
Luziana yang duduk berada di kursi tunggu, sekali-kali melirik suaminya yang sibuk dengan ponselnya. Ntah kenapa dia harini merasa tenggang. Mungkin saja Luziana takut ketahuan oleh suaminya, bahwa sudah 3 bulan ini perempuan itu tidak pernah periksa kandungan.
Luziana yang menunggu giliran dirinya di panggil. Memutar otaknya keras, agar dokter citra tidak bilang apa-apa ke suaminya. Tetapi Renaldy sudah ada sedikit curiga duluan dengan istrinya. Namun rasa curiga itu dia tidak terlalu pikirkan sekali.
"Mas aku pergi ke toilet dulu ya?" Ucap Luziana kepada suaminya.
"Perlu mas temani?" Tanya Renaldy to the point.
"Gausah aku bisa sendiri" Tolak Luziana halus dan berusaha menutupi kebohongan nya. Renaldy pun mengangguk kepalanya mengiyakan.
Setelah mengatakan itu, Luziana beranjak dari kursinya menuju ke toilet. Saat di toilet Luziana langsung menghubungi dokter citra. Tetapi sudah beberapa kali berusaha menghubungi dokter citra. Hasilnya nihil, dokter citra tidak mengangkat telepon dari Luziana.
Ia pun kembali ke kursi tunggu. Mata Luziana langsung membelalakkan melihat suaminya sedang berbicara dengan wanita yang memakai jas dokter.
"Aku kira kamu, gak bakal jadi tentara tentara loh Ren" Ucap wanita itu sembari terkekeh kecil. Sementara Renaldy hanya mengangguk mengiyakan saja apa yang di bilang wanita yang bernama nisha itu.
"Bagaimana cara kamu bisa jadi tentara. Sementara orang tua kamu gak ngizinin kan? Ceritain sedikit dong" Nisha tersenyum sumringah melihat Renaldy yang begitu tampan dan gagah di matanya.
"Ya begitu.." Jawab Renaldy cuek.
"Begitu gimana nya?" Bingung Nisha.
"Mas apa giliran kita sudah di panggil" Ujar Luziana menyeletuk yang datang tiba-tiba. Nisha mengerutkan dahinya heran, melihat siapa perempuan yang memangil Renaldy dengan sebutan mas.
"Belum..." Jawab Renaldy apa adanya.
Luziana pun menanggapi dengan ber'oh ria. Tatapan mata nya pun beralih ke wanita yang sedang berdiri di depannya ini.
"Siapa ya?" Tanya Luziana seraya mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Ouh saya temannya Ren waktu SMA" Balas Nisha seraya mengulurkan tangannya. Luziana pun menyambut jabatan tangannya. Lalu segera melepaskan jabatan tangan, setelah melihat tatapan Luziana yang seperti tidak suka dengan Nisha.
"Nish... Kau berkerja disini" Setahu Renaldy, Nisha bukan berasal dari sini.
"Iya, aku bekerja disini" Jawab Nisha seraya tersenyum. Renaldy pun mengangguk kepalanya sebagai jawaban.
"Kalau kamu butuh bantuan aku, bilang saja sama aku. Kayaknya misalnya butuh tenaga medis, aku siap membantu kok" Ujar Nisha hanya untuk sebagai alasan.
Luziana yang mendengarnya berdecak kesal.
"Jadi boleh dong kita tukeran nomer kontak" Seru Nisha yang tanpa memedulikan keberadaan perempuan yang memanggil Renaldy mas.
"***-"
"Gak boleh" Sela Luziana ketus membuat dua orang itu intensi nya menatap Luziana dengan tatapan heran.
"Ya, dia itu suami saya. Ya kan mas" Luziana menatap suaminya yang butuh pembenaran apa yang di bilang. Nisha pun menatap Renaldy penuh harap bahwa apa yang di dengar itu salah.
"Iya saya suaminya" Jawab Renaldy biasa-biasa saja. Membuat Luziana menjadi tersulut emosi. Nisha pun menanggapi dengan ber'oh ria saja dengan sedikit rasa kekecewaan.
"Tapi tidak ada salahnya kita tukaran nomor contacts, aku dengar para prajurit mu yang luka-luka. Dan Kekurangan tenaga medis" Ucap Nisha agar mendapatkan nomor ponsel Renaldy.
"Benar..." Renaldy pun memberikan nomor ponselnya, hanya untuk sebagai kerjaan doang. Selebihnya gak ada bermaksud apa-apa.
Luziana yang melihat suaminya, mengasih nomor ponselnya. Langsung menarik tangan suaminya Agara menjauh dari situ.
"Apaan sih mas kasih nomor contacts ke dia" Marah Luziana.
"Kan urusan kerja doang..." Balas Renaldy.
__ADS_1
"Tapi tetap aja gak boleh, dia kan itu cuman dekati mas doang" Ucap Luziana tidak terima suaminya tukaran nomor telepon.
"Kan mas udah bilang urusan kerjaan doang, kamu gak denger. Dan cobalah janganlah kekanakan dengan hal tidak penting" Balas Renaldy.
"Kenapa sih mas selalu, bilang aku selalu sifat kekanakan. Apa mas nyesel gitu nikah sama aku. Mas itu ya sifatnya sama Meysa dan kayak Mommy mu yang kayak jahanam. Bilangnya suka menantu kayak ku ujung-ujungnya pengen wanita yang dari keluarga kaya raya. Kalian itu sama sebelas duabelas nya" Ucap Luziana tanpa sengaja menjelekkan keluarga suaminya.
Renaldy yang mendengarnya tersenyum miris. "Aku gak pernah ngizinin tapi satu orang menghina keluarga ku. Mau sejelek apapun mereka tetap saja tidak ada satupun mulut yang menghina mereka" Balas Renaldy seraya mengepal kedua tangannya.
"Tapi yang aku bilang itu faktanya, Mommy kamu kan ular berwujud manusia" Luziana yang terbawa rasa cemburu, membuat dia tidak berpikir jernih apa yang dia katakan.
"Cukup Luziana, sikap kenakan kamu sudah kelewatan batas. Kamu gak bisa kerjain yang mana betul-betul urusan kerja dan yang mana bukan"
"Mas itu selalu kerja, mulu pikirin nya... Makan aja itu kerja" Renaldy mengeleng kepalanya gak percaya dengan apa yang istrinya ucapkan. Daripada memperkeruh keadaan Renaldy memutuskan pergi. Daripada mendengar, perkataan lanjutan istrinya. Yang membuatnya harus ringan tangan.
Melihat suaminya pergi meninggalkan begitu saja. Luziana mengerutkan dahinya heran.
"Mas.. Mas" Sia-sia memanggil Renaldy tetap tidak menggubrisnya. Dan langsung pergi menaiki mobil mewahnya.
"Kok malah pergi sih, ini periksa kandungannya gimana" Luziana menatap mobil suaminya meninggalkan parkiran rumah sakit sekaligus meninggalkan dirinya di rumah sakit.
Wajah yang di tekuk kesal, netra matanya menatap sekitar.
"Gue harus pulang naik apa.." Gumam Luziana seraya memgaruk kepalanya yang berbalut jilbab.
"Mbak ini sudah giliran Mbak periksa kandungannya" Ucap suster dengan ngos-ngosan yang capek berusaha mengejar Luziana.
"Saya gak jadi periksa kandungannya"
...----------------...
__ADS_1