
Sementara di tempat perusahaan di lantai paling atas, di ruang CEO. Renaldy terpaku diam menatap dokumen dari bank. "100 juta."
Siapa yang mengunakan uang sebanyak itu dalam seminggu. Kayaknya istrinya, karena kartu black card itu hanya ada sama istrinya. Lagi pun daftar keluaran biaya ini, dari penghasilannya sendiri, bisa di katakan banknya tersendiri. Bukan milik orang tuanya.
Renaldy pun tidak terlalu menghiraukannya, karena pria itu tidak heran. Jika seorang wanita, kalau soal berbelanja pasti banyak pengeluaran. Lagipun dah ada contohnya, seperti mommynya, dan adiknya, Meysa.
Renaldy pun mengembalikan dokumen itu kepada Wina. Wanita itu pun menerimanya, sekaligus membungkuk dengan hormat kepada CEO nya. Bahwa wanita itu ingin pamit keluar dari ruangan Ceo-nya itu.
Ditempat lain, seorang gadis tersenyum lebar hingga menampakkan deretan giginya yang tersusun rapi. Gak rugi-rugi cewek itu masuk kamar kakaknya, yang ternyata ada kartu black card. Ia pun pergi belanja, dengan mengunakan kartu black card tersebut.
Kini Meysa sedang dalam perjalanan pulang setelah pergi berbelanja, di mall. Beberapa selang menempuh perjalanan jauh dia pun sampai di mansion mewah milik orang tuanya.
Ia pun memanggilkan beberapa pembantu untuk membawa masukkan, belanjanya. Setelah menyuruh para pembantu rumahnya, untuk membawa masukkan belanjanya. Cewek itu pun pergi masuk kedalam mansion, menuju ke kamarnya. Dan Meysa masuk bathroom di dalam kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.
Di sisi lain, Luziana menyipitkan matanya di balik jendela. Melihat betapa banyak barang dan belanjaan, yang di bawa masuk oleh para pembantu rumah.
"Belanjaan siapa itu banyak banget" Gumamnya. Tak terlalu mau memikirkan, perempuan itu menutup kembali Jendelanya dengan gorden.
Wanita paruh baya dengan wajah terlihat masih muda. Mengeryitkan dahinya heran.
"Belanjaan siapa itu banyak banget" Tanya Mommy Liona yang melihat begitu banyak paper bag. Para pembantu yang sedang menenteng paper bag itu seketika berhenti, dengar pertanyaan nyonyanya.
Menunduk hormat. "Punya nona Meysa nyonya" Sahutnya dengan ramah.
Mata mommy Liona membelalakkan. "Hah punya Meysa! dari mana dia punya uang, sampai bisa belanja sebanyak ini" Seingat wanita paruh baya itu dia belum sama sekali transfer uang untuk putri bungsunya itu. Apa mungkin dari suaminya, atau Renaldy itu mungkin saja benar. Tapi tumben para lelaki itu mentransfer uang bisa belanjaan sebanyak ini.
"Saya tidak tau nyonya, saya hanya di perintah oleh nona Meysa membawa masukkan belanjaannya" Tutur pelayan itu apa adanya. Di anggukan kepala oleh Mommy Liona.
"Yaudah kamu boleh melanjutkan membawa belanjaannya" Ujar Mommy Liona kepada pembantu' tersebut.
Mengangguk kepalanya. "Baik nyonya terimakasih." Setelah mengatakan itu, pembantu itu pun melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
Mommy Liona pun melenggang pergi ke dapur. Dengan begitu banyak pertanyaan yang bersarang di pikirannya.
Tiba di dapur ia melihat putri bungsunya yang sedang asyik memakan sop buah.
__ADS_1
"Meysa" Panggil Mommy Liona. Meysa yang mendengar ada memanggil namanya menoleh kebelakang nya. Ia menatap malas melihat siapa yang telah memanggil namanya.
"Ada apa mom" Sahutnya malas. Setelah menyahutnya ia pun melanjutkan memakan sop buahnya.
"Belanjaan yang banyak luar itu punya kamu?" Tanya Mommy Liona yang pura-pura gak tau. Padahal wanita paruh baya itu sudah tahu kalau itu belanjaan punya Meysa, dan tahu belanjaan itu milik Meysa dari pelayannya.
"Iya kenapa?." Balasnya malas. Meysa tahu pasti kalau mommynya akan melontarkan beberapa pertanyaan pada dirinya. Membuat cewek itu jadi malas melihat keberadaan Mommynya yang datang ke dapur.
"Uang dari siapa?, kamu bisa belanja sebanyak itu," Tanya Mommy Liona lagi. Benarkan tebakannya pasti mommynya itu, tidak akan berhenti bertanya sebelum rasa penasaran di dalam diri mommynya hilang, membuat penasaran mommy hilang, dia harus menjawab beberapa pertanyaan yang di lontarkan paruh baya itu.
"Yah uang sendiri lah. Yah! kali uang, dari menantu Mommy yang yang gajelas itu" Sindir Meysa. Bisa-bisanya cewek itu menyindir Luziana yang tidak tahu apa-apa.
Mata Mommy Liona membulat lebar. "Bisa gak sih kamu gausah hina-hina orang. Apa pengen Mommy sambelin itu mulut kamu" Balas Mommy Liona dengan raut wajah yang marah terhadap sindiran Meysa yang menjelekkan istri dari kakaknya sendiri. Memang patut di sambelin mulutnya kalau bisa di robekin.
"Kok mulut Meysa mau di sambelin. Kan Meysa bilang itu memang fakta, kalau menantu Mommy itu sangat-sangat gajelas. Lagi pun Meysa heran lihat Mommy, bisa-bisanya jodohin kak Al dengan wanita murahan kayak begitu. Terus kalau dilihat Rakyat jelata mana mungkin mampu bisa dia bisa transfer uang, yang bisa Meysa belanja sebanyak itu. Itu sangat gak mungkin kan Mommy sayang." Ujarnya panjang lebar, dan kembali menikmati Sop buah.
Mommy Liona mengepal tangannya kuat. Mommy Liona gak terpikir pertanyaan dia lontarkan akan berakhir begini.
Lagi pun belanjaan Meysa beli itu pakai uang punya siapa? punya Luziana kan. Kartu black card yang dia gunakan itu punya Luziana yang di kasih kakaknya. Jadi ngapain dia mengatain Luziana gak mampu mentransfer uang untuk Meysa. Kemudian mengatakan Luziana murahan lagi, nampak sekali karangan Meysa yang ingin menjelekkan Luziana di hadapan Mommynya.
Keesokan harinya.
Luziana menatap suaminya dengan canggung. Gadis yang tidak gadis lagi itu. Membawa mapah yang di atasnya ada kopi. Kenapa Luziana membawa kopi. Sebab Luziana yang kemarin membawa teh untuk suaminya tidak minum oleh pria tersebut, sedikit pun tidak di minum. Luziana pun mencoba berpikir positif mungkin aja pria itu tidak suka dengan teh. Ia pun mencoba membawa hal lain seperti kopi.
Luziana melentakan kopi tersebut di atas meja kerja. Renaldy yang tengah berkutat dengan laptopnya melirik sekilas istrinya.
"Bisakah gausah membawa minuman untuk saya, suruh aja para pembantu rumah ini" Spontan Renaldy yang merasa gak suka pada istrinya yang membawa minuman untuknya. Emang salah seorang istri melayani suaminya, gak kan. Tapi pria itu tidak ingin istrinya melayaninya, pria itu ingin menjaga jarak di antara mereka berdua.
Luziana yang mendengarnya mengeryitkan dahinya bingung. "Kenapa ada yang salah kah?" Tanyanya bingung. Luziana mendengar perkataan suaminya yang kasar padanya, tidak merasa sakit hati ataupun sedih. Karena memang setiap cara bicara orang itu berbeda ada yang lembut, ada yang kasar. Jadi perempuan itu memakluminya saja, dengan orang yang berbicara kasar. Padahal Renaldy aslinya orangnya lembut, tapi mengapa di sama istrinya kasar.
"Gak ada" Jawabnya singkat. Karena Pria itu tidak ingin memperpanjang masalah yang gak penting. Tanpa memedulikan keberadaan istri kecilnya. Ia melanjutkan perkerjaannya.
Seketika hening, Luziana hanya berdiri diam disitu dan tidak keluar dari tempat kerja pribadi suaminya. Karena ada hal dia ingin minta, tapi tidak tau cara mintanya kayak gimana.
"Kenapa kau masih diam disitu! apakah gak tau tempat keluarnya dimana?" Tanya pria itu dingin.
__ADS_1
Luziana di lontarkan pertanyaan, jadi gegelapan. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Tau" sahutnya tersenyum canggung. Mana mungkin dia gak tau keluar tempat itu, sedangkan dia masuk aja tahu. Lagipun cuman ada satu pintu kan di ruang kerja pribadi suaminya. Berarti keluar masuk melalui dari pintu itu.
"Terus kau ngapain diam disini" Lontar pertanyaan lagi dari Renaldy.
"Saya ingin minta uang maksudnya eh pinjam uang. Pokoknya begitu lah." Minta Luziana dengan berbelit. Renaldy mendengarnya merasa lucu.
"Saya perlu uang itu untuk beli keperluan" Tambahnya lagi.
Renaldy mendengarnya menaikkan alisnya. "Bukannya saya sudah kasih." Pria itu merasa heran dengan istrinya minta uang kepadanya. Jelas-jelas dia sudah kasih sebuah kartu black card untuk bisa beli apa aja itu. Habistu, dia pun melihat di dokumen Bank kalau istrinya sudah memakai kartu itu beli sesuatu yang ia tidak tau, dengan uang 100 juta.
Luziana yang di lontarkan pertanyaan begitu. Mencoba Mengingat-ingat, takutnya dirinya kelupaan dengan uang suaminya pernah kasih. Atau mungkin saja hilang. Tetapi setelah memutar otak keras, dia tetap saja tidak mengingat kalau suaminya pernah kasih uang padanya.
"Kalau boleh tahu kapan ya" Tanya Luziana.
"Yang saya kasih kartu black card itu" Balas Renaldy dingin.
"Ouhh.. ya kartu tanda pengenal itu" Ujar Luziana yang sudah mengingatnya. Perasaan itu bukan uang, Batinnya.
"Kartu tanda pengenal? maksudnya" Tanya Renaldy yang sedikit bingung.
"Ya kartu tanda pengenal, kata Meysa kartu itu untuk tanda pengenal" Ucap Luziana sedikit ragu. Melihat ekspresi suaminya yang sudah berubah.
Pria itu mendengar pernyataan istrinya merasa ada yang gak beres.
"Itu bukan kartu tanda pengenal, itu kartu kredit. Misalnya kau beli sesuatu transaksi pembayarannya melalui kartu kredit itu" Ujar Renaldy yang sedikit geram. Bisa-bisanya istrinya bilang kalau kartu unlimited itu kartu tanda pengenal.
"Tapi kata Meysa-"
Bicara Luziana langsung di potong oleh Renaldy. "Jadi kartu kredit itu kau bawa kemana?" Tanyanya dengan ekspresi datar dengan nada tegas.
"Di ambil sama Meysa"
Bugh
__ADS_1
Luziana memejamkan matanya mendengar suara pukulan meja yang sungguh memekakkan telinga.