
Luziana yang baru bangun tidur, di buat gegelapan. Melihat suaminya tidak ada di sampingnya. Perempuan itu pun beranjak dari kasur. Dan ia pun melihat suaminya tengah shalat subuh.
Renaldy yang tengah shalat subuh dan lagi duduk tahiyat akhir, sekian detik kemudian Pria itu pun memberi salam. Luziana yang melihat suaminya selesai shalat. Berjalan mendekati suaminya.
Renaldy yang hendak menengadahkan tangannya. Tiba saja istrinya datang dan duduk berada di sampingnya.
"Mas..." Panggil Luziana dengan suara khas bangun tidur.
"Hmm... Napa" Jawab Renaldy seraya bertanya. Tangan kekar pria itu pun terulur, memengang pipi istrinya yang tidak mulai bengkak seperti kemarin.
"Mas... kok bisa tiba-tiba pulang kesini" Tanya Luziana yang ambigu melihat suaminya tiba saja sudah berada di rumah pasca kemarin.
"Emang kamu gak senang lihat mas pulang" Renaldy menaikkan alisnya yang butuh jawaban.
"Eh bukan gitu, kenapa mas pulangnya mendadak. Katanya waktu itu mas pergi tugas cuman sebulan. Tapi sudah sebulan lebih mas gak pulang-pulang. Dan kata, temanmu letnan Arya katanya pulangnya tahun depan. Eh tahu-tahunya mas belum setahun udah pulang" Jelas Luziana kepada suaminya. Renaldy mengangguk kepalanya paham.
__ADS_1
"Emang benar, niatnya mas pun ingin begitu. Tetapi Allah berkehendak lain. Dengan cara mudahkan segala urusan kerjaan mas. Makanya Alhamdulillah mas cepat pulang dari tugas. Dan terlebih lagi mas pengen menemani kamu pas lahiran nanti" Ujar Renaldy menjawab semua kebingungan istrinya.
Luziana pun menanggapi nya hanya ber'oh ria saja.
"Kalau boleh tahu, Papi ada kesini?" Tanya Renaldy penuh tanda tanya. Tanpa angin tanpa hujan, tiba-tiba saja Papinya itu datang ke tempat pelabuhannya. Dan marah-marah padanya.
Luziana yang ingin menjawabnya nampak bimbang. "Ada..." Jawab Luziana yang terdengar ragu.
"Ngapain Papi kesini?" Tanya Renaldy dengan raut wajah yang terlihat serius. Luziana yang di lemparkan pertanyaan itu. Memutar otaknya keras. Ingin sekali dia mengalihkan topik pembicaraan suaminya.
"Hmm iya?" Renaldy menaikkan alisnya sebelah menatap istrinya yang raut wajahnya ingin sembunyikan sesuatu.
"Aku kayaknya, ngidam deh" Ujar Luziana membuat raut wajah Renaldy berubah menjadi kecewa. Renaldy pun menghembuskan nafas kasar di udara. Dia harus bisa mengontrol emosinya.
"Mas bakal beliin yang apa kamu mau, kalau kamu jawab ngapain papi kesini?" Tegas Renaldy kepada istrinya. Membuat Luziana meneguk ludahnya dengan susah payah.
__ADS_1
"Aku juga gak tahu, tiba-tiba Papi kesini" Jawab Luziana seadanya. Dia juga gak tahu, mengapa mertuanya itu datang ke kediamannya.
"Kalau papa kamu?" Lontar pertanyaan Renaldy lagi. Luziana yang di tanya tentang papanya, matanya mulai berlinang dengan air mata.
Betul kata Riri, papa Luziana dan papa Devan hubungan persahabatannya lagi gak baik. Jadinya yang kena imbasnya dirinya. Untung saja Papi Devan datang tepat waktu. Kalau gak, ya gak tahu lah apa yang akan terjadi terhadap dirinya dan kedua janin yang didalam kandungannya.
Dan rupanya juga, orang yang berusaha lacak Luziana itu adalah Papa Haris. Tapi sekarang gak tahu gimana keadaan papa Haris semenjak kejadian kemarin.
Renaldy yang melihat mata sayu istrinya yang sudah mulai berkaca-kaca. Mendekap tubuh istrinya kedalam pelukannya.
"Udah jangan sedih, kan mas udah pulang. Jadi jangan sedih lagi. Emang istri mas pengen ngidam apa?" Tanya Renaldy dengan penuturan yang lembut seraya mengusap perut istrinya.
Luziana yang mendengarnya, rasanya kayak takut kalau suaminya ninggalin dirinya. Dia sudah terlalu nyaman berada dengan Renaldy. Tapi gengsinya terlalu besar untuk mengungkapkan kalau dia itu cinta, dan sayang terhadap suaminya. Luziana belum terlalu ngerti apa cinta.
"Pengen lihat langsung mas minum susu domba langsung dari sumbernya"
__ADS_1