
Luziana yang pingsan, kini kembali sadar. Dia menatap sekitar. Dan matanya berhenti melihat suaminya yang tertidur di kursi, samping kasurnya.
"Mas.." Luziana mengusap kepala suaminya.
Renaldy yang merasa ada pergerakan, langsung membuka kelopak matanya. Matanya membulat sempurna. Melihat istrinya yang sudah sadar.
"Kamu bikin mas khawatir, tau gak sayang.." Renaldy mendekap erat tubuh istrinya dalam pelukannya.
"Maafin aku ya udah, bikin kamu khawatir" Ucap Luziana dengan lirih.
Renaldy melepaskan pelukannya, dan mengeleng kepalanya.
"Gak kok kamu, gak bikin khawatir mas. Cuman mas aja yang gak bisa jaga kamu" Ujar Renaldy dengan tatapan sendu.
Luziana mengeleng kepalanya.
"Enggak kok mas, mas itu sudah jagain aku banget. Cuman aku aja yang teledor" Balas Luziana yang gak mau melihat suaminya sedih karena dirinya.
"Hmm mas bukannya pergi bertugas?" Tanya Luziana seraya mengerutkan dahinya.
"Mas sudah batalin, biar letnan yang memimpin para prajurit. Mas gak sanggup ninggalin kamu, apalagi kamu lagi hamil gini. Gini aja mas tinggalkan belum beberapa hari aja dah begini. Apalagi sudah berhari-hari" Tutur Renaldy dengan raut wajah khawatir.
"Maafin aku mas udah bikin nyusahin" Renaldy mendengarnya langsung mengeleng kepalanya.
"Enggak kok, kamu gak bikin nyusahin. Malah mas senang bisa jaga kamu gini" Balas Renaldy seraya mengusap kepalanya istrinya, dan lalu mengecup kening istrinya.
"Sayang ada yang mas ingin ngomongin dengan kamu" Ucap Renaldy seraya membantu istrinya bersandar di headboard.
"Ngomongin tentang apa mas?" Tanya Luziana mengerutkan dahinya.
"Mas ingin kita tidak tinggal disini lagi" Balas Renaldy yang sudah memutuskan tidak tinggal satu rumah dengan orang tua nya lagi. Dia ingin membangun rumah dia sendiri. Dengan keluarga kecilnya.
"Kenapa begitu?" Lontar pertanyaan dari Luziana yang terlihat sedih. Dia sudah merasa senang tinggal di rumah orang tua suaminya. Walaupun masih sedikit dapat perlakuan gak enak dengan adik suaminya.
"Kamu sudah tahu kan apa yang telah terjadi malam tadi. Mas gak ingin ini terulang lagi. Apalagi Meysa kan sangat membenci mu. Jadi mas ingin kamu mengerti apa maksud mas" Sahut Renaldy yang terdengar beberapa helaan nafas berat.
Luziana mengangguk kepalanya. Lagipun ini kebaikan dirinya sendiri juga. Dan calon baik di kandungannya.
"Oke mas, Luziana mau kok kita tidak tinggal di sini lagi. Tapi kita bakal tinggal dimana?" Tanya Luziana bingung mereka bakal tinggal di mana.
"Kamu gausah pikirkan kita tinggal di mana, yang penting kita siap-siap terus. Kita bakal pergi harini juga" Melihat perlakuan Meysa yang sudah kelewatan batas. Membuat Renaldy harus berhati-hati. Dan mengambil keputusan dengan cepat. Demi keluarga kecilnya.
__ADS_1
"Iya mas, tapi kalau boleh saran aku ingin setelah seminggu tinggal di rumah yang mas sudah tentukan. Kita boleh gak sih, pindah lagi kerumah orang tua ku aja" Ujar Luziana memberi pendapat. Dia kurang suka namanya kesepian. Walaupun ada suaminya nanti nemenin dirinya. Tapi tetap saja misalnya suaminya ada pekerjaan mendadak. Terpaksa dirinya di tinggal sendirian. Meskipun nantik ada pembantu di rumah tersebut. Tapi tetap saja.
"Boleh.." Renaldy mengangguk kepalanya mengiyakan, yang penting istrinya merasa bahagia.
Di ruang meja makan, mommy Liona merasa heran melihat tiba-tiba ada putranya di rumah. Bukannya anaknya itu pergi bertugas kemarin. Dan lebih kagetnya mereka akan meninggalkan rumah ini.
"Kenapa begitu? kenapa gak tinggal disini aja Al" Tanya Mommy Liona dengan mata berkaca-kaca.
Renaldy menghela nafas pelan.
"Udah saatnya, kami hidup mandiri Mommy. Nanti kapan-kapan kalau ada waktu kami bakal datang kerumah ini. Al harap Mommy bisa mengerti, dengan keputusan kami" Balas Renaldy dengan penuh keyakinan.
"Baiklah, Mommy mengizinkan kalian tinggal di rumah kalian sendiri. Tapi jangan lupa ya untuk mampir ke rumah ini ya. Rumah ini selalu terbuka untuk kalian berdua" Ujar Mommy Liona seraya tersenyum lebar.
"Dan Luziana kamu harus selalu jaga kesehatan. Karena disini ada cucu Mommy.." Ucap Mommy Liona seraya mengusap perut Luziana.
"Itu sudah pasti Mommy.." Balas Luziana seraya tersenyum. Dan beberapa detik kemudian, mereka yang berbeda umur itu, tergelak tertawa.
"Kami pergi dulu ya Mommy Papi.." Pamit Luziana yang kini berada di dalam mobil, dan membuka kaca mobil untuk pamitan dengan mertuanya itu.
"Iya hati-hati.." Mommy Liona melambaikan tangan nya seraya tersenyum. Melihat mobil Renaldy yang sudah pergi dari pekarangan rumah. Papi Devan mengajak istrinya masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Sebenarnya sih, mommy Liona melihat adegan tadi malam. Apa yang di lakukan putra sulungnya itu tehadap adiknya. Wanita paruh baya itu merasa kaget, mendengar apa yang Meysa perbuat. Yang mencoba ingin membunuh kakak iparnya sendiri.
Emang benar sih Meysa, ingin mencoba membunuh kakak iparnya. Tapi jujur Meysa gak kenal yang telah menculik Luziana itu.
Meysa yang berada kamarnya, menutup kembali gorden kamarnya.
"Assalamualaikum.." Ucap Luziana yang masuk ke dalam rumah yang selalu dirinya, rindukan. Walaupun ada dukanya.
"Walaikumsalam.." Sahut Mama Safira seraya merentangkan tangannya memeluk anak nya, yang kini telah jadi istri orang. Dan sebentar lagi menjadi seorang ibu.
Kalau di tanya, kok malah kerumah orang tua Luziana. Bukannya tinggal di rumah Renaldy yang telah di tentukan. Ternyata Renaldy merubah pikiran, dia memilih langsung tinggal di rumah mertuanya itu. Biar sekali jalan gitu.
Dan terus Luziana kok mau di tinggal di rumah orang tuanya, bukannya orang tuanya itu jahat sama dirinya. Ya emang benar, tapi Luziana tidak mempermasalahkan hal itu. Karena sebenarnya mama Safira itu baik, kok baik. Ya baik, yang sering kasih uang jajan itu Mama Safira. Dan kadang, kala sedih pun Mama Safira. Sikap begitu karena turut kali dengan suaminya.
Dan yang pilih kasih sayang, itu sudah biasa kok. Karena Febby itu anak terakhir. Biasa kalau rasa kasih sayang orang tuanya. Walaupun pilih kasih mereka kelewatan. Tapi Luziana tidak punya dendam kok dengan mereka, begitu-begitu mereka tetap juga orang tua Luziana. Yang sudah membesarkan dirinya.
Sementara Papa Haris itu, sebenarnya juga baik. Dia begitu karena terlahir anak yatim-piatu. Gak pernah merasakan rasa kasih orang tua. Tau nama orang tuanya aja gak tahu. Jadi Luziana sedikit maklumi. Sama istrinya sendiri aja gak pernah itu, namanya romantis. Walaupun begitu, Mama Safira begitu cinta dengan suaminya. Alasan nya karena Papa Haris ganteng. Ntar nanti ada sedikit flashback tentang Luziana dengan Meysa. Dan rasa sakit Luziana.
Renaldy setelah menyalami, mertuanya itu. Duduk di sofa bersama istri nya.
"Silahkan di minum tehnya.." Ucap Mama Safira mempersilahkan.
"Ma.. Luziana dengan suami Luziana tinggal disini boleh?" Tanya Luziana.
Mama Safira yang mendengarnya tersenyum.
"Boleh kok"
...----------------...
Setelah ini bakal cerita kan karma untuk Meysa yang seutuh nya 🤗
Jangan lupa follow Instagram author: maulyy_05
__ADS_1