
"Astagfirullah kenapa dapur jadi begini, apa yang kalian perbuat.." Ucap Mommy Liona dengan panik.
Luziana menatap suaminya yang hanya diam datar saja. Kemudian Luziana pun menoleh ke arah mertuanya itu.
"Ehem Mommy sudah pulang, kenapa gak bilang-bilang" Ujar Luziana mengalihkan pembicaraan, bukan malah menjawabnya.
Mommy Liona yang di lontarkan pertanyaan seperti itu. Mengerutkan dahinya.
"Mommy sudah menghubungi kalian beberapa kali, tapi tidak angkat" Balas Mommy Liona jengah.
Luziana yang mendengarnya, menyengir bodoh.
"Maaf, ponselnya di kamar. Jadi Luziana gak tahu, kalau Mommy ada menghubungi kami" Luziana tersenyum tipis menatap Mommy Liona yang sedang menelisik dapur yang seperti kapal pecah. Itu ulah anak mu ya Mommy.
"Jadi ni dapur kenapa jadi berantakan begini?" Mommy menatap mengintimidasi anak sulungnya, dan istrinya. Namun yang anak sulung di tatap seperti enggan menatap mukanya.
Luziana nampak menimbang-nimbang ingin menjawab apa.
"Apa jangan-jangan kalian melakukan hubungan itu, di dapur" Mata Mommy Liona membulat sempurna. Di pikiran nya mengira anaknya akan sedang hubungan badan di dapur.
Luziana mengeleng kepalanya cepat. "Enggak kok Mommy," Sebelum melanjutkan perkataannya, Luziana di buat kaget melihat kedatangan orang tuanya.
Papi Devan, Papa Haris, Mama Safira di buat heran melihat keadaan dapur yang cukup berantakan. Renaldy yang melihat orang tua istrinya datang. Memutuskan melangkah pergi dari dapur. Sebelum dirinya di lemparkan pertanyaan.
Sementara Luziana menatap punggung suaminya kian menjauh dan menggerutu kesal dalam hatinya. Gara-gara suaminya jadinya mereka berpikir enggak-enggak.
"Luziana kamu gak papa?" Tanya Papi Devan yang takut menantunya itu di apa-apain oleh putranya.
Kini terlihat dua wanita yang di sebut ibu dan anak sedang berada di meja makan. Luziana yang melihat pop mienya sudah matang, melentakan nya di atas meja makan. Dapur yang tadi berserakan kini sudah kembali bersih seperti sedia kala.
"Kamu enak ya tinggal di rumah, orang kaya raya sekarang" Ucap Mama Safira menaikkan alisnya sebelah, seraya menyesap Cokhalatee nya. Yang di buat oleh putrinya sendiri.
Luziana mendengarnya menaikkan alisnya.
"Enak dimana nya, yang ada makan hati" Ketus Luziana seraya menyuapkan sesendok pop mie kedalam mulutnya.
"Makan hati? makan hati kenapa?" Ucap Mama Safira bertanya.
__ADS_1
"Iya makan hati! gara-gara Mama suruh Luziana menikah dengan anak orang kaya raya. Habis Luziana di jelekkan sama teman Mommy Liona" Luziana terlihat cemberut mengingat topik pembicaraan semalam.
"Emang kamu di jelekkan kayak gimana?" Tanya Mama Safira kepo.
"Iya gak di jelekkan sih, tapi Mommy Liona kayak malu punya menantu kaya Luziana. Terus masa bisa-bisanya suami Luziana di jodohkan sama orang lain. Di depan Luziana lagi. Kayak gimana gak sakit hati coba" Luziana mengaduk-aduk pop mienya dengan perasaan sedih.
"Terus kamu gak bales gitu, bilang kalau nak Renaldy itu telah jadi suami mu. Ngapain di jodohkan orang lain coba" Mama Safira yang begitu heran, bisanya ada orang yang udah jadi suami orang di jodohkan dengan wanita lain.
"Sudah tapi mereka bilang kiranya" Balas Luziana kembali menyuap pop mienya ke dalam mulutnya.
"Kira apa nya? coba" Ucap Mama Safira bertanya.
"Iya mereka kira Tuan Renaldy itu menikah dengan Riri karena mengetahui kedua orang tua mereka itu teman akrab dan juga berasal dari orang kaya raya" Ujar Luziana mejelaskan.
"Iya, tapi Luziana gak bisa. Karena tahu mereka itu teman mertua Luziana," Balas Luziana. Dia tidak bisa berbuat semena-mena terhadap orang yang lebih tua daripadanya. Apalagi itu teman mertuanya. Nanti dia kiranya tidak didik oleh orang tuanya.
"Tapi mereka bisa kan begitu, gak mikir perasaan kamu? mentang kamu tidak dari keluarga berada. Kamu jangan mikir perasaan orang lain. Orang lain aja gak mikir perasaan kamu kayak gimana. Perkataan mereka itu bikin kamu, tersinggung apa enggak. Mereka gak mikir. Jadi gak salah kita kan kalau bersikap kurang ajar. Luziana kamu itu harus tegas, jangan bersikap biasa aja. Ujung-ujungnya kamu sakit hati sendiri" Ujar Mama Safira. Walaupun sikap Mama Safira begitu, tapi juga ia seorang ibu masih ada rasa sayang kepada anaknya. Dia ingin anaknya itu bersikap tegas.
"Lawan mereka, percuma. Ntah Luziana dari wanita berkarir. Ini Luziana yang status biasa-biasa saja. Apalagi Luziana ini masih anak sekolah. Sedangkan mereka sudah berpangkat semua, dah jadi orang. Terus Luziana lawan cuman mengandalkan status dari suami dari seorang jendral ya mikir logika ajalah" Ibaratnya seperti kita ikut perang, cuman pergi bawa diri aja. Sementara lawan membawa senjata. Ya pasti kemungkinan besar bakal kalah. Mungkin aja ada yang menang, tapi harapan seperti itu cuil banget untuk kita raih.
Luziana bukannya gak berani lawan, mental sudah lama hancur di buat oleh kedua orang tuanya sendiri. Gini capek mati-matian bela diri sendiri, ya tetap aja orang lain yang menang. Luziana itu cuman takut nanti dirinya juga yang di pojokan, seperti pernah kejadian waktu SMP. Luziana sempat pernah berkelahi dengan Meysa. Padahal Meysa duluan, tetap saja dia di salahkan.
"Ya terserah kamu aja, Mama gak tahu harus bilang apa?" Tukas Mama Safira mengakhiri perdebatan dengan anaknya ini.
__ADS_1
Luziana yang mendengarnya, tersenyum kecut. Ia pun mengambil air di atas meja dan meneguknya hingga tinggal setengah.
"Luziana.." Panggil Kinasih kepada menantu temannya itu. Kok tanya kenapa teman Mommy Liona itu bisa berada mertuanya itu. Ya di panggil sama Mommy Liona sendiri, wanita paruh baya itu ingin temannya itu datang, untuk mendengarkan keluh kesah kesedihan Mommy Liona, yang menimpa putri bungsunya.
Dia butuh teman, agar tidak kesepian. Di saat kondisi lagi yang ambigu seperti ini. Kenapa gak menantunya atau Mama Safira. Itu tidak kita bisa kita deskripsi kan. Mungkin Mommy Liona, lebih nyaman dengan temannya bernama Kinasih itu.
"Tolong masa kan air panas, untuk Mommy Liona merendam kaki nya itu, biar release" Titah Kinasih lalu di anggukan kepala oleh Luziana. Kinasih nya itu pun kembali ke kamar temannya itu.
Luziana pun mengambil air di bak mandi dan menaruhnya di Periuk. Lalu Luziana pun menyalakan api di kompor nya.
"Kok berani sekali dia nyuruh kamu, seperti kamu babu aja. Padahal kamu itu menantu putra sulung di keluarga nya ini. Dan dia itu cuman teman mertua kamu" Ujar Mama Safira yang seperti gak suka dengan Kinasih, yang seenaknya menyuruh anaknya.
"Ya kan dia itu cuman minta tolong.." Balas Luziana yang kini sedang duduk di kursi meja makan. Menunggu air nya mendidih.
"Tapikan pelayan di rumah ini banyak, masa kamu yang disuruh" Mama Safira kembali menyesap minumannya kembali.
"Ya gak tahu lah"
"Luziana kalau saya ada salah saya minta maaf" Ujar Renaldy memilih mengalah.
Sementara Luziana tidak menyahutinya, memilih melangkah pergi menuju lemari melentakan bajunya yang baru dia lipat.
Renaldy mengehela nafas berat. Ia pun mengusap wajah nya kasar. Selesai melentakan bajunya di lemari Luziana berjalan menuju ke kasur. Namun di tahan oleh suaminya.
Tangan Luziana yang di tahan suaminya, menjadi kesal. Tanpa sengaja saat menyentak tangan suaminya, Luziana malah menampar pipi Renaldy.
Renaldy yang di tampar, menjadi memanas.
"Maaf-" Sebelum melanjutkan perkataannya. Namun sudah di potong duluan oleh Renaldy.
"Seterah apa yang kau perbuat, mulai sekarang saya tidak peduli dengan mu lagi. Saya bukan budak yang selalu harus mengerti apa mau mu" Setelah mengatakan itu Renaldy melangkah pergi meninggalkan istrinya yang mematung.
__ADS_1