Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Nyesel menikah dengan mu


__ADS_3

Setelah beberapa menit Luziana menumpahkan kesedihannya. Ia pun menatap langit-langit ruang rawat dengan tatapan kosong. Tanpa disadari ada darah mengalir di daerah selang kangan perempuan itu.


Luziana yang tidak menyadari itu, karena sakit hati dan batinnya menyelimuti dirinya. Dan pikirannya sekarang hanyalah kosong.


Sementara disisi lain Meysa yang sudah mulai merasa jenuh dan ngantuk. Memutuskan masuk ke ruang rawat kakak iparnya. Untuk hanya memastikan, apa yang terjadi dengan perempuan itu. Karena sedari tadi dia tidak sedikitpun mendengar suara di dalam ruangan tersebut.


Meysa pun berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut. Dan saat setelah membuka pintu ruang rawat, kemudian menampilkan kakak iparnya dengan padangan menatap langit-langit. Meysa yang melihatnya tidak ada merasa aneh.


Ia pun memutuskan berjalan lebih dekat dengan brankar. Dan seketika Mata Meysa langsung membelalakkan. Melihat darah yang sudah membasahi brankar tersebut.


"Lo gak papa kan?" Tanya Meysa bodoh karena panik. Luziana yang menoleh pelan dan menatap adik iparnya dengan tatapan sendu. Dengan bibirnya yang sudah pucat kemudian luka dan terlebih lagi darahnya sudah mengering. Dan satu lagi wajah Luziana sudah pucat pasih seperti mayat hidup.


Meysa tipe orang penakut dengan berbau namanya horor. Bibir nya langsung bergetar ketakutan.


"Oi lihat baju lo itu, dah berdarah" Ujar Meysa dengan rasa ketakutan menghantuinya. Melihat Luziana tidak ada respon. Ia pun menekan tombol nurse. Eh sayangnya tombol itu tidak aktif, lebih tepat lagi tidak berfungsi.


"Rumah sakit apaan sih ini. Tombol nurse gini aja gak berfungsi" Gerutu Meysa kesal. Cewek itu yang tidak tahu harus berbuat apa lagi. Memutuskan untuk keluar aja. Namun saat membalikkan badannya. Tangannya langsung di cekal oleh Luziana. Ia pun menatap wajah pucat Luziana yang ingin mengatakan sesuatu dengannya.


"A-ir" Lirih Luziana dengan suara yang tidak terdengar sama sekali di kuping Meysa.


"Lo bilang apa sih, gue gak denger. Bisa lepasin tangan gue gak"


"Haus" Suara Luziana nyaris terdengar di kuping Meysa. Dan Meysa berusaha mencerna apa yang di katakan kakak iparnya itu.


"Hah? Lo haus gitu?" Tanya Meysa memastikan. Luziana pun mengganguk kepalanya pelan.


Meysa yang di minta air minum, mengedarkan pandangannya. Dan matanya berhenti di sebuah nakas terdapat satu Aqua gelas. Ia pun mengambil Aqua tersebut dan membantu Luziana minum melalui sedotan. Tak perlu waktu lama, Luziana meneguk air tersebut hingga habis. Gimana gak habis coba, Luziana capek teriak-teriak manggil dokter tadi.


Setelah habis Meysa pun menarik kembali Aqua gelas yang sudah kosong tersebut. Kemudian dia pun membalikkan badannya. Namun sebelum membalikkan badannya. Tangannya langsung di tahan oleh Luziana. Mata Meysa pun seketika langsung belalakan sekaligus panik melihat Luziana menahan tangannya kembali.


"Tolong lepaskan tangan gue. Gue gak mau lama-lama disini yang ada gue nanti di marah sama suami Lo. Jadi lepasin ya" Mohon Meysa sembari berusaha melepaskan cekalan tangan Luziana, berada di pergelangan tangannya.


Setelah tangannya terlepas Meysa pun langsung berlari ke arah keluar. Jujur Meysa gak bisa berlama-lama di dalam ruangan rawat tersebut. Apalagi melihat namanya darah.


Huekk


"Gila hampir mati gue"



Renaldy memengang pipi istrinya dan sebelah tangannya menggenggam tangan istrinya. Saat ini dia sudah berhasil berada di tempat istrinya berada. Dan juga berhasil mengalahkan suruhan Papa Haris, yang sudah di ketahui oleh Renaldy, itu orang suruhan siapa. Meskipun dia harus terluka parah, akibat melawan suruhan Papa Haris yang membawa senjata.



"Yang kuat sayang, demi anak kita" Ujar Renaldy saat sudah berada di ruang operasi.



"Permisi tuan, saya harap anda saat ingin menemani istri anda saat melakukan operasi. Tuan harus mengunakan jubah steril terlebih dahulu." Ucap dokter citra. Renaldy pun mengangguk kepalanya mengiyakan.

__ADS_1



Renaldy pun segera memakai jubah steril. Setelah memakai jubah steril. Dia hadapkan oleh Mommy nya, papi nya, dan Meysa.



Mommy disitu langsung berdrama pura-pura baik.



"Al kamu kenapa nak, kok wajah mu luka-luka begini" Tanya Mommy Liona dengan mata berkaca-kaca sambil memegang wajah putranya. Renaldy memengang tangan Mommynya, yang berada di wajahnya.



"Ceritanya panjang," Balas Renaldy dingin.



Mommy Liona tersenyum tipis. "Semoga operasi istri kamu berjalan dengan lancar. Kamu tahu Al keluarga istri mu hina-hina Mommy tadi. Begitu juga dengan diri mu, Mommy sangat tidak terima kalau dirimu di hina cukup Mommy saja di hina, kalau putra kesayangan Mommy jangan"



"Benar itu Al apa yang di bilang Mommy kamu, mending sekarang kamu nemenin istri kamu, soal itu nanti bahas" Timpal papi Devan. Renaldy yang awal ragu mendengar perkataan orang tuanya, mengangguk kepalanya saja. Mereka seolah membuat situasi ini tidak terjadi apa-apa.




Luziana yang di suntik bius hanya setengah sadar. Menatap suaminya, yang berharap cemas. Menantikan kehadiran buah hati mereka.



Renaldy tersenyum tipis menatap istrinya yang tengah menatap dirinya.



"Penantian selama ini, hari ini bakal terwujud sayang. Mas gak sabar melihat mereka selucu apa nantinya" Ujar Renaldy berbisik di tepat telinga istrinya. Bohong kalau Renaldy tidak menginginkan menjadi seorang ayah dari anak-anaknya. Dia memang dari dulu sangat menanti momen ini, dimana dia mengendong bayi mungil darah dagingnya sendiri. Apalagi Renaldy sangat menyukai namanya anak kecil. Terlebih lagi anak kecil darah kandungnya sendiri. Yang mungil-mungil, masih bayi pasti imut sekali bukan.



Tetapi tuhan berkehendak lain, sudah lima kantong darah habis untuk di transfusi ke Luziana. Namun tidak ada satupun suara tangis bayi menggema di ruangan tersebut.



"Dok, kenapa dengan anak saya, mengapa sudah beberapa jam sedari tadi saya tidak sedikitpun, mendengar suara tangisan mereka?" Tanya Renaldy kepada dokter citra.



Dokter citra yang di tanya mengehela nafas berat. "Maaf tuan lebih baik saya jelaskan di ruangan saya. Untuk sementara ini kedua bayi Tuan akan di bawa ke ruang intensif" Ujar dokter citra. Seketika membuat Renaldy mematung seribu bahasa.

__ADS_1



Operasi pun selesai dengan hasil tidak memuaskan. Luziana pun sudah di bolehkan pindah ruangan rawat inap. Sementara Renaldy menuju ke ruangan dokter citra.



Luziana yang sudah berada di ruang rawat inap. Membetulkan oksigen selang hidungnya dengan tangannya sedikit bergetar. Entah kenapa rasanya sudah mengunakan selang oksigen. Dia tetap merasa sesak nafas. Kemudian waktu pun sekarang sudah jam 4 subuh pagi.


Perempuan itu pun belum ingin tidur, sebelum melihat suaminya. Pintu rawat pun terbuka dan menampilkan Renaldy dengan wajah lesu dan penuh kekecewaan.


Luziana yang melihat suaminya dengan ekspresi begitu. Terlihat jelas kalau anak mereka kenapa-kenapa. Renaldy pun mendaratkan bokongnya di kursi samping brankar istrinya sembari mengusap wajahnya kasar.


Ia pun melirik istrinya yang tengah menatap dirinya. Terlihat jelas di wajah istrinya tidak tersirat kekhawatiran malah terlihat biasa saja.


"Kenapa kamu bohong, kalau kamu ada pergi check up secara rutin" Tanya Renaldy dengan dingin.


"Gak ada aku bohong, aku memang betul check u-"


"Bisa gak usah pura-pura bohong lagi. Masih ingin berusaha ngelak lagi. Bayinya bukan jenis kelamin perempuan tapi laki-laki" Ujar Renaldy dengan nada naik beberapa oktaf.


"Kok bisa, padahal pas USG hasilnya perempuan"


"Berusaha banget ya untuk bohong nya. Dokter citra sendiri bilang sama saya kalau kamu sudah 4 bulan lebih gak pernah check up. Mau masih berusaha bohong lagi" Ucap Renaldy penuh penekanan.


"Enggak kok Mas. Mas ada orang tua kamu di luar"


Renaldy yang mendengar istrinya mencoba, mengalihkan pembicaraan. Gerahamnya seketika mengeras menahan emosi.


"Senang banget, kayaknya kamu lakuin hal kayak begitu. Kalau iya kenapa ada keluarga aku di luar, kamu pengen di jenguk sama mereka" Ujar Renaldy bertanya dengan tatapan dingin. Luziana pun langsung mengeleng kepalanya.


"Kemudian kamu gak pernah belajar, anak pertama kita aja, meninggal itu gara-gara ulah kamu. Sekarang anak kita begitu juga. Tapi kamu sedikit pun tidak ada merasa menyesal telah apa kamu perbuat. Aku aja tadi hampir mati gara-gara suruhan anak buah Papa kamu. Dan kamu?" Renaldy tersenyum miris.


"Selalu aja sifat mu kekanak-kanakan, dan masih aja terbawa dunia masa bermain kamu itu. Dan gak pernah mikir apa terjadi selanjutnya. Sekarang aja kamu sedikitpun tidak ada persiapan sedikitpun menjadi seorang ibu. Kamu mengejan aja sesuka hatimu tidak menunggu pembuka lengkap. Dan apa sekarang sudah terjadi, pembengkakan di leher rahim kamu kan" Ujar Renaldy panjang lebar.


"Aku gak tahu kalau ada menunggu pembukaan lengkap mas, soalnya rasanya tadi aku sudah tak-"


"Semua kamu gak tahu, kamu sedikitpun tidak teredukasi tentang melahirkan Luziana. Seolah aku memperkosa kamu. Kalau kamu nanya, aku nyesel nikah sama kamu. Jawabannya iya, aku sangat nyesel telah menikahi mu Luziana yang masih anak SMA dan terlalu kekanak-kanakan seperti mu"


Luziana yang mendengar perkataan suaminya, matanya langsung berkaca-kaca. Ia pun menggapai tangan suaminya dan menggenggam tangan suaminya.


"Mas nyesel ya menikah sama Luziana. Luziana minta maaf. Luziana memang gak tahu. Sekali lagi minta maaf ya mas, mas harus terjebak menikah dengan wanita seperti Luziana. Kalau Luziana tahu seperti ini, Luziana berusaha menolak perjodohan kedua orang tua Luziana. Tapi Luziana waktu itu memang gak bisa nolak. Karena Luziana pengen bales Budi mereka yang udah membesarkan Luziana. Seharusnya aku itu gak hadir di dalam kehidupan mas, yang selalu bikin susah. Papi kamu aja nikahin kita, bukan karena ingin punya menantu seperti aku. Wajar aja Mommy mas malu, punya menantu seperti aku, karena keputusan cuman sepihak. Kedua orang tua mas sangat baik, pengen liat masa bahagia. Cuman aku aja gak bisa di banggangakan apa-apa" Luziana menarik nafas sejenak yang seakan udara makin menipis.


"Nanti kalau ada anak kita salah satu nya masih hidup. Kasih orang tua aku aja ya, mungkin mereka gak mau ngurus anak kita. Tapi aku harap mereka mau. Mungkin mas nyesel dah nikah sama aku. Tetapi aku gak nyesel pernah ketemu sama mas. Aku sangat mencintai mas. Dan aku harap juga mas menikah ya dengan wanita yang pilihan mas sendiri" Perlahan genggaman Luziana yang erat, melemah. Matanya pun perlahan mulai menutup.


"Sayang kamu kenapa..." Ujar Renaldy yang mulai panik. Melihat istrinya kini sudah tidak sadarkan diri. Dan terlebih lagi dada Luziana seperti naik turun.


...----------------...


Hari ini, hari Senin jangan lupa vote ya teman🤗🤗🧡🧡

__ADS_1


__ADS_2