
Luziana menatap hotel yang berwarna bernuansa putih mewah. Perempuan itu berjalan mendekati penjaga pintu hotel.
"Om ballroom hotel di mana ya?" Tanya Luziana kepada penjaga pintu hotel tersebut.
Pria penjaga pintu itu menatap Luziana dari kepala sampai ujung kaki. Perempuan ini cantik sih, tapi pakaiannya-.
"Dek salah satu murid di SMA Harvard ya?" Tanya balik pria itu.
"Iya benar, saya kesini mau ke acara ekskul yang di adakan disini. Om bisa tunjukkan dimana ballroomnya" Ujar Luziana lalu di anggukan kepala oleh pria penjaga pintu tersebut.
"Bisa kasih tiketnya." Tiket itu sengaja di buat oleh Meysa kalau orang yang pergi itu sudah membayar biaya untuk acaranya, dan juga salah satu pertanda bahwa seseorang itu benar-benar dari murid SMA Harvard.
"Bisa." Luziana langsung mengeluarkan tiket yang ia taruh dalam tas ranselnya.
"Ini tiketnya" Para penjaga pintu hotel tersebut menerimanya.
"Dek kok perginya telat kali.." Tanya pria itu sambil mengasih tiket yang ia sudah stempel. Luziana pun menerimanya sembari mengerutkan dahinya heran, padahal pas lah jamnya pergi malahan kayaknya ia pergi kecepatan. Sebelum menjawab, orang yang sudah mengantri juga mau menginap di hotel ini, protes.
Terpaksa Luziana melangkah masuk ke dalam hotel tersebut, setelah di kasih letak ballroom hotelnya dimana. Luziana di buat terperangah dengan isi dalam hotel itu yang bernuansa emas. Kalau bisa di bilang juga, bangunan itu terbuat dari emas. Didalamnya ada patung, lukisan lalu ada air mancur.
"Ya ampun bagus banget ini hotel, pantesan biayanya mahal" Kagum luziana sembari menatap sekitarnya.
"Luziana..." Panggil Karina yang melihat Luziana yang baru masuk di ballroom hotel. Luziana pun mengalihkan pandangannya ke mana suara yang memanggil dirinya itu berada.
Karina dengan ekspresi bingung, menatap Luziana dari kepala hingga ujung kaki.
"Karina..." Senyum Luziana turun seketika melihat pakaian Karina.
"Lo kok pakai baju taekwondo sih" Ucap Karina menautkan alisnya bingung, dengan penampilan pakaian Luziana.
"Emang di suruh pakai baj-" Sebelum melanjutkan suara mikrofon terdengar satu ruangan ballroom hotel tersebut.
"Tolong semuanya diam, untuk yang masih berdiri silahkan duduk, menurut nomor kartu nomor kursinya masing-masing" Ucap Meysa dengan senyuman Smirk nya. Akhirnya orang dia tunggu datang juga.
__ADS_1
Karina pun berjalan menuju kursinya, sambil bergumam.
"Wah... gak ada beres kayak ni" Gumam Karina.
Luziana berjalan mencari bangkunya yang bernomor sepuluh. Bangku itu paling depan kemudian di tengah-tengah di antara semua meja.
Perempuan itu mendaratkan bokongnya di kursi itu, sembari menatap sekitar, yang orangnya mengunakan gaun semua. Para lelaki tidak ada, di situ para kaum wanita saja yang ada.
"Tolong yang pakai baju taekwondo, nyasar atau gimana sih" Cibir Meysa sampai semua murid menatap Luziana semua. Baru nyampe baru duduk dan di rosting duluan. Semua tampak berbisik-bisik melihat pakaian Luziana.
"Disini gak ada acara pertandingan taekwondo kan! disini acara pesta ekskul, Lo darimana? nyasar. Btw dia siapa sih" Luziana mendengarnya di buat malu, kesal mencampur aduk menjadi satu.
"Masa Lo gak kenal sih Meysa, dia Luziana loh, yang Lo sebut siapa?... Rakyat jelata" Ucap salah satu murid dengan suara sedikit meninggi.
"Ouhh... Rakyat jelata?" Meysa berjalan dengan begitu anggun dengan gaun dress berwarna putih yang rambutnya yang sedikit mulai memanjang di buat terurai.
"Kenapa Luziana? gak ada uang beli gaun ya.." Ucap Meysa sengaja suaranya di tinggikan. Semua orang dapat mendengar hinaan yang di lontarkan oleh Meysa.
"Mau aku kasih uang gak, biar Lo bisa beli gaun" Tawar Meysa santai. Tapi tawarnya bukan untuk membantu tapi untuk menghina.
"Lo gak jawab, berarti jawabannya iya" Tukas Meysa ia pun menepuk kan tangannya. Dalam hitungan ketiga, uang turun dari langit-langit ballroom.
Semua ternganga melihat, uang lebar kemerahan yang turun bagaikan hujan.
"Nah itu uangnya Lo kutip itu di lantai-lantai banyak kan uangnya" Ucap Meysa sembari menunjukkan uang lebar kemerahan.
"Ambil gue bilang" Emosi Meysa.
"Gak payah di bantui-" Belum melanjutkan perkataannya, Luziana membuka suara.
"Aku gak perlu uang kamu! lagipun aku mampu membeli gaun dengan uang aku sendiri" Ucap Luziana dengan tatapan tajam. Meysa mendengarnya tergelak tertawa.
"Ouh mampu beli, beliin kami juga dong Luziana. Luziana mungkin kaya kan, kami ingin juga minta di beliin siapa tahu gaun yang di beli pakai uang Luziana bagus..." Ucap salah satu siswi angkat suara.
__ADS_1
"Alah palingan mungkin gaun dari plastik" Celetuk siswi yang hadir dalam acara pesta ekskul itu.
"Hahaha..." Para orang yang hadir di pesta itu pada ketawa semuanya, menganggap itu bagaikan komedi.
"Kalian apa-apa sih jelas-jelas Meysa menghina saya kenapa kalian malah ikutan. Kalian lihat kelakuan asli seorang Meysa penyanyi remaja terkenal. Tapi aslinya busuk" Lontar Luziana mencari pembelaan. Semua orang yang tertawa menjadi terdiam.
"Lo kali yang begitu Luziana. Meysa baik-baik kasih Lo uang untuk beli gaun. Terus gimana gak baiknya coba Meysa sama lo. Lo aja itu gak tahu diri ya gak sih teman-teman" Ujar salah satu siswi.
"Benar ituuh..."
"Dah anak beasiswa lagi, sok belagu.."
"Iya padahal beasiswa keluarga Meysa juga kasih..."
"Dasar orang gak tau diri..."
"Minimal ngaca dekk... dirumah ada kaca kan.."
Luziana bukan dapat pembelaan, namun dapat hinaan yang begitu keji dari orang yang merupakan, para murid sekolah nya.
Meysa tersenyum kemenangan.
"Lo gak pantes lawan gue Luziana, siapa pun orang itu gak pantes lawan gue. Dan gak bakal bisa lawan gue... mending Lo sadar diri. Orang yang gak pantes lawan gue mending turutin apa gue mau. Gue baik kok sebenarnya, tapi iblis sedikit!" Bisik Meysa di telinga Luziana.
"Gue cuman minta satu permintaan. Lo cerai sama kakak gue, karena Lo gak pantes bersanding dengan kakak gue karena Lo itu hanya benalu. Kemudian Lo keluar dari sekolah ini" Sambung Meysa lagi.
Luziana mendongak menatap, wajah orang yang sudah menghina dirinya di depan semua murid sekolahnya. Mereka saling melemparkan tatapan tajam.
"Lo pikir gue mau banget nikah sama kakak Lo" Satu kalimat yang keluar dari mulut Luziana, membuat Meysa mengeryitkan dahinya.
"Mending Lo keluar aja dari sekolah kita aja Luziana, Lo gak pantes sekolah mahal kayak-kayak kita. Karena Lo miskin" Cibir cewek bernama Vega.
Luziana mendengarnya sakit hati, tapi dia memang sedari tadi sudah sakit hati. Orang ini ngomong gak pakai otak, gak tau kata yang ia lontarkan bikin sakit hati orang. Luziana dapat beasiswa, itu penuh perjuangan. Setiap malam begadang hanya untuk belajar. Berusaha mati-matian juga menstabilkan nilai itu. Tapi dengan enaknya mereka ngomong keluar aja dari sekolah itu. Seolah itu beasiswa hanya hal biasa bagi mereka.
__ADS_1
Praakk...
Suara pecahan gelas terdengar, karena ulah Karina. Cewek itu yang sedari hanya mendengar, mengangkat suaranya.