
"Kita lomba makan pedas yuk Lun, kalau Lo menang. Gue kasih satu botol Coca-Cola" Tantang Lisa sembari menunjukkan satu botol Coca-Cola yang masih tersegel dan belum sama sekali di minum.
Luziana yang mendengarnya, merasa tertarik. Ia pun mengangguk kepalanya. Lagipun lawannya Lisa, yang orangnya, tidak terlalu makan yang pedas-pedas. Ntah kenapa Lisa pengen, kasih tantangan buat Luziana.
Dua bakso yang terhidang di atas meja, sangatlah pedas. Warna kuah baksonya, bukan seperti pada umumnya lagi sudah berwarna merah, sangatlah merah.
Anita dan Karina hanya sebagai menonton, antara mereka berdua. Sekaligus sebagai juri. Makan pun di mulai Lisa yang baru satu suap aja udah kepedasan. Tapi cewek itu berusaha untuk tetap makan.
Aturan lombanya, tidak boleh ada yang minum sebelum makan baksonya habis. Luziana yang berada di samping Lisa terlihat biasa saja makan bakso pedas itu. Kemudian udah setengah mangkok lagi.
"Kok cepat Li Lo makannya, gue aja dah gak sanggup lagi makan baksonya" Ucap Lisa yang sudah mengalah.
Luziana tersenyum. "Legendaris kok di lawan" Tawa Luziana yang terlihat bahagia.
"Cuman dapat Coca-Cola aja sampai gitu-gituan. Tiba sakit lambung baru tau rasa" Celetuk Anita seraya mengeleng kepalanya. Mereka berdua hanya menanggapi dengan senyuman.
Luziana yang menang, mendapatkan Coca-Cola. Ia pun membuka tutup botol Coca-Cola, lalu meneguknya hingga setengah.
"Dah makannya mie instan pakai kuah bakso, terus minumannya yang bersoda. Apa gak menjerit itu lambung Lun" Ujar Anita menatap ke arah Luziana. Apalagi mie instan itu terbuat dari zat lilin. Sangat berbahaya banget bagi kesehatan.
"Enggak lah, gak papa juga lagi masih muda" Balas Luziana seraya tersenyum menampilkan lesung pipinya, membuatnya terlihat manis melebihi gula.
"Selagi muda lah harus jaga kesehatan" Celetuk Karina seraya mengaduk jusnya menggunakan pipet.
"Ini aku gak habis lagi, Lo mau gak Luziana" Tanya Lisa yang tidak sanggup menghabiskan baksonya lagi, yang terlihat masih banyak. Luziana yang suka makan begituan, menerimanya.
"Gue yakin pasti besok Lo dah sakit perut Lun.." Ucap asal Karina yang heran dengan perempuan itu. Asik makan pedas aja.
"Aduuh gue pasti telat ni.." Gumam Luziana yang melihat jam yang pukul enam subuh pagi lewat. Ia pun cepat-cepat bergegas mandi dan melaksanakan shalat subuh.
Setelah beberapa menit kemudian. Pas setelah menutup salam. Perempuan itu merasa ada sesuatu bergejolak di dalam perutnya, yang ingin minta keluar.
Luziana pun lari menuju kamar mandi. Dan memuntahkan apa yang di dalam perutnya.
Huekk....
__ADS_1
Huekkk...
Huekkk..
Namun yang keluar hanya cairan putih. Luziana memegang kepalanya yang merasa sangat pusing.
"Aduuh.. kok kepala ku pusing banget ya.." Gumam Luziana.
Huekkk..
"Mana anak itu sih. Ck telat ini kita gara-gara tunggu Rakyat jelata itu" Celetuk kesal Meysa di ruang makan, sudah beberapa menit mereka berdua menunggu wanita itu untuk sarapan pagi bersama. Ya di ruang makan cuman hanya berdua yaitu Meysa dan Mommy Liona. Papi Devan dan Renaldy Kenapa tidak ada. Karena mereka ada jadwal meeting sangat pagi yang harus di selesaikan.
Dan kini tinggallah mereka berdua.
"Yaudah gausah tunggu Luziana, mending kita makan terus daripada kita telat hanya menunggu dia. Bukan orang penting banget kita harus menunggu dia" Ucap Mommy Liona dengan ekspresi datar. Membuat Meysa tersenyum miring mendengar kata Mommy Liona.
Mommy Liona menatap menantunya, yang baru saja pulang sekolah. Kalau di lihat perempuan itu terlihat sangat lemas. Mungkin karena baru saja pulang sekolah makannya terlihat lemas. Dalam pikir Mommy Liona.
"Luziana.." Panggil Mommy Liona dengan suara lembut.
Luziana yang mendengar ada memanggil nya. Langsung menoleh dimana suara itu berada.
"Ada apa Mommy" Tanya Luziana dengan ramah.
"Mommy boleh minta bantuan kamu gak" Lontar pertanyaan dari Mommy Liona. Luziana yang di minta tolong menaikan alisnya.
__ADS_1
"Boleh Mommy... minta tolong apa?" Tanya balik Luziana.
"Kan gini loh.. pelayan dirumah kita sekarang sudah berkurang. Terus pada pulang kampung semua. Mommy ingin minta tolong, kamu bantu BI Mirna. Bersih halaman rumah sama cuci piring. Kalau Bi Mirna semua kan gak mungkin. Kasian kan bi mirna harus menyelesaikan pekerjaan itu semua seorang diri. Jadi Mommy tolong untuk selama ini, mungkin beberapa hari lah sebelum ada pengganti pelayan baru. Kamu tolong cuci piring sama sapu halaman rumah ya boleh kan" Sebenarnya Luziana ingin menolaknya karena yang minta itu ibu mertuanya. Yaudah iyain aja.
"Boleh..." Sahut Luziana tersenyum. Mommy Liona mengangguk kepalanya.
"Luziana pamit ke kamar dulu ya Mommy" Pamit Luziana.
"Iya, abis itu cuci piring terus ya, sama sapu halaman rumah" Titah Mommy Liona.
"Sekarang.." Tanya Luziana seraya menaikkan alisnya.
"Ya sekarang lah.. gak mungkin tahun depan. Ada-ada aja kamu" Balas Mommy Liona santai. Luziana menanggapinya tersenyum Kikuk. Ia kirain yang di suruh nya itu, lakuinnya besok. Ternyata sekarang. Aduuh rasanya, dia gak sanggup ngapain apa-apa lagi. Ntah kenapa dengan dirinya harini, yang merasa sangat gak enak badan. Kepalanya pun juga terasa pusing. Terlanjur mengiyakan ya! mau gak mau lakuin apa yang di perintahkan.
"Tumben Lo rajin, ingin pamer ya..." Cibir Meysa yang melihat Luziana yang sedang menyapu halaman rumah yang begitu luas.
Luziana mengangkat pandanganya, menatap Meysa yang baru pulang Les. Luziana tidak menggubris cibiran Meysa terhadapnya. Ia pun tetap melanjutkan menyapunya, karena Luziana ingin cepat-cepat selesai biar bisa tidur.
Meysa yang di acuh merasa kesal.
"Ck' budeg atau gimana sih itu Rakyat jelata" Ide jahil pun terlintas. Melihat Luziana sedang berjalan mengambil serokan sampah. Meysa berjalan ke tempat di tumpukan daun itu.
Lalu menyepak tumpukan daun itu. Daun itu pun menyebar kemana-mana. Luziana yang sudah mengambil serokan sampah. Merasa kaget dengan kelakuan Meysa..
"Meysa.. apa Lo lakuin... gue capek tahu menyapunya" Teriak frustasi Luziana.
Ujung bibir Meysa terangkat. "Apa Iyah.." Cewek itu pun lari-lari melihat Luziana berlari ke arahnya.
"Gue gak mau tahu Lo nyapu ini Meysa" Kesal Luziana. Capek tumpukan terakhir di serakin oleh Meysa. Dengan halaman rumah ini luas lagi kayak lapangan bola.
__ADS_1
"Gak mau kuh, Lo kan pembantu rumah gue.. jangan lupa nyapu yang bersih-bersih ya rakyat jelata. Ntar gue gaji deh.. tapi pakai uang daun hahahaha"