
Mommy Liona yang baru pulang dari kerjanya. Melihat halaman dan piring di dapur belum cuci.
"Ini kenapa halaman rumah gak di sapu sama piring belum di cuci hah!" Marah Mommy Liona dengan suara lantang. Para pelayan hanya bisa menunduk kepalanya melihat, nyonya besar mereka marah.
"Kemana Luziana..." Tanya Mommy Liona dengan suara yang masih sama. Para pelayan tidak ada satupun berani menjawab.
"Kemana? kok kalian pada diam saya tanya!" Sambung Mommy Liona lagi yang melihat tidak ada jawaban dari pelayannya.
"Mana Luziana BI Mirna?" Tanya Mommy Liona kepada kepala pelayannya.
"Anu nyonya dari tadi siang nona Luziana belum pulang.." Sahut Bi Mirna dengan gugup.
Mommy Liona yang mendengar jawaban dari BI Mirna, menghela nafas panjang.
"Kalian cuci piring sama bersih halaman rumah cepat! saya tidak mau melihat sedikit pun kotoran di rumah saya" Titah Mommy Liona kepada pelayan nya. Para pelayan dengan cepat, melakukan apa yang di perintahkan oleh majikannya.
"Saya senang banget tuan Renaldy mau kerjasama dengan perusahaan saya. Terimakasih tuan Renaldy atas mau kerjasamanya" Ucap klien tersebut sembari berjabat tangan dengan Renaldy.
"Sama-sama, tapi saya mohon maaf atas keterlambatan saya tadi" Balas Renaldy dengan ekspresi coolnya.
"Gak papa tuan, saya tidak terlalu permasalahkan sekali. Yang penting tuan Renaldy mau kerjasama dengan perusahaan kami."
Luziana yang baru habis berhubungan badan dengan suaminya, lalu langsung tidur. Kini perempuan itu telah bangun di pukul delapan malam.
Pandangannya menatap sekitar.
"Sudah lama banget aku tidur nya" Gumam Luziana melihat jam dinding di kamar tersebut. Dan dia pun baru sadar kalau dirinya tidak ada sehelai benang pun di tubuhnya. Ia pun menarik selimut dan menutupi tubuhnya.
Luziana tersenyum kecut, karena mahkota sudah di ambil. Padahal sama suami sendiri, tetap saja Luziana sedikit merasa sedih dan kecewa. Dengan wajah yang murung dia masuk kamar mandi, dan membersihkan dirinya.
Selesai membersihkan dirinya, dan memakai baju yang di beri oleh suaminya. Ia pun keluar dari kamar tersebut.
Mendengar suara pintu terbuka, Renaldy tersenyum tipis sangat tipis sampai tidak bisa di lihat siapa pun.
"Kau sudah bangun," Tanya Renaldy yang kembali dengan sikap dinginnya.
Luziana yang mendengar suara seseorang, seketika langsung menoleh di mana suara itu berada. Luziana mengangguk kepalanya sebagai jawaban, seraya tersenyum terpaksa.
__ADS_1
Renaldy yang melihat istrinya, kayak ada yang beda.
"Baju sekolah mu itu di atas sofa" Ucap Renaldy dengan nada dingin sembari berkutat di laptopnya.
Luziana yang mendengar, bajunya berada di sofa langsung mengambilnya. Baju dia ambil, itu terlihat kayak baru di beli.
"Kok terlihat kayak baru? sialan kalau tahu gini gausah aku buka baju tadi" Gerutu Luziana dalam hati.
Renaldy yang merasa, kerjanya sudah selesai langsung menutup laptopnya. Dan mengajak istrinya pulang.
"Yuk kita pulang, pasti orang rumah sudah menunggu kita untuk makan malam" Ajak Renaldy seraya menggenggam tangan istrinya. Namun saat di genggam, Luziana langsung menepis.
"Saya bisa pulang sendiri.." Balas Luziana dengan nada dingin sembari mukanya terlihat masam.
Renaldy yang melihat tingkah istrinya, tertawa dalam hati.
"Kau marah?" Tanya Renaldy seraya menaikkan alisnya.
"Enggak.." Balas Luziana jutek.
"Marah soal tadi? padahal kamu sangat menikmatinya.." Bisik Renaldy seraya melangkah pergi meninggalkan istrinya.
"Iihh Bangs at... di kasur panggil sayang. Pas disini kayak muka triplek. Dasar tukang modus, kalau gue hamil gak mau tau gue Lo harus tanggung jawab dasar nyebelin.." Gerutu Luziana kesal sembari menghentakkan kakinya. Ia pun keluar dari ruangan tersebut.
Luziana mengerutkan dahinya, melihat kantor tersebut sudah sepi. Melihat suaminya memasuki lift, Luziana buru-buru ikut masuk juga.
"Masuk..." Titah Renaldy kepada istrinya.
"Gak mau, aku mau pulang dengan motor ku sendiri. Jadi tolong mana kunci motornya.." Pinta Luziana dengan wajah muram.
Renaldy menatap datar istrinya. "Motor kau biar saya suruh orang saya bawa pulang. Jadi kamu masuk terus ke dalam mobil" Ujar Renaldy dengan ekspresi datar.
"Gak mau saya bilang gak mau, saya bisa pulang sendiri" Ketus Luziana dengan sorot mata tajam.
Renaldy menghembuskan nafas di udara. Melihat sikap keras kepala istrinya.
"Oke fine, ntar pas di rumah saya minta jatah, saya dua kali lipat.." Tukas Renaldy seraya masuk kedalam mobilnya. Muka Luziana langsung bersemu merah.
Kenapa jadi bahas tentang ranjang sih? suaminya. Dengan terpaksa Luziana menuruti kemauan suaminya.
"Jangan duduk di belakang, duduk kursi mobil samping saya. Saya masih waras, gak mungkin saya berhubungan badan di dalam mobil" Ucap Renaldy sedikit teriak, sembari melihat kaca spion dalam mobil.
Luziana mengigit bibir bawahnya, dengan wajah terlihat sangat kesal. Dia membanting pintu mobil nya.
Brakkk!
__ADS_1
Renaldy mendesah berat, dengan sikap istrinya yang lagi seperti orang ngambekan saja.
Pas saat Luziana memundurkan tubuhnya, melihat wajah suaminya begitu dekat dengannya. Namun, gak bisa karena terhalang dengan sandaran kursi.
Renaldy melihat ekspresi istrinya tersenyum kecil. Renaldy pun kembali dengan posisi mengemudi nya, setelah memasang sabuk pengaman untuk istrinya.
Luziana yang melihat suaminya, hanya melakukan itu. Bernapas lega. Mesin mobil nya pun di nyalakan, mereka pun pergi meninggalkan pekarangan perusahaan.
Mommy Liona menatap kepulangan menantunya dengan tatapan susah di tebak. Dia ingin memarahi menantunya, karena kenapa tidak melakukan pekerjaan rumah. Namun niat itu dia urungkan melihat menantunya pulang bersama putra sulungnya.
"Ciee.. baru habis dari mana nih kok bisa barengan" Tanya Papi Devan melihat kepulangan menantunya bareng dengan putranya.
Renaldy tidak menjawab pertanyaan, dari Papinya. Pria itu langsung mendapatkan bokong ya di kursi meja makan.
"Dari kantor Papi,." Yang jawab dari pertanyaan Papi Devan, adalah Luziana. Papi Devan mengangguk kepalanya sebagai jawaban.
"Kok bisa Luziana berada di kantor, Renaldy ajak?" Tanya Papi Devan lagi.
"Mana ada di ajak, cuman kebetulan bertemu dengan Luziana lagi kencan sama langit. Ya kan Luziana?" Meysa menaikkan alisnya seraya tersenyum sinis. Papi Devan yang mendengarnya mengerutkan dahinya bingung.
"Bukan kencan, tapi cuman ada urusan sekolah, sama kakak kelas" Sahut Renaldy yang tidak secara langsung membela istrinya. Meysa yang melihat kakaknya, berdecak kesal.
"Apa iya? cuman urusan sekolah! sampai ngobrol di cafe lagi.." Ucap Meysa memanaskan suasana.
...----------------...
__ADS_1
Follow Instagram author: maulyy\_05