
Renaldy menatap istri kecilnya yang sedang tertidur pulas. Luziana yang tadi tidur membelakangi, kini tidur terlentang. Pria itu pun memengang tangan Luziana.
Melihat ada pergerakan. Renaldy yang memegang tangan istrinya, sekarang pura-pura tidur. Luziana menatap sekilas. Lalu menarik selimut sampai ke lehernya. Ia pun tidur kembali, dengan posisi menghadap suaminya.
Renaldy membuka kelopak matanya, perlahan. Pria itu, mengambil posisi saling berhadapan.
"Selamat tidur nyenyak..."
"Tumben Lo bangun pagi biasanya, bangun kesiangan. Kenapa mau jadi istri idaman kah? atau mau caper doang" Meysa menarik kursi meja makan, dan mendaratkan bokongnya di kursi tersebut. Di meja makan tersebut belum ada siapa-siapa, cuman ada Luziana. Dan sekarang ada Meysa.
Luziana melihat kedatangan adik suaminya, tidak menggubris ucapan cewek itu. Ia tetap fokus menghidangkan makanan di atas meja makan.
"Udah... Lo gausah jadi pura-pura jadi istri idaman deh. Lo cocoknya itu jadi pembantu" Ucap Meysa penuh penekanan di kalimat pembantu.
"Lo bisa gak, gausah cari masalah di pagi buta-buta gini" Tegas Luziana kepada Meysa.
"Enggak bisa... soalnya gue kalau lihat muka Lo bawanya emosi terus. Dulu waktu kita masih SMP, sumpah gue malas banget itu pergi ke sekolah liat muka Lo itu. Gue dah berharap banget, pas SMA gak ada liat Lo lagi. Eh ternyata kita malah ketemu lagi, satu kelas lagi. Anj\*rr sumpah jijik banget gue tu sama Lo, liat batang hidung Lo rasanya muka Lo itu pengen gue gampar. Hidup gue itu terasa suram gara-gara Lo, cuman waktu sekolah aja. Eh tau-tau nya Lo malah nikah sama kakak gue. Dah lah gak pagi gak siang liat orang munafik kayak Lo" Cibir Meysa.
"Gue gak munafik kayak Lo kira ya.." Emosi Luziana.
"Lo itu munafik Luziana! gue dulu dah baik sama Lo. Lo balas ke gue apa? penghianatan kan. Semenjak itu gue dah mulai gak suka sama Lo" Meysa menatap Luziana dengan sorot mata tajam.
"Itu salah Lo sendiri, minta jawaban sama gue. Kenapa gue coba yang disalahin" Balas Luziana dengan raut wajah terlihat serius.
__ADS_1
Bugh
Meysa memukul meja makan. "Lo memang kalau niat waktu itu gak ingin kasih gue jawaban. Bilang... gausah pura-pura lugu sok paling baik kalau ujung-ujung munafik. Gue dari kecil udah diajarin sama orang tua gue cara bersikap baik sama orang. Jadi kalau sikap gue gak semestinya, apa yang di ajarkan oleh orang tua. Itu ada yang salah dalam diri Lo" Meysa menunjuk dada Luziana dengan jari telunjuknya. Luziana segera menepis tangan cewek itu.
"Aku dah bilang dari dulu. Jawaban yang aku kasih, betul-betul apa yang di kertas jawaban ku isi sendiri" Ucap Luziana, padahal kesalahan itu gak sepenuhnya kesalahan perempuan itu. Dan siapa suruh minta jawaban sama orang. Iyalah Luziana kasih jawaban. Tapi kenapa Meysa coba, tidak periksa terlebih dulu apa yang dikasih jawaban oleh Luziana. Jadi otomatis gak kesalahan Luziana semua kan.
"Terus kenapa coba nilai gue waktu itu turun, bukan turun lagi tapi tingkat paling rendah. Kalau bukan jawaban soal yang kau kasih. Gak mungkin kan tiba-tiba ada malaikat ituin, setan ituin gak mungkin kan terus tiba-tiba nilai gue jadi rendah. Kalau bukan diisi betul-betul lembaran soalnya. Karena jawaban yang Lo kasih sengaja yang gak benar" Ujar Meysa panjang lebar.
"Yaudah itu kan salah Lo sendiri, kenapa coba gak usaha waktu itu sendiri cari jawabannya" Sergah Luziana membela dirinya.
Emosi Meysa makin menggebu-gebu. "Emang benar Lo itu munafik, jangan mentang-mentang Lo nikah sama kakak gue. Gue bakal takut sama Lo. Gue gak takut sama sekali... jangan sampai Lo yang tantang gue jadi begini, Lo sendiri merasa tertindas. Ingat keluarga gue paling kaya nomor satu! jadi gak susah bagi gue meraih ranking nomor satu camkan itu" Ancam Meysa.
"Selamat pagi semua..." Ucap Papi Devan seraya tersenyum.
"Kenapa pada diam.. yuk makan" Papi Devan, dan Mommy Liona menarik kursi lalu mendaratkan bokongnya di kursi itu. Renaldy yang baru datang, menarik kursi lalu duduk di kursi tersebut.
Luziana maupun Mommy Liona menaruk lauk di piring suami mereka masing-masing. Kalau Meysa di ituin oleh Mommy Liona juga. Di meja makan tersebut, tidak ada yang membuka suara kecuali Papi Devan, yang membahas tentang perusahaan kepada putra sulungnya.
"Widih... sekali posting Instagram caption, keren banget" Celetuk Lisa melihat postingan Instagram.
"Caption Instagram siapa?" Tanya Anita kepo.
__ADS_1
"Siapa lain kalau bukan Meysa" Jawab Lisa sembari memerhatikan postingan Instagram Meysa.
"Coba lihat" Lisa pun memperlihatkan postingan Instagram Meysa.
"Iya cuyy.. kata-katanya gimana gitu saveg banget" Ucap Anita menatap layar ponsel Anita.
"Emang apa kata-katanya?" Tanya Karina yang ikut kepo. Sementara Luziana hanya menyimak perbicangan mereka.
"Bukannya niatnya sombong, tapi kadang-kadang orang harus tau siapa diri kita" Baca Karina caption Instagram Meysa.
"Anjayy slebew.." Anita dan Lisa terkekeh renyah mendengar bacaan Karina.
Bukannya niat ingin sombong, tapi kadang-kadang orang harus tau siapa diri kita.
...VISUAL POSTINGAN FOTO INSTAGRAM MEYSA ...
"Foto gaun yang di pakai Meysa itu bukannya, gaun pas dia pakai waktu acara ekskul gak sih" Tanya Anita memastikan.
"Emang iya..." Balas Karina singkat.
"Kayaknya Meysa sindir Lo deh Luziana. Dia kan gak suka sama Lo"
"Gila postingan Instagram Lo Meysa, caption-nya mau niat sindir siapa sih?" Tanya Zea yang kini dirinya melihat postingan Instagram Meysa. Banyakan orang di sekolah ini, bukan banyakkan lagi tapi sudah sangat banyak banget. Yang follow Instagram Meysa, yang sekarang sampa seratus juta.
"Terus baru di posting aja like nya dah banyak banget" Ucap Riri setelah minum jusnya.
Meysa yang di tanya, hanya cool saja.
"Gak ada sindir siapa-siapa kok"
__ADS_1