
"Ya gue cuman bilang aja! kalau gue boleh tau siapa nama istri kakak Lo itu?" Tanya Langit. Kok langit yang sepupu dengan Meysa yang pasti juga sepupu dengan Renaldy. Enggak tahu siapa istri Renaldy. Ya karena pas nikahan Renaldy dengan Luziana langit gak datang. Makanya gak tahu. Lagipun waktu nikahan mereka dia lagi dalam masalah. Jadi tidak peduli dengan urusan pernikahan mereka.
"Kepo banget sih Lo. Makanya pas nikahan kakak gue datang..." Ketus Meysa lalu berlenggang pergi.
Langit hanya menghela nafas panjang.
"Kayaknya gue salah dengar, atau mungkin bukan Luziana anak sekolah gue kan?" Batin Langit. Gak mau terlarut dalam pikiran gak penting. Ia pun menyalahkan motornya, dan langsung pergi dari tempat itu juga.
"Lo yakin Langit, kalau dimaksud mereka itu Luziana musuh Meysa itu bukan?" Tanya Fathan seraya bersandar di meja.
"Gue sih kurang tahu, tapi yang jelas menikah kakaknya Meysa gitu..." Ucap Langit yang mengingat pembicaraan semalam.
"Iya juga, sih! tapi kalau Luziana anak sekolah kita itu gak mungkin lah yang nikah dengan kakak nya Meysa. Keluarga mereka aja beda jauh, terus dia pun masih sekolah kan. Terus maksud Ardian itu apa ingin membunuh Meysa?" Fathan mengerutkan dahinya bingung dengan semua ini.
"Iya gue gak tahu. Tapi kayaknya ada kaitannya dengan istri kakaknya Meysa itu.." Ucap Langit dengan ekspresi serius.
Fathan memengang dagunya, seraya mengangguk kepalanya.
"Btw kakaknya Meysa itu dah nikah?" Tanya Fathan seraya menaikkan alisnya.
"Udah.. dah lama lagipun" Balas Langit kepada Fathan.
"Tapi kakaknya Meysa dah nikah kok gue gak tahu gitu ya. Habis itu gak ada di beritakan media sosial" Ucap Fathan yang tahu betul keluarga Meysa itu, orang yang sangat berpengaruh.
"Ya gue juga gak tahu.." Balas langit mengangkat bahunya acuh.
"Lo masa gak tahu sih parah banget!" Ejek Fathan seraya memainkan alisnya.
"Iya gue gak tahu, masa gue harus semua tentang mereka. Yang jelas ajalah" Langit memutar bola matanya jengah seraya menyadarkan tubuhnya di sofa panjang.
"Iya kan Lo adik iparnya, masa gak tau sih tentang Kakak iparnya... wah gak bisa jadi adik ipar ni!" Seloroh Fathan seraya terkikik. Dia tahu betul kalau kawannya ini, sohibnya ini. Suka sama Meysa.
Langit langsung melempar tatapan tajam ke arah Fathan.
"Gausah tatap gue, gitu juga kali. Gue tahu kalau Lo itu suka sama Meysa kan. Langit.. langit.. suka berkedok sepupu hahaha. Maut bisa di tantang, masa nyatakan cinta gak bisa. Cepat nyatakan cinta terus sama Meysa, sebelum di ambil orang. Apalagi Meysa kan itu cantik, pandai nyanyi, rajin lagi. Pokoknya idaman deh!" Ujar Fathan seraya tergelak tertawa.
Langit yang kesal, di goda oleh kawannya. Melempar bantal yang berada di sofa ke muka Fathan.
Plak..
"Anying Lo langit.."
"Luziana..." Merasa ada seseorang yang memanggil Luziana membalikkan badannya.
__ADS_1
"Hmm ada apa kak?" Tanya Luziana seraya menaikkan alisnya.
"Kamu punya waktu gak, untuk ngobrol sebentar! karena kakak ada hal penting yang ingin tanya sama kamu" Ucap Langit kepada Luziana.
"Emang ingin tanya apa kakak" Tanya Luziana kepada kakak kelasnya itu.
"Ada deh, gak enak ngomong di sini. Kita bicara nya di cafe aja. Gimana mau gak?" Tanya Langit dengan penuh kepastian.
Luziana nampak menimbang kan permintaan langit merupakan kakak kelasnya itu.
"Tenang aja soal makan minumnya kak langit bayarin.." Ujar Langit dengan menaikkan alisnya.
"Boleh.." Luziana mengangguk kepalanya mengiyakan.
Di cafe..
Luziana menatap lekat cowok yang merupakan kakak kelasnya. Ada rasa aneh aja gitu. Apalagi cowok itu primadona sekolah.
Banyak sekali para cewek-cewek menyukai Langit. Sayangnya cinta mereka tertolak. Langit selalu beralasan bahwa dirinya gak ingin pacaran, karena itu nantinya bikin sakit hati. Dan cowok itu gak ingin mempermainkan hati seorang wanita. Atau karena hatinya sudah terisi oleh seseorang.
"Kak Langit ingin nanya apa sama Luziana?" Tanya Luziana to the point.
Langit tersenyum tipis. "Gausah buru-buru, kakak nanyanya kita setelah makan dulu ya" Balas Langit yang gak ingin terburu-buru.
"Ouh iya kak.." Ucap Luziana dengan canggung.
"Di pesan makanan dan minumannya, tenang Kakak bayar.." Titah Langit seraya mengasih buku menu.
"Luziana kenal Ardian?" Tanya Langit dengan ekspresi serius.
Luziana mengerutkan dahinya heran. "Ardian mana ya kak? soalnya nama Ardian banyak" Balas Luziana apa adanya.
Langit mengehela nafas panjang. Cowok itu cuman tahu nama panggilan bukan nama panjang, musuh yang ingin membunuh Meysa itu.
"Yang Luziana kenal?" Tanya Langit lagi.
"Yang tahu Luziana, Ardian tapi waktu pas SMP. Satu kelas sama Luziana" Ujar Luziana yang mengingat Ardian itu doang.
"SMP mana?" Lontar pertanyaan lagi dari langit.
"SMP Nusa bangsa kak" Sahut Luziana. Langit yang mendengarnya mengangguk kepalanya paham.
"Ciee tumben berdua sama cewek. Udah move on ya dari si do'i" Seru Ghea pekerja di cafe tersebut. Langit yang mendengarnya memutar bola matanya jengah.
"Kak Langit dah punya pacar" Batin Luziana. Soalnya perempuan itu ingin mendekatkan Karina dengan langit. Karena Karina cinta banget dengan cowok di hadapan Luziana ini. Luziana pun sampai heran, orang yang dingin kayak Karina suka sama langit.
__ADS_1
"Kak bisa diam gak?" Ucap Langit dengan nada tegas.
"Ciah.. gitu doang marah ya kan"
"Bukan aja bajunya, biar saya suruh OB disini cuci baju kamu" Ucap Renaldy dengan nada begitu yang sedang duduk di kursi besarnya.
Luziana berusaha membuka pintu ruang perusahaan Renaldy tapi gak bisa. Sebab Renaldy kunci. Dan baju seragam sekolah ini jadi kotor gara ulah adiknya itu.
Kok bisa di perusahaan Renaldy. Sebab cafe tempat mereka makan gak jauh dari perusahaan company Hervandez, perusahaan ternama. Yang kini di handle oleh Renaldy sebagai jabatan CEO.
"Pintunya gak bisa dibuka.." Ucap Luziana dengan canggung. Soalnya di ruang itu mereka hanya berdua.
"Yaudah itu derita kau. Kenapa mesti di luar kalau bisa disini.." Ujar Renaldy dengan nada tinggi sembari mengecek berkas.
Masa iya dia harus buka bajunya di hadapan suaminya. Yang jelas aja dong.
Luziana yang gak tahu harus gimana memilih tidak mengganti bajunya.
Renaldy yang melihat istrinya hanya diam. Membuka suara.
"Kenapa gak buka terus bajunya. Apa perlu saya bantuin buka baju kamu.." Ucap Renaldy dengan nada masih sama, nada tinggi.
Luziana yang mendengarnya jadi gelagapan. "Ntar di rumah aja.." Balas Luziana seraya tersenyum.
"Kenapa mesti di rumah kalau bisa di sini. Apalagi itu susah bersihnya kalau gak segera di cuci. Apa kamu malu buka baju di hadapan saya. Percuma saja saya melakukan ijab Kabul. Dan halalin kamu, jadi istri saya" Renaldy menatap istrinya dengan sorot mata tajam. Luziana hanya bisa menunduk kepalanya.
Nasib banget nikah muda. Adik sama kakak sama-sama biadabnya. Awas aja Lo Meysa gue tandai Lo sampai mati. Dalam batin Luziana.
Mau gak mau Luziana terpaksa membuka bajunya. Agar baju seragam sekolah nya bisa di cuci. Ini dia lakukan hanya untuk bisa sekolah besok. Apalagi besok seragamnya masih sama dengan hari ini. Dan kotorannya pun lumayan besar, gara ulah Meysa. Kemudian baju itu, baju putih.
Luziana pun membuka bajunya membelakangi Renaldy. Saat ingin membuka resleting belakang nya. Susah kayak macet gitu. Terpaksa dia membuka jilbabnya dulu. Lalu mencoba membuka resleting bajunya lagi. Tapi tetap saja tidak bisa.
"Ck' kenapa payah pakai susah lagi di tariknya" Gumam Luziana.
Renaldy yang sedari tadi, emosi sendiri. Kesal melihat istrinya jalan berdua dengan adik sepupunya itu. Apalagi adik sepupunya itu ganteng. Umur pun gak jauh amat dari istrinya. Tapi masih lebih mapan Renaldy. Tapi tetap saja Renaldy cemburu gitu.
Padahal langit, sangat menghormati kakak sepupu nya itu dan juga begitu sangat segan. Melihat sosok Renaldy yang sangat berwibawa. Bisa lebih memajukan perusahaan dengan waktu singkat. Dan banyak orang bilang Renaldy cara kerjanya sangat bagus.
Kemudian Langit di suruh belajar bisnis dengan Renaldy. Langit mana mau, liat orang nya aja dan gemetar sendiri. Lagipula Renaldy ada aura tersendiri, membuat orang pada segan dengannya.
Renaldy memengang pundak istrinya dan menarik resleting bajunya. Dan resleting bajunya pun terbuka. Bukan itu saja Renaldy mengecup leher jenjang putih istrinya.
Tubuh Luziana langsung menegang. Ia pun membalikkan badannya menatap suaminya, yang ekspresi susah di tebak.
"Mas kok disini" Tanya bodoh Luziana. Pria itu memang dari tadi disitu. Cuman dia lihat Pria itu tadi sibuk dengan membaca berkas kerjaannya.
"Bukannya sudah menikah boleh berhubungan sek*ual. Jadi saya ingin merasakan nya" Ucap pria itu tanpa aba-aba mencium bibir istrinya. Mata Luziana membulat sempurna melihat apa yang di lakukan suaminya.
Yang gak masuk akal baginya, yang masih anak-anak sekolah.
Renaldy melakukannya bukan karena nafsu tapi, kebakar api cemburu.
"Mas apa ingin kamu lakukan..." Ucap Luziana dengan nafas tersengal-sengal. Kedua ujung bibir pria itu naik melihat bibir istrinya sudah bengkak karena ulahnya.
"Bukannya sudah tugas kewajiban istri, melayani suami.." Ucap Renaldy dengan seringai. Dan itu membuat Luziana takut, yang ngerti maksud arah suaminya.
"Saya belum siap..." Lirih Luziana pelan.
"Suhhtt.. saya tidak terima penolakan" Renaldy langsung mengangkat istrinya ala bridal style. Menuju kamar yang satu dengan ruangan kerja tersebut.
Renaldy menaruh istrinya di kasur. Luziana menatap sekitar, kaget bahwa ruangan CEO itu ada kamar pribadi.
Renaldy mengungkung tubuh istrinya. Luziana yang ingin memberontak, gak bisa. Selain karena hormon hamil. Tubuhnya lebih kecil daripada suaminya.
"Kamu tahu letak kesalahan mu dimana.."
...----------------...
Di pending dulu 🤣. Maaf baru bisa update paket data author habis. Jadi baru bisa update nya sekarang.
Makasih yang buat udah follow Instagram author 🥺♥️.
Jangan lupa follow Instagram author : maulyy_05
__ADS_1