Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Menantu yang idaman


__ADS_3

"Papi ingin bicara apa dengan Al" Tanya Pria itu dengan wajah datarnya.


Papi Devan menghela nafas pelan. "Papi tadi menjumpai orang telah mencelakai adikmu, dia tidak mengaku kenapa berbuat seperti itu kepada Meysa. Yang herannya pelakunya itu, satu sekolah dengan meysa. Dan sekaligus satu kelas dengan adikmu. Papi ingin kamu sendiri bantu Papi mencari informasi tentang apa penyebab dia melakukan itu kepada mu itu. Padahal Papi pun tadi sudah memaksanya untuk berbicara, tetap saja dia tutup mulut" Terdengar suara Papi Devan kian memberat.


Renaldy terlihat kaget, mendengar bahwa pelaku nya itu satu sekolah sekaligus satu kelas dengan adiknya. Namun Renaldy seperti terlihat biasa saja.


"Apa ada orang lain menyuruh dia melakukan itu?" Tanya Renaldy dengan suara bariton nya. Soalnya yang melakukan mencoba pembunuhan itu, masih remaja. Kok bisa aja dia lakuin gitu ke adiknya. Apa sebabnya coba. Apa mungkin karena dia itu di suruh seseorang.


"Papi juga kurang tahu, lagi di selidiki dari anak suruhan Papi. Tapi kayaknya, dia melakukan itu keinginan dia sendiri bukan karena suruhan orang lain" Ujar Papi Devan menyahuti seraya memijit pelipisnya yang terasa pusing. Begitu banyak beban, yang harus dia angkut. Apalagi melihat keadaan istrinya, yang sakit. Melihat kondisi putrinya yang masih sekarang, dalam keadaan koma.


Renaldy dapat melihat dari raut wajah Papinya. Yang terlihat lelah dengan semua cobaan ini.


"Papi tenang aja Renaldy akan coba semaksimal mungkin, untuk memecahkan masalah ini" Ucap Renaldy berusaha membantu Papinya.


Papi Devan bernafas lega, bahwa anaknya masih mau bantu atas kejadian ini. Selepas apa yang di lakukan Meysa, terhadap istrinya.


"Assalamualaikum.." Terdengar suara bariton seorang Pria paruh baya yang masih terlihat muda seperti Papi Devan.


"Walaikumsalam.." Renaldy dan Papi Devan seketika menoleh. Dan mata Papi Devan membulat sempurna. Melihat siapa yang menghampiri meja mereka.


"Galvin.." Yang di panggil terlihat tersenyum tipis. Dan langsung menghamburkan pelukan, ke temannya yang di anggap seperti saudara sendiri.


"Apa kabar Dev, kayaknya dah mau jadi kakek aja ni" Seloroh Galvin terhadap Devan. Yang di canda-in pun tampak tergelak tertawa. Galvin seketika menoleh ke pada putra sulung temannya itu. Btw Galvin waktu kuliah itu pesaing ketat Papi Devan, mendapatkan Mommy Liona. Bukan saingan, tapi Devan aja mengambil sahabatnya itu saingan.


Renaldy pun hendak menyalami pria paruh baya itu. Namun di tolak, kemudian Galvin menghamburkan pelukan ke Renaldy. Renaldy yang dapat perlakuan seperti itu tersenyum tipis.


"Selamat ya sekarang mau jadi calon ayah aja" Ucap Galvin seraya melepaskan pelukannya sembari menepuk bahu Renaldy.


Mereka bertiga pun duduk, tapi bukan bertiga. Berempat satu pria paruh baya satu lagi ikut datang dan nongkrong dengan mereka.


Berkumpulah tiga pemimpin perusahaan ternama di kota A. Mereka bertiga juga merupakan sahabatan loh, semenjak kuliah hingga sekarang. Sekarang sudah memiliki pasangan masing-masing dan sudah punya anak.


"Aku gak nyangka, yang dulu cepat nikah Galvin. Eh tau sekarangnya Devan yang sekarang mau jadi calon kakek" Ujar Kenan seraya tersenyum.


"Dan kau kapan nyusul anak mu kan sudah matang juga umur nya" Balas Papi Devan seraya tersenyum. Kenan yang dapat perkataan seperti itu, tersenyum kecut.


"Siapa Karina? dia kan masih sekolah!" Ucap Kenan menyahuti.


"Bukan tapi Kevan.." Papi Devan mengeleng kepalanya melihat temannya, tidak menganggap putra sulungnya itu. Bukan gak di anggap cuman, lagi marahan aja. Nanti baikan balik.


"Ya gitulah anak itu.." Kenan tidak tahu berkomentar apa-apa tentang anak sulungnya itu. Yang masih ingin kebebasan sendiri.


Galvin pun cuman diam menyimak percakapan sahabatnya waktu kuliah itu. Kalau bisa dibilang Galvin itu irit bicara seperti Renaldy. Ia pun juga mempunyai seorang putri bernama Alviari Falestyn Mahendra. Tidak tahu berbicara topik apa.


Mereka pun membahas seputar bisnis.



Luziana yang sudah berada di ruang Mommy Liona. Mendapatkan lontaran perkataan yang gak enak. Dari ibu Sofia yang ingin anaknya menjadi menantu dari putra sulung Hervandez. Suami Luziana.



"Jeng dulu aku kira, anak kamu bakal di jodohkan dengan Riri loh. Melihat suami mu dekat dengan Tuan Galvin" Ucap Ibu Sofia dengan suara yang sengaja di besarkan.


__ADS_1


"Iya saya kira begitu juga.." Celetuk ibu badan berisi itu. Ya mereka gimana gak tahu coba tentang dua sahabat yang menjadi perusahaan ternama sekarang.



"Apalagi Riri kan cantik, terus putra Renaldy mu ganteng banget" Sambung Sofia lagi seraya melirik Luziana. Semua orang dapat mendengar apa ibu-ibu itu bicara kan.



Kinasih pun kayak gak suka dengan topik pembicaraan teman arisan nya itu. Kayak gimana gitu, dah jadi istri orang. Masa tetap di jodohkan dengan orang lain gitu. Di depan istrinya pula lagi.



"Tapi kan dia sekarang suami saya, kenapa kalian jodoh kan dengan orang lain" Ujar Luziana menyeletuk. Dia tidak suka suaminya, di jodohkan dengan orang lain. Apalagi orang yang cewek mereka jodoh kan itu. Ada berada di situ juga.



"Ouh maaf, saya bilang kira nya aja. Bukan maksud sebenarnya gitu" Balas Sofia yang seperti tidak suka. Ely anak yang ikut jadi bahan pembicaraan, juga turut gak suka. Karena gak enak hati dengan Luziana, apalagi dia itu lagi hamil. Pasti perasaannya jadi sensitif.



"Tapi tetap saja.." Lirih Luziana dengan raut wajah kesal. Ibu Sofia yang mendengarnya, mencebik kesal.



"Kalau boleh tahu, Luziana kan namanya! kerja apa?" Cecar Riri dengan sengaja. Semuanya tampak terdiam menunggu jawaban dari Luziana. Karena mereka itu semua, melihat menantu idaman itu. Yang wanita berpendidikan tinggi, dan berkarir.



Mommy Liona yang mendengar pertanyaan itu, mengigit bibir bawahnya. Ini lah pertanyaan Mommy Liona yang paling gak suka. Dan ini dia paling perdebatkan pas suaminya jodohkan putranya dengan Luziana. Karena takut nanti temannya bakal menanyakan status menantunya.




"Ibu rum-" Belum Luziana menyelesaikan perkataannya langsung di potong oleh Mommy Liona.



"Sudah hampir jam setengah sepuluh kalian tidak pulang.." Ucap Mommy Liona mengalihkan. Ibu-ibu itu saling menatap seraya tersenyum.



"Iya.. kami pulang dulu ya jeng" Pamit ibu-ibu itu. Mommy Liona mengangguk kepalanya mengiyakan.



Riri yang di berikan pertanyaan itu, menjadi kesal. Karena rencana dia jadi gagal.



Pas saat pintu keluar dari ruang rawat inap Mommy Liona. Terlihat Renaldy yang mau hendak masuk. Para ibu-ibu itu langsung heboh sendiri.



"Heih tuan Renaldy.." Sapa ibu-ibu itu seraya tersenyum malu. Melihat penampilan Renaldy yang masih mengunakan seragamnya. Yang terlihat gagah, dengan tangannya berotot. Dan rahang yang kokoh.

__ADS_1



"Baik.." Jawab singkat Renaldy dengan ekspresi datarnya. Ia pun langsung melangkah masuk setelah menyalami teman Mommy nya itu.



"Assalamualaikum.." Ucap Renaldy dengan suara bariton nya.



"Walaikumsalam.." Luziana menoleh mendengar suara yang sangat kenal. Namun langsung menoleh kembali, dan membetulkan selimut mertuanya.



Melihat istrinya yang nampak enggak menatapnya, merasa heran. Apalagi gak kayak biasanya. Biasanya Renaldy pulang kerja gini, Luziana langsung salaman dengan dirinya. Tapi sekarang gak. Cuman Tante Kinasih dan Karina yang salaman dengan nya.



Sementara Luziana sengaja sibukkan sendiri.



"Ayoo pulang.." Bisik Renaldy tepat daun telinga istrinya yang berbalut jilbab. Sontak Luziana jadi kaget, ia pun langsung mengelus dadanya.



Di dalam mobil, tidak ada satu pun di antara mereka bicara berdua. Yang ada di dalam mobil hening. Renaldy yang biasa pendiam yang merasa biasa saja merasa sunyi seperti ini. Cuman terdengar suara kendaraan di jalan raya.


Sementara Luziana yang menatap kaca mobil, yang terlihat jalan yang masih padat dengan kendaraan.


"Mas teman Mommy kamu kaya-raya semua ya!" Ujar Luziana membuka suara. Renaldy yang mendengarnya perkataan istrinya, mengerutkan dahinya.


"Iyaa.." Jawab Renaldy mengiyakan bahwa teman Mommy nya itu beruang semua.


"Emangnya kenapa?" Tanya Renaldy seraya meminum air kopi good day botol. Sekarang mobil mewah Renaldy sedang berhenti di lampu merah.


"Iya gak ada apa-apa? kamu ada gak sih ke pikiran menikah dengan anak mereka" Tanya Luziana seraya menautkan kedua jari tangan nya.


"Kamu bicara apa sih, gajelas aja?" Ucap Renaldy yang gak suka dengan topik pembicaraan istrinya. Ia pun kembali menancap gas mobil mewahnya.


"Aku kan cuman bilang kamu ada gak kepikiran menikah dengan anak teman Mommy kamu. Apalagi mereka kan kaya-raya semua. Terus kamu kerjanya jadi tentara pangkat jenderal. Ya pasti teman Mommy kamu, mana sih gak mau punya menantu seperti kamu. Kemudian pasti Mommy kamu senang anaknya nikah dengan wanita yang berkarir, berpendidikan tinggi. Aku bilang umpamanya ya. Mau gak sih Mas punya istri begitu. Kalau di bawa kemana-mana itu pasti gak maluin" Ucap Luziana panjang lebar.


"Ya menurut Mas sih seterah orang tua aja, apalagi Mas kurang mikir namanya percintaan" Balas Renaldy mengeluarkan pendapatnya. Luziana mengangguk kepalanya dengan ber'oh ria.


"Jadi malu kan pasti punya istri yang kerja apa-apa cuman ibu rumah tangga doang. Apalagi kenalin ke teman-teman dengan teman istrinya berkarir semua. Sedangkan kamu enggak" Ujar Luziana tersenyum getir.


"Maksud kamu apa sih? Mas gak ngerti. Gini ya buat apa kenalin teman-teman, bikin malu aja" Balas Renaldy sembari fokus nyetir mobil. Sementara Luziana mendengar jawaban, suaminya. Merasa suaminya malu punya istri kayak dirinya.


Maksud Renaldy bukan begitu, dia malu bawa istrinya. Takut di katakan oleh prajuritnya. Masa Jendralnya telan ludah sendiri. Dengan dia bilang pas balik ke kampung halamannya, gak mau menikah. Apalagi istrinya mengandung benih nya. Ya pasti di godain oleh mereka, kalau misalnya ada istrinya. Apalagi dia paling pasti ikut turut bertugas, tapi dia sendiri malah yang gak ikut.


"Ouh.." Luziana menangapi ber'oh ria seraya menahan sesak. Rasanya ia ingin mengeluarkan matanya di situ juga. Tapi dia sadar dia bukan apa-apa. Dia menikah karena hanya untuk membalas kebaikan orang tua suaminya. Tapi seperti menutup utang orang tuanya aja. Mama Safira pun berharap punya menantu kaya-raya. Tapi tidak sadar dengan anaknya yang seadanya. Banyak orang berharap begitu.


Apalagi Renaldy berpangkat jendral, dan juga berasal dari keluarga terpandang. Ya gak salah orang tuanya pengen, pendamping anaknya yang berkarir. Yang penting, anaknya bukan apa-apa. Pengen anaknya nikah sama yang lebih.


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa dukunganya 🖤🤫.


__ADS_2