Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Murni anak dari hasil pernikahan


__ADS_3

"Gue kan cuman bilang, bukan ngurusin hidup orang. Dan cuman hanya sekedar komentar. Kan Luziana itu masih SMA anak sekolah. Nampak seperti anak yang baik-baik. Masa tiba-tiba sekarang lagi hamil. Gak malu apa. Orang ngejar cita-cita dulu, ni hamil dulu. Keren sih emang. Terus pasti orang tuanya kasian, capek-capek sekolahin anaknya. Tapi anaknya udah lakuin itu. Rugi orang tuanya punya anak kayak Lo" Ujar Riri mencibir. Dia belum tahu kalau Luziana itu dah nikah dengan kakaknya Meysa. Padahal tadi ada di bilang, kalau Luziana itu istri Renaldy. Tapi kayak gak percaya.


Luziana yang mendengarnya merasa sedikit tersindir.


"Apa kamu tidak dengar kalau aku tuh, istrinya teman kamu itu?" Balas Luziana dengan nada naik beberapa oktaf.


"Dengar kok, gausah Lo bilang, gue mah dah paham. Gue tau dah Lo bukan perempuan baik-baik. Perasaan waktu Lo sekolah itu gak ada perut Lo buncit begini. Terus kapan kalian nikahannya, Kenapa gak ngundang kita-kita coba.." Riri menatap sinis Luziana dari kepala sampai ujung kaki.


"Kalian kenal?" Tanya Salah satu anak gadis bernama Fika.


"Gimana gak kenal coba! dia itu sekolah sama gue" Ujar Riri menyahuti.


"Ini maksudnya gimana satu sekolah sama Lo? bukannya dia itu lebih tua dari Lo ya" Ucap Bingung Fika. Dia kirain usia Luziana itu sudah lebih tua dari pada mereka, melihat status Luziana sudah menikah. Ya walaupun muka Luziana masih terlihat anak gadis muda gitu.


"Dia itu seumuran sama gue, mana ada dia lebih tua. Dia itu masih anak seko-" Saat Riri ingin melanjutkan perkataannya namun sudah di potong dulu.


"Kamu bisa diam gak Riri, itu urusan aku mau menikah muda atau tidak bukan urusan kamu, jadi tolong pliss jangan seenaknya menjelekkan aku. Aku hamil itu murni dari hasil anak dari pernikahan kami. Bukan hamil di luar nikah" Luziana menatap Riri dengan sorot mata tajam. Sayangnya lawannya menatap begitu juga.


"Ouh iya, menikah muda ya, bukannya menikah dini" Balas Riri yang tak mau kalah.


"Saveg.." Celetuk gadis bernama Mita. Semua pandangan pun menuju ke arah Mita. Cewek yang bernama Mita itu heran melihat mereka menatap ke arah dirinya.


"Kenapa kalian menatap aku seperti itu ada yang salahkah?" Tanya Mita seraya membetulkan kacamata nya. Terlihat gadis itu memakai kacamata warna pink dan cocok dengan perempuan itu, tapi kacamata nya itu betul kacamata mata minus. Kadang gak semua cewek yang memakai kacamata itu terlihat cupu. Ada juga yang terlihat cantik, mengunakan kacamata. Kadang juga tergantung wajahnya mungkin, atau warna kulitnya yang putih dan juga tergantung dengan model kacamata seperti apa dia pakai.


"Luziana.." Panggil Kinasih kepada menantu temannya itu.


"Iya, ada apa?" Tanya balik Luziana seraya menaikkan alisnya.


"Tolong kamu belikan, Snack lagi boleh nak?" Pinta Kinasih.


"Hei jeng Kirana, gausah lagi ini dah cukup kok makanan ringan nya!" Ujar ibu rambutnya sebahu itu.


"Gak papa kok, ini aja kayaknya belum cukup" Balas Kinasih seraya tersenyum. Ia pun kembali menatap menantu temannya itu.


"Boleh.." Jawab Luziana mengiyakan.


"Ini uangnya..." Kinasih mengeluarkan uang merah beberapa lebar dan kasih ke Luziana. Namun Luziana menolaknya.


"Gausah Tante, pakai uang Luziana aja.." Tolak Luziana dengan halus. Riri yang mendengarnya memutar bola matanya sinis.


Gausah Tante, uang Nye akai uang Luziana aja. Gumam Riri mencibir. Luziana yang masih berdiri di depan meja bundar. Dapat mendengarnya. Begitu juga Karina yang duduk satu sofa panjang mereka.


"Ouh yaudah deh, makasih ya.." Luziana mengangguk kepalanya. Lalu ia pun keluar dari ruangan VIP itu. Riri yang melihat Luziana ingin ikut keluar.


"Riri mau kemana kamu?" Tanya Ely merupakan ibu tiri Riri. Riri yang di lontarkan pertanyaan, tidak menjawab nya. Langsung keluar dari ruangan VIP. Ibu-ibu yang melihatnya tidak bisa berkomentar apa-apa tentang anak dari pengusaha kaya raya itu.


Pandangan itu tak luput dari Mommy Liona. Mommy Liona pum ya juga gak tahu berkomentar apa-apa. Tapi juga gak ada firasat bahwa misalnya menantunya bakal di celakain oleh Riri. Ya kenapa gak berfirasat seperti itu. Karena anaknya itu teman baik dengan Riri. Ya pasti gak mungkin dia ikut juga turut gak suka sama Luziana kan. Meskipun Mommy Liona sedikit tahu keburukan Riri. Maksudnya Riri gak akan terjerumus kayak Meysa, ikut-ikutan gitu.




Luziana yang baru selesai, membeli Snack. Tiba-tiba di hadang oleh Riri.



"Hey rakyat jelata, itu kan nama yang sering di ejek oleh Meysa kepada lu kan. Btw gue mau nyebarin ke teman-teman sekolah bahwa lu dah nikah, dan sekarang tengah hamil" Riri yang menunjukkan foto Luziana yang baru keluar dari mini market



"Ini sebagai bukti apa penyebab Lo gak sekolah lagi" Riri tersenyum Smirk menatap Luziana.

__ADS_1



"Riri hapus gak, dan jangan kamu berani macam-macam nyebarin itu foto" Luziana gak ingin teman sekolahnya, tau kalau dirinya dah nikah. Apalagi tengah hamil sekarang.



"Kalau gak mau gimana?" Riri menatap Luziana dengan tatapan merendahkan. Luziana yang gak terima, ingin mengambil ponsel Riri.



"Heih gak bisa.." Riri pun berusaha menyembunyikan ponselnya. Padahal Riri itu pendek ntah kenapa Luziana susah mengambilnya.



"Hapus gak Riri" Ucap Luziana dengan nada yang tinggikan.



"Dah gue, bilang gak mau gak mau lah. Maksa amat, udah gak papa aku cuman ingin kasih tahu teman sekolah doang kok kan gak papa. Tadi katanya bayi di dalam kandungan Lo murni hasil dari dalam pernikahan kalian. Kok di sebarkan foto doang gini panik. Apa mungkin hasil dari luar nikah. Ck' CK, miris banget liat Lo Luziana. Dan satu lagi, jangan banyak gerak loh lun nanti keguguran loh. Apalagi emosi-emosi gini" Ujar Riri seraya tertawa terbahak-bahak.



Tanpa mereka sadari, Renaldy sedang berjalan tepat mereka sedang berdebat itu. Pas sekali di depan Renaldy itu Luziana dan Riri. Cuman terhalang jarak beberapa meter doang. Ya lumayan jauh di katakan, tapi kalau padangan fokus ke depan langsung tahu. Tapi Renaldy lihat segala arah, gak cuman fokus ke depan aja. Dan Luziana posisi nya pun membelakangi.



"Al.." Panggil Papi Devan kepada anak sulungnya itu. Dan kalau di tanya Papi Devan juga gak tahu kalau ada Luziana dan Riri di situ.



Renaldy langsung membalikkan badannya, dimana suara itu berada. Ia pun menaikkan alisnya menatap Papinya.




"Baru habis dari kantor militer" Balas Renaldy dengan ekspresi datar. Papi menangapi nya dengan ber'oh ria.



"Al ada yang Papi ingin ngomongin sama kamu, tapi gak bisa disini. Mending kita kantin dulu" Ujar Papi Devan lalu di anggukan kepala mengiyakan oleh Renaldy. Mereka pun langsung keluar yang tidak jauh berapa langkah, ya memang pintu masuknya di katakan, searah dari minimarket Luziana beli Snack tadi.



Luziana dengan nafas terengah-engah, menatap Riri. Tubuhnya kini sudah berkeringat gara-gara ulah Riri.



"Kamu ada masalah apa sih sama aku, aku kayaknya gak pernah ganggu kehidupan kamu. Coba kamu itu bilang sama aku, kamu benci dari aku itu darimana nya. Biar aku perbaiki, bukannya kamu lakuin layak gini. Apalagi nyebarin itu foto" Mata Luziana kini sudah terlihat berkaca-kaca.



"Kan aku sudah bilang ingin kasih tahu teman sekolah doang kok, apa yang salah coba" Balas Riri santai.



Luziana menghela nafas berat.



"Aku tahu, apa yang aku lakukan itu salah. Seharusnya aku gak nikah di umur aku masih begini. Seharusnya aku umur begini itu fokus sekolah. Tapi aku lakukan ini karena terpaksa, aku di paksa oleh orang tua aku. Jadi aku gak bisa nolak nya?" Luziana masih berusaha mengambil ponsel itu dari tangan Luziana.

__ADS_1



"Kalau terpaksa? kenapa Lo cepat hamil coba. Kalau gak lakuinnya itu bukannya sama-sama mau?, kayaknya alasan Lo itu gak masuk akal deh. Gak mungkin keluarga kaya raya terpandang seperti Hervandez itu mau menjodohkan putra sulungnya dengan perempuan seperti itu Lo. Yang setidaknya Lo itu ngaca Lun, Lo sendiri tau kan kalau Meysa itu benci sama Lo. Herannya gini Lo masa mau menikah sama orang, adiknya itu benci sama Lo. Kalau perempuan masih waras ya pasti gak mau lah, nanti takutnya rumah tangga nya, gak tenang. Dan alasan yang paling tepat itu Lo nikah sama Tuan Renaldy hanya untuk membalas dendam kepada Meysa kan. Bukan begitu nona?" Ujar Meysa dengan panjang lebar.



"Untuk mecapai kekayaan sesungguhnya dengan cara yang mudah. Dengan menjebak, dengan mengatakan kalau Lo itu hamil anaknya. Padahal anak dari hasil dari Pria lain" Luziana yang tak tahan mendengarnya, menampar pipi Riri. Namun langsung di tahan oleh Riri sendiri.



"Lo salah kira lawan lun, Lo pernah dengar gak, kalau Meysa yang sehebat itu, berlindung di belakang gue" Ucap Riri dengan tersenyum bangga.



"Apa aku seburuk itu di matamu, sehina itu sampai, serendah itu, dan paling miskin. Kayaknya aku gak boleh menikah dengan Pria kaya raya, dari keluarga terpandang. Bukan begitu maksud mu, bukannya ibu mu termasuk dari golongan aku juga" Riri yang mendengarnya, api dalam dirinya langsung berkobar.



"Jangan pernah sekali-kali, kau menghina keluarga aku. Apalagi ibu aku. Kalau kau masih ingin hidup sekarang. Gue bisa, aja bunuh Lo sekarang, tapi gue masih ada rasa kasian sama Lo" Balas Riri dengan emosi berkobar. Luziana langsung menarik tangannya, kembali.



"Benar kata orang, kalau Lo itu, hina orang lain boleh. Di giliran Lo di hina balik marah. Itu yang aku rasakan sekarang" Ucap Luziana. Ntah kenapa perut Luziana mulai terasa sakit.



Riri yang mendengarnya merasa sangat tertampar. Dengan apa Luziana bilang. Melihat jadi pusat perhatian orang-orang. Dia langsung meninggalkan Luziana di tempat.



...----------------...



Maaf author dah bikin kalian kecewa. Gak bisa update banyak-banyak, ya kalau crazy up gak mendukung banget. Baterai sekarat, charger pun cuman satu-satu itu pun masih bagi-bagi dengan keluarga. Tangan pun cepat kebas. Otak pun gak mendukung banget. Maaf ya.



Makasih udah masih mau dukung.



*Jangan lupa mampir karya baru author. Judulnya Tokoh utama antagonis.



Dan jangan lupa dukungan lainnnya.



Like



komentar



hadiah


__ADS_1


Rating limanya jangan lupa 🌟, tolong bantu author naikin balik*.


__ADS_2