Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Kepikiran


__ADS_3

"Awas Lo sampai berhubungan suami-istri dengan kakak gue. Lo bakal kenak akibatnya sama gue" Ancam Meysa pada Luziana. Cewek itu menatap Luziana dengan tatapan tajam dan angkuh.


Luziana mengeryitkan dahinya mendengar perkataan Meysa. "Siapa juga yang mau berhubungan suami-istri dengan Kakak kamu" Batin Luziana kesal. Luziana menatap Meysa yang di hadapannya heran, apa maksud di balik perkataan Meysa itu. Cewek itu kayak ada sesuatu niat mengapa melarang dirinya berhubungan suami-istri pada Renaldy. Mereka kan pasangan sah jadi boleh melakukan berhubungan suami-istri. Malahan halal lagi, karena mereka itu sudah sah dan melakukan hubungan intim itu juga supaya untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Tapi kenapa Meysa melarangnya?. Luziana pun bodoh amat kenapa cewek itu melarangnya. Yang penting ada juga mendukungnya tidak melakukan berhubungan intim pada suaminya. Padahal semua orang memaksanya untuk melakukan hubungan intim walaupun masih status pelajar dan umur pun terbilang cukup muda. Tapi Gak papa kali ini ada mendukungnya. Gak papa Meysa kita satu server.


Meysa yang di hadapan Luziana. Pandangannya berhenti pada seseorang yang baru turun dari lantai atas. "Ingat itu apa yang gue bilang." Ucapnya setelah itu Meysa pun memutuskan pergi dan berusaha berjalan sejajar dengan seseorang tersebut.


Luziana yang menatap punggung Meysa kesal. "Siapa juga mau berhubungan sama kakak kamu. Dasar cewek gajelas." Ia pun melanjutkan langkahnya yang sempat berhenti karena di halangi oleh Meysa.


"Hay Vian." Sapa Meysa yang langkahnya sudah sejajar dengan seseorang tersebut, orang tersebut adalah Vian sang ketua Osis.


Vian pun menoleh kesamping yang terdapat Meysa yang berjalan di sampingnya. "Hay" Balas Vian cuek. Meysa tersenyum melihat Vian yang berjalan di sampingnya.


"Kamu habis darimana" Tanyak Meysa penasaran.


"Habis dari kelas dua belas MIPA kenapa?" Tanyak balik Vian Kepada Meysa.


"Ya gak ada apa-apa. Cuman penasaran saja kamu habis darimana" Balas Meysa sambil tersenyum manis. Vian pun menanggapi ucapan Meysa hanya ber'oh ria.


Dua orang yang beda kelamin itu berjalan sepanjang koridor sambil mengobrol. Yang pastinya cuman Meysa yang mengomong. Sedangkan Vian hanya mendengar itu pun tidak terlalu mendengarkan kali dan menjawab jika ada yang di tanyak cewek itu. Beberapa menit mereka berjalan.


Mereka pun sampai di kelas. Seluruh sorot mata orang yang di kelas menatap ke arah dua pasangan beda jenis kelamin itu. Tapi mereka hanya terlihat biasa-biasa saja menatap dua orang tersebut.


Riri yang merupakan teman karibnya Meysa, menggoda cewek itu. "He'em he'em cie-cie?" Goda Riri seraya memakai alisnya. Meysa yang melihat teman karibnya yang ingin menggoda, dirinya. Ia terlihat biasa-biasa saja dan mendaratkan bokongnya di kursinya. Meysa pun mengambil headset yang ada di laci mejanya dan memasangkan di kedua telinganya. Riri yang merasa di cuekin mendengus kesal.


"Yang sabar ya Riri" Ucap Zea seraya terkekeh kecil. Mereka bertiga, Meysa, Riri, zea merupakan teman karib. Melihat temannya yang menertawakan dirinya ia pun berusaha bodoh amat.


"Meysa Lo kok bisa barengan sama Vian" Tanyak Zea yang duduk berada belakang kursi cewek itu. Meysa yang belum memulai film drakornya dapat mendengar pertanyaan teman karibnya itu.


"Ya tadi jumpa di koridor, terus jalan bareng" Ucap Meysa dingin. Zea pun mengaguk kepalanya paham.


"Lo ada perasaan gak sama Vian?" Tanyak Zea.


Meysa yang mendengarnya mengangkat alisnya sambil menggeleng kepalanya pelan. "Gak ada." Ia pun kembali fokus pada ponselnya yang bermerek iPhone iPhone 14 pro max.


"Serius Lo gak ada rasa sama Vian" Timpal Riri dengan nada menggoda. Sontak pandangan Meysa menoleh ke samping yang ada Riri yang duduk kursi bersebelahan dengan dirinya.


"Terserah" Balasnya datar dan cuek. Meysa pun menekan tombol mulai film drakornya. Meysa jika rumah dan sekolah sifatnya beda sekali. Kalau di rumah cewek itu suka nyinyir dan manja. Jika di sekolah Meysa itu lebih ke pendiam dan selalu sibuk sama ponselnya. Dan cewek itu pun merupakan MOS wanted Girls di sekolah ini. Banyak cowok yang menyukai Meysa dan menyatakan perasaannya kepada cewek itu. Tapi selalu saja orang yang menembaknya ia tolak.

__ADS_1


...***...


Di tempat lain.


Seseorang Pria tampan dengan tubuhnya gagah dan tegap, kedua tangannya memegang senapan angin. Pandangan pria itu sangat fokus dengan satu objek.


Dor!!


Tembakan pria itu yang sudah berapa kalinya ini meleset. Ia menggenggam erat senapan anginnya kesal. Soalnya gak kayak biasanya tembakan pelurunya itu meleset, biasanya tembakannya selalu sangat tepat sasaran.


"Sial!" Renaldy mengumpat kesal pada pikirannya yang terus terngiang percintaan semalam itu. Sehingga ia pun yang mau menenangkan diri dengan cara berlatih menembak hanya sia-sia. Malahan percintaan semalam itu terus kepikiran hingga membuatnya tidak fokus menembaknya.


Banyak pasang mata menatap penuh dambaan pada Renaldy. Terutama khusus kaum hawa yang tidak ada henti-hentinya menatap pria itu. Yang sangat tampan itu di mata mereka.


Tiba-tiba ada menepuk pundaknya dari belakang. Seketika pandangan Renaldy menoleh ke belakang. Dan terdapat seorang pria mengunakan kacamata hitam dengan baju kaos warna hitam dan rambutnya terlihat sangat acak-acakan. Kalau di lihat dan bilang ganteng sih gak! malahan bagus di bilang kayak gembel.


Renaldy menatap kevan hanya dengan ekspresi datar. Ia pun kembali mengangkat senapan anginnya dan fokus kembali menembak.


Kevan merasa di cuekin oleh Renaldy menjadi kesal sama teman masa SMA nya ini. "Ren! kau gak kenal lagi sama gue." Renaldy merasa heran dengan bicara Kevan yang memakai gue. Tapi dirinya sudah biasa dengan cara bicara temannya satu ini.


"Enggak" Balas Renaldy dingin. Mendengar jawaban Renaldy seketika ekspresinya menjadi kaget.


"Gausah kau ngomong dengan aku! mengunakan kata Lo dan gue." Potong Renaldy dengan datar. Ia kurang suka mendengar berbicara memakai kata Lo dan gue. Biasanya yang mengunakan kata seperti itu anak remaja sekarang.


Kevan menyengir lebar " Ups sorry." Dia sampai lupa kalau teman masa SMA nya beda dengan yang lain. Pria itu dari dahulu saja sudah datar dan dingin sampai sekarang. Tapi dingin-dingin pria itu ramah. Kalau di lihat sekarang pria sudah berubah drastis tidak ramah lagi lebih dingin seperti kutub es Utara. Dia pun sekarang suka bicara mengunakan kata Lo dan gue semenjak sering berantem sama adik lucnatnya.


"Tumben aku liat tembakan peluru kau meleset Renaldy" Ucap Kevan heran. Kevan sama Renaldy sudah berteman sejak lama.


Mereka berlatih di tempat latihan tembak ini pun juga sudah lama sebelum mereka berpisah untuk menempuh cita-cita mereka berdua masing-masing. Renaldy dulu seorang atlet menembak yang selalu menembaknya tepat sasaran. Banyak mengakui cara Pria itu menembak. Sampai objek yang tidak terlihat mampu ia menembak.


Tapi ntah kenapa dia liat tembakan pria itu meleset sampai sudah beberapa kali. Kayak seperti ada masalah di liat dari raut wajahnya walaupun datar. Ya, pria itu ada masalah. Dan masalahnya cuman soal percintaan semalam itu. Padahal dia sudah menyangkal benih-benih nya yang dalam di rahim istrinya itu tidak akan menjadi malaikat kecil. Tetapi tetap saja pria itu kepikiran bagaimana benar-benar benihnya tubuh menjadi seorang malaikat kecil di rahim istrinya. Terpaksa persyaratan yang syarat orang tuanya ajukan harusnya dia terima bahwa Renaldy tidak akan pergi bertugas. Kenyataannya dia sendiri menanamkan benihnya jadi kenapa perasaannya sendiri jadi kalut kan itu kesalahan sendiri.


"Eh aku dengar kau sudah menikah ya! sama siapa kau nikah" Celetuk Kevan. Seharusnya ia berusaha menenangkan dirinya sekarang menjadi tambah kacau pikirannya karena ucapan kevan. Bahkan kepikiran yang seharusnya ia lupakan, sekarang makin teringat jelas di dalam pikirannya.


Bahwa seharusnya ia tidak menikah pulang bertugas dari pekerjaan tentaranya karena ia akan pergi lagi bertugas dari panggilan negara yang mungkin resikonya bakal lebih tinggi daripada tugas sebelumnya. Pasukan tentara sangat membutuhkan jendral mereka yaitu Renaldy dirgantara Hervandez. Nyawa para korban tergantung pada dirinya seorang pang Lima tempur sekaligus atur strategi. Strateginya mampu membuat lawan jadi takut dan gentar. Makanya para pasukan batalyon saat bertugas nantik sangat membutuhkan Jendral mereka.


Namun paksaan orang tuanya terpaksa menerima perjodohan itu. Dan sampailah hal yang seharusnya tidak akan pernah terjadi malah terjadi. Apakah dia nantik bakal bisa pergi bertugas atau tidak.

__ADS_1


Renaldy mengangkat senapan anginnya kesal.


Dor!


Dor!


Tembakan kedua kalinya tempat sasaran dan ketiga kalinya meleset. Kevan berada samping Pria itu mengumpat kesal karena tiba-tiba saja Renaldy menembak hingga dia di samping Pria itu jadi kaget. Apalagi suara tembakannya yang memekakkan telinga.


"Kau bisa sih gak! kalau tembak bilang-bilang" Sentak kevan kesal. Karena pria itu dia menjadi kaget dan detak jantungnya pun berdetak lebih kencang. Namun Pria yang ia sentak terlihat biasa-biasa saja kayak tidak merasa bersalah.


Kevan pun menghela nafas panjang. "Kau ada masalah coba ceritakan ke aku" Tawar Kevan sambil menepuk pundak Renaldy pelan. Seenggaknya Kevan dapat mengurangi masalah Renaldy.


Renaldy yang di tawar hanya datar dan tidak menggubris perkataan Kevan. Membuat kevan mendengus kesal. "Mancam ngomong sama tembok aja aku kalau ngomong sama anak ni". Batin kesal Kevan. Yang tawaran yang tidak digubris oleh Renaldy.


"Gimana kalau kita bertanding bertembak. Kalau aku yang menang kau harus ikut aku ke perusahaan aku. Jika kau yang menang aku yang akan ikut ke perusahaan kau. Gimana mau?" Nantang Kevan sambil tersenyum miring.


"Boleh saja!"


...***...


Di tempat lain seorang perempuan membuat temannya kesal setengah mati terhadapnya. Gak datang bikin kangen kalau datang yang ada sakit kepala kita di buatnya.


Luziana yang tidak tahu suaminya menanamkan benihnya di rahimnya. Yang Kapan bakal tumbuh itu kita gak tahu hanya tuhan saja yang tahu tumbuh menjadi malaikat kecil. Perempuan itu tertawa melihat temannya kesal dengan ulahnya. Luziana terlihat ceria di banding dengan suaminya yang terlihat banyak masalah.


"Jangan sampai ya! sepatu gue melayang ke muka Lo"


...----------------...


BUAT PARA READERS AUTHOR GAK BAKAL BOSEN NGEINGATIN JIKA PEKERJAAN TENTARANYA BEDA DI DUNIA NYATA. AUTHOR MOHON MAAF KALAU INI CUMAN HANYA FANTASI. JIKA ADA YANG GA TERIMA LEBIH BAIK GAUSAH BACA. DARIPADA KOMEN YANG BIKIN MENTAL AUTHOR DOWN.


ITU SAJA TERIMA KASIH 🤗


JANGAN LUPA DUKUNGANNYA BIAR AUTHOR MAULY SEMANGAT UPDATE 😍


LIKE


VOTE

__ADS_1


HADIAH


KOMENTAR


__ADS_2