
"Heih makan gak ngajak-ngajak" Ucap Papi Devan yang baru pulang kerja. Semua pandangan tertuju kepada Pria paruh baya itu.
"Lagi makan apa ini?" Tanya Papi Devan seraya tersenyum mendekat ke tempat meja makan.
"Lagi belah durian, belum makan lagi" Ujar Meysa santai menatap Renaldy yang belah durian.
"Ouhh.." Papi mengangguk paham.
Durian pun terbelah, mereka pun mengambil satu orang satu.
"Ini Papi, mau?" Tawar Renaldy kepada Papi Devan.
"Mau dong.. masak gak mau" Ucap Papi Devan diiringi tawaan.
Luziana hanya menatap durian itu. Perempuan itu sengajain biar mereka dulu yang ambil. Baru dirinya terakhir. Saat belum mengambilnya, ternyata suaminya sudah kasih duluan padanya. Semua orang menatap sembari cengar-cengir kecuali Meysa.
"Makasih.." Ucap Luziana sembari tersenyum. Renaldy hanya mengangguk kepalanya sebagai jawaban.
"Eheemm.." Deheman Mommy Liona.
"Mommy kenapa?" Tanya Papi Devan seraya menaikkan alisnya.
"Gak ada papa Papi" Mommy Liona terasa begitu senang melihat Renaldy yang begitu romantis sedikit sama istrinya.
Sedangkan Meysa sudah kepanasan, kayaknya butuh kipas angin atau AC Meysa?. Renaldy mengasih begitu ke Luziana sudah sampai beberapa kali. Sementara Luziana dia tidak perlu di kasih seperti itu, dia bisa mencomot sendiri. Tapi sudah keduluan suaminya ya terima aja.
Meysa yang sudah kesal, pengen begitu juga sama kakaknya. "Kak.. Meysa di ambilkan juga dong duriannya" Tahu apa yang di lakukan? Mommy Liona yang kasih bukan Renaldy.
"Ni ambil" Ucap Mommy Liona seraya mengasih buah duriannya.
"Kenapa Mommy ya ambilkan, kan Meysa minta diambilkan sama kak Al" Ucap Meysa dengan raut wajah kesal.
__ADS_1
"Kakak kamu duduknya jauh dari kamu, jadi Mommy yang dekat. Mommy ambilkan" Ucap Mommy Liona enteng. Meysa mendengarnya menekuk wajahnya kesal. Dan mengambil buah durian yang berada di tangan Mommynya.
Memang benar sih kalau Renaldy duduknya jauh dengan Meysa. Pria itu duduk di ujung meja makan sedangkan mereka itu di sebelah kanan. Kalau sebelah kiri itu Luziana.
Perempuan itu sedari tadi sibuk dengan makan duriannya. Meysa yang sudah siap makan buah duriannya. Dan tidak mau makan lagi, padahal buah duriannya masih ada beberapa buah lagi. Cewek itu pun mengambil tisu untuk mengelap tangannya. Ide jahil terlintas di pikirannya.
"Cuman lempar tisu, gak bakal marah kan" Meysa menyungging senyuman miring. Ia pun remas tisu, lalu mengarah kan tempat Luziana. Disitu tidak ada yang memperhatikan Meysa. Mereka sibuk berbicara ringan tentang bisnis dan Mommy Liona menyimak pembicaraan mereka, antara ayah dan putra sulungnya itu.
Kalau Luziana lalai makan durian sendiri. Seperti anak kecil saja.
"Satu... dua.. tiga" Tisu itu pun melayang dan mengenai Mommy Liona. Kenapa bisa kenak? karena wanita paruh baya itu ingin mengambil buah duriannya lagi. Jadinya tisu itu terhalang dengan kepala Mommy Liona yang sedang membungkukkan badannya.
"Meysa.. apain kamu lempar-lempar tisu" Berkacak pinggang Mommy Liona.
"Meysa gak lemparin tisu kok, cuman ingin buang tisunya aja" Ucap Meysa dengan santai. Semua pandangan tertuju mereka berdua.
Mommy Liona yang tidak terima, melempar tisu itu kembali Meysa.
"Balas dendam" Mommy Liona menyengir lebar menatapnya putrinya itu, yang sudah sangat kesal.
Papi Devan dan Renaldy, mengelengkan kepalanya menatap dua wanita yang merupakan ibu dan anak itu. Luziana yang melihat keharmonisan antara anak dan ibu, itu merasa sedikit iri.
Ia pun ingin mengambil tisu yang lumayan jauh darinya. Renaldy yang peka, mengambil tisu untuk istrinya.
"Makasih.." Ucap Luziana sembari memiringkan kepalanya.
Setelah makan durian, di lanjutkan makan manggis. Biasanya kalau makan durian itu lawannya pasti manggis. Gak perlu diminta Renaldy mengupas kulit manggis, dan mengasih untuk istri kecilnya.
Luziana yang di perlakukan seperti itu kurang suka. Karena ia bisa ituin sendiri. Gak perlu di bantu.
"Mas gausah di kupas kulit manggis nya. Saya bisa ituin sendiri" Bisik Luziana kepada Renaldy.
__ADS_1
Renaldy yang mendengarnya. Mengangguk kepalanya.
"Oke.." Jawab Pria itu singkat. Renaldy pun tidak mengupas kulit manggis untuk istrinya lagi.
"Ck'.. pemandangan yang meresahkan"
......................
"Mas tidurnya jangan dekat-dekat ntar sepak" Ucap Luziana yang melihat suaminya di kegelapan. Siapa tahu lupanya rumah mewah ini bisa mati lampu juga. Tapi sekarang segera sedang dalam perbaiki.
"Saya jauh mana ada dekat" Ucap Renaldy yang tidur saling menghadap istrinya.
"Alah modus, jangan cari kesempatan kesempitan ya" Ujar Luziana ketus. Renaldy mendengarnya mengelengkan kepalanya.
Pria itupun tidur ubah posisi, tidur terlentang dengan kedua tangannya sebagai bantalan sembari menatap langit-langit kamar.
"Awas di samping kamu ada yang natap kamu" Ucap Renaldy sengaja menakutkan istrinya. Yang kini tidur menghadap kearah kiri
"Siapa yang natap emang?" Tanya Luziana bingung.
"Ntah.. mungkin aja hantu" Ucap Renaldy sembari menahan senyumannya. Seketika Luziana mundur dengan posisi masih tiduran.
"Kok kamu dekat-dekat saya" Ucap Renaldy yang melihat istrinya yang tidur, sudah dekat dengannya.
"Gausah ge'er siapa juga, tidur dekat mas" Ucap Luziana santai dengan posisi tidur masih sama.
"Masa iya, bilang aja kamu pengen saya peluk" Renaldy pun memeluk tubuh kurus istrinya dengan tangan kekarnya.
Seketika Luziana berteriak. "Aaa.." Renaldy yang memeluk tubuh istrinya, langsung melepaskannya pelukannya itu.
"Iih... ini mungkin cowok kemasukan setan. Abis itu payah pakai lampu lagi, dahlah bismika amut terus.." Luziana pun langsung tertidur sembari ngorok.
__ADS_1
Renaldy yang melihat istrinya sudah tidur menaikkan alisnya. Orang yang ingin dia ajak becanda, malah sudah tidur duluan.