
Satu tahun pun berlalu. Tak terasa pernikahan Luziana sudah menginjak tiga tahun. Yang biasanya makin lama, makin harmonis. Tapi tidak dengan hubungan pernikahan mereka. Yang dimana makin hari, makin dingin, hubungannya.
Luziana maupun Renaldy sering sibuk dengan urusan masing-masing. Dan tidak ada waktu untuk menghabiskan waktu berdua. Renaldy yang memang dasarnya gila kerja. Itu bukan hal biasa lagi bagi Luziana.
Di malam hari, di sebuah kamar dengan cahaya redup. Ada dua insan saling bercinta. Luziana yang sudah pelepasan pertama . Memutuskan mengakhiri percintaan nya.
"Mas sudah cukup, aku udah capek" Lirih Luziana dengan suara parau nya sembari berusaha mendorong dada bidang suaminya. Yang kini sedang menindih tubuh mungil nya.
Kedua ujung bibir Renaldy terangkat. "Mas, belum lagi keluar. Kamu udah minta berhenti. Terus kamu kenapa gak dengar kata mas, yang katanya pas pelepasan mau keluar bareng-bareng" Balas Renaldy dengan senyuman tipis menghiasi wajahnya, di kamar yang gelap.
"Ya mas itu lama banget keluarnya..." Ujar Luziana yang tidak berniat ingin bercinta lagi. Padahal baru saja sekali pelepasan Luziana sudah kelelahan. Dan itu pun belum sampai waktunya satu jam.
Sedangkan Renaldy yang memiliki stamina yang lebih besar dari pada sebelumnya. Membuat Luziana kewalahan mengimbangi suaminya. Dengan tubuh Renaldy sekarang makin kekar dan gagah daripada sebelumnya.
Renaldy yang mendengarnya, menghela nafas panjang. Ia pun menuruti keinginan istrinya, untuk mengakhiri percintaan nya, dengan hasrat yang sudah di ujung tanduk.
Renaldy yang sudah bangkit dari tubuh istrinya. Beranjak menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sementara Luziana sudah langsung tergeletak tidur di kasur. Kemudian satu hal lagi, asal mereka bercinta tak lupa namanya mengunakan pengaman. Mengingat Luziana tidak mau punya anak lagi sebelum, umur 25 tahun. Akhirnya mereka memutuskan menunda kehamilan dengan asal, pas berhubungan badan Renaldy harus mengunakan pengaman. Kenapa tidak mengunakan KB saja? Kalau KB takutnya tidak akurat dan takut kebobolan. Jadi lebih alami, mengunakan pengaman saja. Walaupun kemungkinan sangat kecil untuk kebobolan.
Lihat aja buktinya, sudah satu tahun berlalu. Luziana selama ini belum mempunyai omongan kembali. Berarti mengunakan pengaman lebih akurat.
Malam pun berganti pagi. Di sebuah ruangan dapur, Luziana kini sedang menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya yang sudah menjadi rutinitas sehari-harinya.
Renaldy yang sudah siap dengan penampilan seragam loreng nya. Menarik salah satu kursi untuk dirinya duduk.
"Kamu, pergi kuliah nya di antar atau mau berangkat sendiri?" Tanya Renaldy dengan formal. Mengingat istrinya sekarang memutuskan untuk kuliah, setelah ikut ujian homeschooling. Membuat Renaldy tiap hari harus mengantar jemput istrinya. Kalau di tanya kenapa Luziana kuliah, agar tidak ada memandang dirinya rendah lagi.
__ADS_1
Luziana yang mendengar nada bicara suaminya yang formal. Merasa biasa-biasa saja.
"Aku... Mau perginya sendiri aja mas naik motor, " Balas Luziana lalu di angguki kepala oleh Renaldy.
"Ini mas makanannya sudah, aku taruh lauk" Ujar Luziana memberikan piring suaminya yang sudah ia taruh lauk.
"Makasih..." Ucap Renaldy dengan nada bicara biasa saja.
"Sama-sama..." Balas Luziana seraya tersenyum sumringah sembari duduk di kursi meja makannya. Mereka pun mulai menyantap sarapan pagi tanpa ada yang bersuara, hingga makanan itu habis.
Luziana yang belum habis sarapannya, dan masih tinggal setengah. Berdiri dari kursinya, untuk menyalami tangan suaminya.
"Iya mas hati-hati ya, nanti di jalan" Balas Luziana setelah menyalami tangan suaminya.
__ADS_1
Renaldy mengangguk. "Iya, yaudah kalau begitu, mas berangkat dulu ya. Kamu selesaikan aja terus makannya. Gausah perlu antar mas sampai ke depan rumah" Ucap Renaldy lalu Luziana mengangguk kepalanya mengiyakan. Perempuan itu pun mulai menyambung sarapannya setelah suaminya hilang dari pandangannya.
"Luziana..." Panggil seseorang yang berasa dari belakang nya.
Luziana yang sedang ingin menaruh helm motor nya, menoleh ke arah sumber suara.
"Eh iya Difa... Kenapa?" Jawab Luziana seraya bertanya.
Difa menyengir lebar. "Gak ada apa-apa, cuman ingin manggil doang"
Luziana yang mendengarnya, menangapi dengan ber'oh ria saja.
"Tumben Lo lun, pergi ke kampus naik motor," Tanya Difa merupakan teman satu jurusan dan kelas dengan Luziana. Lagipula tidak biasanya, perempuan itu pergi ke kampus naik motor.
"Apa lagi marahan, dengan suami Lo" Difa yang sudah termasuk teman dekat. Sudah mengetahui kalau Luziana sudah menikah. Untuk lebih lanjut dalam lagi, Difa belum mengetahui tentang rumah tangga Luziana.
"Enggak, kami gak lagi marahan. Cuman ingin bawa motor aja sendiri, dari pada harus antar jemput. Kan lebih repot" jelas Luziana lalu di angguki kepala mengerti oleh Difa.
"Ku kirain, lagi marahan..." Difa menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. Sementara Luziana menangapi nya, dengan anggukan kepala saja.
Setelah itu, mereka berdua memutuskan untuk memasuki ke kelas. Mengingat mata kuliahnya sebentar lagi di mulai.
Selang beberapa jam. Akhirnya mata pelajaran kuliahnya selesai. Luziana dan Difa memutuskan untuk bersantai di sebuah cafe di sebrang kampus.
"Luziana Lo dah pernah berhubungan gak sama suami Lo?" Tanya Difa dengan nada berbisik. Luziana yang sedang menyuapkan, sesendok nasi ke dalam mulutnya. Menjadi berhenti mendengar, pertanyaan itu.
"Ya udahlah, itu kan sudah tugas sebagai istri. Untuk melayani suami" Jawab Luziana santai sambil menyuapkan kembali makanannya yang sempat tertunda.
"Ouh... Terus Lo kenapa belum hamil?" Lontar pertanyaan dari Difa lagi sontak membuat Luziana kaget mendengar pertanyaan itu.
__ADS_1
Uhuk
...----------------...