
Meysa berjalan begitu cepat melihat orang yang, ia benci terlihat berjalan begitu santai.
"Auuh..." Luziana meringis, tiba-tiba ada yang mencengkram erat lengannya.
"Dasar tukang ngadu! Lo kan yang nyuruh kakak gue blokir itu kartu," Pekik Meysa kesal dengan aura kemarahan yang begitu menyeruak.
Luziana yang tidak maksud Meysa apa yang di bilangnya, mengeryitkan dahinya heran, tapi itu tidak tahan lama karena Meysa makin menguatkan cengkraman tangannya.
"Auhh lepasin Meysa" Luziana yang berusaha mencoba melepaskan tangan Meysa yang berada di lengannya tidak bisa. Cewek itu terlalu kuat mencengkram lengannya.
"Gak bakal gue lepasin ni tangan Lo sebelum menjawab pertanyaan gue. Lo kan yang nyuruh kakak gue blokir itu kartu" Ulang Meysa dengan tatapan nyalang.
"Gak ada! aku gak ada nyuruh kakak mu blokir kartu" Ucap Luziana dengan nada masih bingung. Kartu apa yang di maksud Meysa. Perasaan dirinya menyuruh suaminya blokir kartu. Tapi kenapa Meysa menuduhnya.
"Alah gausah bohong Lo. Gak ada lain selain Lo yang nyuruh" Sentak Meysa. Padahal Renaldy sendiri yang ingin blokir kartu kredit itu tanpa di suruh sama siapa-siapa. Tapi tetap saja Meysa menuduh Luziana bahwa perempuan itu yang telah menyuruh Kakaknya atau menghasutnya.
"Terus Lo itu minta di nafkahi sedangkan Lo aja gak nafkahi batin kakak gue. Emang istri gajelas Lo" Luziana yang mendengarnya menjadi emosi ia pun menghempaskan tangan Meysa yang mengecekram lengannya. Akhirnya terlepas.
"Nafkahi batin kakak kamu. Bukannya kamu sendiri larang aku untuk berhubungan suami-istri dengan kakak kamu. Bukan begitu Meysa. Kalau kamu bilang nafkahi batin kakak kamu dulu. Bisa kok aku lakuin, terus aku hamil deh" Luziana tahu Meysa cuman hanya ingin mengertakan dirinya saja. Tapi Luziana tidak suka mendengar, membawa hal yang tentang, selalu ia berusaha hindari. Lagipun kenyataannya Meysa kemarin itu melarang dirinya berhubungan suami-istri dengan kakaknya. Pasti ada hal yang di sembunyikan.
Meysa mengepal tangannya kuat. Dan mengacungkan jari telunjuknya. "Lo gak boleh berhubungan suami-istri dengan kakak gue. Apalagi sampai hamil. Misalnya itu terjadi.." Meysa terdiam sejenak dan menghirup udara dalam-dalam.
"Lo dan bayi Lo gue bunuh" Sambung Meysa dengan tatapan tajam. Seketika aura menjadi semakin mencekam. Luziana terperanjat kaget, mendengar perkataan seperti itu dari mulut Meysa.
"Gue gak main-main ya Luziana. Ini peringatan buat Lo, kalau Lo gak ingin nyawa dan misalnya bayi di kandungan Lo melayang. Lebih baik Lo gausah berhubungan suami-istri. Apalagi sampai hamil. Kasihankan misalnya Lo tuh hamil kemudian bayi di kandungan Lo itu gak bisa melihat dunia. Dan sekalian Lo nya gue bunuh. Encamkan itu baik-baik" Peringatan tegas Meysa kepada Luziana.
__ADS_1
Luziana mendengarnya melongo lebar. Gila memang ini perempuan membunuh dua orang sekaligus.
"Lo gila ya kalau aku misalnya hamil. Anak yang di kandungan aku tuh anak darah daging kakak mu sendiri. Masa kamu tega membunuh anak darah daging kakak kamu sendiri. Terus kamu ingin aku juga ikut turut mati, stres memang lo" Ucap Luziana yang gak habis pikir dengan jalan pikir Meysa.
"Adakah gue terlihat peduli? ada!. Enggak kan ngapain juga gue peduli, punya ponakan dari rahim Lo, najis tahu gak sih!. Lagipun misalnya Lo sama anak yang di dalam kandungan Lo mati. Malahan itu bagus loh! Kakak gue bisa nikah dengan wanita lain yang lebih waw gitu. Yang sederajat dengan kami, yang kaya raya. Bukan wanita kumuh kayak Lo. Misalnya kakak gue nikah sama wanita yang model yang cantik-cantik pasti anaknya juga pasti bagus-bagus. Apalagi keturunan sama halnya dengan kami keturunan orang kaya. Bukan kayak Lo" Ujar Meysa menghina dengan panjang lebar.
Luziana yang mendengarnya terpaku diam. Saat ingin membalas perkataan Meysa, tapi dengan cepat Meysa memotongnya
"Ak-"
"Jangan bilang Lo gak takut dengan ancaman gue. Lo tahu artis penyanyi remaja terkenalkan. Yang pasti tahu lah iya kan. Siapa lain kalau bukan gue sendiri. Jadi dengan kekuasaan gue. Dan juga gue gak perlu pakai uang orang tua gue untuk menghapus jejak kematian Lo, gue buat kematian Lo itu seolah-olah Lo bunuh diri. Lo tinggal bilang mau mati kayak gimana sama bayi kandungan Lo mati di mengenaskan. Apa di siksa dulu baru mati. Seru bukan jadi Lo itu gak mati sendiri ada anak Lo yang ikut turut pergi sama Lo." Meysa seorang artis remaja terkenal dia sekali konser di bayar beberapa milyaran rupiah dan dolar. Dan banyak orang ngefans dengan Meysa. Dengan kekuasaannya dia berusaha menutupi misalnya kematian Luziana. Kemudian kenapa? dia tidak mengunakan uang orangtuanya saja. Karena itu bakal cepat ketahuan siapa di balik pelaku pembunuhan itu. Itu sudah terpikir otaknya Licik bukan?
"Stress kamu ya" Sebenarnya Luziana takut dengan ancaman adik iparnya itu apalagi dengan tatapan wanita itu yang tidak kayak biasanya. Tetapi ia berusaha untuk tetap tenang.
"Stres? hahahaha... gue gak stres kalau Lo yang gak minta kayak gini. Ingat seorang psikopat membunuh orang tanpa kasih peringatan atau sebuah pemberi tahuan gitu, dan letak salah korbannya di mana itu dia tidak memberi tahu. Mungkin saja ada tapi kemungkinan kebanyakan orang tiba-tiba langsung di bunuh begitu saja. Jadi gue itu bukan psikopat gue itu sudah kasih peringatan Lo baik-baik. Jangan berhubungan suami-istri dengan kakak gue. Apalagi sampai Lo hamil. Sudah gue kasih peringatan. Misalnya gue bunuh Lo. Sudah tahu kan letak kesalahan Lo dimana?" Tanya Meysa dengan senyuman sinis.
"Dan kayaknya lo daripada di atas ranjang lebih bagus jadi istri tersiksa. Pasti nikmat sekali bukan jadi istri tersiksa. Bukan begitu Rakyat jelata." Ledek Meysa sembari tertawa renyah.
Luziana yang mendengar ancaman Meysa yang begitu cermat. Merasa takut, gimana coba gak takut dia ingin membunuh dua nyawa sekaligus. Apalagi ada sosok nyawa yang tidak berdosa. Dan tidak mempunyai atas kesalahan ini. Tapi perempuan itu berusaha untuk tidak takut. Lagipun tidak perlu di ancam Meysa, Luziana sudah menghindarinya dari dulu untuk tidak melakukan intim sebelum sekolahnya selesai. Jadi dirinya tidak perlu takut, tidak ada nyawa yang tidak berdosa di pertaruhkan.
Ujung bibir sebelah Luziana terangkat. "Ouh iya kamu ingin bunuh aku. Silahkan bunuh saja kalau berani. Lagipun aku gak takut dengan ancaman kamu kenakan itu" Ujar Luziana dengan tertawa sinis.
Kenakan? ternyata Luziana lumayan licik juga. Berusaha memancing emosinya. Rasanya ia ingin sekali menjambak rambut perempuan itu. Saat ingin menarik jilbabnya. Terdengar suara panggilan seseorang.
"Luziana..." Panggil Karina sambil melambaikan tangannya suruh kemari. Luziana pun menoleh kebelakang yang terdapat temannya memanggil dirinya itu. Mereka kini itu berada di sekolah. Meysa sudah sangat menanti-nanti meluapkan emosi ini saat di rumah. Karena di rumahnya ada keluarganya jadi dia tidak berani melakukan itu. Makanya ia lakukan di sekolah lagipun di tempat mereka berdebat lagi sepi.
__ADS_1
Luziana pun berjalan mendekati kawannya itu. Meninggalkan Meysa yang sedang tengah sangat kesal.
"Dasar rakyat jelata" Meysa yang kesal menyepak tong sampah berada dekatnya. Dan sebuah kaleng dari tong sampah yang meysa sepak mengenai salah satu guru.
Bruk
"Aduh"
Meysa mengatup mulutnya dengan kedua tangannya. Melihat kaleng itu mengenai salah satu guru paling killer di sekolah ini. Dengan cepat-cepat Meysa pun kabur dari situ sebelum Bapak itu melihat dirinya.
Nico yang lagi tengah tersenyum sumringah yang berjalan mendekati Meysa. Mengeryitkan dahinya melihat Meysa yang sudah berjalan meninggalkan tempat itu.
"Meysa...." Panggil Nico tetapi cewek itu menggubris panggilan darinya.
Tiba-tiba ada seseorang menepuk bahunya.
"Ehem Nicoo.."
...----------------...
Jangan lupa dukunganya biat Author semangat update
Like
hadiah
__ADS_1
KOMENTAR
JANGAN LUPA GIFT HADIAHNYA DAN VOTENYA YA DAN RATE BINTANG LIMANYA 🤗😘