
Seperti yang di tentukan oleh Meysa kalau malam ini dia bakal menemui sepupunya untuk bikin rencana untuk mencelakai Luziana. Melihat pelukan tadi Luziana dan Mommy Liona, membuat Meysa yang sebenarnya membenci Luziana sekarang makin membencinya. Sekarang dia akan menghempaskan wanita itu jauh-jauh.
Meysa dengan tampilan wajah di tutup dan sedang duduk di cafe, mendengar suara riuh, khususnya untuk kaum wanita. Dia tahu bahwa itu sudah menandakan sepupunya sudah datang. Langit yang seperti tampil biasa, merasa bodo amat mendengar suara riuh wanita tersebut yang tertuju untuknya.
"Jadi tujuan apa Lo ngajak gw kesini" Tanya langit to the point seraya mendaratkan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Meysa.
Meysa yang melihat sepupunya sok cool tersenyum tipis.
"Santai gausah buru-buru amat" Ucap Meysa dengan santai. Langit memutar bola matanya malas, Meysa itu kalau butuh doang manggil sepupunya, kalau gak butuh mana ingat itu dengan dirinya.
Langit menghela nafas pelan, lalu memanggil maid di cafe tersebut.
"Mbak cafe latte satu ya.." Pesan Langit kepada wanita maid tersebut.
Maid tersebut pun mengangguk kepalanya mengiyakan.
"Ada lagi?" Tanya maid tersebut.
"Gak ada itu aja" Sahut langit singkat. Tanpa berbicara panjang lagi, maid tersebut pun meninggalkan meja mereka. Dan beberapa menit kemudian maid tersebut datang kembali membawa pesanan, apa yang di pesan oleh langit.
"Terimakasih.." Ucap langit biasa saja. Maid wanita itu pun mengangguk kepalanya mengiyakan dan kembali meninggalkan meja mereka. Kalau tanya kenapa maid wanita tersebut seperti tidak terpanah dengan ketampanan langit? soalnya, dia takut melihat tatapan Meysa ke dirinya. Kayak merasa risih seperti itu. Jadi makanya wanita itu gak berani lama-lama di situ.
Meysa yang merasa sudah aman pun, membuka penutup wajahnya. Dan lalu membuka suara apa tujuan awalnya mengajak sepupunya bertemu.
"Jadi gini, gue ingin minta tolong sama Lo" Pinta Meysa kepada sepupunya itu.
"Minta tolong? minta tolong apa?" Tanya langit seraya mengerutkan dahinya.
"Gue ingin minta tolong ke Lo untuk mencelakai Luziana" Langit yang ekspresi datar, kini tampak terkejut.
"Hah maksudnya?" Tanya balik langit yang masih belum paham.
"Gue ingin minta tolong sama Lo untuk mencelakai Luziana, gue ingin bunuh dia kek!" Ketus Meysa seraya mengibaskan rambut panjangnya.
__ADS_1
"Hah bunuh dia? gila Lo?" Langit tampak seperti terlihat gak nyangka kalau Meysa bakal minta bantuan kayak gini padanya.
"Iya kalau gue gila kenapa.." Balas Meysa dengan suara yang naik beberapa oktaf. Di situ tidak ada mendengar perbicangan mereka karena mereka sedang berada di ruang VIP. Jadi tidak bisa asal masuk.
Langit mendengarnya tertawa remeh.
"Lo pengen bunuh dia? gak nyangka gue musisi kayak Lo ada niat bunuh orang" Ujar langit santai seraya menyesap kopi cafe latte nya.
"Gue serius Langit.. jadi tolong gue. Lo mencelakai kayak gimana terserah deh. Yang penting Luziana mati. Kalau gak cacat atau gak masuk rumah sakit" Setidaknya bagi Meysa tidak bisa membunuh Luziana, dia ingin bayi di dalam kandungan Luziana mati.
Langit tersenyum Smirk mendengarnya.
"Lo ada dendam apa sih sama dia? sampai segitunya Lo gak suka sama Luziana" Tanya Langit dengan rasa penasaran.
"Ya gue gak suka sama dia itu banyak deh, dia itu udah merebut perhatian keluarga gue, sudah merebut posisi gue. Dan pokoknya rakyat jelata itu sudah merebut semua kebahagiaan gue. Jadi gue gak ingin dia itu muncul lagi di hadapan gue" Ujar Meysa dengan menggebu-gebu.
"Merebut perhatian keluarga Lo? maksudnya" Langit menaikkan alisnya yang tidak mengerti maksud, merebut perhatian keluarganya Meysa. Padahal Luziana itu gak ad hubungan apa-apa kan sama Meysa. Ya kalian pasti tahu kalau Langit belum tahu kalau Luziana itu istri Renaldy, kakaknya Meysa. Termasuk sepupunya juga.
Langit bukannya malah makin mengerti tapi malah makin bingung.
"Terus apa kaitan dengan pernikahan kakak Lo" Lontar pertanyaan dari Langit.
"Si Luziana itu istri kakak gue, yang menikah sama kak Al" Langit yang mendengarnya sontak kaget.
"Lo gak bohong kan?" Tanya langit memastikan.
"Enggak lah ngapain coba gue bohong, bilang aku-akuin kalau Luziana itu yang menikah sama Kakak gue. Gajelas aja" Balas Meysa santai seraya menyeruput jusnya yang berada di atas meja.
Langit yang melihat seperti tidak ada kebohongan dari Meysa. Menghela nafas pelan.
Berarti benar dong dugaan gue selama ini. Kalau Luziana itu istri kak Renaldy. Gumam Langit di dalam hati.
"Dan jangan nanya sama gue bagaimana mereka bisa menikah" Sambung Meysa yang melihat kerutan di dahi Langit.
__ADS_1
Lamunan langit pun buyar.
"Meysa.. lebih baik Lo gausah lakuin niat hal konyol Lo itu" Ujar langit penuh penegasan.
Meysa yang mendengarnya tertawa remeh.
"Lo kenapa sih? takut sama Luziana karena, dia itu istri kak Al gitu.." Meysa menaikkan alisnya sebelah, dan membutuhkan jawaban dari sepupunya itu.
"Gue bukannya takut, tapi lebih berhati-hati aja. Dan juga buat Lo lebih baik gausah lakuin niat itu" Tutur langit dengan ekspresi kalut.
"Lo ada berhak apa bisa larang-larang gue. Kalau gak mau bantu yaudah its oke. Lo cukup nutup mulut aja tentang pembicaraan ini" Tukas Meysa mengakhiri. Dia pun bangkit dari kursinya. Namun sebelum pergi dia di tahan oleh langit.
Meysa menatap langit dengan tatapan penuh tanda tanya.
Langit menghela nafas berat, melihat keras kepalanya Meysa.
"Gue bakal bantu Lo.." Meysa yang mendengarnya tersenyum sumringah.
"Maksudnya? yang jelas dong ngomongnya" Meysa menaikkan alisnya sembari tersenyum.
Langit mencebik kesal sebelum melanjutkan perkataannya.
"Gue bakal bantu Lo mencelakai Luziana, puas!" Ketus langit dengan lantang.
"Gitu dong dari tadi.." Balas Meysa seraya tersenyum.
Dan tanpa mereka sadari, kalau ada sosok pria yang sedang menguping pembicaraan mereka.
Bersambung..
...----------------...
jangan lupa follow Instagram author: maulyy_05
__ADS_1