Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Berubah


__ADS_3

Renaldy berjalan memasuki perusahaannya begitu berwibawa. Para karyawan membungkuk hormat kepada CEO mereka. Kemudian banyak para karyawan menatap kagum pada CEO nya sekaligus kayak ada rasa yang beda. Dan ada juga Kevan yang berjalan santai di belakang Renaldy.


Sapaan para karyawan biasanya di jawab oleh CEO mereka. Namun sekarang Pria itu terlihat datar dan dingin. Membuat mereka yang melihatnya menjadi takut.


Berselang mereka berjalan akhirnya mereka pun sampai di lantai paling atas di perusahaan Company Hervandez. Yang pastinya lantai paling atas itu ruangan CEO.


Renaldy mendaratkan bokongnya di kursi besarnya. Dan kevan duduk di sofa yang tidak terlalu jauh dari meja kerja Renaldy.


Seno yang merupakan sekretaris Renaldy. Langsung mengasih berkas kepada Pria itu dan juga mengasih tahu berkas mana aja yang perlu di tanda tangani.


Renaldy langsung membuka berkas tersebut dan membacanya dengan teliti. Seno pun izin pamit karena ada sesuatu pekerjaan yang ia harus kerjakan. Renaldy pun mengangguk kepalanya dengan ekspresi datar. Melihat CEO nya mengangguk kepalanya, bahwa sebagai tanda sekretarisnya itu boleh pergi dari ruangannya. Seno pun melangkah kakinya menuju keluar ruangan CEO nya.


Namun saat menarik pintu ruangan CEO pergerakan Seno berhenti. "Seno" Panggil Renaldy datar. Mendengar panggilan CEO nya, Seno pun segera membalikkan badannya menghadap tuan mudanya .


"Ada apa tuan muda" Tanyak Seno dengan sopan sambil membungkuk hormat. Melihat sekretarisnya berhenti pandangan Renaldy menoleh pada kevan yang sibuk dengan ponselnya sambil tersenyum sendiri.


Seno yang melihat pandangan tuan mudanya. Ikut turut mengikuti pandangan tuanya itu. Ia bisa dapat melihat seorang pria yang sibuk sama ponselnya sendiri sambil tersenyum sendiri.


"Siapa orang itu. Mancam orang gila aja senyum-senyum sendiri" Batin Seno sambil menatap Kevan penasaran.


"Kevan" Panggil Renaldy datar. Namun tidak sahutan dari Kevan yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Kevan." Panggil Renaldy dengan nada yang naik beberapa oktaf. Tetap aja tidak sahutan dari orang tersebut. Seno menjadi dongkol pada orang yang di panggil tuan mudanya. Karena di panggil oleh tuan mudanya itu, cowok itu tidak menyahutnya malah masih sibuk sama ponselnya. Bahkan sampai tertawa sendiri. Itu Orang budeg atau gimana sih?.


Renaldy yang sudah kesal panggilannya tidak di sahut, ia pun memukul meja kerjanya. Sehingga memunculkan bunyi yang cukup memekakkan telinga.


Bruk!

__ADS_1


"Eh dor, dor" Ucap Kevan yang kaget. Ia pun menatap penyebab yang bikin dirinya kaget. Cuman sedetik saja melihatnya sudah bikin cowok itu getar. Begitu juga Seno yang melihat tuan mudanya yang tampak sangat marah di balik ekspresi datarnya membuat dirinya jadi takut.


Renaldy pun menghela nafas dengan berat. "Kau pergi dengan sekretaris ku" Titah Renaldy datar. Pandangan kevan yang tadi menunduk kini pandangannya menatap pada teman masa SMA nya itu dengan sedikit gak terima.


"Aku gak mau." Tegas cowok itu.


"Aku masih waras. Dan aku itu tidak suka sesama jenis" Sambung Kevan lagi. Seno yang mendengar perkataan Kevan menjadi melongo. Yang di suruh apa di jawab apa.


"Maksud kau apa" Tanyak Renaldy dengan sorot mata tajam. Kevan yang melihat Renaldy menautkan jarinya cemas karena takut. Ia pun berusaha menjawab pertanyaan Renaldy walaupun bibirnya sedikit bergetar.


"Kamu suruh aku pergi dengan ini laki kan" Tunjuk Kevan kepada Seno. Renaldy menaikkan alisnya.


"Aku tuuh masih waras Renaldy. Aku tu suka sama lawan jenis bukan sesama jenis. Jadi kamu jangan suruh aku pergi jalan-jalan sama laki yang kayak seperti anak ayam kehilangan induknya." Kevan menatap Seno dari ujung kaki sampai kepala.


Seno yang mendengarnya menjadi dongkol setengah mati. Siapa juga mau pergi sama gembel kayak Lo. Batin Seno kesal. Menatap kevan yang penampilan, yang rambutnya acak-acakan. Dasinya di pasang tidak rapi. Dan masih banyak hal lainnya lagi, dan pastinya ni cowok seperti gembel di mata Seno.


Renaldy menghela nafas berat dan menghembuskan nafasnya di udara dengan kasar "Aku tuh menyuruh kau pergi dengan sekretaris ku untuk melakukan pekerjaan. Dan juga nantik kau akan di bimbing oleh sekretaris ku. Apa yang apa yang harus kau kerjakan di perusahaan ku. Bukan pergi jalan-jalan. Kau paham" Ujar Renaldy dengan tegas. Dan segera dapat anggukan kepala dari Kevan.


Mereka yang sudah sampai depan lift. Kevan menghela nafas lega bisa keluar dari gua singa. Ia pun menoleh yang dimana ada Seno yang berada di sampingnya. Matanya pun terhenti menatap tangannya menggenggam tangan Seno. Ia pun langsung tersadar dan melepaskan tangannya yang menggenggam tangan cowok itu.


"kau mencari kesempatan dan kesempitan ya" Ucap Kevan dengan mendelik tajam.


"Kau yang mencari kesempatan"


...***...


Waktu bel pulang sudah dari tadi. Luziana berdiri di depan pagar dengan pikiran ia tidak tau harus pulang kerumah suaminya harus naik apa. Kalau pulang nebeng dengan Meysa itu pasti tidak mungkin. Karena pasti cewek itu akan menolaknya, jika Luziana pulang bareng dengannya.

__ADS_1


Terus pulang harus dengan naik apa?. Gak mungkin kan harus pulang dengan jalan kaki sedangkan rumah suaminya itu sangat jauh. Tadi pun ia ada di ajak pulang oleh Karina. Tapi Luziana menolaknya, takut jika temannya mengantar dirinya pulang, nantik statusnya bakal terbongkar kalau dirinya sudah menikah. Apalagi Luziana menikah dengan kakaknya Meysa.


Terpaksa menggunakan uang sisa yang di kasih oleh Meysa. Ia gunakan sisa uang tersebut untuk bayar uang taksi. Taksi yang di pesan pun datang, Luziana pun segera membuka pintu mobil dan masuk kedalam mobil tersebut.


Perempuan itu pun mengasih alamat yang mana tempat yang harus sopir taksi itu antar. Mobil itu pun melaju perjalanan dengan kecepatan sedang di jalan raya kota yang padat dengan kendaraan.


Taksi yang ia naik pun mengantarnya sampai pada tujuannya. Sopir taksi itu menatap heran pada rumah penumpang yang ia antar. Soalnya rumahnya terlihat kosong dan rumah itu seperti lama terbengkalai.


"Yakin neng ini rumahnya" Tanyaknya sambil menatap penumpangnya melalui kaca spion dalam mobil.


"Iya pak emangnya kenapa pak" Tanyak Luziana balik. Pak sopir taksi itu hanya menggeleng kepalanya.


"Tidak ada neng."


Luziana pun keluar dari taksi yang ia naik setelah membayar ongkosnya. Luziana tersenyum kecil menatap rumah yang tidak ada penghuninya. Perempuan itu hanya bohong kepada sopir taksi itu kalau ini rumahnya. Padahal tidak, rumahnya tidak jauh dari daerah situ juga. Luziana tidak ingin pak sopir taksi itu mengantar dirinya ke rumah suaminya. Karena dia tidak ingin membuat malu suaminya yang keluarga terpandang itu yang pasti banyak orang kenal sama suaminya. Pasti sopir taksi itu bakal melontarkan pertanyaan ada hubungan apa dirinya dengan keluarga Hervandez. Daripada di kasih pertanyaan yang mungkin bakal susah Luziana jawab lebih baik dia cari aman dengan sopir taksi itu mengantarnya pada rumah kosong yang gak jauh di daerah kompleks suaminya tinggal.


Tiba-tiba bulu kuduk Luziana berdiri. Ia pun juga merasa ngeri pada rumah minimalis yang terbengkalai ini. Perasaannya daerah disini rumahnya pada besar-besar semua. Cuman satu rumah yang ini kecil lagipun tidak ada penghuninya.


Luziana yang merasa aura gak enak pada rumah itu. Langsung kabur lari menuju rumah suaminya.


...----------------...


JANGAN LUPA DUKUNGANNYA


LIKE


VOTE

__ADS_1


HADIAH


KOMENTAR


__ADS_2