Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Bumil malas


__ADS_3

Luziana merebahkan tubuhnya di atas sofa. Entah kenapa harini dia bawaannya malas melulu. Apalagi setelah Nadia balik, ke tempat asalnya. Semenjak itu Luziana sudah gak pernah keluar rumah lagi. Kemudian harini pun ada jadwal pemeriksaan kandungannya.


"Gak papa ya sekali, gausah periksa kandungan. Lagipula apa yang mau di lihat lagi" Gumam Luziana yang tampak bimbang. Ia pun menghela nafas panjang. Dan memutuskan harini tidak memeriksa kandungannya.


Luziana yang mau tidur, namun belum ngantuk. Merasa jenuh, dia pun beranjak dari sofa menuju ke dapur. Luziana yang sudah berada di dapur, membuka kulkas melihat apa yang bisa dia makan.


"Hmm, ga ada yang enak" Luziana yang memperhatikan isi kulkas, hanya isi sayuran dan beberapa buah-buahan. Dan itu, tidak ada yang membuat mengunggah seleranya.


"Anak Buna pengen apa nih," Luziana menundukkan kepalanya sembari mengusap perutnya yang buncit.


Luziana terkekeh sendiri, melihat tubuhnya yang dulu kurus kering. Sekarang sudah berisi begini. Perempuan itu sudah tahu mau pengen apa memutuskan pergi menuju mini market terdekat. Dan itu sudah ada pengawasan ketat.


"Saya pergi masuk sendiri aja" Putus Luziana tidak ingin di temani pengawal, suruhan suaminya. Lagipula hanya sekedar membeli es krim.


"Maaf nona, kami tidak bisa" Ucap tegas pengawal tersebut yang tidak ingin di gugat. Luziana pun menghela nafas pelan. Inilah salah satu faktor, Luziana malas keluar. Dia merasa tidak bebas.


Dengan wajah yang di tekuk kesal, Luziana pun berjalan masuk ke minimarket. Saat sudah berada di dalam minimarket. Luziana pun langsung ke tempat freezer es krim. Dan mengambil es krim yang bervarian rasa. Kemudian membayarnya di kasir.


"Total semuanya 50 ribu Nona" Ucap mbak kasir tersebut. Luziana pun menyodorkan uang yang berwarna biru tua itu.


"Makasih telah berbelanja di minimarket tempat kami"

__ADS_1


"Sama-sama..." jawab Luziana seraya tersenyum sumringah. Saat keluar dari minimarket. Tampak ada pasangan suami-istri yang istrinya sedang hamil. Terlihat suaminya yang sangat begitu hati-hati membantu istrinya, masuk ke dalam mobil.


Rasa iri sedih menyelimuti Luziana. Tak terasa air matanya keluar dari ujung ekor matanya. Dengan segera ia pun menghapusnya. Rasa sesak yang begitu dalam Luziana berjalan menuju ke mobil nya. Luziana yang tak memperhatikan jalan. Seketika menabrak punggung seseorang dan membuat kresek plastiknya yang ia genggam jatuh ke tanah.


Bruk


"Aduuh... Punya mata gak sih jalan" Kesal seseorang yang di tabrak itu.


"Maaf-maaf.." Ucap Luziana langsung membulat matanya sempurna melihat siapa empu yang ia tabrak.


"E-lo" Ia menunjukkan jari telunjuknya ke depan wajah Luziana. Perempuan yang selama ini tak pernah ia lihat batang hidungnya lagi.


"Maaf.." Luziana pun langsung berlalu setelah melihat wajah cewek itu. Namun cewek itu langsung menahan tangan Luziana. Pengawal yang biasa jaga Luziana. Kini pengawal tersebut pergi ntah kemana.


"Gue pengen nanya sama Lo, Lo tau gak kalau Vian di penjara" Tanyanya.


"Tahu..." Jawab malas Luziana.


Riri pun ber'oh ria mendengarnya. Ia pun menatap Luziana dari kepala sampai ujung kaki.


"Hamil lagi Lo? Anak siapa" Tanya Riri seraya tersenyum miring. Membuat Luziana mengerutkan dahinya heran, apakah cewek itu tau kalau kehamilan sebelumnya Luziana ke guguran.

__ADS_1


"Kamu gak perlu, kalau anak ni siapa!" Ucap Luziana ingin pergi dari situ juga. Namun di tahan kuat oleh Riri.


"Lo Napa sih, gak bisa diam aja. Apa jangan-jangan anak yang di kandungan Lo hasil ngelo nte" Riri menatap Luziana dengan tatapan sinis. Luziana yang mendengarnya melotot kan matanya.


Riri yang melihat mata Luziana, langsung terkekeh pelan.


"Selow lah gausah gitu amat lihatnya. Gak perlu Lo bilang ke gue. Gue dah tahu kok, kalau anak itu anaknya kak Renaldy kan." Riri menaikan kedua alisnya membutuhkan jawaban, apa yang ia ucapkan itu benar. Tapi sayangnya Luziana tidak merespon nya.


"Kok Lo mau sih, sama kak Renaldy. Asal Lo tahu ya Lo itu cuman di manfaatin sama mereka. Perempuan kayak Lo itu mana sudi di anggap bagian keluarga. Mau amat sih jadi simpanan, dan mudahnya mau di buntingin" Ucap Riri menjelek-jelekkan.


"Diam Lo! Bilang aja Lo iri kan sama gue" Emosi Luziana menatap Riri dengan sorot mata tajam.


Riri yang mendengarnya, tertawa terbahak-bahak.


"Heih, gue iri sama Lo? Upps sorry Lo itu bukan saingan gue. Mana mungkin gue anak kaya raya iri sama cewek yang cuman numpang nama kekayaan suaminya. Malu dong dikit. Mending hasil kekayaan keluarga sendiri, dari pada Lo" Riri tertawa puas melihat wajah kesal Luziana.


"Dan satu lagi ayah Lo sama papi kak Renaldy lagi marahan. Kayak musuhan Lo sama Meysa. Kayaknya sebentar lagi pernikahan Lo gak bertahan deh. Kasian Lo sama bayi, Lo jadi gelandangan"


Luziana yang tak tahan mendengar mulut pedas Riri. Ingin menampar cewek itu. Tetapi langsung di tahan oleh Riri sendiri.


"Lo lupa ya gue siapa? gue anak paling kaya nomor dua setelah Meysa. Mending Lo lindungi diri sendiri dulu deh sebelum mukul gue. Ntar sayang keguguran lagi. Lagipula apa sih yang gue gak tau. Papi Devan yang ngebela Lo itu cuman manfaatin Lo doang. Iya! Yang Lo tahu Papa gue sama Papi Devan sahabatan sejak dari nenek moyang. Jadi mana mungkin dia mau menganggap Lo jadi menantunya, yang miskin. Lo itu gak sisi gelap keluarga Hervandez. Lo cuman di peralat doang"

__ADS_1


...----------------...


Follow Instagram author: maulyy_05


__ADS_2