Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara

Perjodohan Gadis SMA Dengan Abdi Negara
Mematahkan semangat


__ADS_3

Luziana yang di bawa kerumah sakit. Kini sudah berada di ruang perawatan.


"Sus, ini sakit banget" Jerit Luziana kesakitan saat merasakan kontraksi kembali terasa.


"Nona, sabar dulu ya saya mau manggil dokter. Biar dokter yang periksa langsung kelanjutannya bagaimana, apa di operasi atau lahiran normal" Ujar suster lalu di angguki kepala samar oleh Luziana. Suster tersebut pun tersebut meninggalkan ruangan rawat itu.


Tinggallah Luziana sendiri di dalam ruangan rawat itu. Luziana yang di tinggal sendiri sekali-kali mencengkram dress bajunya saat merasakan kontraksi datang untuk menyalurkan rasa sakitnya.


Sementara disisi lain. Mama Safira bertemu dengan besannya di rumah sakit. Gak lain gak bukan besannya itu adalah Mommy Liona.


Mommy Liona sekali-kali mengeluarkan kata yang merendahkan keluarga Mama Safira. Mama Safira yang mendengarnya merasa tidak terima.


"Kamu tenang, aja saya juga gak sudi menimang cucu dari darah daging putra mu" Ucap Mama Safira dengan amarah yang menggebu.


"Baguslah begitu, saya juga gak mau punya cucu dari dari putri mu yang rendahan itu. Takutnya nantinya benih unggul putra saya jadi jelek sama kayak anak mu itu. Iihh amit-amit moga aja, anak itu gak lahir dari rahim putri mu yang bernama Luziana itu. Ih ogah banget saya punya cucu dari nya. Saya juga heran kenapa suami saya bodoh mau menikah putranya dengan Luziana yang menikah demi mengharapkan hartanya doang. Kalian nikahin anak kalian Luziana itu cuman ingin harta doang kan" Ujar Mommy Liona yang perkataannya tajam seperti sebilah pedang.


"Heih, lebih baik kau tanya sendiri dengan suami mu itu, kenapa mau nikahin putranya dengan anak saya. Bukannya menuduh Kalau saya nikahin anak saya dengan putra mu demi harta. Kalau demi harta dari dulu saya sudah kaya raya. Dasar mulut sampah" Balas Mama Safira yang sudah geram.


"Apa kamu bilang dasar cewek rendahan, dari pada kamu ngatain saya lebih baik kamu didik anak mu itu jangan jadi wanita murahan, yang suka menggoda anak saya" Mommy Liona menatap besannya dengan tatapan rendahan.


"Bukannya putra mu ya! yang menginginkan putri saya, sampai mengemis-ngemis bukan begitu" Ucap Mama Safira seolah menantang Mommy Liona.


"Masa sih, mana mungkin putra saya mau sama anak mu itu yang gak ada apa-apanya. Sekedar di suruh jadi pembantu aja gak bisa haha" Tawa Mommy Liona dengan sinis.


Mama Safira mengepal kedua tangannya. Ia pun mengangkat tangannya dan melayangkan sebuah tamparan keras.


Plak


Tamparan keras terdengar begitu nyaring. Meysa yang melihatnya menutup mulutnya yang melihat Mamanya Luziana menampar Mommynya.


Mommy Liona yang pipinya di tampar merasa perih. Pergulatan tangan itu pun terjadi di antara mereka berdua. Mama Safira yang berasal dari pedesaan memiliki ilmu bela diri yang kuat daripada Mommy Liona yang cuman mulutnya doang yang pedas.


Sehingga mommy Liona sudah berulangkali mendapatkan pukulan dari besannya itu. Sementara Mama Safira hanya sedikit.


"Mommy udah cukup jangan bertengkar lagi, malu di lihat orang" Bisik Meysa dengan suara tertahan. Dia kini sungguh sudah sangat malu. Melihat tatapan heboh di sekitarnya di dalam rumah sakit.


Meysa yang mengatakan itu sedikit pun tidak mempan untuk dua wanita yang bakal menjadi nenek itu. Ia pun memilih diam sembari menutup muka karena malu.


Kemudian tak berselang lama, satpam pun datang dan melerai pertikaian dua wanita yang akan menjadi nenek itu.


"Tolong ibu-ibu jangan bertengkar sini, ini di rumah sakit. Jadi jangan sampai menganggu kenyamanan pasien yang berada rumah sakit karena pertengkaran kalian berdua" Ujar pak satpam itu tegas setelah melerai pertikaian Mommy Liona dan mama Safira.


Mommy Liona pun merapikan pakaiannya yang berantakan seraya berujar "Dia pak yang duluan, mending bapak usir aja wanita itu" Ucap Mommy Liona seraya menunjuk dengan dagunya ke arah Mama Safira.


"Enak aja, kamu duluan dasa-"


"Cukup-cukup lebih baik kalian bubar" Tukas pak satpam tersebut. Dengan wajah yang sinis mereka berdua pun pergi ke arah yang berbeda meninggalkan tempat itu juga.


Mama Safira yang memang sedari tadi niat pergi ke tempat putri nya. Langsung berjalan menuju ke ruang rawat Luziana.


Ceklek


Suara pintu pun terbuka dari luar. Luziana yang sedari tadi menunggu dokternya datang akhirnya sedikit merasa lega. Namun rasa lega itu gak berlangsung lama setelah melihat siapa yang masuk ke ruang rawatnya.


"Mama..." Panggil Luziana yang ekspresinya terlihat kaget.


"Mah... Tolongin panggilin dokternya, Luziana sudah gak tahan ini sakit banget" Luziana memegang tangan Mama Safira dan langsung di tepis oleh mamanya itu.


"Buat apa! Kamu mau lahirin anak itu. Lebih baik gausah, mereka itu gak peduli sama kamu Luziana. Mereka cuman peralat kamu doang. Ck apalagi mertua kamu itu. Lihat aja suami kamu aja gak ada di samping kamu di saat kamu seperti ini" Ujar Mama Safira dengan kesal.


"Tapi ini kan cucu mama juga!" Balas Luziana seraya menahan sakit kontraksi.

__ADS_1


"Cucu? Malas banget Mama nimang-nimang anak mu itu. Mama gak mau punya cucu darah daging mereka Luziana. Lebih baik anak itu mati aja, gausah di pertahankan lagi" Bukan memberikan dukungan Mama Safira melontarkan kata-kata yang menyakitkan untuk Luziana.


Luziana yang mendengarnya berusaha tidak memungkiri nya. Kini dia harus berjuang, ada darah daging nya yang harus lahirkan kedunia.


"Yaudah Mama kalau soal itu nanti aja ya di bahas nya. Mama tolong panggilkan dokter" Ujar Luziana dengan lembut dengan suaranya yang tertahan.


"Nanti? Di saat-saat ini lah bagus di bahaskan. kamu mau pertahankan bayi itu? kamu kasih makan anak itu pakai apa, pakai daun? Ya enggakan. Daripada nambah beban mending kurang beban. Asal kamu tau mertua kamu itu gak sudi punya cucu dari rahim kamu Luziana. Dari wanita gak guna seperti kamu" Saking kesalnya sama Mommy Liona sampai-sampai Mama Safira emosi nya ia lampiaskan ke anaknya sendiri.


"Cukup mah, mending mama keluar aja daripada begitu" Usir Luziana yang sudah tidak sanggup mendengar perkataan Mama Safira lagi.


"Ouh kamu usir Mama? yaudah biar aja kamu hidup melarat dengan keluarga suami yang brengsek itu" Sarkas Mama Safira dengan emosi lalu pergi keluar dari ruang itu juga.


Luziana memejamkan matanya mendengar suara tutup pintu yang begitu menggema.


"Yang kuat nya nak di dalam perut Buna. Sebentar lagi mungkin dokternya datang" Gumam Luziana sembari mencengkram bajunya.


Mama Safira yang sudah berada di luar ruangan. Matanya tertuju kepada pelayan rumah anaknya itu, seperti sedang menelpon seseorang.


Sementara disisi lain Renaldy yang baru keluar meeting dengan penjabat tinggi batalyon tersenyum tipis. Menanggapi ucapan penjabat tinggi batalyon tersebut.


"Sepertinya keadaan di daerah timur su-" Belum selesai berbicara Renaldy sudah mengasih isyarat untuk diam.


"Bentar, saya mau angkat telepon dulu" Ucap Renaldy yang di anggukan kepala oleh para petinggi batalyon.


"Oke silahkan"


Renaldy pun mengangkat telepon dari pelayannya itu yang sudah berulangkali menghubungi dirinya.


"Halo Bu Tuti..." Bu Tuti yang teleponnya sudah di angkat oleh tuannya merasa lega.


"Assalamualaikum tuan a-nu" Ucap Bu Tuti yang terbata-bata.


"Anu tuan nona Luziana mau melahirkan" Spontan Bu Tuti membuat Renaldy mendengarnya menjadi kaget.


"Apa? Yang bener kamu" Ucap Renaldy dengan tatapan yang menyala di seberang telepon.


"Benar saya tidak berbohong, sekarang aja kami berada rumah Pertamedi-" Belum selesai Bu tuti selesai ngomong ponselnya sudah di ambil oleh Mama Safira.


"Halo menantu ku tersayang, kamu cari anak Tante ya. Kamu tenang aja dia baik-baik aja kok palingan kamu gak bisa lihat anak darah daging mu sendiri lagi. Tolong ya ceraikan anak Tante, saya sudah gak sudi punya menant-"


"Halo Al Mommy gak mau tahu, Mommy gak mau nimang cucu dari keluarga mereka yang ga jelas" Menyela Mommy Liona di ponsel pelayannya


"Apaan kamu dasar telur busuk ngatain keluarga saya ga jelas. Saya lebih gak sudi menimang cucu dari daging putra mu yang brengsek itu" Marah Mama Safira.


Renaldy yang mendengarnya, mengerutkan dahinya. Mendengar ada suara Mama mertuanya dan Mommy nya di tempat bersamaan.


"Eh eleh, saya juga lebih gak sudi" Mommy Liona menatap besannya dengan sinis.


"Yaudah cucu mu itu gak akan lahir kok, tenang aja kamu gak akan pernah lihat wajah jeleknya. Jadi gausah merasa terbebani" Ketus Mama Safira.


"Baguslah kalau begitu" Renaldy yang mendengarnya langsung membulatkan matanya sempurna.


"Halo-halo, bibi..." Panggil Renaldy di sebrang telepon.


"Tolong nyonya ponsel saya" Pinta Bu Tuti.


"Kamu mau ponsel?" Dengan enteng ponsel Bu tuti di banting sama Mommy Liona sampai ponselnya itu jadi retak.


Bu Tuti hanya bisa menatap ngenes ponselnya. Tanpa merasa bersalah mommy Liona langsung berlenggang pergi. Begitu juga dengan Mama Safira.


"Aduu bibi, maafin Mommy saya ya! Ini sebagai ganti ruginya saya kasih uang" Meysa yang merasa bersalah atas kelakuan Mommynya yang sudah di luar batas. Memberikan beberapa uang.

__ADS_1


"Gausah non," Tolak Bu Tuti.


"Gak papa ambil aja" Meysa pun menyodorkan uang lembaran merah beberapa lembar.




"Mommy..." Panggil Luziana yang melihat ke datangan mertuanya itu.



Mommy Liona menatap menantunya dengan tatapan intimidasi.



"Mana katanya, mau di gugurin" Ketus Mommy Liona yang gak sesuai realita dia dengar dari besannya itu.



"Kok Mommy ngomong gitu, ini sebentar lagi Mommy bakal punya cucu twins loh" Walaupun Luziana saat menahan kontraksi pembukaan lengkap. Dia berusaha berkata lembut dengan mertuanya itu. Takut kalau berkata kasar, suaminya bakal marah. Karena dia tahu suaminya lebih menjunjung tinggi keluarga nya dari pada nya istrinya sendiri.



Mommy Liona yang mendengarnya, tersenyum simpul. "Saya gak mau pengen punya cucu dari rahim mu. Lebih baik gausah di lahirkan saja. Tadi saya menemui ibu kamu katanya mau di gugurin, kalau begitu bagus sih. Terus kamu juga gausah berharap lebih dari putra saya. Dia gak akan mau menemani persalinan kamu. Lagipula dia sudah ada pendamping baru dari kamu" Ujar Mommy Liona dengan enteng.



Luziana yang mendengar perkataan mertuanya itu berusaha rasa sedihnya mati-matian. Dia megingigit bibir bawahnya kuat-kuat berusaha menahan tangisnya.



"Kenapa kamu menatap saya seperti itu" Ketus Mommy Liona melihat tatapan menantu nya ke arahnya. Luziana pun mengeleng kepalanya pelan.



"Momm-"



"Stop jangan panggil saya Mommy lagi, panggil saya nyonya" Sela Mommy Liona yang gak mau menantunya itu panggil dirinya Mommy.



Luziana mengangguk mengiyakan. "Nyonya kalau boleh tau dokternya, mana ya sama dokternya?"



"Gak tahu saya. Lihat aja persalinan mu aja tidak ada persiapan nya."



Andai suaminya ada disini mendengar semua perkataan Mommy nya. Yang selalu Renaldy sangka baik. Lagipula Renaldy sedikitpun belum pernah kebusukan asli Mommy Liona. Jadi apapun yang di lontarkan Luziana gak akan Renaldy terima. Apalagi dengan kekurangan Luziana yang sikap kekanak-kanakan. Membuat itu jadi patokan apa yang di bilang Luziana itu salah.



...----------------...



...The end...

__ADS_1


__ADS_2