
Luziana yang sedang baca pesan dari aplikasi hijau. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan menampilkan seorang gadis cantik dengan muka juteknya.
Meysa pun berjalan masuk kamar tersebut, yang merupakan kamar kakaknya. Luziana mengeryitkan dahinya heran.
"Ngapain kamu?" Tanyanya menatap Meysa yang menelusuri kamar suaminya.
"Gausah kepo" Balas Meysa ketus seraya menatap Luziana yang sedang duduk di atas kasur. Perempuan itu mendengar jawaban adik iparnya menghela nafas panjang.
Meysa pun melanjutkan menelusuri kamarnya sambil pura-pura mencari sesuatu. Niat cewek itu pergi ke kamar kakaknya apa lain? selain buat rusuh.
Luziana yang berada di atas kasur langsung beranjak dan pergi melihat gerak-gerik adik iparnya. "Kamu cari sesuatu?"
Meysa yang sedang pura-pura buka lemari menoleh dibelakangnya yang terdapat seorang perempuan yang paling ia benci. "Gausah banyak nanya"
Lagi-lagi Luziana hanya menghela nafas panjang.
"Rakyat jelata dari kemarin-kemarin gue liat Lo itu gak pernah namanya bukan jilbab. Sekarang juga Lo gak buka jilbab Lo. Gak panas kah?, seharusnya gak papa buka jilbab di kamar. Gak ada lagipun yang liatin rambut itu Lo" Ujar Meysa sambil penasaran. Dia penasaran kenapa perempuan itu gak pernah buka jilbabnya. Walaupun di kamar sekalipun. Apa rambut cewek itu kribo makanya gak berani buka jilbab. Bikin tambah penasaran.
"Yah biasa aja gak panas" Jawab Luziana santai. Ia gak ingin buka jilbabnya. Karena gak ingin mengundang syahwat suaminya. Pakaian yang ia pakai aja logar tidak menampakkan bentuk lekuk tubuhnya. Kenyataannya mana ada menampakkan rambutnya bisa mengundang syahwat suaminya. Tetapi tetap saja perempuan itu tidak ingin memperlihatkan rambutnya. Padahal faktanya Renaldy sudah melihat semua tubuh Luziana.
Matanya membulat lebar. "Gue tanya lo kenapa gak buka jilbab, padahal di kamar dodol." Meysa mencebik kesal dengan jawaban Luziana yang menurutnya gak nyambung. Padahal jawaban yang di berikan Luziana benar. Cewek itu aja yang gak nyambung.
Luziana ber'oh ria. "Ya malas." Perempuan itu gak mungkin menceritakan sebabnya kepada Meysa. Lagipun ini urusan pribadi.
"Masa! apa jangan-jangan rambut Lo kribo ya." Tanpa aba-aba tangan Meysa sudah menarik jilbab.
"Coba buka jilbabnya" Pekik Meysa dengan tangan berusaha melepaskan jilbab Luziana.
Perasaan Luziana sedari tadi memang gak enak melihat Meysa masuk kamar suaminya. Lihat sekarang perasaan yang gak enak itu memang sudah terjadi. Dengan kasarnya Meysa menarik jilbabnya. Luziana pun berusaha menahan jilbabnya dari kepalanya.
"Gak boleh" Sahut Luziana. "Lepas tangan kamu dari jilbab aku"
"Ish pelit banget Lo, gue cuman liat rambut Lo gak boleh. Kita tu sama perempuan gak papa bodoh." Umpat Meysa kesal. Meysa tidak menghiraukan dengan permintaan Luziana yang menyuruh dirinya melepaskan tangannya dari jilbab perempuan itu.
"Ya tetap gak boleh, ini tubuh aku seterah aku dong ingin kasih liat apa enggak." Gak semua orang mengasih nampak anggota tubuhnya. Walaupun sesama perempuan. Mungkin dia ada privasi tertentu yang dia harus sembunyikan. Kita pun tidak punya hak mengatur punya orang tersebut.
__ADS_1
Kesal mendengar perkataan Luziana. Meysa mendorong tubuh mungil perempuan itu hingga terbentur dengan lemari.
Bruk.
Luziana meringis pelan sakit di punggungnya. Dorongan Meysa begitu kuat, dan kepalanya juga. Apalagi dia belum sigap pas di dorong cewek itu.
Meysa berkacak pinggang menatap Luziana. "Mampus Lo ada Enak..?" Ia tertawa sinis melihat Luziana, pasti begitu sakit kan pas didorong. Apalagi mendengar bunyi benturannya. Tentu itu pasti sangat sakit.
Luziana mendongak menatap Meysa yang begitu senang. Melihatnya tersiksa. Enaknya kita ituin balik, kita jambak-jambak rambutnya, sakit-sakit mampus sana. Tapi Luziana gak Setega itu. Apalagi cewek itu adik suaminya.
Perempuan itu bangkit dari duduk terlantai. "Kamu kesini buat ngapain?" Tanya Luziana dengan nada yang sudah tidak seperti biasanya.
Buat masalah apa lain, Batin Meysa.
Tanpa menyahutnya cewek itu mencari sesuatu yang ia perlu. Sebenarnya Meysa pergi ke kamar kakaknya itu cari kunci bawah tanah. Tetapi tujuan utamanya adalah ya! mencari masalah sama Kakak iparnya. Bikin perempuan itu merasa disiksa dan gak betah tinggal disini.
Luziana menatap datar Meysa yang tidak menjawab pertanyaannya. Dan kini cewek itu tengah mencari sesuatu.
"Shh.." Luziana memengang bahunya yang terasa sakit. Perempuan itu pun duduk di tepi ranjang.
Luziana memicingkan matanya. "Ngapain kamu ambil itu, bawa sini itu punya kakakmu" Ucap Luziana beranjak dari tepi kasur, menuju tempat Meysa berusaha mengambil kartu yang suaminya kasih.
Meysa berdecih pelan, ia pun berusaha menjauhkan tangannya yang menggenggam kartu black card. "Kartu ini aku ambil."
"Enggak boleh itu punya kakakmu" Balas Luziana seraya berusaha mengambil kartu black card itu.
"Ck' siapa kok karang-karang. Aku dah minta izin duluan kok sama kak Al. Barang yang ku cari ini lah" Seketika pergerakan Luziana yang berusaha mengambil kartu black card berhenti.
Dia mengerutkan dahinya, perempuan itu tampak gak percaya apa yang di bilang adik iparnya.
Meysa yang menyadari ada kerutan wajah Kakak iparnya, mendesah berat. "Tenang aja Lo gue benaran minta izin kok. Emang Lo tau kartu ini kegunaannya apa?" Tanyanya.
Perempuan itu menggeleng kepalanya. Senyuman Smirk terbit di bibir Meysa. Dia kira Luziana tahu ternyata gak. Bisa di manfaatin.
"Ouh.. lo gak tau ya. Ini ya aku jelasin itu kartu tanda pengenal, misalnya Lo pergi gunain kartu ini jadi semua bakal tau Lo itu orang dari kalangan atas. Kalau gak bawa kartu ini Lo bakal, gimana ya jelasinnya. Pokoknya gitu deh. Aku perlu kartu ini untuk... ke bandara" Ujar dusta Meysa seraya tersenyum.
__ADS_1
"Ke bandara ngapain?" Tanya Luziana penasaran.
"Gausah kepo, ini urusan pribadi gue. Yang penting gue perlu ini kartu" Dusta Meysa. Padahal dia perlu kartu itu untuk foya-foya.
Luziana pun mengangguk kepalanya dengan sedikit ragu. Dengan senyum kemenangan dia pergi membawa kartu black card.
"Mau aja di bodohin" Gumam Meysa di dalam hati sembari melenggang pergi.
Melihat Meysa sudah pergi, dia ingin mengecek punggungnya ada memar atau tidak. Di punggungnya rasanya sakit sekali.
Hari-hari pun berlalu, Luziana selama beberapa hari di sekolah tidak ada namanya jajan. Karena gak ada uang.
"Kau jajan lun?" Tanya Karina melihat teman karibnya hanya diam saja. Perempuan itu pun menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa, gak ada uang? biar aku traktir" Pasti setiap Luziana gak ada uang atau makanan itu mahal. Pasti di traktir oleh Karina. Temannya satu tidak pernah pelit dengan dirinya. Ia selalu saja membantunya misalnya dalam keadaan susah.
"Enggak kok, cuman malas jajan. Pengen diet" Dusta Luziana seraya tersenyum terpaksa.
"Hah diet? dah kurus cungkring gitu pergi diet. Emang gila si kau Luziana. Liat noh badan mu dah kurus kek gitu pergi diet lagi. Emang berat badan kamu berapa sih Luziana?" Di antara mereka yang paling kurus di situ adalah Luziana. Yang pada berisi-berisi semua. Minimal gak kurus-kurus kali.
Luziana mengedikkan bahunya. Dia sendiri pun tidak tau berat badannya berapa.
Sementara di tempat perusahaan di lantai paling atas, di ruang CEO. Renaldy terpaku diam menatap dokumen dari bank. "100 juta"
...----------------...
Jangan lupa dukunganya
LIKE
VOTE
HADIAH
KOMENTAR
__ADS_1