setan aja" Ucap langit dengan ekspresi datarnya.
"Gue mau cari Luziana" Ketus Meysa seraya merapikan bajunya.
"Luziana? buat apa.." Tanya langit seraya mengerutkan dahinya.
"Ya pengen maki dia lah, dia itu dah kelewatan batas. Masak dia taruk pisau di loker gue. Terus pisaunya di tusuk tikus lagi" Balas Meysa bergidik ngeri.
"Pisau ditusuk tikus di loker Lo. Luziana gue liat di kedai dari tadi..." Ujar langit bingung.
"Masa... pas gue cek pertama gak ada pisau yang di tusuk tikus. Terus pas selesai istirahat tiba-tiba ada aneh kan. Kemudian siapa coba yang berani kayak gitu ke gua kalau gak rakyat jelata itu" Ketus Meysa yang kesal.
Iya benar juga sih apa di bilang Meysa. Karena terkenal orang paling kaya di sekolah ini. Dan pemilik sekolah ini gak ada yang berani sama Meysa kecuali, Luziana.
"Tapi Luziana gue lihat dia sudah dari tadi di kedai depan sekolah" Meysa menaikkan alisnya sebelah.
"Kayaknya ada niat ingin membunuh Lo sya!"
__ADS_1