
Luziana duduk di kursi tunggu rumah sakit dengan sedikit perasaan cemas. Kini suaminya dalam penanganan dokter. Akibat luka bakar terjadi ledakan di hotel permata. Saat pria itu menolong anak kecil yang masih berada di dalam hotel. Sebenarnya sudah di larang oleh Arya. Karena bomnya sebentar lagi akan meledak. Tapi tetap saja Jenderal Renaldy itu nekat ingin menolongnya. Ia tidak ingin satupun ada yang jadi korban. Inilah resiko yang telah terjadi, pria itu terkena luka bakar di bagian punggungnya.
Wanita paruh baya yang terlihat masih muda, berlari kecil di koridor rumah sakit.
"Bagaimana keadaan suami mu nak?" Tanya Liona dengan perasaan cemas, yang sudah di hadapan menantunya. Ya, wanita paruh baya itu adalah Mommy Liona. Wanita itu tadi di telepon oleh seseorang yang nomor ponselnya tidak ia kenal. Nomor telepon yang tidak kenal itu, mengatakan bahwa Renaldy masuk rumah sakit Medika
Luziana yang melihat mertuanya datang. Langsung berdiri dari duduknya, dan tak lupa menyalami wanita paruh baya itu yang merupakan mertuanya.
"Luziana belum tahu Mommy. Soalnya masih dalam penanganan dokter," Ucap Luziana apa adanya. Mommy Liona yang mendengar jawaban menantunya menghela nafas panjang. Ia sungguh sangat khawatir dengan putra sulungnya itu.
"Gimana sih kejadiannya kok bisa sampai suami kamu masuk rumah sakit," Tanya Mommy Liona yang sudah duduk di kursi tunggu IGD, begitu juga Luziana.
Luziana pun menceritakan bagaimana awal kejadian pas saat, ada seorang wanita paruh baya yang meminta tolong kepada suaminya, untuk menyelamatkan anaknya yang masih di dalam hotel permata. Padahal didalam itu di pasang perangkat bom oleh musuh, dan waktunya pun itu sudah dikit lagi hampir meledak. Tapi tetap saja suaminya ingin menolong anak ibu. Kemudian berakhir seperti ini, anak yang suaminya ia tolong itu berakhir dengan selamat. Cuman Renaldy aja ada beberapa luka.
"Begitu ceritanya Mommy," Ujar Luziana mengakhiri bagaimana cerita kejadiannya. Di antara menantu dan mertua tidak lagi ada rasa canggung. Luziana sudah begitu rasa nyaman dengan mertuanya yang terlalu baik pada dirinya. Jadi bisa di bilang dia sudah akrab dengan ibu suaminya.
"Gin lah Mommy gak suka. Kalau Al jadi tentara, taruhannya itu nyawa" Tutur Mommy Liona dengan raut wajah sedih. Luziana mengangguk paham atas kekhawatiran mertuanya. Ya, mau bagaimana lagi itu kan sudah jadi resiko jadi abdi negara. Ya mau apa boleh buat, ya kita sebagai orang tua harus terima apa yang telah terjadi pada anak kita. Sebagai orang tua kita cukup mendoakan aja, agar selalu di lindungi oleh maha kuasa.
Pintu IGD itu pun terbuka menampilkan seorang pria yang mengunakan jas dokter. Mommy Liona dan Luziana pun bangkit dari kursinya, lalu berjalan mendekati dokter itu.
"Bagaimana keadaan anak saya dokter?" Tanya Mommy Liona kepada dokter spesialis luka itu.
"Ouh tuan Renaldy baik-baik saja, hanya luka bakar sedikit di area punggungnya. Tapi untuk sementara ini gak boleh kenak air ya dulu ya" Ujar dokter Pria itu bernama dokter Zein.
Luziana maupun Mommy Liona mengangguk kepalanya mengiyakan.
"Tapi pasien boleh dijenguk kan," Lontar pertanyaan lagi dari Mommy Liona.
Dokter Zein mengangguk kepalanya seraya tersenyum. "Boleh kok, silahkan nyonya dan nona boleh masuk. Saya izin pamit dulu ada pasien lain yang harus saya lihat kondisinya" Ujar Dokter Zein, kemudian berlalu dari tempat itu. Kenapa di panggil nona dan nyonya oleh dokter Zein, karena pria itu tahu bahwa Liona itu istri pemilik rumah sakit ini begitu dengan Luziana istri dari anak dari pemilik rumah sakit.
"Al...." Pekik Mommy Liona yang sudah masuk kedalam ruang IGD itu, sembari mendekap anak sulungnya itu.
"Mommy khawatir tau sama kamu!" Ucap Mommy Liona melerai dekapannya.
Renaldy yang melihat Mommynya terlalu khawatir padanya, tersenyum tipis sangat tipis hingga tidak ada ada satu pun orang yang bisa lihat senyuman tipisnya itu.
"Maafin Al, yang udah selalu bikin Mommy khawatir" Ujar Renaldy datar.
"Makanya jangan jadi abdi negara, jadi kan Mommy selalu khawatir. Lebih baik nantik kamu bulan enam gausah pergi bertugas" Pinta Mommy Liona tegasnya.
"Al tetap pergi, itu sudah tugas Al sebagai abdi negara. Bagaimana pun konsekuensinya Al tetap harus menjalaninya," Balas Renaldy gak kalah tegas.
Mommy Liona yang mendengarnya mencebik kesal.
Luziana yang sedari tadi hanya menyimak pertengkaran kecil antara ibu dan anak sulungnya itu. Ia tidak tahu harus berbuat apa-apa.
Ceklek..
Tiba-tiba suara pintu terdengar semua tatapan menoleh ke arah suara itu berasal.
__ADS_1
"Lily..." Pekik kegirangan Mommy Liona.
"Liona..." Sahutnya juga kegirangan. Dua wanita yang sama usia itu pun saling berpelukan.
"Apa kabar?" Tanya Dokter Lily merupakan bestian Mommy Liona.
"Alhamdulillah baik kok, kamu?" Tanya balik Mommy Liona.
"Alhamdulillah baik juga" Balas Dokter Lily. Wanita itupun menoleh menatap anak sulung teman baiknya itu dan pandangan dokter Lily terpaku dengan satu gadis yang terlihat sangat cantik.
"Siapa?" Tanya Dokter Lily kepada Mommy Liona. Mommy Liona yang tahu maksud temannya itu langsung menjawab.
"Itu menantu ku" Balas Mommy Liona sambil tersenyum.
"Hah menantu kamu! cantik banget.." Luziana pun mendekati Dokter Lily lalu menyalaminya, begitu juga dengan perawat yang ikut dengan dokter itu.
Ide jahil pun terlintas di pikiran Mommy Liona. ia pun berbisik pada bestinya itu. Renaldy yang melihatnya merasa curiga. Tiba-tiba perasaannya tiba berubah jadi gak enak.
Beberapa menit bisikan Mommy Liona ke Dokter Lily pun selesai. Dokter Lily pun mengangguk paham.
Dokter Lily pun mendekati Luziana yang berdiri di samping brangkar suaminya.
"Kamu cantik sekali, udah pernah lakuin apa saja sama mas suami," Ucap Dokter Lily sambil memperagakan tangannya tentang yang ehem, begitu lah.
Renaldy yang melihatnya membuang pandangannya. Yaelah Renaldy gak perlu kasih di tahu, dah tahu apa rencana dua ibu-ibu itu.
Perawat yang mengikuti dokter Lily itu tahu bahwasanya gadis ini gak tahu maksud kode dari dokter Lily.
"Kalian belum lakuin nya?" Tanya Dokter Lily dengan suara meninggi.
Luziana yang masih tak paham, mencoba menanyakannya. "Emang lakuin apa dokter" Tanya Luziana dengan tampang polosnya.
Dokter Lily yang mendengarnya menepuk jidatnya pelan. "Hadeeh.. kamu gak ngerti kodean dari saya" Luziana langsung mengeleng kepalanya pelan.
Dokter Lily menghela nafas panjang, lalu tersenyum menyeringai. "Biasa di lakuin suami istri apa?" Tanya Dokter Lily kepada Luziana.
Luziana yang tadi masih belum mengerti, di berikan lagi pertanyaan makin gak ngerti.
"Emang di lakuin suami istri apa" Tanya balik Luziana yang tidak tahu apa yang harus di lakuin suami istri.
Dokter Lily yang pertanyaannya di lempar kembali kepada dirinya merasa heran sekaligus lucu.
"Saya itu nanya ke kamu, bukan kamu balik nanya ke saya" Jawab Dokter Lily sembari terkekeh.
"Ouh iya" Jawab Luziana sembari menyengir bodoh. Ia pun menoleh kesamping menatap suaminya seolah minta jawaban atas pertanyaan dari Dokter Lily.
Renaldy yang tahu maksud tatapan istrinya langsung membuang mukanya. "Saya tidak tahu jangan kamu tanya dengan saya" Padahal Renaldy tahu Loh, tapi pria itu kayaknya enggan ingin memberi tahu kepada istrinya.
"Dok! dia itu gak tahu maksud kodean Dokter itu apa. Jadi dokter kasih tahu aja" Celetuk Perawat yang paham dari raut wajah bingung Luziana.
__ADS_1
Dokter Lily wajah merubah menjadi masam. "Pantesan! kenapa kamu gak kasih tahu" Tanya Dokter Lily kesal yang tidak di beritahu oleh perawat nya. Bahwa istri dari teman anaknya itu tidak tahu.
"Dokter aja sih gak nanya" Balas perawat itu.
"Itu loh bergelut di atas ranjang" Spontan Dokter Lily sembari cengar-cengir. Luziana yang mendengarnya tersenyum bingung.
"Dokter Lily dia gak paham. You understand artinya gak paham kan. Kasih tahu aja intinya terus apa! gausah pakai istilah kode-kode begitu" Ujar Perawat itu yang mulai jengah. Kok masalahnya jad mereka berdua bertengkar.
Dokter Lily yang mendengar perkataan perawatnya menjadi sebal. "Itu loh Luziana kan namanya" Luziana pun langsung mengangguk mengiyakan.
"Berhubungan sek*" Sambung spontan dokter Lily.
Blush
Pipi Luziana langsung memerah. Kenapa di kasih pertanyaan begitu sih.
Renaldy menatap istrinya dengan tatapan susah di tebak. Di dalam benak pria itu, penasaran apa istrinya tahu kalau ia sudah mengambil perawan itu.
Luziana mengeleng kepalanya pelan. "Belum" Balas Luziana sembari tersipu malu.
Renaldy yang mendengarnya, jawabannya. Sedikit ada perasaan lega.
Beda dengan dokter Lily memasang wajah garang. "Kenapa belum lakuin-nya, seharusnya kalian itu udah lakuin biar cepat di kasih rezeki. Rezeki kok di tolak-tolak. Padahal semua setiap rumah tangga sangat menginginkannya kehadiran anak di rumah tangganya. Supaya menjadi pelengkap, ih kalian malah berdua gak mau" Ujar Dokter Lily panjang lebar.
Luziana yang menatap suaminya kembali ingin seolah meminta jawaban.
"Kami ingin menghabiskan masa berdua dulu. Baru punya anak" Ucap Renaldy datar.
"Masa berdua? tiap hari kamu kerja pulang larut malam selalu gak ada waktu. Itu namanya menghabiskan masa berdua baru punya anak, menurut Mommy sih itu gak" Celetuk Mommy Liona. Kalau soal Mommy Liona yang menjawab. Seorang jenderal seperti Renaldy tidak tahu harus menjawab apa lagi. Apa yang di bilang kan Oleh Mommynya sangat benar. Masa berdua menjauhkan diri itu namanya.
"Kalian itu gak boleh loh nunda-nunda. Lakuin cepat siapa tahu cepat di kasih anugerah anak dari tuhan. kan Lumayan jadi pelengkap keluarga kecil kalian. Apalagi kalian berdua itu ganteng dan cantik pasti anaknya mungil-mungil, cantik-cantik, ganteng-ganteng" Nasihat Dokter Lily.
Renaldy yang mendengarnya begitu juga Luziana terasa dengar di kuping kanan keluar kuping kiri. Renaldy maupun Luziana kekeuh tidak ingin punya anak terserah orang ini bilang apa. Yang penting ini kan keputusan hak mereka.
Luziana yang mendengarnya hanya mengangguk mengiyakan saja.
...----------------...
Gak mau ketik apa🥲
JANGAN LUPA DUKUNGANNYA AGAR AUTHOR SEMANGAT UPDATE
LIKE
VOTE
KOMENTAR
GIFT HADIAHNYA JANGAN LUPA 😍🤗
__ADS_1