
Suara pecahan gelas terdengar, karena ulah Karina. Cewek itu yang sedari hanya mendengar, mengangkat suaranya.
"Mending Lo diam aja Vega! gue tahu kok. Kalau Lo itu sok si paling kaya" Ucap penuh penegasan dari mulut Karina. Vega yang mendengarnya merasa tidak terima, siapa cewek itu dengan seenaknya memanggil dirinya dengan tanpa embel-embel kak. Padahal dirinya lebih tua dari pada adik kelasnya itu. Tapi Vega berusaha untuk diam saja, karena dirinya lebih baik menonton pertikaian Meysa dan Luziana daripada menambah masalah baru.
"Dan kalian semua, buta atau budeg! jelas-jelas Meysa sedang menghina teman sekolah kita. Kok kalian malah ikutan menghina. Gimana sih" Ucap Karina membela Luziana. Tapi semua murid itu tampaknya hanya diam mendengar perkataan Karina.
Meysa tersenyum miring. "Lo Karina mau ikutan kayak Luziana atau kayak gimana sih" Ujar Meysa dengan sorot mata meremehkan lawan.
"Kalau-" Belum melanjutkan perkataannya Luziana mengangkat sebelah tangannya, sebagai tanda untuk diam saja. Dia gak ingin temannya satu ini kenak imbasnya karena dirinya.
Meysa melihatnya menaikan alisnya. "Mungkin perlakuan gue kurang sopan, padahal gue cuman kasih uang untuk Luziana. So aku kasih dengan baik-baik" Ucap Meysa dengan tersenyum miring.
Meysa menepuk tangannya. Dan datang seorang pelayan dengan membawa uang dollar segepok. Ia pun mengambilnya, lalu ia pun mengasih uang itu ke Luziana.
Luziana hanya diam menatap uang segepok itu.
"Ambil... Jangan diam aja dong, gak ada uang beli gaun kan? ini gue kasih" Ia pun melempar uang itu ke Luziana. Uang itu pun mengenai wajah perempuan itu, dan jatuh berhamburan di lantai.
"Ini semua peringatan buat Lo, jadi jangan mancam-mancam sama gue" Bisik Meysa seraya tersenyum kemenangan.
Perempuan itu hanya bisa berdecak kesal dengan perlakuan adik iparnya. "Aku bilang! aku gak butuh uang kamu" Ucap Luziana dengan nada tinggi.
"Bukannya Lo bilang sendiri kan sama gue! kalau pergi acara ekskul nya menurut seragam ekskul nya masing-masing. Sekarang kenapa Lo jadi hina gue kalau gue pakai taekwondo. Seharusnya orang yang nyampainya itu harus di salahin bukan malah sebaliknya Lo hina gue" Emosi Luziana kini mengunakan kata Lo gue.
__ADS_1
"Sejak kapan gue bilang pakai seragam ekskul masing-masing. Orang ni semua aja pakai gaun masa Lo pakai baju taekwondo. Jadi yang salah itu Elo sendiri. Gausah malah menyalahkan orang. Kalau gak mampu beli gaun bilang rakyat jelata! bukan malah menyalahkan gue. Terus gue juga udah kasih uang untuk Lo. Tapi Lo sok jual mahal, padahal murahan" Cibir Meysa membalikkan fakta.
"Benar gak sih teman-teman" Tanya Meysa mencari pembelaan.
"Benar tuhh.... kami semua aja pakai gaun masa Lo sendiri yang pakai baju taekwondo. Ya berarti salah lo sendiri. Kenapa coba salahin Meysa, coba. Nampak kali dah coba munafik nya" Ujar salah satu yang Hadi di pesta itu.
"Mending Lo balik aja gih! kami gak butuh orang seperti Lo, yang bikin rusak suasana aja"
Meysa melangkah menuju panggung. "Udah jangan di hina lagi. Nantik nanggis dia, abis itu ngadu sama mamanya. Mama... liat itu orang ni hina Luziana hahaha" Meysa tertawa puas melihat kemalangan Luziana. Meskipun sudah di hina Luziana tetap diam di tempat tidak pergi. Karena kalau dirinya pergi kasihan uang lima jutanya, capek-capek minta, eh gak taunya malah jadi begini. Kalau tau gini, mending uang itu dia beli hal penting, daripada pergi acara ini
"Dah lebih baik kalian makan aja apa yang akan di hidangkan oleh pelayan" Ujar Meysa kepada semua orang. Para pelayan pun datang dan menghidangkan makanan di setiap meja. Mereka pun semuanya menikmati acara itu, dengan adanya suka musik yang mengiring.
Sementara Luziana memakan apa yang sudah di hidangkan oleh pelayan, sembari bodoh amat dengan tatapan sekitar, yang seperti tidak suka dirinya.
"Iya tuhh dah memang betul kata Meysa. Dasar cewek gak tau diri" Cibir mereka yang dapat di dengar oleh Luziana. Karina yang mendengarnya emosi, namun saat berdiri tangannya di tahan oleh Anita.
"Mending Lo gausah ikut campur biarkan aja mereka ngomong seperti itu" Ucap Anita, langsung dapat tatapan gak suka dari Karina.
"Lo kok gitu sih nita! teman kita lagi di hina seharusnya kita lawan mereka. Bukan malah diam saja disaat teman kita dihina" Tegas Karina.
"Tapi sekarang bukannya, waktu yang tepat kita melawan mereka Rin. Tapi kita malah tambah bikin masalah. Bukan menyelesaikan masalah. Lo tahu Meysa gimana kan, Meysa bukan tipe orang yang diam, kalau ada yang bantu musuhnya. Cewek kayak Meysa, susah di kalahin sekuat-kuat apa pun itu Lo sehebat apapun itu Lo. Lo di depan Meysa gak ada apa-apanya di mata dia. Apalagi kini banyak yang mendukung Meysa. Kalau kita melawan sekarang, sama aja Lo cari mati.." Karina yang mendengarnya langsung terduduk di kursinya. Benar apa yang di bilang Anita, sekarang bukannya tepat untuk melawan Meysa. Cewek itu pun menghela nafas berat.
Dari kejauhan Meysa memperhatikan Luziana sembari memutar gelasnya, yang berisi air soda.
__ADS_1
Luziana di setengah jalan lagi makan. Tiba berhenti, dia mengunyah pelan-pelan. Kayak merasakan yang aneh.
Huekkk...
"Apaan ni.." Luziana memuntahkan apa ia makan. Ternyata ia kunyah itu belatung. Dia tidak sadar kalau makanannya, yang di hidangkan ada belatung nya berserta ulat kecil-kecil. Apalagi cahaya ballroom tidak terang, tidak gelap, hanya sedikit kerlipan cahaya.
Tangannya pun segera, mengambil air minum di atas mejanya. Perempuan itu duduk di satu meja itu, hanya duduk seorang diri. Yang lain berempat. Luziana pun meneguk air itu yang terlihat seperti jus orange. Tapi rasanya pedas setengah mati. Perempuan itu pun langsung memuntahkan air tersebut.
Sial siapa sih lakuin ini terhadapnya. Ia pun menatap sekitarnya. Gak lain gak bukan, dalangnya Meysa. Meysa menaikkan alisnya sambil menatap Luziana.
Luziana yang dah gak tahan ini semua. Langsung keluar dari ballroom hotel. Semua orang menatap kepergian Luziana.
"Yahh... Dah pergi padahal ini belum ada apa-apanya Loh" Gumam Meysa seraya tersenyum Smirk.
"Kenapa Luziana pergi dah gak sanggup lagi kah. Masa sama Meysa aja takut, gak berani lawan" Ucap Salah satu cewek bernama Sella.
"Lo kira enak lawan Meysa. Walaupun badannya kecil, muka imut-imut tapi mancam t*ik. Tapi gitu-gitu tidak ada seorang pun berani melawannya. Dia itu salah satu anak orang paling kaya, nomor satu. Orang kayak Luziana yang gak ada apa-apanya mana bisa lawan Meysa. Sama aja dia, seperti membuat lubang jurangnya sendiri. Sekarang kita sudah melihat kekuasaan seorang Meysa Fiola Hervandez. Gue akui kayaknya gak ada yang bisa bandingin dia." Vega menatap Meysa yang sedang tertawa puas bersama temannya. Vega salah satu cewek yang tidak suka dengan Meysa begitu juga Luziana. Cewek ini satu, orangnya iri, dengki.
"Iya sih gue aja gak berani, dah asli" Celetuk Sella.
...----------------...
Tidak ingin bilang apa-apa, pengen romantis tunggu Meysa pergi petak. Karena dia penghalangnya.🥺
__ADS_1