
Nadia menatap figuran foto yang terpajang di kamar Luziana. Terlihat dua pasangan yang begitu serasi. Senyuman tipis pun terukir di bibir cewek itu. Luziana yang sudah selesai membersihkan dirinya, melihat temannya itu menatap foto nya.
"Gausah di lihat lama-lama nanti naksir pula kamu dengan suami ku" Ucap Luziana seraya tersenyum merekah.
Nadia yang mendengar perkataan Luziana, langsung menoleh ke arah perempuan itu.
"Idih gausah geeran! Gue gak naksir sama suami Lo" Balas Nadia seraya berjalan menaiki ke kasur. Membuat Luziana mengeleng kepalanya pelan.
"Gak papa kan aku tidur satu kamar dengan Lo, apalagi di kamar ini, saksi bisu atas hasil percintaan Lo" Ucap Nadia yang sudah merebahkan dirinya di atas kasur.
Luziana berdecak kesal. "Ck' Gak gitu juga kali." Luziana berjalan menaiki atas kasur, dan turut merebahkan tubuhnya. Di samping Nadia. Walaupun sebenarnya gak boleh, apalagi ini kamar Luziana dan Renaldy. Tetapi Luziana tidak ingin tidur sendiri aja. Kalau dirinya tidur sendiri, yang ada dia makin teringat dengan suaminya. Makanya Luziana memutuskan Nadia tidur dengan sekamarnya.
Luziana yang sudah sedari tadi ngantuk, tak perlu waktu lama ia pun tertidur. Begitu juga dengan Nadia.
Di tempat lain.
Papa haris membaca koran, di ruang tamu. Padahal waktu sudah mau hampir jam 12 malam. Tetapi pria paruh baya itu, belum sedikit merasa ngantuk.
"Papa..." Panggil Mama Safira kepada suaminya seraya melentakan teh di atas meja.
"Apa?" Sahut Papa Haris, tanpa mengalikan pandangannya dari koran.
"Apa Papa nyakin bakal mengundurkan diri dari perusahaan Hervandez" Tanya Mama Safira hanya untuk memastikan. Akibat kejadian, waktu Luziana keguguran. Hubungan Antara persahabatan Papa Haris dan Papi Devan memburuk. Meskipun Papi Devan sudah berusaha untuk memperbaiki hubungan. Tetap saja Papa Haris masih marah dengan putra sahabatnya itu, yang berani memukul dirinya.
Walaupun dari sudut pandang yang kita lihat, yang bersalah itu adalah Papa Haris. Tetap saja pria itu tidak ingin mengakuinya. Lagipula sudah beberapa bulan ini mereka tidak pernah lagi berinteraksi sebagai besan lagi. Dan itu, Papa Haris memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan, sahabat nya.
__ADS_1
"Papa sudah sangat nyakin!" Papa Haris melempar koran itu di atas mejanya seraya mengambil teh yang di bawa istrinya itu, lalu menyeruputnya.
"Terus Papa mau kerja dimana? Sedangkan kita dapat penghasilan selama bertahun-tahun ini, berasal Papa dapat gaji dari kerja di perusahaan Hervandez" Ujar Mama Safira bertanya.
"Kalau itu, mama gausah pikirkan. Lagipun banyak perusahaan mau nerima papa" Balas Papa Haris sembari melentakan gelas teh di atas meja.
Mama Safira mendengar, perkataan suaminya. Hanya bisa memijit pelipisnya yang terasa pusing.
"Terus bagaimana dengan Luziana?" Lontar pertanyaan lagi dari Mama Safira yang merasa khawatir dengan keadaan putri sulungnya itu.
"Anak itu sudah bukan bagian dari keluarga kita lagi"
Papa Haris nampak bimbang ingin menarik pintu ruang CEO. Dengan tangannya membawa sebuah dokumen pengunduran diri. Terdengar samar-samar, kalau Papi Devan sedang berbicara dengan seseorang.
"Apa benarkah yang kamu lihat itu!" Terdengar suara papi Devan yang tegas dengan wajah yang berang.
"Benar tuan, saya tidak berbohong" Jawab seseorang di sebrang telepon dengan nyakin.
"Kalau tuan tidak percaya saya bakal mengirim buktinya" Sambungnya. Ia pun mengirim sebuah foto ke Papi Devan. Papi Devan yang melihat foto yang di kirim tersebut. Senyuman lebar langsung terukir bibirnya, antara bahagia dan gak percaya. Bercampur aduk menjadi satu.
"Apa ini semua benar?" Tanya Papi Devan dengan suara yang bergetar.
"Benar tuan"
"Terimakasih atas kerjanya, saya akan membayarkan pun kau mau. Tolong selama ini kau harus perhatikan gerakan menantu dan calon cucu saya, ada sesuatu yang penting segera informasikan ke saya" Titah papi Devan dengan nada datar. Lalu memutuskan teleponnya dengan sepihak. Kedua tangannya Papi Devan menopang meja kerja.
"Aku bakal jadi opah lagi..."
__ADS_1
Papa Haris yang mendengarnya, langsung membulat matanya sempurna. Siapa yang hamil? Apakah itu putrinya. Dengan langkah lebar, papa Haris mengambil langkah mundur. Niat mengundurkan diri seakan sirna.
"Ini gak boleh terjadi, aku gak terima mereka mengambil cucuku"
"Ayolah ris yang telah terjadi, biarlah terjadi. Apakah kau masih marah dengan putra ku" Ujar Papi Devan bertanya. Sudah beberapa jam, Papi Devan berdiri di depan meja kerja sahabatnya sampai orang kerja yang berlalu-lalang menatap aneh. Seorang pemimpin perusahaan ternama, berdiri berjam-jam karena seorang karyawan.
"Sudahlah cukup Devan aku sudah tidak berniat lagi berbesan dengan mu lagi" Tegas Papa Haris.
"Hei, aku kesini bukan untuk berbesan. Tapi aku kesini hanya untuk ingin mengopi dengan kau sebagai seorang sahabat. Sudah beberapa bulan kita tidak pernah bersantai dan mengopi bareng lagi" Sebelum ini mereka berdua, sering sekali. Waktu jam siang kerja, mereka mengopi bareng dan berbicara soal bisnis. Tetapi sekarang ini entah kenapa mereka sudah tidak melakukan itu lagi.
Kedua ujung bibir Papa Haris terangkat. "Aku tidak mau, lebih baik kau pergi dari hadapan saya. Dan satu lagi aku ingin mengasih dokumen ini pada mu" Papa Haris melemparkan sebuah dokumen yang tadi ia pengang.
Papi Devan seketika mengerutkan dahinya. Ia pun mengambil dokumen itu, yang tertutup oleh map coklat. Lalu membacanya.
Surat pengunduran diri atas nama Haris ardenson. Baca Papi Devan di dalam hati.
Sekian detik Papi Devan langsung menoleh ke arah papa Haris.
"Kau gak bercanda kan?" Papi Devan menatap Papa Haris dengan raut wajah gak percaya apa yang di baca nya ini. Masa dia baru dapat kabar paling bahagia, kini malah harus di jatuhkan kembali. Kemudian setelah mengetahui informasi menantunya sedang mengandung anak putranya dari mata-matanya. Pria itu menurunkan egonya dengan meminta maaf kepada Papa Haris. Namun apa yang dia dapatkan, hanya hal yang terduga yang tidak pernah Papi Devan bayangkan.
"Aku tidak bercanda..." Jawab Papa Haris dengan raut wajah terlihat serius.
Papi Devan melihatnya, menghela nafas pelan.
"Harus aku lakukan apa, biar kau mau memaafkan putra ku" Tanya Papi Devan dengan helaan nafas yang terdengar kian memberat.
"Kau mau tahu jawabannya? Jawabannya adalah sampai sekalipun putra kau mencium kaki aku, dan bermohon pada ku. Aku tidak pernah memaafkannya sedikitpun. Sampai kapan pun itu. Aku ingin memutuskan besanan kita. Lagipula aku sudah dapat calon pengganti yang lebih baik untuk putri aku. Dari pada putra mu yang brengsek itu" Ujar Papa Haris lalu berlenggang pergi dari perusahaan Hervandez.
Sementara Papi Devan, kedua sisi tangannya terkepal kuat. Dengan Gerahamnya bergemeletuk.
Brak
Prang
"Aku tidak membiarkan itu terjadi ris"
...----------------...
Aduuh sama dengan hidup ku, yang banyak masalah nya:)
__ADS_1
Jangan lupa dukunganya ya teman-teman 😘♥️. Biar author semangat update nya.
Follow Instagram author: maulyy_05