Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Terungkap


__ADS_3

Perkataan apa yang di ucapkan Bu Tuti di dengar jelas oleh Renaldy. Namun apa yang dia dengar tak sesuai kenyataan.


"Bibi... kenapa anda berani berbohong dengan saya" Tanya Renaldy dengan nada dingin. Seketika suasana menjadi mencekam dan tegang.


"Jawab! Kenapa bibi berbohong dengan saya," Bentak Renaldy dengan amarah yang bergemuruh di dalam dirinya. Tentang ungkapan beberapa hari lalu, dari Bu Tuti itu cuman semua hanya karangan.


Bu tuti meneguk ludahnya dengan susah payah. "Maaf tuan, saya lakukan itu karena takut di pecat oleh ibu tuan" Perkataan keluar yang dari Bu Tuti, membuat emosi yang sudah di tahan oleh Renaldy, langsung meledak.


Prang..


Bu tuti langsung menutup kupingnya dengan kedua tangannya, mendengar suara pecahan vas bunga yang di lepar tuanya. Apalagi melihat tatapan tuan nya, seakan ingin menerkam dia hidup-hidup.


"Apa kau tahu, akibat kau berbohong itu!" Suara Renaldy naik beberapa oktaf dengan nafasnya naik turun. Bu tuti langsung menunduk kepalanya dalam, dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Kedua darah daging saya, meninggal" Tambah nya lagi dengan sorot matanya yang penuh kekecewaan.


Renaldy mengusap wajahnya kasar. "Oh tuhan, apa yang telah aku lakukan" Ujar Renaldy frustasi mengingat dirinya membentak istrinya, yang dasarnya tidak ada kesalahan apa-apa. Yang salah itu dirinya, bukan Luziana!


Renaldy menghembus nafas kasar di udara sejenak, sebelum melanjutkan perkataannya.


"Mulai harini, bibi saya pecat" Sorot mata yang tanpa keraguan Renaldy mengatakan itu, dengan jelas. Bu Tuti langsung mendongak kepalanya, menatap tuanya.


Ia pun langsung bersimpuh di kaki tuanya, membuat Renaldy mundur beberapa langkah. Merasa tidak sudi kakinya di pengang oleh pelayannya.


"Maaf kan saya tuan... Saya tahu saya salah! Tapi mohon jangan pecat saya.." Bu tuti menangis tersedu-sedu berharap dirinya tidak di pecat. Tapi tetap saja Renaldy tetap pada keteguhan nya.


"Itu lebih baik, dari pada saya memenjarakan bibi" Bagaikan di tusuk jarum belati, Bu Tuti mendengar perkataan tuannya.


"Coba saja Bi Tuti, lebih jujur. Pasti saya tidak akan memecat bibi. Saya tahu ini bukan sepenuhnya, kesalahan bibi. Tapi andai bibi tahu bibi berkerja dengan saya! Bukan dengan ibu saya"


"Dan mulai detik ini bereskan semua barang bibi dari rumah saya, setelah saya pulang dari rumah sakit nanti malam. Saya tidak ingin satu pun batang hidung bibi, terlihat di mata saya. Untuk soal gaji, sudah saya taruh di atas meja makan. Bibi hanya perlu tinggal ambil saja"


Setelah mengatakan itu Renaldy langsung berlenggang pergi. Meninggalkan bibi yang terduduk di lantai dengan air mata yang masih mengalir.



Rumah sakit Pertamedika.



Pukul jam 2 lewat. Renaldy yang berada di rumah di rumah sakit. Langsung tersenyum tipis melihat orang tua datang ke rumah sakit.



Prok



Prok



Prok

__ADS_1



Suara tepuk tangan yang menggema, membuat atensi Mommy Liona dan Papi Devan menghadap putra sulung mereka.



"Mau cari siapa ke sini?" Lontar pertanyaan dari Renaldy. Namun satupun orang tuanya tidak berani menjawab.



Senyuman Renaldy mengembang, melihat orang tuanya yang hanya diam.



"Pasti ingin lihat cucu-cucu kalian kan" Ujar Renaldy tetapi tetap saja tidak ada respon yang keluar dari mulut mereka berdua.



"Mereka berdua gak ada disini, mereka berdua sudah meninggal..." Perkataan yang keluar dari mulut putra sulung mereka. Membuat dua pasangan itu, kaget bukan main.



Pantesan saja tadi mereka datang tempat biasanya, kedua bayi kembar itu sudah tidak ada.



"Kok bisa Al..." Mommy Liona langsung ambil ahli dramanya.




"Apa benar, yang kamu bilang itu Al" Papi Devan tampak tak percaya cucunya segemas itu, kembar lagi. Secepat itu meninggalkan dunia ini.



Renaldy mengepal kedua tangannya erat, yang kembali mengingat dia harus kehilangan dua anaknya. Dimana saat Renaldy baru saja merasakan mengendong bayi mungil nya. Yang sebagian darah daging nya. Dan tetapi itu hanya sementara. Apa ini di sebut dosanya, yang pernah dulu tak mengharapkan darah dagingnya tumbuh di rahim istrinya, Luziana.



Renaldy menghela nafas berat, sebelum menjawab perkataan mereka semua.



"Iya mereka berdua sudah meninggal, apa kalian berdua menyadari sebab kematian ini. Termasuk salah kalian" Papi Devan dan Mommy Liona yang mendengarnya saling tatapan dengan sorot mata yang bingung.



"Maksudnya?" Tanya Mommy Liona yang tidak mengerti maksud dari perkataan putranya.



"Huft.. Mommy jangan berusaha mengelak lagi, Al sudah mengetahui semuanya. Mommy mengapa lakukan itu kepada keluarga kecil Al. Apakah Al tidak berhak bahagia" Mommy Liona yang awalnya bingung, kini mengeleng kepalanya cepat. Melihat sorot mata anaknya yang penuh kekecewaan. Dia sudah tahu semua kebusukan kedua orang tuanya. Apalagi lagi mengingat dirinya melihat cctv. Dimana orang tuanya melakukan hal tak sepantasnya di lakukan sebagai mertua.

__ADS_1



"Mommy lakukan itu demi kamu Al, mommy ingin lihat kamu bahagia" Ujar mommy Liona.



"Tapi itu semua, gak bikin Al bahagia my. Itu semua yang Mommy lakuin, bikin Al kecewa. Sudah tiga darah daging Al harus meninggal. Padahal mereka gak salah apa-apa. Dan juga mereka ga nuntut, ada di dunia ini. Tapi Al lah yang menuntut mereka untuk ada dunia, untuk melengkapi keluarga kecil kami" Renaldy menarik nafas panjang sejenak, untuk mengurangi rasa sesak di dadanya.



"Apa Mommy bakal tahu rasa sakitnya, istri Al mengetahui anaknya sudah tiada. Apa Mommy bakal bisa rasain, Renaldy yang sudah tahu rasanya ingin mati sekarang juga." Mommy Liona mengeleng kepalanya dengan air mata yang mengalir mendengar perkataan putranya yang menyayat hati.



"Sepertinya perkataan Papi yang lebih menyakitkan. Bukan kah papi yang dulu mengharapkan sekali kami untuk menikah. Dan mengharap cucu dari kami berdua. Tetapi apa yang Papi lakukan, di saat istri Al berjuang antara hidup mati. Papi menyuruh Al nikah lagi. Al tahu! kalau sekarang hubungan Papi dengan mertua Al tidak baik-baik saja. Tapi apakah papi bisa menggantikan nyawa yang sudah hilang"



"Al minta tolong... banget! Apa yang kalian lakukan berdua itu tidak buat Al bahagia. Dengan menghancurkan seorang wanita yang sudah menjadi sebagian bahagia Al. Jangan mentang-mentang, kalian berdua orang tua saya. Kalian dengan mudah menghancurkan keluarga kecil, yang berusaha Al buat. Tolong untuk terakhir kalinya jangan pernah datang di hidup kami lagi. Cuman untuk itu saja." Setelah mengatakan itu Renaldy langsung pergi. Meninggalkan mereka dengan seribu penyesalan.



"Maafkan mas sayang... Yang gak becus jadi suami yang baik untuk kamu dan ayah untuk anak kita. Gara-gara mas, mereka berdua harus pergi" Renaldy menangis tersedu-sedu, mengingat kesalahannya apa yang perbuat. Luziana yang baru sadar dari komanya di buat bingung dengan tingkah suaminya. Tangan Luziana terangkat mengusap rambut hitam legam suaminya.


"Gak papa mas, mungkin mereka berdua bukan rezeki kita" Ujar Luziana dengan suara yang parau sembari mengulas senyum tipis.


Renaldy mendongak kepalanya, menatap sendu mata istrinya.


"Kamu mau kan, kasih kesempatan untuk mas lagi untuk perbaiki semua ini" Mohon Renaldy.


Luziana tersenyum tipis. "Untuk itu aku gak bisa, lebih baik hubungan pernikahan kita cukup sampai disini aja mas. Lebih baik kamu menikah dengan wanita lain yang bisa bikin kamu bahagia"


Renaldy mengeleng kepalanya cepat.


"Gak ada yang bisa bikin aku bahagia selain kamu sayang. Aku tahu selama ini perkataan, aku menyakiti kamu. Tapi aku mohon untuk kesekian kalinya jangan pernah berkata berpisah dengan aku ya." Tangan Renaldy terulur mengusap pipi istrinya.


"Dan aku mohon kasih aku kesempatan untuk sekian kali ini ya. Kalau aku melakukan kesalahan yang sama lagi, kamu cukup bunuh aku saja" Ujar Renaldy dengan sorot mata penuh permohonan.


"Baiklah," Renaldy yang mendengar jawaban istrinya matanya langsung berbinar, tapi selanjutnya.


"Tapi ada syaratnya kita jangan punya anak lagi ya. Sebelum aku berumur 25 tahun"


Renaldy yang mendengarnya, mengangguk kepalanya. "Baiklah kalau itu kamu mau, mas turuti"


...----------------...


Maaf gak bisa buat yang dramatis, cuma bisanya buat geregetan doang wkwkw. See you di bab selanjutnya 🤗😘


Sebelum menunggu update selanjutnya jangan lupa mampir di novel author yang sebelahnya ya!


Judulnya: Vanilla (Love and Dare)


Dan juga Jangan lupa dukungan, like, vote komentar gift hadiah. Dan follow Instagram author: maulyy_05

__ADS_1


Lope sekebon untuk semuanya yang mau nurutin 💛💛


__ADS_2