
Dua suster berdatangan, setelah mendengar tangisan bayi. Saat sudah berada di ruangan mereka pun, langsung mengendong bayi twins tersebut.
"Ra, bayi ini panas banget..." Ujar suster tersebut pada rekannya.
"Masa sih?" Dengan raut wajah tak percaya, ia pun berjalan melangkah mendekati rekannya itu. Dan mengecek suhu bayi Cila dengan punggung tangannya.
"Iya benar..." Serunya merasa suhu tubuh Cila sangat panas.
"Duh gimana ya?" Bingung nya gak tahu harus berbuat apa. Sementara bayi itu masih terus menangis di dalam gendongannya.
"Gak tahu sih, tapi bayi yang kembarannya baik-baik saja" Ujarnya kepada rekannya. Rekannya itu mengangguk kepalanya paham.
Ia pun melakukan tugasnya berusaha menurunkan demam bayi Cila. Namun sudah berbagai cara di lakukan, demam bayi Cila tidak turun kunjung. Kemudian menangis nya tidak berhenti-henti.
Pukul 3 subuh pagi lewat. Bayi Cila akhirnya bisa tertidur. Walaupun suhu tubuhnya tidak sepenuhnya turun. Suster bernama Melani itu pun bernafas lega. Selain capek, waktu tidurnya juga tersita. Mengurus bayi Cila. Sementara abangnya sudah sedari tadi tidur.
Suster Melani pun kembali pada kamarnya.
"Gimana? Sudah turun?" Tanya suster Ratih yang mengurus bayi Revan tadi. Suster Melani yang baru sampai di ruangan, dan di sambut oleh pertanyaan, oleh temannya memutus untuk tidur aja. Soalnya dia sudah lelah banget, karena berdiri sampai tiga jam.
Pertanyaan suster Ratih yang tidak jawab oleh temannya itu mengerucut bibir nya kesal. Melihat temannya sudah main tidur aja. Tanpa menjawab pertanyaannya terlebih dahulu.
Suster Ratih pun memutuskan untuk tidur juga di tempat meja piket. Karena dia juga merasa ngantuk.
Pagi yang cerah pun datang. Suster yang jadwal memeriksa dan mengurus bayi twins tersebut. Dia buat kaget bukan main. Saat mengecek bayi Cila sudah tidak bernyawa lagi. Sampai-sampai suster tersebut memanggil dokter anak.
"Bagaimana dok kondisinya?" Tanya suster tersebut kepada dokter yang memeriksa bayi Cila.
Sebelum menjawab dokter bernama Lula menghembuskan nafas berat, sembari mengeleng kepalanya pelan dengan raut wajah terlihat pasrah.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un"
"Bayi Cila sudah meninggal, kamu sekarang hubungi keluarga nya sampaikan berita ini. Dia meninggal jam pukul 9.00 pas" Titah dokter Lula kepada suster itu. Suster tersebut mengangguk mengiyakan dan langsung melakukan apa yang di perintahkan. Ia pun langsung menelpon ayah dari sang bayi.
Tak berangsur lama, teleponnya terhubung.
"Halo assalamualaikum tuan..." Ucap suster itu di sebrang telepon.
"Walaikumsalam, ada apa?" Tanya Renaldy to the point.
__ADS_1
"Anuh, gini tuan bayi Cila sudah meninggal, pada pukul 9.00 pas" Ujar suster itu langsung di sambut ekspresi kaget oleh Renaldy di sebrang telepon.
"Hah, Jangan becanda kamu!" Seru Renaldy yang langsung berdiri dari kursi besarnya.
"Benar tuan, saya tidak bercanda. Kalau ingin bukti datang sendiri ke rumah sakit" Balasnya. Dan telepon nya di matikan sepihak oleh Renaldy. Arya yang berada berdiri di depan meja kerja Renaldy, langsung di buat bingung melihat ekspresi jenderal nya. Yang tiba-tiba saja ekspresi berubah.
"Rey kau kenapa?"
Tidak ada respon.
"Siapa yang menelepon mu tadi?" Tanya Arya lagi. Namun tetap tidak di jawab oleh Renaldy. Dengan langkah lebar, Renaldy langsung meninggalkan ruangan kerjanya.
"Rey kau mau kemana? Bentar rapatnya bakal mau di mulai!" Ucap Arya dengan nada berteriak. Namun teriakan itu tidak membuat Renaldy berhenti. Pria itu tetap terus berjalan menuju parkiran. Dimana mobilnya terparkir.
Saat sudah berada di dalam mobil, Renaldy langsung menancap gas meninggalkan kantor militer tersebut. Arya yang melihat Jendralnya langsung pergi. Memutuskan untuk mengikuti dari belakang, dengan menaiki mobilnya sendiri.
Rumah sakit Pertamedika.
Renaldy tersenyum getir melihat putrinya yang sudah berwajah pucat. Dan hidungnya di tutupi oleh kapas.
"Hey cantik... Kenapa diam aja. Ayah sudah disini di samping kamu, buka dong, matanya" Tanpa permisi air mata Renaldy langsung luruh membasahi pipinya. Ia pun mendekati wajah ke wajah putrinya. Yang wajahnya juga persis dengan dirinya, tapi versi cewek.
Arya yang melihatnya, mengusap wajahnya kasar. Saat merasakan air matanya, ingin keluar. Melihat adegan yang bikin sangat menguras air mata.
"Kalau Cila begini terus, nanti kita gak bisa ngumpul sama Buna dan sama Abang Revan..." Air mata Renaldy makin deras mengalir sampai mengenai wajah bayi mungil tersebut.
Arya yang sudah tidak sanggup menahan air matanya lagi. Langsung menangis sembari mendekati Renaldy, dan menepuk pundak jenderalnya itu.
Merasa ada yang menepuk pundak, Renaldy menoleh dan menatap Arya yang mengasih isyarat untuk menyudahinya, karena bentar lagi bakal proses pemakannya.
"Udah Rey, kau harus tabah. Ini sudah takdir Allah yang nentuin semua ini. Kau hanya perlu berdoa dan mengikhlaskan anak mu" Tutur letnan Arya.
"Tapi gak harus anak saya" Ucap Renaldy yang sangat sedih di tinggalkan oleh anaknya.
Arya tersenyum tipis. "Ajal itu gak ada yang bisa nentuin? bisa jadi besok kita yang mati. Jadi kita sebagai hambanya cuman bisa mengikhlaskan dan mendoakan semoga anak mu tenang di alam sana" Ujar Arya membuat Renaldy mengangguk mengiyakan sembari menghapus air matanya mengunakan punggung tangannya.
Renaldy pun berusaha tersenyum lebar, menatap anaknya begitu cantiknya persis seperti Buna nya. Lalu ia mengecup kening putrinya sembari memegang pipi putrinya.
"Maafin ayah ya Cila, coba aja Buna kamu gak bohong. Mungkin putri ayah yang cantik ini, gak merasakan kesakitan seperti ini"
__ADS_1
Renaldy bukan pilih kasih sayang! Tapi memang kondisi putri nya itu membuat dirinya, menjauh dari putri kesayangannya. Kalau Cila gak bakal sakitan, sudah sedari dulu Renaldy yang mengurus anaknya menggunakan tangannya sendiri.
Pemakaman Cila pun selesai. Renaldy mengusap batu nisan putri nya.
"Baru aja, terasa kemarin ayah, melihat Cila lahir. Sekarang Cila udah pergi ninggalin aja" Ucap Renaldy dengan suara helaan nafas kian memberat. Matanya pun kini mulai berkaca-kaca.
Andai istrinya gak bohong kepada dirinya. Andai istrinya teredukasi. Andai istrinya tidak mengejan paksa sebelum pembukaan lengkap. Mungkin ini semua tidak terjadi. Dan mungkin saja Cila gak mati-matian harus melawan penyakitnya.
...----------------...
Maaf bukannya gak peduli dengan komentar kalian. Soalnya kalau Luziana, sadar terus bawa pergi anaknya, itu bakal panjang ceritanya. Author memilih seperti ini biar, penyesalan Renaldy kenak. Dan semua kebusukan keluarga Renaldy terungkap. Biar penyesalan Renaldy plus.
Sekian terimakasih
Sebelum menunggu update selanjutnya jangan lupa mampir di novel author yang sebelahnya ya!
Judulnya: Vanilla (Love and Dare)
Dan juga Jangan lupa dukungan, like, vote komentar gift hadiah. Dan follow Instagram author: maulyy\_05
__ADS_1
Lope sekebon untuk semuanya yang mau nurutin 💛💛