
Sudut bibir Meysa terangkat. "Lo angkat kaki dari rumah ini. Sekalian Cerai dengan Kakak gue." Titah Meysa dengan sinis.
Luziana yang mendengarnya membulat matanya lebar. Dengan ucapan Meysa, segitukah cewek itu membenci dirinya. Sampai menyuruhnya Cerai dengan kakaknya sekaligus angkat kaki dari rumahnya. Sebenarnya perempuan itu juga gak mau tinggal disini apalagi satu atap sama Meysa. Kemudian dirinya juga tidak ingin menikah menikah dengan kakaknya itu. Kalau gak di paksa oleh orang tuanya menikah, hanya untuk membalas jasa dengan orang tuanya suaminya yang sudah membantu keluarganya.
Dirinya seperti budak, tidak punya hak untuk menyuarakan atas dirinya. Seolah dia itu selalu di atur hidupnya.
Luziana mengehela nafas panjang. "Enggak mau." Tukas perempuan itu langsung berlenggang pergi menuju kamar suaminya.
"Ck' nampak sekali kau berencana untuk mengambil harta keluarga gue. Kalau mau harta bilang oi! sama gue. Bakal gue kasih dah untuk wanita murahan kayak Lo. Malah langsung pergi lagi, nampak sekali niat busuknya. Jangan pergi wanita murahan, sini ngomong gue kau itu mau nya apa biar gue kasih. Jadi di rumah gue ini gak ada benalu lagi." Pekik Meysa sambil tersenyum kemenangan.
Luziana menarik nafasnya dalam-dalam mendengar hinaan Mesya terhadap dirinya. Perempuan itu tetap berjalan pergi ke kamar suaminya, tanpa menghiraukan hinaan dari adik iparnya.
Meysa berdecih pelan melihat Luziana seakan tidak peduli dengan hinaan, yang ia lontarkan. "Oi jangan pergi Lo" Pekik Meysa dengan suara melenggar hampir satu mansion mewah itu.
"Jangan berisik anak setan!"
Meysa yang mendengar suara seseorang, niatnya yang ingin mengejar kakak iparnya itu diurungkan. Ia pun mengedarkan pandangannya mencari suara itu.
"Ngapain kamu teriak-teriak Meysa." Ternyata suara seseorang itu adalah Mommynya yang sedang dengan penampilan pakai handuk kimono, dan wajahnya bermaskeran.
"Mancam orang gil* aja kamu teriak-teriak gajelas." Tambahnya. Wanita paruh baya itu yang tadi asik bermaskeran menjadi terganggu dengan teriakan dari lantai dua. Gak sanggup mendengar teriakkan itu ia pun keluar dari kamarnya dan melihat siapa yang sedang teriak-teriak gajelas itu. Ternyata yang sedang teriak-teriak gajelas putrinya. Kemudian ia tadi tidak terlalu dengar apa penuturan putri bungsunya teriakan. Di dalam kamarnya tadi hanya terdengar samar-samar.
__ADS_1
Meysa melihatnya Mommynya sedang marah, di bawa santai aja. Ia pun turun dari lantai dua melalui tangga.
Mommy Liona melihat anaknya mengacuhkan dirinya. Merasa geram. Wanita paruh baya itu pun cepat-cepat menarik nafasnya dalam-dalam untuk emosinya tidak naik. Yang ada nantik dirinya kenak darah tinggi akibat putri bungsunya itu. Ia pun berlalu masuk kamarnya kembali sambil bermaskeran ulang. Karena maskeran nya udah retak.
Ceklek...
Renaldy mendengar pintu terbuka melirik sekilas siapa yang masuk.
"Maafkan saya seharusnya kartu tanda pengenal itu saya simpan baik-baik" Lirih Luziana merasa bersalah, atas kejadian semua ini.
Renaldy mendengar permintaan maaf istrinya, mengehela nafasnya kasar. Terus dengan masihnya istrinya menyebutkan kartu black card itu kartu tanda pengenal. Ia pun mencoba tidak memedulikanya, seterah istrinya mau ingin menyebutkan kartu itu dengan sebutan apa dia tidak peduli.
"Berapa uang yang kau butuhkan" Ucap pria itu dingin dengan posisi pria itu membelakangi istrinya. Dia sedang tengah menghadap kaca jendela besar kamarnya.
"Cepat katakan berapa uang yang kau perlukan" Paksa Renaldy. Pria itu tahu kalau istrinya itu sedang berbohong.
Luziana di paksa menjawabnya tidak mampu bilang apa-apa. Ia hanya bisa diam. Dengan tangan saling bertautan.
Renaldy melihat istrinya hanya diam menghela nafas panjang. "Kau butuh uang kan" Ucap Renaldy dengan posisi yang sudah menghadap pada istrinya.
Luziana yang melihat mata elang suaminya. Langsung menunduk kepalanya.
__ADS_1
Renaldy melihat istrinya tidak ada respon. Terpaksa mengambil keputusan sepihak. Ia pun menelepon sekertaris seno. Untuk mengantarkan uang cash berjumlah sepuluh juta.
"Halo tuan ada keperluan apa menelpon saya" Tanya Seno membuka suara di seberang telepon.
"Hantarkan uang sepuluh juta" Titah Renaldy pada sekretarisnya, di telponan. Dan langsung mematikan teleponnya dengan sepihak.
Seno yang teleponan dari CEO nya, di matikan sepihak oleh pria itu. Mengehela nafas panjang. Terus tumben CEO nya minta di hantarkan uang. Bukannya CEO itu dah ada kartu kredit. Gak mau berpikir panjang ia pun melaksanakan apa di perintahkan.
"Tapi mau di hantarkan kemana..." Pekik Seno frustasi. Gini amat punya atasan sifatnya sedingin kutub utara.
...----------------...
SAMPAI SINI AJA YA 🤗 JANGAN LUPA DUKUNGANNYA.
LIKE
VOTE
HADIAH
KOMENTAR
__ADS_1
RATING LIMANYA JANGAN LUPA
Note: Author lucu baca komentar kalian ini belum konflik ya teman-teman, para readers. Ini masih alurnya. Konfliknya masih jauh. Jadi jangan cepat greget 😆. Belum lagi nantik dengan pas konfliknya, yang pastinya bikin waw deh. Sampai jumpa di update selanjutnya author 🥲.