
"Woii.. tolong di bukain" Pekik Meysa minta tolong, di dalam toilet.
Vian, Jihan, Nico, sama sopir pribadi keluarga Hervandez. Kini sudah di depan pintu toilet. Mereka semua dapat mendengar teriakkan minta di dalam toilet tersebut.
"Bukannya, itu suara Luziana, sama Meysa ya" Tutur Jihan yang mengenal suara itu.
Semua pun mengangguk mengiyakan, atas penuturan Jihan bahwa itu benar-benar suara Luziana dan Meysa.
"Luziana, Meysa kalian di dalam kan?" Tanyanya dengan sedikit berteriak. Meysa dan Luziana seketika berhenti berteriak minta tolong, setelah mendengar suara, yang seperti mereka kenal.
"Vian" Gumam Luziana.
"Vian kamu kan di luar sana?" Tanya Meysa dengan parau. Karena suaranya habis, karena berteriak.
"Ya! benar Aku Vian, kalian kenapa di dalam?," Tanya Vian di akhir kalimat.
"Kami disini, gak tau kenapa pas mau keluar ni pintu tiba-tiba gak bisa di buka. Kayaknya kami ke kunci Vian. Tolong bukain pintu ini Vian" Pinta Meysa dengan mata berkaca-kaca.
Nico dan Vian pun saling pandang. "Kalian coba jangan dekat dengan pintu toilet" Titahnya. Luziana dan Meysa pun menurutinya, tidak dekat dengan pintu kamar mandi dan mundur beberapa langkah. Dengan perasaan takut akan di belakang mereka.
__ADS_1
Vian sama Nico pun mendobrak pintu toiletnya. Sebenarnya sopir Meysa ingin mendobrak pintunya. Namun di larang sama oleh Vian, katanya biar kami saja mendobrak pintu toiletnya, pak sopir diam aja.
Tapi Sopir Meysa bernama Anto itu menolak, biar dirinya saja mendobrak pintu toilet itu. Tetap saja Vian melarangnya. Dengan terpaksa, sopir pribadi itu pun mengalah biar. Anak laki remaja itu saja yang mendobrak pintunya.
Pintu toilet pun terbuka lebar, dengan barengan lampunya hidup kembali. Luziana dan Meysa pun keluar dari toilet yang tadi gelap itu, yang ada setannya.
Karena saking takutnya tadi Meysa keluar langsung memeluk yang ia yakini bahwa itu Vian. Luziana dengan napas tersengal-sengal, berusaha menghirup udara dalam-dalam.
"Kau gak papa kan Luziana?" Tanya Jihan dengan sedikit khawatir.
Pandangan Luziana menoleh kearah Jihan, ia pun mengeleng kepalanya. "Gak papa" Balasnya seraya berusaha tersenyum, walaupun dadanya terasa sesak.
Semua pandangan menatap Meysa, dengan tatapan heran. Serius Meysa meluk cowok. Mereka tampak tak percaya kalau Meysa yang cantik dan kaya raya itu terus karirnya yang bagus. Peluk cowok kayak Nico. Yang di banding dengan Meysa tidak ada apa-apanya bagaikan Meysa serbuk berlian sedangkan Nico bagaikan debu.
Nico yang bingung, ikut membalas pelukan Meysa. Lumayan kesempatan emas, dirinya bisa di peluk oleh cewek idaman semua orang. Tapi dirinya juga bingung mendengar Meysa menyebutkan nama Vian.
"Meysa kok kau mau peluk cowok kayak Nico. Kau gak kenapa-kenapa kan?" Lontar pertanyaan dari Jihan.
Seketika Meysa mengeryitkan dahinya heran, Nico? ia pun mengurai pelukannya. Matanya langsung membulat lebar.
__ADS_1
"Nico? Pekik kaget Meysa.
"Ngapain Lo peluk gue" Sambungnya lagi dengan masih kaget. Nico yang tidak tau apa-apa, di salahin dirinya telah meluk cewek itu. Merasa tidak terima.
"Kau kali ya meluk gue" Jawabnya seraya memaikkan alisnya. Dan langsung dapat tatapan dongkol dari Meysa.
Cewek itu berdecih pelan. kok bisa dirinya salah meluk orang. Apalagi orang yang ia peluk itu Nico. Cowok playboy tengil.
Dengan perasaan malu. Ia pun bergegas pulang dari tempat itu. Jihan yang melihat meysa yang malu kemudian langsung jadi terkekeh.
Mereka pun semuanya pun, berlenggang pergi dari toilet itu.
"Hayoo ukhti, pulangnya sendiri. Hati-hati Loh di belakang mu ada hantu" Seloroh Nico seraya tertawa.
Luziana yang sedang tengah takut akibat terkunci kamar mandi kemudian hantu bayangan hitam itu. Kini malah di takutin lagi bahwa nanti di belakangnya ada hantu minta ikut bonceng.
"Ck' kamu bisa gak sih gausah nakut-nakutin orang" Ujar Luziana ketus.
Nico tertawa renyah mendengarnya.
__ADS_1
"Canda-canda ukhti, gausah marah. Nantik cantiknya hilang loh" Godanya seraya mengedipkan matanya sebelah.
Membuat Luziana melihatnya, jadi bergidik ngeri.