Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Seolah menyuruhnya


__ADS_3

Luziana memejamkan matanya mendengar suara pukulan meja yang sungguh memekakkan telinga. Pria itu terlihat sangat marah, bisanya kartu black card itu jatuh tangan adiknya.


"Kenapa bisa di ambil oleh Meysa" Bentak Renaldy dengan nada tinggi. Membuat Luziana gemetaran ke ketakutan.


Renaldy yang tidak respon oleh Luziana. Terpaksa menanyakan sendiri kepada adik satu-satunya itu. Pria itu melenggang pergi mencari adiknya.


Tapi saat pria itu membuka pintu, dan saat menutup pintunya kembali, pria itu membanting pintunya hingga menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga.


Luziana yang di dalam memejamkan matanya. Kembali membuka matanya kembali.


"Aduh... gimana ni." Gumamnya takut. Perempuan itu takut, karena akan terjadi perdebatan antara kakak dan adik, dan pastinya pasal karena dirinya. Mau gak mau perempuan itu menyusul suaminya.


Meysa berjalan dengan begitu anggun d juga dengan penampilannya yang begitu mewah. Gimana gak mewah bajunya aja barang merek semua. Ya, pasti kualitasnya sangat bagus.


Ia pun berpapasan dengan kakaknya, Renaldy. Dan di susul oleh istrinya di belakang Pria itu, Luziana. Meysa dapat merasakan aura dingin disini. Apalagi melihat raut wajah kakak seperti mau marah kepadanya.


Renaldy menarik nafas dalam-dalam, dan raut wajahnya kembali datar. "Dimana kartu black card."


What kartu black card, apa jangan-jangan kak Al sudah mengetahuinya. Cepat banget ketahuannya pasti gara-gara rakyat jelata itu. Dasar tukang ngadu. Ck' belum lagi aku puas-puas belanja, dah cepat ketahuan. Liat aja ko Luziana gue habisin Lo nantik.


"Kartu black card, maksudnya apa kak." Meysa memutar otaknya keras, supaya kesalahan ia ini menjadi kesalahan kakak ipar sialan itu.


Renaldy berdecih pelan. Ia menatap tajam istrinya yang berada di belakang sedikit berada di sampingnya.

__ADS_1


Menghela nafas panjang. "Kakak bilang balikin kartu black card yang telah kamu ambil" Ucapnya jelas dengan raut wajah datar.


"What ambil kartu black card. Kapan? setahu Meysa. Meysa kartu black card nya di kasih lah sama kakak ipar. Ya kan kakak ipar. Padahal kak Al, Meysa sudah menolaknya gak mau menerima kartu black card itu. Tapi Kakak ipar." Dustanya agar kesalahan ini menjadi kesalahan Luziana. Jadi dirinya gak kenak marah. Sekalian bikin merusak harga diri perempuan itu di depan kakaknya.


"Apa benar yang di katakan Meysa" Tanya Renaldy dengan tegas pada istrinya.


Luziana yang tadi menunduk kini mendongak menatap adik iparnya. Bisanya adik ipar menuduh dirinya. Padahal jelas-jelas bahwa yang salah itu Meysa. Ngapain jadi cewek itu menuduh dirinya.


"Enggak itu, gak benar" Balas Luziana seraya mengeleng kepalanya pelan. Meysa yang melihatnya memutar bola matanya dengan malas.


"Saya gak ada kasih itu kartu tanda pengenal pada Meysa. Tapi Meysa sendiri yang ambil kartu itu di kamar kamu. Katanya sudah minta izin dengan kamu" Ujar Luziana menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah mengasih kartu black card itu pada Meysa. Renaldy yang mendengar istrinya menyebut kartu black card itu dengan sebutan kartu tanda pengenal hanya bisa menghela nafasnya kasar.


"Masuk kamar?" Ulang Renaldy mengeryitkan dahinya heran. Dan di anggukan kepalanya dengan pelan oleh Luziana sebagai jawaban.


"Apaan Lo gausah nuduh ya! dasar rakyat jelata. Lo pengen itu kartu black card itu untuk foya-foya kan. Bilang aja gak butuh. Ternyata munaf-"


"Cukup Meysa!" Sentak Renaldy mencoba mengakhiri ejekan Meysa pada istrinya.


"Ngapain kamu masuk kamar kakak" Tanya Renaldy datar dengan nada pelan.


Meysa yang di tanya begitu berdecih pelan. "Ya emang gak boleh masuk kamar kakak sendiri, kan Meysa ke kamar kak Al ingin cuman lihat-lihat aja" Ucap Meysa dengan raut wajah di buat sedih. Padahal faktanya cewek itu ke kamar Renaldy ingin bikin masalah terhadap istrinya.


Renaldy menghela nafas berat dan menghembuskan nafas dengan perlahan. "Kakak sudah bilang kan. Kakak gak ngizinin kamu masuk kamar kakak lagi"

__ADS_1


"Kenapa, apa sebab karena perempuan ini" Ucap Meysa seraya menunjuk ke arah Luziana. Luziana yang di tunjuk oleh Meysa mundur beberapa langkah.


"Bukan, ini hanya peraturan kakak sendiri" Jelas Renaldy bahwa pria itu tidak mengizinkan adiknya keluar masuk kamarnya. Dengan seenaknya, apalagi statusnya sudah beda. Sudah beristri, mungkin gak lama lagi punya anak kan.


Meysa yang mendengar pernyataan kakaknya hanya bisa diam.


"Sekarang balikin kartu black card nya" Pinta Pria itu datar.


"Ck' buat apa sih kak Al minta balik kartu nya. Buat kasih ke perempuan ini. Dia aja nafkahi batin kakak aja gak ada" Ucap Meysa ketus.


Seketika Luziana pipinya memanas. Bisanya cewek itu membahas tentang itu, tentang hal yang selalu berusaha ia hindari.


Refleks Luziana memeluk lengan suaminya. "Udah gausah di minta lagi kartu tanda pengenal nya. Lebih baik ikhlasin aja ya kak Al" Ujar Luziana pada suaminya. Renaldy melihat sikap istrinya menjadi berubah menjadi aneh melihatnya.


Meysa yang melihatnya seketika juga jadi kesal. "Ngapain Lo mengang kakak gue. Pakai segala manggil kak Al lagi. Dia itu Kakak gue bukan Kakak Lo," Cewek itu sangking kesalnya ia sedikit mendorong bahu Luziana. Hingga Luziana menatap Meysa dengan sinis.


"Kalau butuh uang nafkahi batin suami dulu" Sindir Meysa dengan tersenyum sinis. Renaldy yang mendengarnya hanya cuek. Pria itu tidak pernah niat ingin minta haknya. Malahan dia sendiri tidak ingin menyentuh istrinya sama sekali.


Sementara Luziana. Mengerutkan dahinya bingung, apa memang benar di bilang Meysa. Masa dia harus dapat uang, harus melakukan itu. Lebih baik pakai cara lain, dari pada melakukan hubungan intim. Terus Meysa katanya kemarin itu melarangnya dirinya berhubungan suami-istri sama kakaknya. Terus sekarang kenapa cewek itu seolah kayak memaksanya.


Renaldy yang sudah malas berdebat melenggang pergi menuju kamarnya. Dia sudah tidak memikirkan lagi itu kartu. Nantik pria itu blokir aja kartunya. Renaldy bukannya pelit, tapi pria itu tidak ingin adiknya terlalu menghamburkan uang.


"Maksud kamu apaan bilang begitu, kata nya kemarin melarang aku untuk berhubungan suami-istri dengan kakak mu. Tapi sekarang kamu seolah menyuruh untuk melakukannya. Mau kamu apa sebenarnya Meysa" Tanya Luziana seraya menaikkan alisnya.

__ADS_1


Sudut bibir Meysa terangkat. "Lo angkat kaki dari rumah ini. Sekalian Cerai dengan Kakak gue."


__ADS_2