
Mendengar perkataan Diana. Luziana tidak terlalu mengindahkan perkataan itu. Lagipula dia percaya suaminya bakal pulang.
Waktu pun bersilih berganti. Luziana melewati hari-harinya dengan biasa saja. Dan di temani oleh Diana. Yang katanya Renaldy bakal akan menghubungi dirinya setelah sampai di daerah timur itu cuman angin lalu. Nyatanya suaminya, tidak bisa di hubungi karena di luar jangkauan. Awalnya pun Luziana sedih namun tidak ingin berlarut-larut.
Diana pun menemaninya, hanya dua seminggu. Karena mertuanya lagi sakit yang tinggal nya berada di luar kota. Mau gak mau, Diana harus pergi keluar kota merawat mertuanya.
"Wah... dah makin besar aja ni! dedek bayinya" Seru dokter citra sembari di ikuti kekehan ringan. Luziana yang mendengarnya, menanggapinya hanya senyuman dengan matanya berbinar-binar terharu. Kini perempuan itu sedang lagi periksa kandungannya.
"Yang saya periksa dari kondisinya, kedua janinnya Alhamdulillah nya sehat-sehat saja. Dan juga berkembang sesuai pada biasanya. Anggota tubuhnya pun sudah mulai lengkap. Kemudian selama ini gak boleh banyak pikiran, dulu ya! Dan tidak boleh capek-capek. Dan harus tetap semangat walaupun ninggalin suami untuk bertugas" Ujar dokter citra di akhiri kata semangat.
Kedua sudut ujung bibir Luziana naik. Membentuk senyuman tipis "Baik dokter"
"Lalu ini resep obatnya dan vitaminnya tolong tebus di apotik" Ucap dokter citra lalu di angguki kepala oleh Luziana.
Angin berhembus begitu kencang, menerpa kulit perempuan. Yang menatap lautan dengan tatapan antusias, menunggu suaminya pulang. Sudah satu bulan pun berlalu. Sekarang ia ingin menjemput suaminya di pelabuhan.
Merasa udaranya yang sejuk Luziana memutuskan menunggu di sebuah warung di pelabuhan. Ia pun mengusap kedua bahunya untuk menghangatkan dirinya. Baju gamis yang di gunakan Luziana tidak berkain tipis. Namun karena faktor itu udara nya sedang kencang, membuat kita yang tidak mengunakan jaket merasa kedinginan.
Perempuan itu pun menyeruput Milo yang terhidang atas meja, yang sudah dia pesan sedari tadi. Setelah melentakan kembali, matanya tertuju pada ponselnya yang ia genggam. Luziana sudah telepon suaminya berulang kali, tetap tidak di angkat. Itupun terakhir on hari pertama suaminya berangkat.
"Mas kemana sih, katanya pulang hari ini" Cemberut Luziana sembari mengerucutkan bibirnya. Tangan Luziana pun bergerak menekan tombol, untuk memberi pesan.
*Mas ♥️*
*Mas kapan nyampai ke sininya :). Luziana udah nunggu dari tadi loh*.
Ketik Luziana yang hanya tecentang satu pesan nya. Luziana pun menghela nafas panjang melihatnya. Tiba-tiba perutnya terasa kram.
"Auuw sakit..." Ringis Luziana pelan. Ia pun mengusap perutnya untuk mengurangi rasa sakitnya. Namun rasa sakit itu tidak kunjung hilang.
__ADS_1
"Kenapa kamu sayang di dalam perut Buna?" Tanyanya, seolah pada bayi kandungannya. Dia pun berpikir keras, apa faktornya kenapa perut nya terasa kram.
"Kamu lapar ya?" Luziana sudah terpikir akibat perutnya sakit, karena belum makan siang.
"Tapi disini tidak ada apa-apa" Luziana mengedarkan mencari sesuatu di warung itu. Di warung tersebut hanya tersedia mie dan beberapa minuman. Kemudian kue.
Gak tahu harus beli apa, Luziana memutuskan beli mie aja. Luziana pun memangil pelayan di warung tersebut.
Pelayan tersebut pun datang menghampiri Luziana. "Kenapa non?" Tanyanya.
"Saya pesan mie satu pakai cumi-cumi. Yang lumayan pedas" Luziana kalau sudah berurusan dengan mie. Rasanya masih kurang, kalau gak pedas.
"Sabar ya nak! makanannya lagi di buat. Kita tunggu dulu sini sembari menunggu ayah kalian..." Ujar Luziana seraya tersenyum. Akhir-akhir kehamilan Luziana ini, sering bicara dengan pada kandungannya sendiri. Yang mungkin bayi yang masih di dalam rahim tidak itu mengerti apa-apa. Tapi janin itu mengerti kok, apa yang di ucapkan oleh orang tuanya. Walaupun tidak terlihat kali. Tapi dia bisa juga merasakan apa yang orang tuanya rasakan.
Mie yang di pesan pun datang. Pelayan tersebut pun menghidangkan di atas meja Luziana.
"Silahkan di makan mie nya nona" Ujar pelayan tersebut.
"Iya..." Jawab Luziana seraya tersenyum. Ia pun mulai memakan tersebut. Dengan lahap. Gak perlu habis beberapa waktu. Luziana pun selesai memakan mie nya.
Bu Tuti yang di tugas oleh Renaldy, pun datang ke pelabuhan. Setelah usai mengerjakan tugas rumah.
__ADS_1
"Non kok makan mie, nona kan lagi hamil gak boleh makanan yang begitu" Ucap Bu Tuti memperingatkan.
Menyengir lebar. "Gak papa Bu Tuti, cuman sekali-kali. Soalnya lagi ngidam..." Dusta Luziana. Bu Tuti itu yang mendengarnya, hanya mengeleng kepalanya.
Di tempat lain Renaldy dengan berlumuran darah. Pada tubuhnya, ia menatap langit-langit yang tertutup oleh pohon.
"Jenderal anda tunggu sini, saya akan memanggil tenaga medis yang di tugaskan disini " Ucap Arsen melihat banyak mengalir darah bahunya.
"Gausah, saya bisa obati sendiri. Ini luka belum seberapa sebanding kebohongan yang saya berikan pada istri saya" Renaldy tersenyum miris. Pasti istrinya sedang menunggu kepulangannya.
Mendengar perkataan Jendralnya, tatapan Arsen berubah jadi sendu.
"Tapi setidaknya, jenderal tidak membohongi istri anda kalau anda bisa pulang dengan selamat"
"Semoga aja"
"Saya gak percaya, suami saya bakal pulang tahun depan. Dia sendiri bilang dengan saya, kalau ingin melihat anak kami bersama-sama lahir ke dunia" Ucap Luziana dengan menahan sesak di dadanya, mendengar pernyataan kalau suaminya bakal bakal pulang bertugas tahun depan.
"Tapi itu memang kenyataannya, bulan ini pergi. Dan bulan tahun depan ini juga dia bakal pulang" Tekan Arya. Yang di panggil oleh Bu Tuti, untuk menyuruh Luziana pulang. Karena mereka sudah beberapa jam menunggu disini.
"Kalau begitu telepon suami saya! Saya ingin dengar sendiri dari mulut nya" Pinta Luziana dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Tidak bisa, karena di sana tidak ada jaringan. Dan percuma telepon berulang kali, yang ujungnya berakhir sia-sia" Balas Arya terdengar tegas. Bibir Luziana yang terlihat pucat pun bergetar, ketahanannya pun runtuh. Ia pun mengeluarkan air mata yang membasahi pipinya.
"Dia sudah janji loh, bakal pulang bulan ini"
...----------------...
__ADS_1
Follow Instagram author : maulyy_05