Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Introspeksi diri masing-masing


__ADS_3

Di sebuah cafe, Renaldy nampak sekali-kali menceritakan masalahnya kepada Kevan. Kevan yang mendengarnya mengangguk kepalanya paham.


"Sifatnya kekanakannya itu sudah kelewatan batas, masa iya soal tentang urusan kerja aja marah" Cerita Renaldy yang tak paham lagi dengan sifat istrinya.


"Tapi dia mungkin pengen, kau gak di ambil wanita lain. Makanya gak izinin" Menurut pendapat Kevan yang di ada dalam pikirannya. Kenapa Luziana tidak mengizinkan, suaminya memberikan nomor ponselnya ke wanita lain.


"Walaupun begitu setidaknya urusan kerja, jangan harus di ikut campur. Dia itu harus bisa bedain yang mana untuk program kerja atau bukan" Ucap Renaldy yang tertuju untuk Luziana. Yang kurang mengerti apa yang di inginkan Renaldy, suaminya.


Kalau urusan kerja sih, Kevan gak terlalu ikut campur. Soalnya kalau urusan kerja Renaldy terlalu disiplin. Dan paling gak bisa di ganggu. Dia memang sudah terlahir dari keluarga kaya. Tetap saja dia pengen dapat hasil dari kerja dia sendiri. Memang dasarnya pria itu pekerja keras. Dan juga banyak orang yang kagum dengan hasil kerjanya yang memuaskan.


"Namanya aja dia butuh perhatian Lo Renaldy. Gini aja, Lo kalau ingin di hargai. Pertama yang harus dilakukan adalah menghargai orang dulu. Baru orang bakal ngehargain Lo. Begitu sebaliknya, kalau Lo pengen minta di ngertiin, kamu harus ngertiin istri mu dulu" Ujar Kevan memberikan penjelasan.


Renaldy yang mendengarnya, menghela nafas berat.


"Kalian itu bentar lagi, bakal menjadi ayah dan ibu. Coba saling introspeksi diri sendiri, Luziana itu dulu kurang dapat keadilan dari keluarganya" Belum Kevan menyelesaikan pembicaraannya langsung di potong oleh Renaldy.


"Kurang dapat keadilan maksudnya?" Tanya Renaldy dengan tatapan bingung.


"Ya kurang dapat keadilan dari keluarganya. Aku juga kurang tahu ceritanya bagaimana, lagipun aku di ceritakan oleh Karina" Jawab Kevan seadanya.


Renaldy pun mengganguk kepalanya paham. "Dan saya juga, gak paling suka dari dia. Suka menjelekkan keluarga saya, saya tahu mereka sikapnya buruk, seharusnya tidak usah harus menjelek-jelekkan" Ucap Renaldy. Daripada di pendam sendiri, lebih baik cerita ke orang terdekat. Mungkin aja dapat solusinya. Renaldy menceritakan masalah keluarganya, bukan bermaksud apa-apa biar dia bakal bisa lebih mengerti menghadapi sikap Luziana, yang sifatnya beda daripada wanita umumnya. Menurut Renaldy pikiran pria itu.


Kevan mengangguk kepalanya paham. Dia sangat mengerti apa yang dimaksud Renaldy.


"Namanya juga dia sebenarnya masih remaja, kau harus bisa banyak mengerti dengan sifatnya. Kau juga Renaldy, harus pandai-pandai menghadapi sifatnya, bagaimana kau harus bersikap yang gak bikin dia sakit hati."




Selesai pembicaraan tadi dengan Kevan. Membuat Renaldy sedikit merasa berbaikan. Ia pun memutuskan pulang ke rumah mewah nya. Saat sampai di rumah, pintunya di buka oleh Luziana.



Luziana menatap suaminya dengan tatapan sendu, dia tahu kalau, dia disini yang bersalah.



"Mas maafin aku ya, aku gak bermaksud menjelekkan mommy dengan Meysa kok" Ucap Luziana dengan nada lirih.


__ADS_1


"Mas maafin!" Luziana yang mendengar perkataan suaminya yang memaafkan matanya langsung berbinar. Tetapi tidak untuk detik kemudian.



"Mas maafin tapi ada syaratnya, kamu harus berubah sekarang. Mas gak ingin lihat sifat yang terlalu kekanakan kamu itu lagi. Kamu itu harus, berubah. Kamu harus bedain yang mana urusan kerja atau bukan. Mas tahu, kamu sebenarnya masih remaja. Dan masih keinginan bermain dengan dunia mu. Tetapi sekarang itu sudah berbeda, kamu dan aku itu sudah menikah. Mas gak akan mengekang kamu lagi, kamu harus bisa bedain sendiri yang mana buruk bagimu dan yang mana gak" Renaldy mengehela nafas sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.



"Mas bakal introspeksi diri juga. Tapi soal kerjaan kamu harus ngerti. Misalnya mas bukan pekerja abdi negara sekarang. Kita harus makan dari mana, kalau bukan hasil kerja itu. Dan waktu untuk kamu mas bakal luangkan tapi tidak bisa untuk setiap hari sehari dua hari mas bakal usahakan. Tapi untuk lebih dari itu mas gak bisa. Dan mas bisa jadi sekarang, karena berkat orang tua, kalau bukan dari mereka siapa lagi. Jadi kamu gak sepatutnya menjelekkan mereka. Mas tahu kalau Mommy pernah yang tidak enak didengar oleh mu. Tapi mas ingin kamu harap maklumi aja" Ujar Renaldy dengan panjang lebar.



Luziana yang mendengarnya mengganguk kepalanya paham. "Emang aku, sifatnya kekanakan sampai segitunya ya, sampai membuat mas risih" Ucap Luziana menatap suaminya dengan matanya mulai berkaca-kaca.



"Iya, malahan banget" Jawab Renaldy yang tidak ada keraguan dalam dirinya.



Luziana menarik kedua sudut bibirnya. "Aku paham kok apa mas bilang, nanti aku usahakan untuk berubah"




"Ayoo mas makan malam tadi aku habis aja masak" Ajak Luziana. Renaldy pun mengangguk kepalanya mengiyakan.



Mereka pun berjalan menuju ke ruang makan. Luziana dengan telaten melayani suaminya. Dan lalu menyantap makanannya bersama. Selesai habis makan malam. Renaldy dan Luziana pun menuju ke kamar untuk istirahat.



"Mas aku minum susu dulu ya, soalnya ini dah jadwal aku minum susu hamil" Ucap Luziana kepada suaminya.



"Ouh iya, apa perlu mas buatin?" Tanya Renaldy lalu di jawab dengan gelengan kepala oleh Luziana.


__ADS_1


"Gausah mas, mas tidur aja duluan. Apalagi mas besok harus bangun awal, dan harus pergi kerja. Sementara aku besok gak ada apa-apain" Tolak Luziana. Renaldy pun mengangguk mengiyakan.



Setelah tidak ada apa yang harus di katakan lagi. Luziana pun pergi menuju ke dapur. Membuat susu hamil untuk dirinya. Yang biasanya di buat suaminya. Kini ia buat sendiri.



Saat Luziana mengaduk susunya. Dia mengingat perkataan suaminya tadi. Ntah kenapa dia merasa sedih. Bukan bermaksud gak mau dirinya berubah lebih baik. Tapi ini sudah dirinya, apa yang harus dia ubah semua kekurangannya lengkap keluar dari mulut orang terdekatnya. Seakan dia memang gak pantas bersanding dengan Renaldy. Dengan segala kekurangannya.



Membuat Luziana kurang percaya diri lagi terhadap dirinya. Mulai dari mertuanya yang tidak suka dengan dirinya karena bukan kalangan orang berada, begitu dengan Meysa dan kedua orang tuanya. Dan lagi sekarang suaminya.



Memang benar apa yang di katakan suaminya. Dia terlalu kekanakan terlalu memikirkan dirinya sendiri. Tetapi maksud dari semua itu, dia kurang dapat merasakan kasih sayang orang tuanya. Jadi sulit untuk dia berbicara kalau dirinya butuh perhatian, seakan enggan butuh perhatian tapi butuh.



Walaupun begitu dia sudah tahu sisi letak kesalahannya dimana dan kekurangannya. Meskipun sedikit membuat percaya dirinya hilang.



...----------------...



Sebelum menunggu update selanjutnya jangan lupa mampir di novel author yang sebelahnya ya!



Judulnya: Vanilla (Love and Dare)



Jangan lupa mampir 🤗😘



Dan jangan lupa dukunganya lainnya, biar author semangat update 🖤.

__ADS_1



Seperti biasa, kalau di turutin di jamin update deh hihihi👻


__ADS_2