
Bi Mirna mengusap telapak kaki Luziana yang dingin. Kini Luziana berada di sofa ruang tamu. Setelah melihat Luziana pingsan di halaman rumah. Dan di bawa masuk oleh para pelayan di rumah.
"Nyonya apa perlu di panggil dokter?" Tanya Bi Mirna yang terlihat cemas. Mommy Liona yang sedang duduk sofa singel sembari membaca berkas dari rumah sakit, mendongak menatap wajah Bi Mirna.
"Gak perlu! dia hanya kecapean saja. Mungkin bentar lagi sadar" Jawab Mommy Liona santai, lalu kembali membaca berkasnya. Luziana sudah dua jam belum sadar. Dan itu membuat Bi Mirna panik sendiri, karena suhu tubuh istri dari anak majikannya itu dingin.
"Bi Mirna lebih baik ke dapur, dan memasak untuk makan nantik malam" Titah Mommy Liona tanpa mengalihkan pandangannya.
"Baik nyonya" Jawab Bi Mirna, lalu melenggang pergi ke dapur. Dan melaksanakan apa yang di perintah majikannya itu.
Renaldy yang sedang meeting perasaannya tiba-tiba saja gak enak, kayak telah terjadi sesuatu.
"Kenapa perasaan aku gak enak ya" Gumam batin Renaldy. Tiba-tiba terlintas dipikiran pria itu tentang Luziana. Dan itu membuatnya gelisah.
"Tuan..." Panggil sekertaris Seno.
"Tuan muda.." Sontak lamunan Renaldy buyar.
"Iya! ada apa" Tanya Renaldy dengan ekspresi datar. Sekertaris Seno mengasih isyarat lewat pandangan ke arah seorang pria dari luar negeri yang ingin kerjasama dengan Renaldy.
"Saya senang bisa kerjasama dengan anda tuan Renaldy. Semoga proyek kita rencanakan bisa berjalan lancar" Ujar pria asing itu seraya tersenyum lebar, sembari mengulurkan tangannya untuk salaman.
Renaldy pun menyambutnya. "Saya juga tuan Barnes" Balas Renaldy dengan wajah datarnya.
Tak jauh dari tempat itu, seseorang masuk ruang kerja Renaldy. Siapa lain, kalau bukan adalah Kevan. Dia duduk santai di sofa sambil menikmati cemilan ringan, yang di hidangkan oleh pelayan perusahaan ini.
__ADS_1
"Hmm enak juga cemilan ini" Monolog Kevan sembari menatap cemilan ia makan.
Tiba-tiba suara dering ponsel terdengar. Kevan mengedarkan pandangannya mencari suara tersebut. Dan pandangannya berhenti di meja kerja Renaldy.
Ia pun mendekati meja kerja Renaldy. Saat sudah di depan meja itu. Ia langsung memengang ponsel, temannya itu.
"Wahh gila banget, siapa ni cewek seksi banget. Istri Renaldy kah. Diam-diam demen juga ya sama yang sexy. Tapi kenapa nomor teleponnya gak di save?" Tanya Kevan pada dirinya sendiri.
"Ntah-lah gak ku terlalu pikirin" Kevan dengan diam-diam menekan tombol hijau. Namun teleponnya tidak bisa diangkat karena terhalang oleh kata sandi.
"Buset dah ribet amat, payah pakai sandi" Monolog Kevan menatap layar ponsel Renaldy.

...(Visual wallpaper ponselnya nya)...
"Anjir romantis banget....." Kagum Kevan sembari tersenyum sendiri. Tak lama kemudian senyuman pria itu redup.
"Ini cewek macam gak asing! tapi siapa ya..." Gumam Kevan sembari mengingat-ingat pernah melihat sosok, istri Renaldy.
__ADS_1
Ceklek..
Suara pintu terbuka terdengar. Kevan yang melihat Renaldy masuk, jadi gelagapan sendiri. Lalu tanpa sengaja menjatuhkan ponsel Renaldy.
Prakk...
Mata Kevan membulat sempurna. Renaldy yang melihat ponselnya di jatuhkan oleh temannya itu. Tatapannya langsung berubah seperti, tatapan membunuh. Sekertaris Seno yang mengikuti tuanya itu langsung takut sendiri.
"Keluar dari ruangan kerja saya!"
Dirumah.
Kelopak mata Luziana mulai terbuka. Dia menatap sekitar yang sedang berada dimana kah dirinya ini. Mommy Liona yang melihat menantunya sudah sadar, membuka suara.
"Kalau kamu pengen minum ada di samping mu itu" Ucap Mommy Liona seraya dagunya menunjuk gelas berisi minuman yang tersedia di atas meja.
Luziana yang terbaring di sofa, bangun pelan-pelan ingin duduk. Setelah duduk, ia mengambil gelas yang berada di samping yang berisi air putih.
Perut Luziana terasa seperti di aduk-aduk. Dan kepalanya terasa pengen pecah. Tubuhnya terasa lemas semua. Wajahnya aja pucat pasih.
Mommy Liona menghela nafas panjang. "Kamu gausah bersih halaman hari ini, kamu mending istirahat aja" Ucap Mommy dengan nada dingin, beranjak menuju ke kamarnya.
Luziana yang melihat kepergian mertuanya. Meminjit pelipisnya yang terasa sangat pusing.
"Apa dengan ku kenapa tubuh ku selama ini terasa lemah, tak berdaya. Terus nafsu makan aku aja jadi berkurang" Gumam Luziana yang membenci dengan tubuhnya yang sekarang beberapa hari ini jadi lemah. Dia sulit melakukan aktivitas, semaunya. Kenapa ya bisa itu terjadi?
"Apa aku periksa klinik aja ya! tapi rasanya membuang uang aja" Batin Luziana. Ia tidak ingin mengeluarkan uang sekalipun walaupun untuk kesehatannya sendiri. Dia uang yang di kasih suaminya itu, untuk dia simpan dan untuk jajan di sekolah.
Luziana yang lama duduk di sofa. Memutuskan menuju kamar suaminya. Untuk sambung istirahat.
__ADS_1
Bersambung...