Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Di blokir


__ADS_3

Kini sekretaris Seno sudah berada di mansion mewah milik CEO nya, setelah melakukan perjuangan yang ekstra untuk sampai kesini. Soalnya tuan mudanya itu tidak memberi tahu keberadaan pria itu dimana.


Sekretaris Seno yang gak mau lama-lama berada di depan pintu, ia pun memencet bel mansion mewah milik tuan mudanya itu.


Ting....tong


"Kenapa gak ada yang buka ini pintu. Apakah gak ada orang." Ia pun memencet bel kembali.


Ceklek...


Suara pintu terbuka pun terdengar. Terlihat seorang yang di yakini pelayan rumah ini.


"Ada apa tuan" Tanya pelayan itu.


"Ada tuan muda" Lontar pertanyaan Sekretaris Seno.


"Hmm, ada tuan. Silahkan masuk, biar tuan mudanya saya panggil" Pinta pelayan itu. Di anggukkan kepala pelan oleh Seno sebagai jawaban.


Pelayan itu pun menuju ke lantai dua dimana tuan mudanya itu berada.


Renaldy duduk di tepi kasur seraya mengusap wajahnya kasar. Luziana hanya berdiri diam, di dekat pintu. Perempuan itu tidak tahu harus berbuat apa. Kemudian di dalam kamar itu tidak ada satu pun yang bersuara, suasana hening dan mencekam. Mereka berdua memilih untuk diam daripada berbicara.


Suara ketukan pintu terdengar. Dengan segera Luziana membuka pintu kamar itu.


"Permisi Nona, saya mau bilang ada yang mencari tuan muda" Ucap pelayan itu. Dan dapat di dengar oleh Renaldy di dalam kamar.


"Baiklah, silahkan kau boleh pergi" Ucap Renaldy tiba-tiba sudah berada ambang pintu. Luziana pun bergeser sedikit untuk kasih luang untuk pria itu keluar.


"Tuan muda saya sudah membawa uangnya" Ucap Sekretaris Seno sembari membungkuk hormat. Setelah melihat tuan mudanya berjalan mendekati arahnya.


Renaldy pun duduk berada di sofa single. Seno pun menyodorkan sebuah tas yang di dalamnya berisi uang.


"Berapa nominal yang kau bawa" Ucap Renaldy datar.


"Seratus juta" Sahutnya pelan.


"Kenapa seratus juta, saya minta kan sepuluh juta. Kenapa kau bawa seratus juta" Tanya Renaldy dengan tatapan tajam.


Sekretaris Seno yang melihat tatapan tuanya, menundukkan kepalanya takut. "Mungkin nantik tuan tiba-tiba ada keperluan lain. Makanya saya bawa lebih" Jawab Seno berusaha untuk tidak takut, padahal di dalam hatinya sangat takut, takut di marahin.


Renaldy mengehela nafas kasar. Pria itu pun beranjak dari sofa menuju kembali kamarnya. Sesampai di kamarnya ia melihat istrinya duduk sambil termenung. Ntah apa yang di pikirkan istrinya itu dia tidak tahu.


Luziana melihat suaminya datang kembali, dia bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Ada perlu sesuatu" Tanya Luziana. Mungkin suaminya kembali ke kamar. Ada sesuatu barang yang ketinggalan, atau yang di perlukan.


Tanpa menjawab pertanyaan istrinya Renaldy pun langsung menyodorkan uang kepada istrinya. "Kau perlu uang kan, pakai uang ini. Misalnya sudah habis kau bisa minta lagi dengan saya" Ujar Renaldy dingin.


Luziana dapat melihat uang lembaran merah yang begitu banyak. "Berapa uang kamu kasih." Seketika raut wajah pria itu berubah. Apakah istrinya itu masih belum cukup berapa uang yang dikasih.


"Sepuluh juta" Sahut Renaldy datar dengan tatapan menyelidik.


Terperanjat kaget. "Itu banyak sekali, yang saya perlukan sedikit saja uangnya" Ucap Luziana apa adanya. Akhirnya Luziana mengakui bahwa perempuan itu membutuhkan uang, tapi tidak dengan nominal yang banyak, yang ia perlu hanya sedikit saja.


Selang beberapa menit. Luziana pun menerima uang dari suaminya dengan nominal satu juta. Itu pun masih terlalu banyak bagi dirinya. Tapi mau bagaimana lagi suaminya itu sudah langsung pergi, gak tau pergi kemana suaminya itu. Pria itu tidak ada bilang-bilang apa-apa dengan dirinya saat keluar dari kamar.


Pria itu pergi menuju sebuah Bank milik keluarganya. Bersama sekertaris Seno yang sebagai mengemudi mobil mewah milik tuannya.


Disisi Meysa dan teman-temannya habis selesai menikmati makanan seafood mereka. Dengan harga yang pasti sangat mahal. Suasana di tempat Restoran itu pun terasa sejuk. Karena dekat dengan pantai.


"Besok-besok sering-sering traktirin kami ya Meysa yang kayak gini..." Ucap Zea setelah menyeruput jusnya.


"Betul itu... " Timpal Riri seraya tergelak tertawa. Mereka berdua begitu terlihat senang, tiba-tiba di ajak Meysa restoran dekat pantai, sekarang yang sedang lagi terkenal restoran itu di kotanya dengan makanan seafoodnya. Terus suasananya pun begitu adem. Apalagi yang paling senangnya itu di traktirin jadi mereka gak perlu keluar-keluar uang deh.


Meysa yang mendengar berdecih pelan. Ia pun menoleh kelaut melihat matahari yang sudah mau terbenam. Terlihat begitu indah di matanya.


Tiba-tiba datang seorang pelayan meminta tagihan bayaran makanan mereka.


"Nona ini total semua harga makanannya" Pelayan itu mengasih sebuah kertas yang tertulis total harga makanan yang mereka pesan.


"Meysa Lo kok punya kartu black card, dapat dari mana. Setahu aku orang tua Lo gak ngizinin punya kartu black card itu deh" Tanya Zea penasaran. Mereka sudah berkenalan sudah lama, pasti Zea tentu tahu apa yang boleh apa yang enggak boleh bagi Meysa.


"Gausah kepo" Jawab Meysa ketus. Mereka berdua pun tersenyum kecut mendengar jawaban Meysa.


"Nona kartu black card kayaknya sudah gak bisa lagi" Ucap pelayan itu sudah mengesek kartu itu tidak keluar-keluar uangnya.


Mereka bertiga terperanjat kaget. "Hah kok bisa." Pelayan itu mengedik bahunya tidak tahu.


"Cobain itu lagi, mungkin ada kesalahan saat kamu mengesek nya" Pinta Meysa dengan raut wajah sedikit takut. Karena misalnya kartu black card itu tidak bisa. Tamatlah riwayatnya, karena dirinya tidak tahu harus membayar makanan ini semua pakai apa kalau kartu itu tidak bisa.


Pelayan itu pun datang kembali, pelayan itu mengeleng kepalanya pelan sebagai jawaban. Meysa mendapatkan jawaban itu mengehela nafas berat.


"Mbak bisa pergi dulu ada yang ingin saya ngomongin sama temen saya" Pinta Meysa, dan langsung di turutin oleh pelayan itu.


Kenapa pelayan itu menuruti permintaan Meysa. Langsung pergi tanpa ada rasa takut nantik tiba-tiba mereka kabur tanpa membayar tagihan makanan mereka. Kenapa? Karena jawabannya adalah Meysa anak pemilik restoran ini.


Meysa menatap dua temannya secara bergantian. "Boleh gak pakai uang kalian dulu, untuk bayar makanannya" Pinta Meysa dengan lembut.

__ADS_1


Zea dan Riri saling memandang dengan tatapan heran. Baru kali ini mereka mendengar suara lembut Meysa yang terkenal dingin dan jutek dengan semua orang. Kecuali saat konser.


Zea dan Riri pun langsung sadar dari keheranannya. Kini berganti dengan menyengir lebar.


"Meysa gimana ya mau bilangnya, kami gak bawa uang. Kartu kredit ATM tinggalan di rumah" Ucap Zea Seraya menyengir lebar.


"Aku pun" Timpal Riri sama kayak Zea.


"Kok bisa kartu kalian tinggalin di rumah" Suara Meysa yang tadinya lembut kini suaranya meninggi.


Membuat mereka jadi takut mendengarnya.


"Kan tadi pas saat kamu bilang di telepon. Kamu bilang nanti makanannya kamu bayarin. Jadi karena kamu yang bayarin aku sengaja gak bawa kartunya. Karena ada yang sudah traktirin" Ujar Riri apa adanya. Dan diangukan kepalanya, oleh Zea membenarkan apa yang di bilang temannya itu.


Meysa mencebik kesal seraya meminjit pelipisnya yang terasa sedikit pusing. Dia harus membayar makanan ini semua pakai apa sedangkan kartu miliknya sendiri ia tinggalkan di rumah.


Kenapa kartu black card itu, payah gak bisa segala lagi. Apa jangan-jangan kartunya sudah di blokir oleh kakaknya.


"Awas Lo Luziana....sekarang kayaknya Lo dah pengen nyari mati ya sama gue." Batin Meysa kesal.


"Meysa bukannya restoran ini milik keluarga Lo. Kenapa Lo gak bilang aja kalau Lo ini anak pemilik restoran ini. Jadi otomatis kita gausah bayar deh" Ujar Zea.


"Enak banget Lo bilangnya. Lo tau sendiri orang tua gue kek mana." Zea yang mendengar pernyataan Meysa langsung paham.


"Dahlah gak ada cara lain kita harus cuci piring" Celetuk Riri. Meysa dan Zea yang mendengarnya melongo kaget.


"Hah Cuci piring" Jawab mereka serempak.


"Ya cuci piring. Setahu aku kalau kita gak bisa bayar, kita harus cuci piring di restoran ini untuk cara melunasi tagihan bayaran makanan kita" Ujar Riri mengingat cerita film yang ia nonton semalam.


"Ogah, gak mau gue cuci piring yang ada jadi kotor tangan gue yang cantik ini" Ucap Meysa kesal.


"Gak ada cara lain. Masak kita harus berlama-lama disini, terus kita bertiga juga gak bawa ponsel kan" Ucap Riri. Mereka bertiga pun menghela nafas berat.


"Tapi gue gak mau! masa harus cuci piring sih. Baru saja kemarin kuku gue itu baru di salon" Ucap Meysa yang gak terima dirinya di suruh cuci piring. Cara cuci piring pun juga gak tahu dirinya.


"Dahlah jangan ribut. Mana mungkin kita di suruh cuci piring bisa lunasi makanan kita yang seharga sepuluh juta. Gila ko ya" Ucap Zea dengan nada kesal.


Riri yang mendengarnya tersenyum kecut. "Gue kan cuman bilang, gue nonton di film-film kok bisa" Ucap Riri.


"Jangan kaitkan dengan di film-film dengan dunia nyata. Itu film bukan dunia nyata ada dengar" Tutur Zea memberi nasihat.


"Ada" Sahut Riri lesu.

__ADS_1


"Nico...." Panggil Meysa sambil melambaikan tangan nya, suruh kemari.


Nico yang di panggil pun mencari keberadaan orang tersebut. Ia pun dapat melihat siapa yang telah memanggil dirinya.


__ADS_2