Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Luka


__ADS_3

Tatapan mata Meysa dan langit bertemu. Meysa membalas tatapan langit dengan tatapan remeh. Membuat Cowok itu tersenyum miring.


"Liat aja cowok Lo yang. Lo banggakan, bakal gue bikin kalah sama gue!" Gumam Langit dengan tersenyum sinis.


Cowok itu menatap bola basket berada di tangan Vian. Langit pun berlari menuju tempat Vian dan merebut bolanya. Vian yang lengah, bola basket yang berada di tangannya pun di rebut oleh langit. Langit pun segera mengoper bola basket tersebut kepada Arlan. Dengan sigap cowok itu menangkapnya. Dan ia pun mengshoting bola basket tersebut ke dalam Ring. Bola basket itu pun masuk dengan sempurna dalam Ring.


Vian berdecak kesal. Ia pun mencoba merebut bola basket itu yang berada di tangan Langit. Sayangnya saat Vian mau merebut bola basket itu dari Langit dengan pandainya cowok itu mengelak. Dan mendribble bola basket itu, kemudian mengshotingnya ke dalam Ring. Bola pun masuk dengan tepat sasaran.


Regu Vian menjadi gak habis pikir kok bisa-bisanya lawan mereka menjadi lebih bagus mainnya dari pada menit sebelumnya, termasuk Langit. Daritadi tim regu Vian kewalahan merebut bola basket itu dari tangan Langit.


Poin demi poin mereka kejar. Permainan pun semakin sengit melihat waktu sedikit lagi habis. Dan Langit pun terlihat sudah sangat serius bertandingnya. Tidak mancam tadi yang masih terlihat santai.


"Langit...tangkap bolanya" Teriak Fathan sambil melempar bola itu ke Langit. Langit pun menangkapnya dan mengshoting ke dalam Ring. Waktu pun habis teriakan peluit pun terdengar di lapangan basket indoor.


"Uwooo kak langit keren"


"Yeeeyy kak langit menang"


Poin tertinggi pun di raih oleh tim langit. Meysa tampak kayak gak suka melihat Kalau langit yang menang. Cewek itu ingin kalau yang menang itu Vian bukan langit. Tapi mau apa boleh buat, jelas-jelas langit yang menang. Sebagai penonton terima aja, kalau tim yang kita dukung kalah.


Luziana pun tercengang kagum sedikit. Melihat cowok itu dapat mengejar poin dengan waktu tinggal sedikit dan pasca pertandingan tadi pun poin nya sangat berbanding jauh dengan Vian. Tapi mampu di kejar oleh cowok itu.


Temannya yang berada di samping perempuan itu terlihat sangat berteriak heboh, melihat cowok yang mereka idamkan menang. Kemudian sebagian kaum hawa yang di Tribune pun turun, pergi menuju ke lapangan dimana langit itu berada. Dan memberikan minuman kepada cowok itu sekaligus menyambut kemenangannya.

__ADS_1


Sedangkan Vian terlihat biasa saja walaupun kalah. Lagipun ini cuman latihan bukan pertandingan yang serius kali. Dan pada umumnya pertandingan basket itu ada jedanya seperti istirahat sebentar. Tapi ini gak jedanya, karena ini hanya latihan doang. Untuk ingin melihat skil bermain basket mereka sudah sampai mana.


Luziana pun beranjak pergi dari situ menuju ke kedai. Masih ada waktu beberapa menit lagi sebelum guru masuk ke kelas.


"Tumben Lo bawa bekal?. Dah tobat makan pedasnya." Gak biasanya Luziana bawa bekal dari rumah. Biasanya dia selalu makan di kedai,. Makan, makanan yang tidak sehat. Seperti mie seduh. Setiap hari pas istirahat perempuan itu makan mie seduh. Gak ada lain makanannya selain mie seduh. Katanya untuk menghemat duit. Hemat darimananya yang ada penyakitan makan yang tidak berkhasiat itu.


"Emang gak boleh ya bawa bekal ke sekolah" Balas Luziana kepada Karina. Emang benar kalau Luziana gak biasanya bawa bekal. Tetapi ini beda, sebenarnya bekal untuk suaminya. Karena suaminya gak mau jadi bekal untuk dirinya aja. Daripada di buangkan mubazir, mending dia bawa sekolah dan makan pas istirahat. Terus buatnya capek lagi.


"Boleh aja, tapi maksud ku itu tumben aja. Kau bawa bekal. Biasanya enggak. Kenapa dah tobat makan yang gak sehatnya" Ujar Karina dan diakhiri seraya menyeruput jusnya.


Luziana ber'oh ria. "Aku bawa bekal karena pengen aja. Bawa bekal ke sekolah". Anita dan Lisa hanya menyimak perbicangan mereka berdua sambil memakan jajanan yang mereka pesan.


"Bukan karena dah tobat." Luziana mengeleng kepalanya pelan.


"Bukanlah. Lagipun aku lebih suka makan mie seduh. Apalagi pakai saosnya banyak-banyak. Pasti enak kali kan." Sebenarnya Luziana bukan tipe suka makan yang gak sehat. Karena duitnya pas-pasan dikasih orang tuanya. Terpaksa makan mie yang harganya tidak terlalu mahal di sekolah ini. Sekarang aja duitnya tinggal sedikit lagi yang di kasih Meysa. Kalau minta sama suaminya kayaknya gak berani. Bukan gak berani hubungan mereka terlalu dingin. Apalagi sikap Renaldy sekarang yang sudah berubah. Luziana gak tahu kalau sikap suaminya sebenarnya itu dingin-dingin tapi ramah. Yang ia tahu sifat suaminya itu dingin kayak gak suka ngomong walaupun sepatah katapun, pikir Luziana.


Tapi karena suatu kejadian dia terpaksa melakukannya. Hingga dia berubah menjadi sekarang, yang tidak tersentuh. Bahkan Luziana yang di dalam perutnya sudah ada benih suaminya. Dia aja gak tau. Dan Renaldy berharap benihnya gak akan tumbuh menjadi malaikat kecil. Jadi pria itu bisa pergi bertugas. Renaldy tidak berharap punya anak dulu. Sebelum tugas-tugasnya selesai dan siap.


Teman karib Luziana pada bergedik ngeri semua mendengar Luziana bilang, pakai saos banyak-banyak. Soalnya mereka kurang suka namanya saos. Kalau makan pakai saos hanya sedikit aja. Takutnya orang tua mereka mengetahui mereka itu makan pakai saos di sekolah. Nantik ujung-ujungnya kenak marah. Makanya mereka mending cari aman, lebih baik gausah makan saos daripada alat dapur melayang.


"Gak sakit perut kau, banyak makan saos" Tanyak Anita seraya menaikkan alisnya. Luziana tersenyum lebar. Mengusap perut ratanya yang tidak ia ketahui ada benih suaminya di dalam perutnya. Yang kapan tumbuh kita tidak tidak tahu hanya tuhan yang tahu.


"Enggak dong... perut aku kan kuat. Gak kayak kalian lemah" Sindir Luziana seraya tertawa terbahak-bahak. Karina yang merasa tersindir membalas perkataan Luziana.

__ADS_1


"Sok bilang kuat nantik tiba-tiba sakit mampus kau nangis-nangis sana. Terus teriak aduuh sakit perut ku. Ni sekarang bilang di mulut aja mu bilang kuat, belum tentu nantik perut mu kuat kan. Lo karena belum kenak aja, Luziana masih bisa tertawa kek gitu, tiba dah kenak lambung nyesal Lo, dah makan-makan pedas itu. Tapi kasian waktu gak bisa di ulang" Ujar Karina yang terlihat emosi. Cewek itu pendiam-pendiam orangnya cepat emosi. Terus ngomong pun gak di kontrol lagi dia jika cewek itu marah. Gak pikir lagi kalau jika Karina emosi apakah orang tu sakit hati dia dengan perkataannya. Dia gak pikirin lagi itu. Makanya temanan sama mereka jangan cepat baperan. Dan jangan terlalu masuk ke hati.


Luziana hanya tertawa melihat temannya yang sudah emosi. Lisa yang hanya diam dan menyimak Perbicangan mereka mendekati Luziana melihat bekal apa dia bawa.


"Apa isi makanan di kotak bekal Lo" Tanyak Lisa kepo dengan makanan Luziana.


Luziana pun membuka tutup bekalnya. "Ouh ini nasi goreng campur dengan daging sapi di potong kecil-kecil. Mau?" Tanyak luziana di akhir kalimat. Nampaknya makanan yang dia bawa Luziana terlihat lezat. Dengan cepat Lisa mengangguk kepalanya bahwa dia mau dengan makanan punya perempuan itu.


Luziana pun menyuapkan makanan yang di bawa ke dalam mulut Lisa. Lisa mengunyah nasi goreng dengan potongan kecil daging sapi.


"Mm enak banget makanan Lo, siapa buat?. Emak mu atau pembantu rumah mu" Tanyak Lisa penasaran siapa yang membuat nasi goreng ini. Luziana yang tidak punya pembantu dan Mamanya belum tentu mau membuatkan dirinya bekal. Mamanya Luziana pun membuat makanan sarapan paginya untuknya ikan goreng dengan nasi doang. Sedangkan adiknya, Febby di buatkan bermacam makanan. Mereka berdua sangat di bedakan kasih sayangnya. Kedua orangtuanya lebih sayang adiknya dari pada dirinya. Ia pun sarapan pagi aja jarang-jarang karena takut sama Papa Haris. Omongan Meysa masih mending daripada omongan Papanya yang bikin mentalnya turun.


Uang jajan aja dia di kasih sepuluh ribu sedangkan adiknya Lima puluh ribu. Padahal adiknya masih SMP. Luziana minta uang jajan sekolah aja sama Mama Safira gak berani dengan Papa Haris. Beda dengan Febby yang berani minta sama Papa Haris, terus seberapa yang yang di minta putri bungsunya di kasih. Kalau Luziana minta pasti di kenak marah dan Papanya main fisik dengannya. Luziana punya trauma sendiri dengan keluarganya. Dia tidak terlalu menyedihkan kemarahan papanya dan main fisik dengan dirinya. Luziana hanya diam dan menyimpan luka itu sendiri. Gak ada satupun peduli dengannya walaupun Mamanya sekalipun.


...----------------...


LANJUT?


JANGAN LUPA DUKUNGANNYA AUTHOR SEMANGAT UPDATE NYA 😍


LIKE


VOTE

__ADS_1


KOMENTAR


JANGAN LUPA GIFT HADIAHNYA 😍🤗


__ADS_2