
Malam pun berganti pagi. Kini Renaldy tengah-tengah siap untuk berangkat pergi bertugas. Semua perlengkapannya kini sudah di taruh dalam tas loreng nya. Sementara Luziana sudah mengenakan baju Persit. Ia turut ikut mengantar suaminya bertugas.
"Mas betul serius, Ingin pergi?" Tanya Luziana memastikan dengan sorot matanya yang penuh kesedihan.
Renaldy tersenyum tipis. Ia pun mengangguk kepalanya sebagai jawaban. Luziana yang melihatnya, menghembus nafas berat. Ia pun melangkah keluar dari rumah menuju ke mobil. Begitu juga dengan Renaldy.
Pas di dalam mobil. Sopir yang mengantar majikan untuk pergi bertugas pun, langsung menancap gas meninggalkan pekarangan rumah. Mobilnya pun melaju membelah jalan kota yang cukup padat dengan kendaraan.
Luziana yang di dalam mobil sedari memerhatikan di luar kaca mobil. Di dalam hati yang terlubuk paling dalam. Luziana sebenarnya tidak sanggup harus mengikhlaskan suaminya pergi bertugas. Namun ini keputusan suaminya, terpaksa ia harus mendukungnya.
Renaldy yang di samping istrinya, dapat merasakan kesedihan istrinya. Pria itu pun menggenggam sebelah tangan istrinya. Dengan satu tangannya lagi terangkat mengusap perut buncit. Sontak Luziana menoleh dan menatap suaminya.
"Jangan bikin Buna kesusahan ya! selama gak ada ayah. Ayah mau pergi kerja dulu. Nanti setelah urusan ayah selesai. Kita kumpul bareng lagi" Ujar Renaldy seolah bicara dengan calon kedua anaknya. Luziana yang mendengarnya, matanya langsung berkaca-kaca.
"Bukan anak kita yang bikin aku kesusahan! Tapi ayahnya" Ucap Luziana dengan menahan air matanya. Renaldy yang mendengar perkataan istrinya menghela nafas panjang.
"Mas pergi gak lama, cuman satu bulan. Kamu begini karena belum terbiasa" Ujar Renaldy lembut kepada istrinya. Luziana yang mendengarnya memilih diam.
Suasana hening pun menyelimuti, mereka. Dari antara Luziana dan Renaldy tidak ada mengeluarkan suara lagi. Mereka pun sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Diam mereka pun sampai ke tempat tujuan. Setelah sampai Luziana pun turun dari mobil, yang di buka oleh suaminya.
Renaldy pun mengulurkan tangannya, menggenggam tangan istrinya, dan berjalan di tempat sudah beberapa prajurit sudah berkumpul. Air mata Luziana langsung mengenang di pelupuk matanya. Melihat para suami yang berpamit kepada istrinya untuk menjalankan tugas mereka sebagai abdi negara.
Sosok pria dengan seragam loreng pun datang datang menghampiri mereka. Lalu mengangkat sebelah tangannya untuk hormat kepada pasangan pasutri tersebut. Begitu juga dengan Renaldy.
"Hormat kepada jendral dan Kartika Candra Kirana. Saya ingin lapor kapal untuk keberangkatan kita ke daerah timur. Sudah berada di tempat" Ucapnya dengan lantang.
"Perintah pada pasukan untuk segara berada di kapal" Balas Renaldy dengan suara lantang dan berwibawa.
"Baik Jendral! akan laksanakan" Ucap nya lalu berlenggang pergi. Melihat orang itu sudah pergi, Renaldy menatap istrinya. Seketika Luziana menatap lain dengan air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya
Kedua ujung bibir Renaldy terangkat, membentuk senyuman tipis. Ia pun memengang kedua pipinya istrinya, membuat istrinya itu menatap dirinya.
"Mas berangkat dulu ya! kamu jangan lupa jaga diri baik-baik. Ingat ada kedua anak kita di dalam rahim kamu yang sedang berkembang, dia butuh asupan dari ibunya. Kalau kamu kenapa-kenapa dia bakal ikut kenapa-kenapa. Kamu sekarang gak sendiri lagi, ingat itu. Dan jangan pernah buat hal nekat, yang membahayakan diri mu dan anak kita. Kemudian kamu harus tiap minggu periksa kandungan, perginya sama BI Tuti ya" Ujar Renaldy memberi nasihat pada istrinya. Pria itu pun menarik nafas panjang sebelum melanjutkan.
"Makan juga harus yang bergizi, dan jangan makan yang tidak sehat. Dan paling penting pikirkan dirimu sendiri, jangan pikirkan mas" Sambung Renaldy berusaha tegar di depan istrinya. Luziana pun mengangguk kepalanya pelan.
"Mas juga ya, kasih kabar ke aku kalau dah sampai di sana. Kalau sudah satu bulan, pulang ya. Biar kita bisa lihat perkembangan kedua anak kita sama-sama" Ujar Luziana dengan senyuman tipis, sembari air terus mengalir di pipinya. Renaldy pun melepaskan tangannya yang memegang pipi istrinya, dan beralih menghapus air matanya.
"Itu sudah pasti sayang, mas akan berusaha mungkin kasih kabar ke kamu" Balas Renaldy seraya tersenyum.
__ADS_1
"Janji! Kemudian mas harus pulang dengan selamat. Demi aku dan kedua calon anak kita" Ujar Luziana dengan antusias membuat Renaldy melihatnya tersenyum tipis. Melihat istrinya, yang berusaha tegar dan berusaha untuk mendukung dirinya.
"Iya sayang.." Jawab Renaldy lalu berpelukan dengan istrinya. Kemudian mencium perut istrinya yang buncit. Setelah itu Luziana pun melambaikan tangannya, melihat suaminya yang sudah berjalan menuju ke kapal.
"Maafin mas sayang, mas terpaksa bohong gini ke kamu" Gumam Renaldy seraya memejamkan matanya merasakan angin yang berhembus kencang menerpa kulit nya.
Luziana menutupi mukanya dengan bantal. Menumpahkan seluruh kesedihannya. Perempuan itu udah pulang dari pelabuhan sedari tadi, kini sudah di rumahnya dan tengah berada di dalam kamar nya lantai atas dua.
Luziana yang berada di kamar nya itu pun terus menangis, hingga matanya sembab dan kemerahan. Sampai rasa kram di perutnya tidak ia pedulikan.
Tok
Tok
"Si-apa ya?" Tanya Luziana dengan sesegukan.
"Ini Nona saya Bu Tuti. Sekarang waktunya nona makan kemudian minum obat" Ujar Bu Tuti yang di perintah oleh Renaldy untuk selalu mengontrol kondisi luziana.
"Iya nanti saya turun, Bu Tuti duluan aja. Saya masih ingin di dalam kamar" Jawab Luziana dengan nada teriak.
"Baik nona, tapi saya ingin nona terus kebawah. Jangan berlama-lama di kamar kasian kedua janin nona yang belum makan. Karena ibunya gak makan" Ujar Bu Tuti memeringati lalu berlenggang pergi menuju ke dapur. Luziana yang mendengar perkataan Bu Tuti, seketika bungkam. Tangannya pun terulur mengusap perutnya yang terasa sakit.
__ADS_1
"Maafin Buna ya sayang! Buna bukannya ingin nyiksa kalian. Buna sedih aja ayah kalian egois yang lebih mementingkan pekerjaan nya, dari pada kita bertiga. Tapi ayah kalian begitu juga karena untuk kita dan untuk negara biar aman. Sebagai pertanda minta maaf Buna kalian pengen makan apa ya!" Ucap Luziana seolah bicara bayi di kandungannya sembari mengusap perutnya.
"Kalau kalian gak jawab, Buna putusin kita makan salad buah lagi" Ujar Luziana dengan antusias. Rasa sedih yang menyelimuti dirinya, kini sirna begitu aja karena demi bayi di dalam kandungannya.
Luziana dengan penampilan dres rumahan warna pink yang panjangnya sampai selutut. Lalu dengan rambut panjangnya yang terkuncir. Kini terlihat sibuk melihat ponselnya, menunggu telepon dari suaminya. Sampai buah salad buah yang telah di hidangkan di atas meja. Belum ia sentuh sedikitpun.
"Bu Tuti kenapa suami saya belum nelpon yang dari tadi!" Ujar Luziana menyampaikan keluh kesahnya.
Bu Tuti yang mendengarnya, menarik sudut bibirnya.
"Kan masih didalam kapal Nona, mana mungkin ada jaringan" Balas Bu Tuti lalu Luziana menanggapi ber'oh ria.
"Betul juga sih, kira-kira mereka sampai kapan ya di daerah timur" Tanya Luziana.
"Mungkin aja besok Nona, lebih baik nona makan dulu buah saladnya. Kasihan soalnya dia udah dari tadi nunggu di makan oleh non" Ucap Bu Tuti membuat Luziana menyengir lebar.
"Iya Bu Tuti..."
...----------------...
Jangan lupa dukunganya biar author semangat update terbaru 🖤🖤😘
Like
Komentar
Vote
Hadiah
Rating bintang limanya 🌟🌟🌟🌟🌟
Follow Instagram author: maulyy_05
__ADS_1
Buat para readers, jangan lupa mampir di karya baru author ya.
Judul nya: Vanilla (Love and Dare)