
"Kenapa Mommy gak bangunin Meysa" Ucapnya dengan kesal sembari menangis tersedu-sedu. Perasaan sedih, kesal, marah, tercampur jadi satu. Gak tau mendeskripsikan kayak gimana lagi. Meysa betul-betul sangat marah.
Mommy Liona yang sedang berdiri di dapur, merasa pusing dengan ocehan putri bungsunya.
"Mommy gak tega bangunin kamu, soalnya kamu tidur nyenyak sekali" Balas Mommy Liona yang sedang membuat kue untuk acara arisan besok di rumah totalitas temannya.
"Tega? biasanya Mommy selalu gak tega sama anaknya sendiri. Kenapa sekarang jadi tegaan. Bilang aja Mommy sengajain gak bangunin Meysa, biar kak Al pergi berduaan sama rakyat jelata itu kan" Ucap Meysa di sela tangisnya.
Mommy mendengar pernyataan putrinya menghela nafas panjang.
"Emang kenapa kalau mereka pergi berduaan. Kan mereka suami istri jadi boleh dong" Balas Mommy Liona dengan enteng.
"Gak boleh!" Pekik Meysa kesal.
"Meysa yang duluan janjian sama kak Al kenapa rakyat jelata itu coba yang pergi. Memang perempuan gak tau diri anak biadab itu" Umpat Meysa menggebu-gebu.
Mommy Liona yang mendengar hinaan Mesya terhadap kakak iparnya, berkacak pinggang.
"Gak boleh gitu, tullah kamu juga siapa suruh tidur. Kalau dah janjian mau pergi, jadinya orangnya pergi sama orang lain kan" Ujar Mommy Liona yang mengeleng kepalanya dengan sikap putrinya yang terlalu membesarkan masalah.
"Kan Meysa ngantuk Mommy pengen tidur cuman sebentar. Seharusnya Mommy bangunin Meysa bukan biarin rakyat jelata itu pergi sama kak Al. Enak sekali anak biadab itu tinggal pergi. Padahal yang ngajakin Meysa. Terus buka mata Mommy lebar-lebar perempuan itu gak layak jadi bagian keluarga kita. Dia itu cuman hanya sampah yang berceceran di jalan" Ujar Meysa dengan menggebu-gebu.
"Cukup Meysa! bukan karena kita orang kaya raya banyak uang, harta berlimpah. Dengan seenaknya kita menghina orang lain yang tidak punya apa-apa. Itu tidak baik, semua orang itu sama tidak ada bedanya" Mommy Liona menatap putrinya dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
"Ya kita semua sama kecuali rakyat jelata itu, karena perempuan itu gak tau diri, dia layak di hina biar tau asal usul dia itu di mana. Gausah sok belagu tinggal disini" Ucap Meysa gak mau kalah.
"Mommy di luar sana banyak wanita cantik-cantik baik-baik, yang cocok dengan kak Al terus sederajat dengan kita. Bukan Luziana itu, apa Mommy gak tahu cara memilih pasangan untuk kak Al. Biar Meysa cari, banyak juga kok kenalan cewek baik yang kenalan sama meysa yang mau jadi pasangan kak Al. Bukan Luziana itu, dia itu perempuan busuk ujung-ujungnya hanya manfaatin keluarga kita doang" Ujar Meysa panjang lebar.
"Cukup Meysa, pusing Mommy dengar ocehan kamu. Cuman masalah di tinggalin pergi pasar malam pun di permasalahkan" Ucap Mommy Liona yang udah mulai jengah.
Tangis Meysa kembali pecah. "Mommy gak tahu dah berapa hari Meysa menunggu hari ini untuk pergi sama kak Al" Balas Meysa di sela tangis.
"Yaudah jangan sedih nantik kamu bisa pergi besok malam kan" Setahu Mommy Liona pasar malam itu di adakan sampai tiga hari, Jadi buat apa di tangisin. Kan bisa pergi besok malam.
"Gak mau pergi sama Mommy gak seru" Ketus Meysa masih di sela tangisnya. Cewek itu gak mau pergi berduaan sama Mommynya karena ia tahu. Mommynya bukan wanita yang suka pergi tempat yang berdesak begitu. Wanita paruh baya itu suka pergi tempat yang berkelas. Sebenarnya Mommy Liona mau tapi sampai di tempat itu ia hanya palingan duduk doang.
"Gak seru gimana?" Tanya Mommy Liona bingung.
"Daripada kakak Al kamu itu yang datar itu lebih bagusan sama aku" Banding Mommy Liona dengan anak sulungnya yang dingin itu.
Dari di antara mereka tidak ada bersuara lagi. Mommy Liona lebih baik diam dan membersihkan meja dapur yang kotor akibat membuat kue. Kue yang ia buat untuk arisan sudah selesai dan melentakan nya di dalam kulkas.
Setelah semuanya selesai. Mommy Liona mengeluarkan kue yang di kulkas di kasih oleh temannya pas arisan siang tadi. Lalu Mommy Liona memakannya.
"Hmmm enak banget kuenya. Meysa mau rasa" Tidak ada respon dari anak bungsunya yang ada suara Isakan tangisan dari anak itu yang sedang menunduk kepalanya di atas meja makan, lalu tangannya sebagai alas.
Mommy Liona yang melihatnya mengehela nafas panjang, ada rasa sedikit rasa sedih di dalam hati seorang ibu itu. Yang melihatnya anaknya yang menangis tersedu-sedu. Namanya orang tua pasti semuanya akan turut sedih melihat anaknya sedih.
__ADS_1
"Udah jangan nangis lagi Meysa. lebih baik makan kue ini, enak tahu rasanya" Pinta Mommy Liona tetap saja tidak ada respon.
"Sayang anak mommy yang cantik jelita ini, pengen apa biar Mommy belikan. Beli pasar malam itu tenang... Mommy beliin palingan murah cuman satu milyar doang ya kan. Yang penting Meysa jangan nangis lagi" Ucap Mommy yang mencoba menghibur putri bungsunya. Tapi tetap saja masih sama tidak ada respon.
"Kalau kayak gini ya betul-betul ku beli satu negara ini kalau bisa" Gerutu Mommy Liona yang sudah kesal.
"Nyonya ada telepon dari Tuan Devan" Ucap salah satu pelayan yang tiba saja datang tempat itu sembari mengasih telepon rumah kepada majikannya.
"Ouh ya makasih ya" Ucap Mommy Liona yang sudah menerima telepon rumah itu.
"Halo papi." Terima panggilan Mommy Liona sudah mendekatkan telpon rumah itu dekat dengan telinganya.
"Halo Mommy, Mommy kemana aja sih capek Papi telepon dari tadi..." Meysa mengangkat pandanganya yang menatap punggung Mommy yang sudah menjauh.
Ia mendengar derap langkah kaki seseorang yang sedang menuju ke sini.
"Kak Al.." Renaldy menatap wajah adiknya yang sembab akibat nanggis. Pandangan Meysa beralih ke Luziana yang nampak tengah bahagia di mata Meysa.
"Puas pergi berduaannya Rakyat jelata" Satu kata lolos dari mulut Meysa. Luziana menautkan alisnya bingung dengan perkataan Meysa.
"Puas! gue yang ngajak dengan seenaknya malah Lo yang pergi" Ucap Meysa dengan suara meninggi. Ia melayangkan tangannya untuk menampar pipi Luziana.
Namun langsung di tahan oleh Renaldy.
__ADS_1