
Saat di kamar mandi. Dia melihat bercak darah di CD nya.
"Apa aku datang bulan ya?" Gumam Luziana melihat sedikit darah di CD nya. Tanpa mau berpikir panjang, ia pun mulai mandi.
Beberapa menit kemudian, Luziana duduk di tepi kasur, usai selesai mandi dan memakai bajunya. Perempuan itu pun turun kebawah untuk makan malam.
"Cukup dah Al semua klien, pengen kerja sama kamu! bukan sama Papi. Lebih baik kamu ganti profesi aja" Seloroh Papi Devan sembari menahan tawanya. Sekarang semua rekan bisnis Papi Devan pada berlari ketempat Renaldy semua. Katanya lebih, bagus cara kerja Renaldy daripada Papi Devan.
Renaldy hanya menatap datar, ke Papi nya.
"Saya gak main, seminggu lagi Al sudah bisa berangkat. Dan di saat itu perusahaan, Papi harus mengelola perusahaan kembali. Al sudah cukup sampai disini aja" Ucap Renaldy dengan datar.
Papi Devan hanya menghela nafas panjang.
"Oke.. tapi kamu sudah pamitan, sama orang tua istri mu?" Tanya Papi Devan seraya menaikkan alisnya. Boro-boro pamit, ngobrol dengan orang tua istrinya itu aja gak pernah.
"Enggak..." Sahut pria itu singkat.
"Pamitan dong, kamu ini sudah ambil anak orang, dari orang tuanya. Bagaimana pun itu orang tua istri mu itu, juga sebagai orang tua kamu" Tutur Papi Devan dengan eskpresi serius.
Renaldy hanya diam, tidak menggubris perkataan Papinya.
Meysa ketawa-ketiwi menatap layar ponselnya. Tiba-tiba saja ekspresinya langsung berubah, setelah melihat kedatangan Luziana.
Luziana mendaratkan bokongnya di kursi ruang meja makan, sembari menunggu semua orang. Perempuan itu sengaja menatap kearah lain, karena tidak ingin berpapasan dengan Meysa.
Meysa yang melihatnya, acuh tak acuh. Ia pun menatap layar ponselnya kembali.
Tapi sudah beberapa menit, belum ada yang kumpul di ruang meja makan.
"Kemana sih kok lama banget.." Gumam Luziana, namun bisa di dengar oleh Meysa yang duduk di depannya.
"Kalau mau makan, makan aja lagipun Lo gak termasuk bagian keluarga ini kok. Santai aja gak ada yang berani marahin Lo 'kan?" Ucap Meysa dengan pandangan menatap layar ponselnya.
Luziana mengerutkan dahinya. Dia memutar bola matanya jengah, seraya menopang dagu mengunakan tangannya.
Terlihat Mommy Liona datang dengan pakaian rapinya. Wanita paruh baya itu terlihat sangat buru-buru.
"Mommy mau kemana?" Tanya Meysa penasaran seraya memindai penampilan Mommynya itu.
"Mommy mau kerumah sakit, ada teman Mommy yang sakit!" Sahut Mommy Liona sembari mengecek di dalam tas selempang nya.
"Hah ke rumah sakit? terus ni makan malamnya gimana?" Lontar pertanyaan Meysa lagi seraya mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Yaudah biarin aja gitu! kita makan di luar aja, lagipun Papi sama Al lagi sibuk. Katanya mereka pulangnya bakal telat nantik. Terus juga di bilang kita makan terus, gausah tunggu mereka. Jadi kita makan di luar aja, setelah jenguk teman Mommy" Jawab Mommy Liona panjang lebar.
"Oke deh Meysa siap-siap dulu!" Ucap Meysa, lalu melenggang pergi.
"Luziana kamu tolong nanti piring kotornya di cuci. Misalnya kamu makan gak habis kasih pelayan aja, ya!" Titah Mommy Liona kepada menantunya.
"Iya Mommy" Sahut Luziana seraya tersenyum tipis.
Luziana menggerutu kesal, gimana gak kesal coba. Tiba-tiba motornya mogok, mana cuacanya panas banget lagi.
"Ck' sial mulu hidup aku" Gerutu Luziana kesal sembari mendorong motornya mencari bengkel terdekat. Gak berapa lama mendorong motornya, bengkel motor pun terlihat. Ia pun mendorong motornya ke bengkel tersebut.
"Ada apa neng?" Tanya Pria tukang bengkel tersebut kepada gadis yang mengunakan pakaian sekolah.
"Ini Om, gak tau kenapa motornya mati sendiri. Padahal bensin sudah saya isi dari tadi pagi" Ujar Luziana memberi tahu.
"Yaudah neng tunggu dulu ya, motornya saya cek dulu" Ucap Pria tukang bengkel tersebut. Luziana mengangguk kepalanya sebagai jawaban.
Luziana pun duduk di kursi panjang di bengkel tersebut sembari bermain ponselnya. Sudah dua jam lama tunggu motornya. Tapi kayaknya belum ada tanda-tanda siap. Karena Pria tukang bengkel sibuk dengan motor lain.
"Hei neng kok diam aja!" Goda pria itu sedari tadi diam kini membuka suara. Luziana yang mendengarnya, tidak menghiraukannya.
Melihat gadis di sampingnya hanya diam. Dia nekat menggeser bokongnya, agar dekat duduk dengan gadis disampingnya.
Luziana yang meliriknya, juga menggeser posisi duduknya. Suara dari ponselnya tiba berbunyi.
"Assalamualaikum lun" Ucap Mama Safira di sebrang telepon.
Setelah mengangkat telepon, Luziana berdiri dari tempat duduknya sembari berjalan sedikit jauh dari bengkelnya.
"Walaikumsalam mah! Mama jemput Luziana.." Rengek Luziana di sebrang telepon.
"Mama gak bisa, emang motor kamu kemana?" Tanya mama Safira di sebrang telepon.
__ADS_1
"Motor Luziana mogok mah!" Sahut Luziana dengan cemberut di sebrang telepon.
"Kok bisa mogok sih, kamu ini sering pakai asal-asalan, terus pasti motornya juga gak pernah di servis kan" Marah Mama Safira di sebrang telepon.
"Ya sih belum pernah di servis selama ini. Karena Luziana sibuk, bersihin rumah mertua. Tullah suruh nikah lagi Luziana jadi begini 'kan" Jawab Luziana ketus.
"Alah kamu gitu aja dah protes. Bagi Mama bagus kamu di rumah mertua. Kalau di rumah, asik tidur mulu.. gak ada inisiatif bantu orang tua dasar malas. Sekarang kamu di jadiin babu. Duh mama senang banget deh.. anak sulung mama sekarang dah rajin. Seharusnya mertua kamu itu suruh kamu bersih satu rumah. Masa cuman sapu halaman, sama cuci piring. Gitu-gitu mama juga bisa" Ujar Mama Safira sembari tersenyum senang di sebrang telepon. Kenapa Mama Safira tahu kalau anaknya di suruh-suruh. Karena Luziana ada cerita sama Mamanya, kalau akhir-akhir ini mertuanya kayak berubah sikapnya. Dia cuman ngeluh capek doang, kalau soal mual-mual itu gak.
"Terus bersihin rumahnya yang sebesar istana itu. Enak aja, yang ada patah pinggang aku" Kesal Luziana di sebrang telepon.
"Alah Mama yang udah patah pinggang masih sanggup urus kalian berdua" Luziana yang mendengarnya di seberang telepon hanya tersenyum kecut. Capek ngomong sama Mamanya gak debat, gak sah kayaknya.
"Terus Mama bisa jemput gak nihh" Tanya Luziana, dengan tujuan awalnya. Dia berdiri hanya untuk telepon, sudah pegal kakinya.
"Gak bisa mama lagi sibuk" Jawab wanita paruh baya
itu singkat.
"Ihh mama terus Luziana pulang naik apa? lagipun Luziana gak punya uang. Uang bulanan Luziana udah habis" Lirih Luziana, soalnya sudah sedari tadi siang ia sudah berada disini. Sekarang sudah sore, apalagi dia nantik harus melakukan pekerjaan apa yang di perintahkan mertuanya.
Mama Safira menghela nafas panjang. Ia pun terpaksa mengiyakan, menjemput anaknya itu. Kenapa tidak sama suaminya. Karena Mama Safira tahu kalau pernikahan mereka sebatas status. Mama Safira gak terlalu berharap, Luziana bakal bahagia dengan pernikahannya. Gini minimal anaknya udah menikah dengan Renaldy itu sudah lebih cukup. Bahagia atau tidak itu dia tidak terlalu peduli.
Karena status sosial mereka terlalu beda jauh sangat jauh. Membuat Mama Safira tidak terlalu berharap. Mungkin pernikahan Luziana, hanya sebuah rencana mereka untuk membatalkan Renaldy pergi bertugas. Misalnya Luziana di nyatakan hamil, Renaldy tetap kekeuh ingin pergi bertugas gimana? itu tetap gak bisa karena Mommy Liona sudah membuat persyaratan sama Renaldy. Karena pengang kekuasaan tertinggi itu Mommy Liona. Papi Devan yang sebenarnya orang kaya raya, akan kalah sama Mommy Liona.
Luziana yang punya tubuh, dia tidak tahu misalnya berbadan dua. Karena apa saat berhubungan semua ingatan semalam itu jadi lupa, sebab obat perangsang itu. Dan bangunnya dengan pakaian semula seperti tidak terjadi apa-apa, jadi gak mungkin berpikir kalau perawan nya sudah di ambil. Dia juga tidak tahu kalau dirinya sudah tidak perawan lagi. Tahu tentang tanda kehamilan aja dia tidak tahu. Luziana itu pikirannya masih labil, memang belum ada persiapan untuk menikah. Seharusnya Renaldy yang sudah matang, bantu saling melengkapi. Tapi nyatanya Renaldy lebih mementingkan egonya sendiri
Dan prinsip Renaldy dari dulu sibuk dengan dunia kerjanya, dunianya sendiri. Berpikir tentang wanita? sungguh tidak ada waktu baginya. Sampai temannya berpikir, Renaldy tidak mungkin akan menikah.
"Mas itu sudah terlalu sempurna, punya kerjanya aja bagus, orangnya rajin kerja kan? jadi gausah sok keren di hadapan orang tua saya lagi" Cegah Luziana agar tidak pergi kerumah orang tuanya. Ada niat apa Renaldy pergi kerumah orang tua Luziana, dia pun tidak tahu.
"Saya pergi kerumah orang tua kau bukan untuk mempamerkan kalau saya itu keren. Saya ingin mengunjungi rumah orang tua kau saja. Jika kau tidak ingin ikut biar saya pergi sendiri!" Tukas Renaldy dengan ekspresi dinginnya.
Luziana yang panik, pura-pura sakit perut.
__ADS_1
"Auuww perut saya sakit.." Meringis Luziana sembari memegang lengan suaminya. Tapi tidak ada ada reaksi apa-apa dari suaminya.
Sialan dia gak peduli lagi.