Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Kamu kenapa


__ADS_3

Luziana keluar dari ballroom dengan muka wajah kesal. Gimana gak kesal coba. Masa makanannya di taruk belatung.


Perempuan itu pun berjalan menuju parkiran Hondanya. Gak perlu waktu lama, ia pun meninggalkan hotel itu. Lalu pulang menuju kerumah suaminya.


Beberapa menit menempuh perjalanan, ia pun sampai di rumah mewah milik suaminya.


"Dasar orang gak punya otak" Gerutu Luziana menatap cermin di kamar mandi. Perempuan itu sedang memuntahkan apa yang di isi perutnya. Karena gara-gara makanan ada belatung tersebut.


Selesai memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya. Luziana mencuci mukanya, kemudian keluar dari kamar mandi. Baju taekwondo tadi, sudah perempuan itu ganti dengan mengunakan baju kaos yang lengannya panjang.


Perempuan itu duduk di pinggir kasur, sembari termenung memikirkan kejadian di ballroom hotel tadi. Kelakuan Meysa yang sudah, berlebih batas.


Renaldy sudah pulang dari kantor dari tadi. Masuk ke dalam kamarnya. Kemudian matanya terarah, melihat istrinya yang sedang menekuk wajahnya kesal. Munculah banyak pertanyaan di benak Renaldy.


"Kamu kenapa?" Tanya Renaldy dengan ekspresi datarnya.


Luziana yang mendengar ada suara, seketika menoleh menatap suaminya.


"Lagi kesal dengan kelakuan adik kamu yang kayak Dajjal" Pengen ngomong sih begitu, tapi gak mungkin dia ngomong menjelekkan adiknya di depan suaminya.


Mengeleng kepalanya pelan. "Gak ada apa-apa" Renaldy mendengarnya mengangguk paham, lalu berjalan menuju meja belajar. Tepat di meja belajar, Pria itu pun membuka laptopnya, dan berkutat lah dengan perkerjaannya.


Luziana yang tidak terbiasa melihat suaminya pulang cepat, merasa penasaran.

__ADS_1


"Tumben mas pulangnya cepat" Ucap Luziana dengan perasaan penasaran.


"Yah lagi pengen pulang cepat aja, memang kenapa?" Tanya balik Renaldy tanpa menoleh dari laptopnya.


"Aneh aja" Luziana melihat sikap suaminya yang sering berubah-ubah, bergidik ngeri sendiri. Kadang-kadang dingin, kadang-kadang biasa saja.


"Emang bosnya gak marah?" Sambung Luziana.


"Siapa saya marah, bos? saya sendiri padahal Ceo-nya" Ujar Renaldy santai.


Luziana yang mendengarnya, menjadi kaget.


"Masa sih... bukannya kerjaan nya sebagai tentara ya. Kok malah sekarang jadi CEO kantoran sih" Bingung Luziana.


Renaldy hanya diam tanpa menyahut kebingungan istri kecilnya. Luziana melihat suaminya, hanya diam saja. Makin bingung sendiri.


"Ada donat di atas nakas, yang di kasih rekan bisnis saya, kalau kau mau makan aja" Ujar Renaldy memberitahu secara formal.


Luziana mendengarnya, seketika menoleh di atas nakas, ia dapat melihat ada boks ya bermotif donat. Ia pun mengambilnya dan membukanya.


"Hmm enak banget donatnya, mas mau?" Tanya Luziana kepada suaminya.


"Gak" Sahut Renaldy singkat.

__ADS_1


"Kenapa? padahal donatnya enak loh!" Seru Luziana sembari menguyah kembali donatnya.


"Biasanya orang CEO kantoran, tidak mau terima pemberian dari orang. Katanya takut, di taruk apa-apa gitu seperti racun. Kan mereka melakukan itu untuk mengalahkan pesaing bisnisnya.. Tapi kok mas terima aja apa yang orang kasih" Luziana mengerutkan dahinya bingung.


"Atau sengaja mas mau bunuh saya kan. Bilang gak mau makan karena ada racunnya. Karena ada racunnya kasih saya gitu kan, terus lakuin itu sengaja biar bisa cari istri baru kan.." Gak iya nih. Dah adiknya kasih makanannya taruk belatung. Terus suaminya, kasih racun. Sebelas dua belas ni mah.


Renaldy mendengarnya hanya mengehela nafas panjang.


"Daripada cari istri baru, mending saya sibuk kerja" Ucap Renaldy datar sembari menatap layar laptop.


Heleh banyak mah cowok ngomong gitu, ujung-ujung nantik cari istri baru juga kan. Batin Luziana


"Daripada, saya buruk sangka. Coba kamu rasain donatnya. Jadi nantik, tau kalau ada racunnya apa gak, biar mas mati duluan" Padahal yang duluan makan kan Luziana, masa yang mati duluan Renaldy. Ada-ada saja. Renaldy yang sedang berkutat dengan laptopnya, di suapi, spontan terima aja suapan dari istrinya.


"Gimana enak kan?" Luziana menaikkan alisnya, menunggu jawaban.


Renaldy mengangguk kepalanya. "Enak.." Sahut pria itu singkat.


"Terus gimana ada racunnya gak?" Tanya Luziana.


"Kau lihat sendiri ada reaksi di tubuh saya" Luziana melihat dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Gak ada" Ucap Luziana ambigu.

__ADS_1


"Yaudah berarti donatnya gak ada racunnya. Lagipun itu dari rekan bisnis yang sudah saya kenal, dekat. Bukan orang asing" Pria itu kalau dikasih buah tangan dari rekan bisnisnya, terima-terima aja. Tapi untuk orang tertentu.


"Yaudah baguslah" Luziana memang sedang lagi lapar, menghabiskan donat itu seorang diri.


__ADS_2