
"Re gimana pulangnya setelah shalat Magrib dulu" Pinta Papa Haris kepada menantunya.
Mata Mama Safira membulat sempurna mendengar permintaan suaminya.
Renaldy pun nampak menimbang kan permintaan Papa mertuanya itu. Ia pun melirik sekilas istrinya yang diam saja, lalu ia melihat arlojinya yang sudah pukul berapa.
"Boleh pah" Balas Renaldy menerimanya. Mendengar jawaban menantunya Papa Haris tersenyum lebar.
"Luziana.." Panggil Papa Haris kepada anak sulungnya, yang kini sudah jadi istri.
"Iya pah" Sahut Luziana seraya menatap papanya itu.
"Ambilkan sarung di lemari sama peci untuk suami mu, di lemari papa" Titah Papa Haris kepada Luziana. Luziana pun mengiyakannya.
Setelah itu dua pria yang berbeda umur itu pun pergi shalat di meunasah. Kenapa gak shalat jamaah di rumah Luziana aja. Itu Renaldy tidak terlalu memikirkan.
Tiba di meunasah, semua tatapan orang menatap papa Haris dengan penuh tanda tanya.
"Siapa anak muda itu Ris?" Tanya salah satu pria paruh baya.
Papa Haris ingin menjawab menantu, takutnya terjadi pemikiran yang enggak-enggak terhadap keluarganya. Apalagi Luziana itu baru umur tujuh belas tahun.
"Calon menantu!" Balas Papa Haris seraya tersenyum tipis.
"Wah.. belum apa-apa udah ada calon menantu" Ucap Pria paruh baya bernama Deni.
"Nak tolong komat.." Pinta Imam meunasah kepada Renaldy. Renaldy mengangguk kepalanya sebagai jawaban.
"Allaahu Akbar..."
Orang yang di dalam meunasah nampak tertegun mendengar suara Iqamah Renaldy.
Begitu juga shaf wanita yang terlihat penasaran suara siapa yang Iqamah tersebut.
"Siapa hei yang komat itu?" Tanya Nadia kepada sebelah temannya.
"Gak tahu aku. Lagipun gak pernah dengar suara komat nya yang kayak gini, merdu banget.." Balas nya sembari tersenyum memikirkan siapa yang Iqamah.
"Iya suaranya kayak gak pernah orang hisap rokok gitu.." Ujar Nadia.
Di sekolah..
Setelah mengunjungi rumah orang tuanya. Dan juga mereka pun tidak menginap, setelah suaminya shalat di meunasah. Langsung pulang setelah selesai makan malam. Karena kalau menginap, takut Renaldy telat pergi ke perusahaan. Apalagi Pria itu sebentar lagi pergi kembali bertugas sebagai abdi negara.
Luziana yang berada di dalam kelas. Mencengkram perutnya yang terasa sakit.
"Lo kenapa lun?" Tanya Karina yang duduk di kursi belakang Luziana.
"Gue gak papa.." Balas Luziana yang berusaha biasa saja.
"Sebentar lagi kita bakal ujian, buat para murid persiapkan diri terus untuk mengikuti ujian kenaikan kelas" Ujar Wali kelas kepada muridnya.
"Dan juga kamu? Kenapa Luziana akhir-akhir ini nilai kamu turun. Sekarang Meysa yang malahan lebih bagus nilainya daripada kamu. Kamu itu, sekarang dapat rangking dua aja semester ini gak dapat. Apalagi nantik pertahankan rangking satu kamu itu. Dan juga, banyak sekali kamu libur. Kalau kamu banyak sekali libur mau itu alpha, izin, sakit, beasiswa kamu di cabut. Kamu bisa sekolah seperti biasa tapi tidak ada beasiswa lagi, kamu paham!" Sambungnya lagi dengan tegas.
"Paham Bu.." Balas Luziana dengan pelan.
"Terus Nico! nilai kamu sekarang absurd sekali..." Ucap wali kelas tersebut bernama Bu Melly. Nico menanggapi ucapan gurunya, dengan menyengir lebar.
"Vian kemana lagi udah seminggu gak datang sekolah? apa dah pindah anak itu!" Tanya Bu Melly kepada anak muridnya. Mereka saling menatap, dan mengangkat bahunya.
__ADS_1
"Kenapa anak pandai, sekarang sudah turun nilainya semuanya, cuman Meysa aja yang naik yang lain anjlok semua" Emosi Bu Melly.
"Udah buka buku cetak semua, halaman 100 sampai 110 kalian catat semua gak ada yang boleh di ringkas" Titah Bu Melly. Para murid, ingin protes tapi gak bisa karena Bu Melly tergolong guru killer dan pelit nilai. Ya terpaksa lakukan saja apa yang di perintahkan guru itu.
Pelajaran Bu Melly pun habis. Nampak para murid lega melihat ibu itu sudah keluar dari kelas mereka.
"Ada yang mau di cabut ini beasiswanya.." Seru Riri sembari tersenyum sinis.
"Libur aja lagi Luziana.. biar beasiswanya di cabut. Lagipun gak mahal pun bayar SPP nya pertahun cuman seratus sembilan belas juta. Gak mahal kan" Sambung Riri lagi. Luziana yang mendengarnya, tidak menggubris karena kepalanya sangat pusing. Terasa mualnya kini datang kembali. Perempuan itu bangun dari kursinya dan langsung bergegas menuju toilet.
"Yah malah pergi..." Ucap Riri lagi.
Karina mencebik kesal, melihat sikap Riri yang minus akhlak. Maklumi aja soalnya keluarganya udah bubar.
"Kamu positif hamil.." Ucap Dokter umum tersebut dengan hati-hati.
"Hah saya hamil? gak mungkin lah dokter, saya aja gak pernah berhubungan intim. Masa tiba-tiba saja hamil. Yang benar saja" Balas Luziana yang gak terima dirinya di katakan hamil.
Dokter itu menaikkan alisnya, mendengar pernyataan dari Luziana. Baru kali ini ia menghadapi pasien seperti ini.
"Di perkosa saya juga gak ada, terus pacar saya gak punya" Spontan Luziana.
Dokter itu menghela nafas panjang mendengar perkataan pasiennya.
"Saya juga gak tahu apa yang di alami kamu, tapi setahu saya seperti kamu tanda keluhan yang kamu alami sekarang itu seperti orang hamil. Ya saya tidak bisa juga memastikan. Lebih baik dek berobat kan diri kerumah sakit. Soalnya di sana sudah lebih terjamin" Ujar dokter itu. Karena dia bisa melihat tidak ada menyiratkan kebohongan dari pasien nya itu. Lagi pun dia bukan dokter spesialis kandungan.
Luziana nampak diam. Tidak ada terlihat kepanikan di dalam dirinya. Cuman tidak terima saja apa yang di katakan dokter itu.
Dokter itu pun nampak melihatnya. Lagi pun anak ni masih di bawah umur. Bukan bawah umur tapi remaja.
Dokter itu menuliskan resep obat yang pasti bukan untuk ibu hamil.
"Saya kasih obat buat kamu yang biasa saja. Saya tidak tahu kalau obat itu apa bisa mengurangi rasa sakit kamu. Karena kita belum tahu apa yang penyakit kamu alami, di kalau dikira kamu hamil belum tentu benar juga" Ucap Dokter itu seraya menuliskan resep obatnya. Luziana menanggapinya tersenyum tipis.
"Ini resep obatnya tebus di apotik ya.." Sambung dokter itu lagi seraya mengasih resep obat nya.
"Dan satu lagi periksa kan diri terus ke rumah sakit. Biar cepat mengetahuinya. Misalnya kamu hamil, nutrisi ibu hamil bisa segera harus terpenuhi. Jangan menganggap suatu hal itu enteng. Bukan berarti saya bilang kamu belum tentu hamil. Berarti kamu gak hamil, tapi belum tentu. Karena kandungan cepat sekali namanya ke guguran apalagi trimester pertama" Ujar Dokter itu dengan ramah.
"Dan cabang bayi menerima apa yang asupan ibu nya makan. Lebih baik sekarang gausah makan mie instan. Karena Kandungan garam atau sodium yang tinggi dalam mie instan itu dapat memicu terjadinya peningkatan tekanan darah atau hipertensi. Pada saat hamil, jadi kondisi ini dapat berbahaya bagi ibu hamil maupun janin. Jadi lebih baik gausah makan atau minuman yang berbahaya. Dan harus jaga pola makanan. Bagi ibu hamil" Sambung nya lagi.
"Misalnya kalau kamu gak hamil ya tetap juga harus menghindari makanan berbahaya bagi kesehatan" Ucap Dokter itu memberi penjelasan. Karena pasien didepannya ini masih anak-anak. Terlalu menganggap sesuatu hal itu enteng. Terus dia kayak sangat terima dirinya di bilang hamil.
Luziana yang mendengar penjelasan dokter itu.
"Saya gak hamil, ngapain harus jaga pola makanan. Makan apa aja boleh asal kenyang. Saya gak hamil dokter, saya gak pernah namanya berhubungan sek*ual. Jadi jangan asal nebak deh. Masa dokter yang lebih pengalaman gak tahu" Emosi Luziana seraya mendorong kasar kursi yang ia duduk. Lalu perempuan itu melenggang pergi. Resep obat yang di kasih dokter itu dia buang ke tong sampah.
Dokter itu hanya bisa mengucap istighfar.
"Inilah anak zaman sekarang, cuman tahu kenikmatan saja. Giliran sudah hamil dah.. gak pertanggung jawabkan. Kan kasian janinnya yang gak tahu apa-apa. Harus kenak dampaknya juga. Padahal yang salah orang tuanya" Gerutu dokter itu kesal.
Luziana yang mood nya lagi rusak. Memilih makan bakso super pedas. Untuk mengembalikan moodnya yang rusak itu. Dan ia pun sudah janjian dengan seseorang untuk bertemu di tempat bakso ini. Lagipula ia hari ini sudah dapat uang bulanan dari suaminya cuman sejuta. Sesuai permintaannya, suaminya yang ingin pergi bertugas kasih uang cash sama istrinya di tolak.
Uang itu bukan dikasih langsung dari suaminya. Tapi dari sekertaris Seno. Katanya suaminya itu memang tidak ada waktu luang lagi untuk hanya sekedar kasih uang.
Lagipula Renaldy bukan tipe orang, selalu pengang uang cash. Dan pas di kasih uang itu. Pas kali mertuanya itu datang.
__ADS_1
**Flashback**
"Ini ada uang dari tuan muda untuk nona. Sepuluh juta untuk beberapa bulan kedepannya, kata tuan kalau masih kurang boleh di bilang di minta lagi. Selagi tuan muda belum pergi bertugas.." Ujar sekertaris Seno seraya mengasih uangnya.
"Makasih ya.. uang segini aja sudah cukup kok, malahan lebih" Balas Luziana seraya tersenyum. Namun sebelum uang itu sampai ke tangannya, sudah di tarik duluan oleh Mommy Liona.
"Berapa uang Renaldy kasih ini" Tanya Mommy Liona yang memengang segepok uang merah.
"Sepuluh juta Nyonya" Balas Seno dengan sopan dengan Mommy tuan mudanya.
"Banyak sekali... dia kasih ke kamu. Kamu aja gak penuhi tanggung jawab seorang istri. Anak saya ada nafkahi kamu sedangkan kamu gak ada. Cuman masak sarapan pagi doang. Itu pembantu rumah saya bisa. Terus kamu disini makan juga sudah di tanggung kan" Marah Mommy Liona, soalnya di kedapatan melihat menantunya hanya mencuci bajunya sendiri. Tidak mencuci baju anaknya, lagi pun dia sudah menduga kalau menantunya hanya hidup seenaknya sendiri.
Luziana hanya menunduk kepalanya, seraya menautkan jarinya.
"Ntah saya gak ada kasih makan kamu, kamu boleh dapat uang sepuluh juta. Ini makan aja gratis terus dapat uang bulanan lagi" Mommy Liona menatap sinis menantunya.
"Kamu Seno boleh pergi. Jangan kasih tahu hal ini kepada anak saya. Kalau kamu gak ingin di pecat. Lagi pun kamu kerja jadi sekertaris di suruh suami saya. Jadi saya gak segan-segan suruh suami saya pecat kamu sekarang juga" Ucap Mommy Liona.
Sekretaris Seno menelan saliva-nya dengan susah payah. Lalu ia pun langsung berlenggang pergi dari rumah mewah milik orang tua tuannya.
"Ini uang untuk kamu satu juta, untuk beberapa bulan. Gimana baik saya lagi, masih kasih uang untuk jajanan kamu. Lah kamu aja gak tau diri" Ucap Mommy Liona dengan nada marah.
**Flash off**
Luziana yang memang niat kan diri untuk berobat. Terpaksa mengorbankan uang nya untuk sehari-hari nya. Dan uang itu sekarang tinggal Lima ratus ribu.
Bayar berobat di klinik tiga ratus ribu. Dan uang ratus ribu lagi ia beli untuk keperluan bulanan. Sekarang dia harus menghemat-hemat, uang selebihnya itu bakal di jajan untuk sekolah saja. Dan misalnya kepengen sesuatu lebih baik dia tahan.
Luziana juga tahu, dia itu tinggal di rumah mertuanya. Jadi tidak bisa seenaknya saja. Misalnya kabur dari rumah itu, dengan alasan gak jelas kan gak mungkin. Apalagi dia itu masih sekolah, dan dia bertahan di rumah itu karena sekolah saja. Dan juga uang untuk jajannya juga di kasih.
"Haii Luziana ngapain melamun" Tegur Nadia. Nadia lah yang punya janjian ketemuan dengan Luziana.
...----------------...
Author selalu update, selalu 1000 kata. Karena takut kalau lebih 1000 kata bosen bacanya . Ini sekarang sudah lebih. Gimana ya?
Bagi udah follow Instagram author makasih banyak loh. Ini bonus untuk kalian author update banyak ceritanya. 😍🤗
Jangan lupa follow Instagram author: maulyy\_05
__ADS_1