
Luziana menjemur baju yang baru saja ia cuci. Perempuan itu senyum-senyum sendiri mengingat Mommy Liona memarahi Meysa. Sampai Meysa gak berkutik di buat oleh Mommy Liona.
"Paket..." Teriak seseorang pengantar pesanan online.
Luziana yang mendengar suara seseorang. Melihat kearah pagar. Ia memicing matanya menatap ada seorang laki-laki yang berdiri di depan.
"Paket..." Teriak tukang pengantar paket itu lagi. Luziana yang melihat sekitar tidak ada siapa-siapa. Berjalan mendekati seorang laki-laki.
"Ada apa ya?" Tanya Luziana yang sudah di hadapan pengantar pesanan.
Laki-laki itu tersenyum melihat, seorang gadis cantik yang di hadapannya. Luziana yang melihat laki-laki itu diam aja, melontarkan pertanyaan lagi.
"Ada apa ya om?" Tanya Luziana lagi. Lamunan pengantar pesanan online itu pun buyar.
"Ouh ya.." Laki-laki itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena salah tingkah.
"Saya tukang ngantar paket atas nama Liona ada?" Ujar tukang pengantar pesanan online itu.
Luziana mengangguk kepalanya sembari tersenyum. Itu sudah mampu membuat tukang pengantar pesanan itu makin salah tingkah.
"Ya tuhan jodohkan aku dengan bidadari di depan ku ni.." Gumam tukang pengantar pesanan online itu. Luziana yang sedikit mendengarnya namun samar-samar.
"Om ngomong apa ya.." Tanya Luziana seraya menaikkan alisnya.
"Gak ada apa-apa kok" Sahut tukang pengantar paket itu cepat-cepat. Luziana mengangguk kepalanya.
"Om tunggu di depan teras aja ya kalau berdiri disini panas. Orangnya saya panggil dulu ya" Ujar Luziana dengan suara biasa saja.
"Alah sia neng dah cantik, baik lagi" Pengantar pesanan online itu pun mengangguk kepalanya mengiyakan.
Tukang pengantar paket itu pun mengikuti Luziana dari belakang. Dan duduk di kursi yang tersedia di depan teras rumah mewah tersebut.
"Wahh.. ni rumah apa istana sih. Mewah banget.." Kagum tukang pengantar paket itu.
Luziana yang sudah di depan pintu kamar Mommy Liona, langsung mengetuk pintunya.
Mommy Liona yang sedang berada di kamar mendengar suara ketukan pintu.
"Siapa Mommy yang ketuk pintu kamar kita?" Tanya Papi Devan yang tidak mendengar ada panggilan. Biasannya orang ketuk pintu kamar mereka ada memangil nama antara mereka berdua, bukan sekedar ketuk pintu doang
"Ntah.. Mommy buka dulu ya pintunya" Papi Devan mengangguk kepalanya mengiyakan.
"Eh Luziana ada apa nak?" Seru Mommy Liona yang telah membuka pintu kamar. Dan yang ternyata mengetuk pintu kamar mereka itu menantunya.
"Ada orang ngantar paket atas nama Mommy" Mommy Liona yang mendengarnya. Senyumannya langsung mengembang. Pesanan yang ia tunggu akhirnya datang juga.
"Ouh iya.." Tanya Mommy Liona memastikan dengan perasaan senang.
Luziana mengangguk kepalanya pasti. Dan itu membuat Mommy Liona makin senang kegirangan.
"Yaudah kamu bilang sama tukang pengantar paketnya tunggu bentar. Soalnya Mommy mau sisir rambut dulu bentar" Pinta Mommy Liona kepada Luziana. Soalnya wanita paruh baya itu, baru saja selesai mandi.
"Iya Mommy.." Balas Luziana lalu melenggang pergi menuju di teras rumah.
Papi Devan melihat istrinya yang kayak lagi senang, melontarkan pertanyaan.
"Ada Apa Mommy kok nampaknya senang banget" Tanya Papi Devan seraya tersenyum.
"Tau gak Papi, paket Mommy udah datang" Seru Mommy Liona kegirangan.
Papi hanya mengangguk kepalanya paham.
"Apa Al gak marah, kalau Mommy ikut campur dengan rumah tangga mereka" Ujar Papi Devan hati-hati.
"Kok Papi ngomong gitu sih.. emang Papi gak pengen gedong cucu?" Tanya Mommy Liona.
"Papi mau banget" Papi Devan pengen di rumah mewahnya ada suara anak kecil menghiasi keluarga mereka.
"Tapi ni belum waktunya mereka punya anak Mommy. Al bulan enam udah pergi bertugas. Kalau Luziana hamil siapa yang ngurusin? terus masalah Meysa sama Luziana belum kelar" Ujar Papi Devan.
"Itu rencana Mommy bikin Luziana hamil. Biar Renaldy gak pergi bertugas yang bahaya itu. Kalau urusan Meysa itu biar Mommy cari solusi" Balas Mommy Liona dengan serius.
"Seterah Mommy deh" Dalam pikiran Papi Devan, pasti rencana Mommy Liona gak berhasil. Karena apa Renaldy itu teguh dengan pendiriannya. Dan gak mau menyentuh istri nya itu sendiri, karena ada hal maksud tertentu yang gak mungkin putra sulungnya itu bisa jelaskan dengan keluarganya sendiri.
__ADS_1
Sementara Luziana kini sudah di depan teras rumah mewah milik orang tua suaminya.
"Maaf Om tunggu sebentar ya. Soalnya, orangnya lagi sisir rambut" Ujar Luziana memberi tahu.
"Kok panggil Om sih neng. Saya masih muda loh.. belum lagi nikah?" Ucap tukang pengantar paket itu.
"Tapi gak papa saya tunggu kok" Sambung tukang pengantar paket itu.
Luziana hanya menanggapi dengan senyuman.
"Btw neng kalau boleh tahu rumah ni neng ya.." Tanya tukang pengantar paket itu sembari tersenyum menatap Luziana. Luziana yang melihatnya jadi aneh.
"Bukan.. ini rumah suaminya" Yang jawab bukanlah Luziana melainkan Mommy Liona.
Mommy Liona mengasih isyarat pada Luziana kalau menantunya sudah boleh pergi. Luziana yang mengerti, pergi melanjutkan kegiatannya.
"Gausah genit-genit ya sama menantu saya" Ketus Mommy Liona yang gak suka menantunya di goda laki lain.
"Iya Bu.." Balas tukang pengantar paket itu dengan kikuk.
"Mana paketnya" Tanya Mommy Liona Ketus. Tukang pengantar paket itu pun mengasih paketnya dan menyuruh tanda tangan, bahwa pesanan onlinenya itu sudah sampai di tangan pembeli.
Sudah selesai semuanya. Tukang pengantar paket itu pun melenggang pergi dari rumah mewah tersebut.
"Galak amat jadi mertua..."
"Luziana ini Mommy ngasih hadiah untuk kamu jangan lupa di pakai ya nantik malam.." Ujar Mommy Liona seraya mengasih paket ia pesan.
"Gausah Mommy, itu buat Meysa aja..." Tolak Luziana dengan lembut.
"Meysa, Meysa.. ini Mommy pesan buat kamu loh. Khusus buat menantu Mommy yang cantik ini" Marah Mommy seraya memengang pipi mulus menantunya.
"Apatuh.. Mommy kasih buat Rakyat jelata" Tanya Meysa yang tiba-tiba nongol. Mommy Liona yang mendengar suara putri bungsunya. Memutar bola matanya malas.
"Gausah kepo bisa" Ketus Mommy Liona kepada Meysa.
"Ya gak bisalah masak buat Rakyat jelata di kasih hadiah. Sedangkan anak kandung sendiri gak kasih hadiah juga. Gak adil itu namanya" Sindir Meysa dengan mata sinis.
Walaupun sudah kenak marah. Angin hujan putar ribut. Pantang mundur bagi seorang Meysa.
"Mommy hadiah ini kasih buat Meysa aja" Ucap Luziana.
"Yaudah kalau kalau Lo gak mau sini hadiahnya. Lagipun rakyat jelata kayak Lo gak pantes di kasih hadiah yang mewah-mewah" Ucap Meysa seraya mengambil hadiah pemberian Mommynya yang ada di tangan Luziana. Namun sebelum mengambilnya sudah di tepis langsung oleh Mommy Liona.
"Auuww sakit Mommy.." Meringis Meysa yang sakit di tangannya di tepis kasar oleh Mommynya.
"Gak boleh ini untuk Luziana. Kamu soalnya masih anak-anak" Ucap Mommy Liona berkacak pinggang.
__ADS_1
Meysa mendengar Mommynya mengatakan dirinya anak-anak. Menaikkan alisnya, pasti ada sesuatu yang tidak bisa kita tebak, apa yang di dalam isi paket yang berbalut kotak itu.
"Anak-anak hahaha... aku dan dia itu seumuran. Bahkan lebih tuaan aku dari pada dia. Seharusnya Mommy itu mengatakan yang masih anak-anak itu dia. Bukan malah aku.." Ujar Meysa panjang lebar.
"Walaupun dia sudah sama kak Al. Bukan berarti dia, jadi kakak aku. Nikah karena ingin merebut harta kakak ku gausah sok keras" Cibir Meysa santai.
"Cukup Meysa!" Belum-belum ngomong apa-apa langsung di potong oleh Meysa.
"Mommy gausah membela dia. Lihat aja dia, diri sendiri di hina malah diam. Tunggu orang bela. Nampak kali busuk nya.. Bilang aja loh gak kepengen sifat busuk Lo di lihat Mommy gue kan. Ngaku Lo.." Bentak Meysa kesal melihat tidak ada reaksi apa-apa dari Luziana. Malah perempuan itu terlihat biasa-biasa aja. Yang ada orang yang ngejek makin panas.
Mommy Liona mendengar kata putrinya. Langsung menatap ke arah menantunya. Benar katanya putrinya, perempuan itu hanya diam, dan seperti tidak ada niat membalas balik.
"Sudah Meysa, Mommy bakal kamu kasih hadiah" Ucap Mommy Liona mengakhiri perdebatan ini.
Meysa mendengar kata hadiah. Hatinya langsung berbunga-bunga.
"Hadiah apa" Tanya Meysa yang seperti orang tidak hadiah. Padahal pengen kali.
"Uang.. Mommy bakal transfer kamu uang" Meysa di situ rasanya senang bukan main. Belum abis bulan dia sudah di transfer uang.
"Berapa.." Tanya Meysa lagi.
"Sepuluh juta.." Balas Mommy Liona.
"Hah sepuluh juta dikit amat.." Kaget Meysa yang gak terima di kasih uang hanya sejumlah segitu.
"Yaudah dua puluh juta mau gak? kalau gak mau yaudah" Ujar Mommy Liona.
"Mau-mau.." Dari pada gak ada sama sekali, Meysa lebih baik terima aja walaupun jumlahnya gak seberapa bagi dirinya.
Renaldy yang habis dari ruangan kerja pribadinya. Berjalan memasuki kamarnya. Pandangan pria itu berhenti pada sebuah kotak di atas meja belajar.
Renaldy itu langsung tahu kalau itu paket. Karena Pria itu sudah pernah, beli di online. Dan ada tulisan yang punya siapa. Dan paket itu tertulis nama Liona.
Kok bisa paket Mommynya berada di kamarnya. Kemudian ntah kenapa dia penasaran isi di dalam paket tersebut. Renaldy yang tidak berpikir bahwa paket itu di kasih Mommynya untuk istrinya, dan berpikir mungkin paket itu kasih untuk dirinya.
Ia pun langsung unboxing paket tersebut. Mata Renaldy membulat sempurna. Melihat isi dalam paket tersebut.
Bersambung..
...****************...
Ayo kita main tebak-tebakan kira-kira apa isi dalam paket tersebut 🤔. Kalau benar author update besok 🤣
__ADS_1